NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala

Kutukan Jiwa Niskala

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"

Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.

Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.

Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Buah Terlarang di Malam Terkutuk

"Guru... hamba berhasil," gumam Jin-Wu pelan.

Han-Gyeol berdiri dengan kaki goyah, menatap Jin-Wu dengan perasaan campur aduk antara terima kasih dan kengerian.

"Kau telah menyelamatkanku, Jin-Wu. Tapi kau juga baru saja memegang kunci neraka. Ingat janjimu: lupakan mantra itu, atau Niskala akan hancur oleh tanganmu sendiri."

"Baik Guru."

Jin-Wu membungkuk dalam, namun di balik bayangan wajahnya, sebuah ambisi baru telah lahir.

Han-Gyeol tahu, ia selamat malam ini, tapi ia baru saja menciptakan ancaman yang mungkin lebih besar dari mendiang Raja.

****

Han-Gyeol pulang dengan langkah yang terasa ribuan ton beratnya. Ambang pintu rumahnya, yang dulu terasa seperti tempat peristirahatan, kini tampak seperti gerbang menuju penghakiman.

Di sana, Seo-Yoon berdiri, menyambutnya dengan senyuman yang belum pernah ia lihat selama bertahun-tahun pernikahan mereka—senyum seorang wanita yang baru saja menemukan cintanya.

"Kau pulang lebih awal, Suamiku?" tanya Seo-Yoon lembut. Ia melangkah mendekat, hendak menyentuh lengan Han-Gyeol.

Han-Gyeol refleks menarik tangannya. Ia merasa kulitnya kotor. Ia merasa raga yang ia tempati ini adalah bekas pakai seorang pencuri.

"Aku... aku hanya butuh istirahat," gumam Han-Gyeol, suaranya parau, bahkan tidak sanggup menatap mata istrinya.

****

Satu bulan berlalu dalam keheningan yang mencekik. Han-Gyeol menghabiskan malam-malamnya di ruang meditasi, mencoba mencuci jiwanya dari sisa-sisa energi Raja Go-Yoon, hingga suatu pagi, Seo-Yoon mendatanginya dengan wajah yang bercahaya.

"Suamiku, ada sesuatu yang harus kukatakan," bisik Seo-Yoon. Ia mengambil tangan Han-Gyeol, dan kali ini Han-Gyeol tidak sempat menghindar.

Seo-Yoon menempelkan telapak tangan suaminya itu ke perutnya yang masih rata.

"Permohonanku di kuil... kehangatanmu di malam itu... Langit akhirnya menjawabnya," ucap Seo-Yoon dengan air mata bahagia yang mengalir.

"Ada kehidupan baru di sini, Han-Gyeol. Buah cinta kita."

DUAR!

Dunia Han-Gyeol seakan runtuh berkeping-keping. Ia merasakan telapak tangannya bergetar hebat di atas perut istrinya.

Namun, itu bukan getaran bahagia. Itu adalah rasa mual yang hebat, sebuah penolakan dari seluruh sel tubuhnya.

"Buah cinta... kau bilang?" suara Han-Gyeol keluar seperti desisan yang perih.

Seo-Yoon mendongak, bingung melihat wajah suaminya yang pucat pasi dan berkeringat dingin. "Iya. Bukankah ini yang kita tunggu? Sejak malam itu, kau berubah menjadi pria yang begitu penuh kasih. Aku merasa... aku benar-benar memilikimu sepenuhnya."

Kalimat itu menghujam jantung Han-Gyeol lebih dalam dari pedang mana pun.

Pria penuh kasih itu bukan aku, Seo-Yoon, teriaknya dalam hati.

Kau menyerahkan jiwamu pada iblis yang mengenakan wajahku.

"Kenapa kau diam saja?" tanya Seo-Yoon, mulai cemas. "Kau tidak senang?"

Han-Gyeol menarik tangannya dengan sentakan kasar, seolah perut itu mengandung racun yang mematikan. Ia menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara benci, duka, dan cinta yang hancur.

"Anak itu..." Han-Gyeol berhenti sejenak, tenggorokannya terasa tersumbat duri.

"Anak itu tidak seharusnya lahir, Seo-Yoon."

Seo-Yoon mematung, senyumnya luruh seketika. "Apa maksudmu? Ini anakmu, Han-Gyeol! Darah dagingmu!"

"BUKAN!" Han-Gyeol membentak, membuat Seo-Yoon tersentak mundur karena ketakutan.

Han-Gyeol segera memalingkan wajah, menyembunyikan matanya yang memerah dan air mata yang nyaris jatuh. Ia tidak bisa mengatakan kebenarannya. Ia tidak bisa menghancurkan jiwa istrinya dengan mengatakan bahwa dia telah dinodai oleh jiwa raja yang busuk.

"Maksudku... takdir di Niskala sedang gelap," Han-Gyeol mencoba memperbaiki suaranya, meski tetap terdengar dingin dan hampa.

"Anak yang lahir di masa seperti ini hanya akan memikul beban yang berat. Rawatlah dirimu. Tapi jangan harapkan aku untuk bisa memeluk anak itu."

Han-Gyeol melangkah pergi, meninggalkan Seo-Yoon yang terisak sendirian di tengah paviliun.

Di bawah langit Niskala yang indah, Han-Gyeol bersumpah pada dirinya sendiri: ia akan melindungi istrinya, tapi ia tidak akan pernah bisa mencintai kutukan hidup yang tumbuh di rahim wanita itu.

Bayi itu bukan hanya sekadar manusia; ia adalah bukti permanen dari kehinaan Han-Gyeol—sebuah rahasia yang akan meledak menjadi badai besar di masa depan.

****

Dua puluh tahun telah berlalu sejak pengkhianatan besar di istana Niskala terkubur oleh debu waktu. Musim dingin kali ini datang lebih awal, menyelimuti negeri dengan salju yang mematikan.

Danau Cheon-gi yang legendaris kini telah berubah menjadi padang es raksasa yang berkilau layaknya kristal di bawah sinar rembulan yang pucat.

Di atas permukaan danau yang membeku itu, seorang gadis berdiri tegak. Nara. Mengenakan pakaian kulit hitam dengan jubah kelabu yang berkibar diterpa angin kencang, ia menggenggam sebuah pedang panjang yang memancarkan pendar putih dingin.

Nara bukan penyihir. Ia adalah Pembasmi. Baginya, para penyihir yang mengandalkan energi naga adalah parasit yang harus dimusnahkan.

"Jangan biarkan dia lolos! Kepung gadis itu!" teriakan itu memecah kesunyian.

Belasan bayangan melesat dari balik kabut salju. Mereka adalah pengawal kerajaan yang dipimpin oleh Penyihir Do-Kwang.

Pria paruh baya itu mendarat di atas es dengan hentakan yang menciptakan retakan kecil.

"Kau sudah terpojok, Nara!" seru Do-Kwang seraya menarik busur hitamnya.

"Menyerah-lah sekarang, atau kepalamu akan terpajang di gerbang kota sebelum matahari terbit!"

Nara tidak menjawab. Ia hanya mengatur napasnya, membiarkan uap putih keluar dari bibirnya yang pucat.

Baginya, ancaman Do-Kwang hanyalah kebisingan yang tidak perlu.

Do-Kwang yang merasa diremehkan segera melesatkan tiga anak panah yang dibalut api kebiruan.

WUSSSHHH!

Nara tidak menghindar dengan kasar. Ia hanya memiringkan kepala dan tubuhnya dengan gerakan yang sangat minim, seolah-olah ia bisa melihat jalur angin anak panah itu. Ledakan api biru terjadi di belakangnya, namun sehelai rambutnya pun tidak terbakar.

"Serang!" teriak Do-Kwang murka.

Pertarungan pecah di tengah danau. Belasan penyihir merangsek maju, merapal mantra yang membuat es di bawah kaki mereka bergetar hebat.

Nara menutup matanya sejenak, bukan karena takut, tapi untuk merasakan aliran energi di udara.

CLANG!

Dentingan logam memekakkan telinga. Nara menari di atas es. Setiap tebasannya tidak hanya memotong daging, tapi juga memutus aliran sihir lawan.

"Dia mematikan aliran energi kita! Teknik apa ini?!" teriak salah satu penyihir sebelum tubuhnya terpental jauh akibat tendangan Nara yang telak mengenai dadanya.

Nara meluncur dengan lincah di atas permukaan yang licin. Ia menebas ke kiri, menghalau serangan dari kanan, dan berputar dengan efisiensi yang mematikan.

Do-Kwang kembali melesatkan panah, kali ini membidik kaki Nara. Namun, Nara justru menghujamkan pedangnya ke permukaan es di bawah kakinya sendiri.

KRAKK!

Retakan besar menjalar cepat. Es terbelah, memaksa para penyihir melompat mundur agar tidak jatuh ke air yang membekukan.

Dalam kekacauan itu, Nara melesat seperti bayangan, muncul tepat di hadapan Do-Kwang.

"Kau terlalu banyak bicara, Pak Tua," ucap Nara. Suaranya jernih namun sedingin es yang ia pijak.

Do-Kwang terkejut. Ia segera menciptakan dinding air yang membeku secara instan di hadapannya.

Namun, Nara hanya menyentuhkan ujung pedangnya ke dinding itu. Dalam sekejap, dinding itu hancur berkeping-keping menjadi debu salju halus.

Nara mengarahkan ujung pedangnya tepat di tenggorokan Do-Kwang yang kini gemetar hebat. "Katakan padaku," bisik Nara dengan nada yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Di mana pria pengkhianat bernama Han-Gyeol bersembunyi?"

Do-Kwang tertawa getir, suara yang terdengar seperti gesekan batu pecah. "Untuk apa pembasmi sepertimu mencari rongsokan dari masa lalu? Han-Gyeol sudah bukan siapa-siapa lagi. Dia hanyalah bayangan yang mengasingkan diri dari dunia yang ia hancurkan sendiri. Dia sudah mati bagi Niskala!"

Mata Nara menyipit. Ada kilatan luka di matanya yang dalam, seolah nama itu adalah kutukan baginya. "Dia belum boleh mati sebelum aku yang menebas lehernya."

Tepat saat Nara hendak menekan pedangnya, Do-Kwang mengambil kesempatan. Dari lengan bajunya, ia melesatkan anak panah pendek yang tersembunyi.

JLEB!

Anak panah itu menghujam pundak kanan Nara dengan telak. Darah merah segar mengucur deras, mengotori hamparan salju putih yang murni.

Nara terengah, merasakan rasa panas menjalar ke seluruh sarafnya; anak panah itu mengandung mantra pelumpuh yang agresif.

"Sial..." umpat Nara dengan bibir yang mulai membiru.

Ia melirik ke belakang. Belasan penyihir pimpinan Do-Kwang kembali merangsek maju.

Nara tahu, dengan luka separah ini dan mantra pelumpuh yang bekerja, ia tidak akan bisa memenangkan pertarungan terbuka. Fisiknya sudah mencapai batas.

Hanya ada satu jalan keluar yang tersisa. Sebuah jalan yang selama ini ia benci karena dianggap sebagai sihir kotor kaum penyihir, namun kini menjadi satu-satunya harapan untuk bertahan hidup: Sihir Pemindahan Jiwa.

Dengan sisa tenaga yang ada, Nara melesat secepat bayangan, meninggalkan Danau Cheon-gi yang kini dipenuhi teriakan pengejar.

Teknik peringan tubuhnya membuat ia tampak seperti hantu yang melayang di atas salju. Dengan pundak yang berdenyut panas akibat racun, ia menerjang masuk ke sebuah dapur umum di pinggiran kota.

BRAKK!

Pintu dapur terbuka kasar. Kehadiran Nara yang bersimbah darah dan bermata tajam seperti elang seketika menghentikan aktivitas di sana. Bau daging rebus bercampur dengan bau besi dari darah segar.

"Pembasmi! Pembasmi Penyihir ada di sini!" teriak seorang koki sambil menjatuhkan pisaunya.

Ruangan itu seketika pecah dalam kekacauan. Para pelayan berlarian, menabrak meja dan kursi demi menyelamatkan diri.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Nara melihat sasarannya: seorang pelayan muda yang membeku di sudut, terjepit di antara dinding berlumut dan meja kayu besar.

"Pergi! Jangan bunuh aku!"

1
Soobin Chan
mampir juga di cerita baru aku kak. 'The Emerald and Her Four Mates'
Protocetus
Beludru itu apa thor?
Soobin Chan: beludru itu sejenis bahan kain halus dan lembut gitu. jadi ibaratnya suaranya itu kaya beludru, lembut dan halus.🤭
total 1 replies
Protocetus
Ini bacanya Cheongi apa Cheon Gi min?
Soobin Chan: Cheon-gi 🤣
total 1 replies
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Soobin Chan: oke kak😄
total 1 replies
Dao Biru
Latar Korea ya
Soobin Chan: iya kak😄
total 1 replies
T28J
wah wah wah
Soobin Chan: 🤣terima kasih udah mau komen
total 1 replies
T28J
woww.. secantik apakah dia /Slight/
Soobin Chan: bayangin ajah wajah song he kyo. begitulah kira kira.😄
total 1 replies
T28J
mantap kak 👍
Soobin Chan: terima kasih🤭
total 1 replies
Soobin Chan
komen dong guys. biar aku semangat nulusnya😍🤭
Soobin Chan: tetap semangat. mudah-mudahan banyak yang suka sama ceritanya💪
total 1 replies
Soobin Chan
ceritanya bagus guys, ayo merapat! di jamin kalian bakalan suka/Drool/
Soobin Chan: ramein dong guys...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!