"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.
Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.
Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.
"Hey!"
"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.
"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 11-15
"Anya !!!" bentak Laras dengan marah. Merasa ini adalah moment yang pas untuk memarahi Anya, sambil Laras beranjak dari kursinya. Matanya menatap tajam ke arah Anya yang masih menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Lu sengaja, kan?! ... Numpahin air putih itu ke papih gua?!" sambung Bianca, yang sama kesalnya sekarang berdiri menatap Anya sambil menunjuk-nunjuknya. Nada bicaranya sama kerasnya seperti Laras.
"Maaf, tuan! ... Saya tidak sengaja melakukan itu. Saya tidak bermaksud ... Menumpahkannya," kata Anya dengan nada yang merasa bersalah, sambil menatap Adi yang masih memegang bajunya.
Walaupun itu bukan kesalahan Anya, ia merasa harus melakukan pembelaan kecil dari Laras dan Bianca yang terus menuduhnya sekarang. Meski itu adalah hal yang percuma, ketika Anya berada di dalam kondisi kedua majikan wanitanya terus memaki-makinya dengan nada yang keras.
"Alesan !!!" sahut Bianca dengan santai sambil memutar bola matanya. Ia sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan kepada Anya barusan.
"Kalau kamu tidak ingin bekerja ..." ucap Laras tiba-tiba, masih dengan nada yang menghakimi Anya tanpa perduli perasaannya. Ia hampir memecat Laras saat ini, namun kalimat itu di potong oleh Adiwijaya.
"Cukup Laras !!!" bentak Adiwijaya, suaranya tegas dan mampu menghentikan ocehan ibu dan anaknya itu. Keadaan yang saat ini tegang menjadi berubah tiba-tiba.
"Tidak perlu sampai seperti itu. Aku akan pergi mengganti pakaian dulu," sambung Adi, ketika beranjak dari kursinya dan ingin pergi ke lantai atas kamarnya untuk berganti pakaian. Di susul oleh Laras yang mengikutinya dari belakang.
Moment yang tidak pernah Anya bayangkan dalam hidupnya terjadi saat ini. Ketika ia kembali harus berada di posisi salah atas perbuatan yang tidak ia lakukan.
"Cih! ... Dasar, anak kampung!" oceh Bianca, menatap Anya dengan sinis sekali. Mengibaskan rambutnya ke wajah Anya sebelum pergi meninggalkan Anya sendiri di meja makan. Bianca menyusul kedua orang tuanya menuju lantai atas.
"Yaa, tuhan ... Apakah ini akan jadi akhir dari pekerjaan ku yang baru saja aku dapatkan?" gumam Anya di dalam hati kecilnya. Hal yang sebenarnya paling ia takutkan jika tidak bisa lagi bekerja menjadi pembantu di keluarga ini. Mengingat, ekonomi keluarga nya yang sedang susah di kampung.
Di dalam kamar pribadi Adiwijaya dan Laras, ketika Adi ingin mengganti pakaiannya yang basah karena tersiram air putih oleh Anya.
"Nih, pih ... Bajunya," kata Laras, sambil tersenyum memberikan pakaian yang baru untuk suaminya tercinta. Sedangkan Bianca, baru saja tiba di belakang Laras saat ini.
Andi tidak berkata apapun, ia mengambil pakaian itu dan langsung mengenakannya, berbalik badan dari istri dan anaknya yang berada di depannya saat ini.
"Gimana, mih ... Apakah anak kampung itu, benar-benar akan di usir dari rumah ini?" bisik Bianca, yang berbicara pelan di samping ibunya agar tidak terdengar oleh Adiwijaya.
"Mamih belum tahu sayang ... Tapi sepertinya, dari ekspresi papih kamu ... Ia terlihat masih kesal," jawab Laras, sama pelannya ketika obrolan mereka takut di dengar oleh Adiwijaya, selaku orang yang paling berkuasa di rumah ini.
Ketika Adi telah selesai berganti bajunya, ia berjalan menghampiri mereka yang sedari tadi memperhatikannya.
"Kenapa pada disini?" tanya Adi merasa heran, karena ia merasa sebagai bahan tontonan sekarang. "Ayo berangkat Bian ... Nanti kamu telat kuliah," sambung Adiwijaya ketika berjalan lebih dulu pergi meninggalkan mereka.
Mereka berdua sempat kaget beberapa detik, ketika Adi langsung berbicara secara tiba-tiba seperti itu.
"I-iyaa, pih ... Ayo!" jawab Bianca dengan ragu, dan sekali melihat ke arah Laras yang juga merasa bingung saat ini. Di dalam pikiran mereka berdua terlihat sama, kenapa Adi tidak marah kepada Anya? Kenapa semuanya tanpak seperti biasa saja?
Tak ...
Tak ...
Tak ...
Suara mereka bertiga ketika berjalan menuruni anak tangga. Ketika Adiwijaya telah sampai kepada anak tangga yang paling bawah, di samping pegangannya sudah ada Anya yang berdiri menunggunya.
Adi menatap bingung wajah Anya yang terus menunduk. Sedangkan Laras dan Bianca yang berada di belakangnya, menatap masih dengan perasaan kesalnya.
"Anya? ... Ada apa?" tanya Adi penasaran, kenapa ada Anya yang sekarang berdiri menunggunya turun dari lantai atas.
"Tau, lu! Ngapain, sih?! ... Nggak puas tadi udah nyiram papih gua?" bentak Bianca dengan keras dan sinis menatap Anya. Berusaha mengembalikan moment sarapan mereka tadi agar Adiwijaya merasa kesal.
"Hmm ... Begini tuan. Saya minta maaf, soal kejadian tadi ... Saya benar-benar tidak sengaja," kata Anya, dengan terus menunduk meminta maaf agar pekerjaannya yang baru saja ia dapat tidak hilang. Dengan ekspresinya yang merasa bersalah.
Dan karena sikap Anya yang seperti ini, malah semakin membuat Laras dan Bianca menahan nafas di dada mereka masing-masing. Mereka sangat muak ketika melihat Anya bersikap sok cari perhatian. Khususnya Bianca.
"Tidak apa Anya ... Saya bisa memaklumi hal itu, lagi pula ... Itu bukan masalah besar," ujar Adiwijaya dengan senyumnya yang ramah. Ia merasa tidak harus mempermasalahkan hal ini, apalagi, melihat Anya yang baru pertama kali ia temui.
Mendengar perkataan Adiwijaya, membuat Laras dan Bianca semakin tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia merasa heran kenapa Adi malah bersikap baik kepada Anya yang sudah membuat baju kerjanya kotor.
Nafas yang mereka tahan di dada tadi, kini semakin memenuhi seluruh isinya. Dengan tatapan yang semakin tidak menyukai Anya.
"Sialan! ... Anak kampung! Ini, benar-benar membuat ku kesal setiap melihatnya!" gerutu Bianca dengan kesal, yang hanya bisa ia sampaikan sendiri di dalam hatinya yang tertahan.
"Tapi pih ..." kata Laras yang masih membuka mulutnya, tidak sempat menyelesaikan ucapannya di depan Adiwijaya sebagai suaminya.
"... Kamu bisa melanjutkan pekerjaan yang lain di rumah ini," sambung Adiwijaya. Sekaligus memotong perkataan dan menjawab permintaan maaf Anya dengan bijak dan baik.
Lagi-lagi, tatapan sinis Laras membuat Anya terus menunduk tidak berani melihatnya. Anya berusaha terus tegar di dalam kondisinya sebagai pembantu di rumah ini.
"Sial! ... Lagi-lagi perhatian ku terbagi oleh anak kampung ini!" gumam Laras, yang juga merasa kesal dan hanya bisa bicara sendiri di dalam hatinya.
"Te-terimakasih tuan ... Saya akan bekerja dengan lebih baik," balas Anya, yang merasa senang dan menganggap permintaan maafnya telah di terima oleh Adiwijaya selaku majikannya yang baik.
"Yasudah ... Bila tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, saya ingin berangkat kerja dulu," kata Adi, yang ingin segera berangkat pergi kerja karena hari sudah cukup terang. Ia mencium kening istrinya yang berada di sampingnya. "Aku berangkat dulu," sambung Adiwijaya.
"Hati-hati, pih ..." kata Laras, menunjukan senyum manisnya sebagai seorang istri di depan Adiwijaya yang ingin pergi bersama Bianca.
"Aku juga, mih ..." sambung Bianca, yang juga pergi berpamitan kepada Laras. Adi pergi meninggalkan Anya dan Laras, di susul oleh Bianca yang seperti biasa. Mengibaskan rambutnya dan berjalan angkuh sebelum meninggalkan Anya yang masih berdiri mematung.
Tap ...
Tap ...
Tap ...
Suara dari langkah Laras yang mengantar mereka berdua sampai di depan pintu rumah mewah mereka. Tono yang sudah berdiri menunggu di depan, membukakan pintu untuk para majikannya.
Mengantar Adiwijaya ke perusahaannya, sekaligus mengantar Bianca ke tempat kuliah. Sudah menjadi tugas sehari-hari bagi Tono yang bekerja sebagai satpam dirumah mewah itu.
Deg ... Deg ... !
Suara dari pintu mobil yang di tutup oleh Tono, di susul dengan suara klakson mobil sebelum mereka pergi berangkat meninggalkan rumah.
Tin ... !!!
Burm ...
Ketika Adiwijaya dan Bianca telah pergi, Laras yang masih melihat Anya berdiri di samping tangga, segera memanggilnya.
"Ikut saya!" perintah Laras dengan nada yang angkuh, berjalan mendahului Anya yang masih menunduk. Entah apa yang ingin ia sampaikan, Anya harus menunda beberapa pekerjaannya yang belum sempat ia selesaikan.
"Ba-baik Nyonya ..." balas Anya, masih menunduk karena merasa ketakutan dari hawa yang Laras berikan.
•••
Laras dengan gaya angkuhnya berjalan lalu duduk di sofa mewah yang panjang. Menyilangkan satu kaki di hadapan Anya yang sedang berdiri menunduk.
"Anya ..." kata Laras dengan nada yang pelan. Menatap Anya seperti sedang merendahkannya sebagai seseorang yang hanya bekerja menjadi pembantu.
"I-iyaa, Nyonya ..." balas Anya, masih terus menunduk tidak berani manatap Laras. Kini, kedua tangan Anya saling mengeratkan satu sama lain.
Huh ...
Suara Laras, ketika membuang nafas pendeknya. Masih memandang Anya seperti orang yang paling merasa dirinya hebat menyandang gelar majikan. Ia berdiri perlahan berjalan ke belakang Anya yang semakin merasa takut.
Hembusan nafas Laras semakin terasa, ketika wajahnya sesekali mendekat ke belakang leher Anya.
"Kamu itu bau!" kata Laras, masih dengan suara yang pelan namun mampu memberi ancaman kepada siapa saja yang mendengarnya.
"... Jangan, mentang-mentang suami saya bersikap baik kepada kamu, malah jadi membuat mu besar kepala!" sambung Laras, memberikan penekanan di setiap katanya. Membuat Anya sekarang semakin tertekan mentalnya, sambil terus menunduk.
"Bi Inah !!! ... Bibi ..." teriak Laras dengan tiba-tiba persis tepat di belakang Anya, membuat anak itu kaget dan mengangkat kedua pundaknya secara bersamaan.
Mendengar ada suara yang memanggilnya dari depan, Bi Inah yang sedang berada di halaman belakang langsung bergegas menghampiri dan menyari suara majikannya tersebut.
"I-iyaa Nyonya, ada apa memanggil saya ...?" kata Bi Inah dengan sangat sopan, menundukan kepalanya ketika sudah berada di dekat Laras dan Anya.
Bi Inah yang baru saja sampai, meninggalkan pekerjaan di halaman belakang. Dan kini, pikirannya teralihkan ketika melihat raut wajah Anya yang seperti memiliki masalah yang sangat besar.
"Mulai hari ini dan seterusnya, Bi Inah cukup mengerjakan pekerjaan rumah di lantai atas!" kata Laras, dengan semena-mena membuat peraturan kepada pembantunya dengan gaya yang sangat angkuh.
"Biarkan Anya yang mengerjakan semua pekerjaan di lantai bawah. Bi Inah cukup menyapu dan mengepel lantai atas saja ... Karena saya, tidak ingin melihat wajah anak kampung! Ini ketika pagi hari saat saya terbangun dari tidur ..." ucap Laras, dengan berjalan di belakang mereka kesana-kemari.
Laras benar-benar tidak perduli apakah mereka setuju atau tidak. Ia merasa yang memegang penuh atas pekerjaan mereka selama menjadi pembantu di rumah ini.
Bi Inah dan Anya saling pandang, sorot mata Bi Inah seperti merasa kasihan ketika membayangkan Anya harus, mengurus semua pekerjaan mulai dari menyiapkan makanan, menyapu, mengepel, mengurus halaman belakang, dan menjemur.
"Tapi Nyonya ... Apakah ini tidak terlalu memberatkan Anya? Dia masih baru di sini Nyonya," kata Bi Inah, dengan nada yang sangat halus dan sopan menuntut pembelaan untuk Anya.
"Tidak ada alesan! ... Kalau sampai saya melihat Bi Inah membantu pekerjaan Anya ..." ancam Laras dengan tegas, mendekatkan wajahnya ke Bi Inah yang sama sekali tidak berani menatapnya. "Tanggung sendiri akibatnya!" bentak Laras dengan keras, membuat pundak Bi Inah dan Anya ikut terangkat sekarang.
"Ba-baik Nyonya. Saya mengerti," balas Bi Inah, merasa harus menerima permintaan yang paling tidak mengenakan dalam hidupnya. Di paksa berada di dalam keadaan yang dimana ia tidak bisa melawan sama sekali.
Anya hanya bisa menunduk cemas, dan untungnya, Anya masih merasa bersyukur karena tidak di pecat oleh keluarga Adiwijaya saat ini. Meski sekarang, pekerjaan yang harus ia lakukan, semakin memberatkan tubuhnya.
"Bagus! ... Kalau begitu, kembali bekerja!" bentak Laras lagi yang sangat suka membuat mereka berdua kaget. Ia lalu pergi begitu saja meninggalkan para pembantunya tanpa bicara lagi.
Berjalan dengan angkuh dan sombong menaiki anak tangga yang menjulang tinggi ke atas. Menuju kamar singgasananya seperti seorang ratu.
Tap ... Tap ... Tap ...
Suara dari langkah Laras yang telah pergi meninggalkan mereka berdua yang masih berdiam diri. Kini Bi Inah dan Anya saling pandang. Tatapan Bi Inah semakin merasa tidak enak, memandang Anya dengan penuh rasa cemas.
"Nggak apa-apa Bi ... Anya bisa melakukannya, Anya akan berusaha keras," kata Anya tersenyum ketika melihat Bi Inah yang seperti merasa cemas terhadap dirinya.
"Anya ..." kata Bi Inah pelan, suaranya hampir tidak terdengar karena kalah besar dengan rasa ke khawatirannya kepada Anya saat ini. Tapi Anya, berusaha untuk tetap terus tersenyum di hadapan Bi Inah.
Di dalam kantin tempat kuliah Bianca. Ada Novi, Wati dan juga Restu. Mereka adalah kelompok yang selalu menemani Bianca ketika berada di dalam university terkenal itu.
Bianca mengambil amplop cokelat yang berisi sejumlah uang dari tasnya. "Nih! ... Buat pekerjaan lu yang kemarin," kata Bianca dengan santai, memberikan amplop itu kepada Restu di depan teman-temannya.
Restu yang satu-satunya pria di dalam kelompok itu, menerimanya dengan senang hati dan segera mengecek isi di dalamnya.
"Widih ... Nggak kebanyakan, nih Bi?" tanya Restu, merasa kaget dengan ekspresinya ketika melihat sejumlah uang yang ia terima dari hasil perjanjian mereka menakuti-nakuti Anya.
"Nggak apa-apa, itu bonus!" sahut Bianca dengan santai, memberikan uang yang ia peroleh dari orang tuanya. Tidak jarang juga Bianca menghambur-hamburkan uangnya bersama mereka ketika berkumpul.
"Eh, ada apansih? ... Proyek lagi, yaa? Ajak-ajak dong!" sambung Novi, yang juga ingin mendapatkan pekerjaan dan merasa penasaran apa yang sudah mereka lakukan.
"Iyaa, dong ... Kita juga 'kan mau!" kata Wati, ikut meramaikan suasana di tengah-tengah mereka yang sedang asik berbincang.
Novi dan Wati sama sekali tidak mengetahui, pekerjaan apa yang telah Restu dapat hingga Bianca mau memberikan uang dengan jumlah yang cukup besar. Karena hal itu, mereka lihat dari bentuk amplop yang lumayan tebal menurut mereka.
"Itu pekerjaan buat cowo! ... Gini aja deh, hari ini ... Biar gua yang traktir makanan kalian di kantin, gimana?" kata Bianca, memberi solusi agar teman-teman yang lain tidak merasa iri dengan Restu yang telah mendapat uang.
Novi dan Wati saling pandang, menahan senyum di kedua wajahnya masing-masing saat ini. "Asiik !!! Bener, yaa Bi?" tanya Novi, dengan ekspresinya yang serius menunggu jawab Bianca.
Bianca mengangguk sekali, mengkonfirmasi ucapan dia ketika ingin mentraktir mereka. "Yeaay !!!" sambung Wati, memeriahkan suasana sebelum mereka kembali memesan makanan yang lain.
Tanpa Bianca sadari, hal seperti ini tidak jarang terjadi. Dimana Bianca terlihat seperti sedang di manfaatkan oleh para teman-temannya. Karena diantara mereka, Bianca yang berekonomi paling kaya. Dan mereka paham hal itu.
Tap ...
Tap ...
Tap ...
Suara langkah kaki dari pria yang sedang berjalan mengarah ke tempat berkumpulnya Bianca dan teman-temannya.
"Eh, ada Rangga ... Ada Rangga," kata Novi, yang begitu terkesima melihat ketampanan pria incaran Bianca.
"Aaa ..! Gantengnya, nggak pernah luntur," sambung Wati, yang juga fokus melihat Rangga sambil menutup mulutnya sendiri.
"Mana-mana? Dimana?" kata Bianca dengan cepat, orang yang satu-satunya mengaku kalau pacarnya Rangga. Ia menoleh ke belekang dengan antusias.
Meskipun Rangga jarang berkumpul, ia termasuk ke dalam kelompok Bianca. Mungkin, karena Rangga adalah orang yang ia suka. Dan tidak ada berani yang mengganggu ketika Bianca bersikap centil kepadanya.
"Pagi sayang ... !!! Sini-sini, duduk ..." kata Bianca dengan centilnya. Langsung meraih menggandeng lengan Rangga menuntunnya duduk di sebelah Bianca.
Meskipun keadan di kantin sekarang sedang ramai, namun Bianca tidak perduli soal itu. Yang ia mau, hanya tetap berada di samping Rangga dan terus menempelnya.
Kereet ... Duk!
Suara Rangga ketika menarik bangku dan duduk di sebelah Bianca yang masih terus menempel di sebelah lengannya.
"Biarkan aku duduk dengan tenang, Bianca," kata Rangga datar, dengan ekspresi wajahnya yang dingin dan semakin membuat Bianca malah tertarik.
Pegangan tangan Bianca 'pun terlepas, karena Rangga yang tidak ingin menjadi pusat perhatian ketika sedang berada di dalam kantin seperti ini.
"Ish ... Kenapa, sih? Orang aku kangen ..." kata Bianca, dengan ekspresi manjanya di samping Rangga yang merasa tidak nyaman.
Wati dan Novi yang merasa iri, hanya bisa melihat Rangga di dekati oleh temannya. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa ketika Bianca telah menjadi ketua kelompok mereka dan mempunyai kuasa.
"Eh, kapan-kapan kita main dong ... Kerumah kamu Bi?" celetuk Novi dengan tiba-tiba mengusulkan ide.
"Iyaa, tuh bener! ... Nonton film kek, apa kek ..." sambung Wati, merasa setuju atas ide Novi di sebelahnya.
Bianca menatap Rangga yang baru saja tiba bergabung. "Hmm ... Gua sih mau aja, asal Rangga ikut ..." balas Bianca, langsung kembali menempelkan kepalanya di lengan Rangga.
Semua mata kini menatap Rangga, seolah mencari jawaban atas perkataan dan keinginan mereka semua. Walaupun itu sebenarnya memberatkan Rangga.
•••
"Ayolah, Ga ... Kapan lagi kita bisa kumpul bareng? Jarang-jarang ini," sahut Restu, yang juga merasa sepakat atas usul teman-temannya.
Rangga membuang pandangannya dari Bianca, menatap teman-temannya yang selalu memutuskan sesuatu secara mendadak seperti ini.
"Huh ... Yaudah, atur aja," balas Rangga dengan ekspresinya yang terpaksa, membuang nafasnya ketika kembali melihat Bianca yang masih terus menempel kepadanya dengan centil.
"Asiik! ... Yes!" kata Novi dan Wati merasa senang. Mengedipkan matanya kepada Bianca agar mereka nanti mempunyai waktu bersama lebih banyak dari di kampus.
"Oke! ... Kalau gitu, nanti biar gua kasih tahu kapan waktunya," sahut Bianca, ketika melepaskan sandarannya ketika berbicara lalu menempel lagi seperti magnet.
Di sisi lain. Bi Inah sedang berada di lantai atas, ia baru saja selesai membersihkan kaca kamar majikannya dari luar balkon. Ketika ia kembali masuk ke dalam, ia tidak sengaja melihat Anya yang sedang mengepel lantai.
Ia sekarang menjadi lebih tidak enak. Ketika pekerjaannya, lebih sedikit di banding pekerjaan Anya yang berada di lantai bawah. Dan itu peraturan yang di buat semena-mena oleh Laras.
"Mulai sekarang, aku harus bekerja lebih keras. Aku tidak ingin di pecat hanya karena hal kecil seperti ini ..." gumam Anya dalam hati, ketika sedang mengepel seluruh lantai bawah dan di saksikan Bi Inah dari atas tanpa ia sadar.
Sesekali juga bahkan terlihat Anya yang sedang mengepel lantai, menyeka keringat yang keluar dari keningnya tanpa ia sadar.
"Aku harus semangat!" sambung Anya ketika berusaha menyemangati dirinya sendiri. Bi Inah yang sedang mencemaskan Anya, tidak bisa berbuat banyak mengenai peraturan baru Laras ini.
"Anya ..." suara Bi Inah yang keluar secara tiba-tiba, pelan seraya terus menatap Anya yang sedang bekerja keras di banding ia saat ini.
Ceklek ...
Terdengar suara orang yang baru saja membuka pintu kamarnya. Entah suaranya yang terdengar pelan, atau memang Bi Inah sendiri yang saat ini tidak mendengarnya karena sedang fokus mencemaskan Anya.
Bi ...
Bi Inah ...
Sampai beberapa kali orang yang baru saja keluar dari kamarnya itu memanggil-manggil nama Bi Inah yang terlihat seperti tidak mendengarnya.
"Bi Inah!!!" bentak Laras dengan keras, berdiri di belakang Bi Inah yang sedang memperhatikan Anya dari lantai atas. Dengan sikapnya yang angkuh, kini Laras merasa kesal kepada Bi Inah yang tidak mendengar beberapa kali ketika di panggil.
"I-iyaa Nyonya, maafkan saya ... A-ada apa?" kata Bi Inah yang baru saja kaget mengangkat kedua bahunya, ia bergegas berbalik badan dan kini patuh di hadapan Nyonya besar sambil menunduk. Ucapannya sampai terbata-bata karena takut.
"Bi Inah budek, atau pura-pura nggak denger?!" bentak Laras lagi yang merasa masih tidak terima karena lambatnya respon Bi Inah.
"Maaf Nyonya ... Saya kurang fokus, saya salah ..." kata Bi Inah dengan pelan, dengan suaranya yang merasa takut setiap kali mendengar Nyonya Laras bicara keras.
Laras melirik dan mengintip ke bawah. Melihat apa yang sebenarnya sedang Bi Inah perhatikan sampai membuat ia tidak fokus ketika di panggil.
"Bi Inah cemas dengan Anya? Mau di pecat menggantikan dia?" ancam Laras dengan suaranya yang pelan, namun membuat Bi Inah merasa tidak berdaya di hadapannya.
Setelah melihat Anya di bawah, Laras kembali menghadap Bi Inah, menaikan kedua tangannya setinggi dada bersikap sombong sebagai seorang majikan.
"Nggak Nyonya ... Maafkan saya, jangan pecat saya!" kata Bi Inah dengan cepat, yang langsung merasa panik.
Menggelengkan kepalanya dengan cepat dan masih terus menunduk. Merasa takut dengan sosok yang ada di depannya saat ini. Pegangan pada kain bekas membersihkan kaca jendela juga semakin erat di tangan Bi Inah.
"Yaudah kerja! Jangan malah ngeliatin orang!" bentak Laras lagi yang membuat Bi Inah kembali kaget, merasa sesak untuk Bi Inah bernafas karena menahannya.
"... Emang nggak ada kerjaan lagi?! Beresin kamar Bianca sana !!!" seru Laras, dengan mengeraskan suaranya lebih kencang dari sebelumnya. Sambil menunjuk ke arah kamar Bianca, anak kesayangannya.
"Ba-baik Nyonya ... Kalau gitu, saya permisi ..." jawab Bi Inah ingin segera pergi, dengan sopan dan amat sangat patuh karena merasa takut dengan ancaman yang baru saja Laras ucapkan.
Bi Inah langsung pergi melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Laras, menatap Anya yang masih membersihkan lantai, sambil memegang besi yang menjadi pagar batas lantai di hadapannya.
"Cih ... !!!" gumam Laras, ketika melihat sosok Anya yang semakin ia benci sekarang.
Merasa sudah selesai membersihkan dan mengepel lantai dasar, Anya segera kembali membereskan barang-barang yang baru saja ia pakai di dalam gudang.
Anya mengambil penyiram tanaman dan pemotong rumput, untuk membersihkan halaman belakang sekarang. Ketika melihat di depan jendela kamarnya, ia melihat seekor kucing disana.
"Lucuuu nya~! ... Kucing siapa, yaa ini?" kata Anya pelan, sambil mendekat berjongkok di depan kucing yang sedang tidur di atas rumput yang hangat itu.
"Kenapa kamu tidur disini?" kata Anya, ketika berbicara imut dengan kucing menggemaskan yang baru saja ia gendong saat ini.
Saat Anya sedang asik bermain dan berbicara sendiri dengan kucing, ia tidak sengaja melihat jejak kaki tepat di depan jendela kamarnya.
"Hmm?" pandangan Anya fokus beralih ke jejak itu sekarang. "Jejak apa ini, seperti bukan jejak hewan ..." kata Anya, ketika ia beranjak diri dan lebih fokus melihat jejak apa itu.
Anya terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu sekarang. "Apakah yang aku pikirkan semalam benar, kalau yang masuk kedalam kamar ku itu ... Bukan hantu, tapi manusia?" gumam Anya berpikir sendiri di dalam hatinya.
Meoaw~
Meoaw ...
Terdengar tiba-tiba suara seorang pria yang sedang mendekat ke arah Anya dari balik tembok. Pak Tono yang baru saja tiba melihat Anya di halaman belakang.
"Anya? ..." tanya Tono, langsung bertanya kepada Anya sebelum tahu ia sedang menggendong kucing. "Apa kamu melihat kucing Nona Bian?" sambungnya, mulai sedikit memperhatikan Anya yang sedang menggendong sesuatu.
"Kucing Non Bianca? ... Apakah ini?" tanya balik Anya, dengan eskpresinya yang cantik ketika menunjukan kucing yang sedang ia gendong dengan imut.
"Nah, iyaa! ... Walah, akhirnya ketemu ..." ujar Tono, ketika merasa senang bertemu dengan hewan peliharaan majikannya. Anya langsung memberikan kucing itu kepada Tono.
"Makasih, yaa Anya ... Bisa repot kalau, Non Bianca nanya kucingnya tidak saya jaga," ujar Tono, memberitahu bahwa hewan itu adalah milik kesayangan Bianca. Majikannya yang super rese.
Anya tersenyum lalu sedikit tertawa. Ia tahu betul bagaimana perasan Tono ketika menghadapi Bianca sekarang.
"Haha, iyaa pak ... Sama-sama, kucing itu tadi sedang tidur di sana ketika saya tidak sengaja melihatnya," ujar Anya, dengan ramah dan dengan wajahnya yang sangat cantik.
Tono yang sedang merasa senang sekarang, terlihat sedang mengelus-ngelus kucing peliharaan Bianca itu agar tidak kabur lagi di saat ia menggendongnya.
"Hmm ... Eh, iyaa pak Tono. Boleh saya bertanya?" ucap Anya, masih merasa canggung sebenarnya ketika berbicara dengan para pegawai di rumah ini termasuk Tono.
"Yaa boleh atuh Anya ... Emang bayar, kalau nanya?" tanya balik Tono sambil bercanda, mencairkan suasana agar Anya bisa sedikit santai ketika sedang berbicara dengannya.
"Hmm ... Gini, pak. Apakah pak Tono, bekerja menjaga rumah ini sampai malam?" tanya Anya, merasa sangat penasaran dengan ekspresinya yang terlihat serius.
"Nggak Anya, paling pak Tono mah kalau sudah menjemput pak Adiwijaya dan Non Bianca, jam 5 sore juga sudah pulang ... Nggak sampai malam, karena yang bertugas malam ... Itu sudah dalam pengawasan satpam perumahan komplek ini biasanya ...," ujar Tono, sambil terus menggendong kucing di tangannya seperti bayi.
"Emang kenapa?" tanya Balik Tono, merasa sedikit penasaran ketika melihat Anya yang terus menatapnya dengan serius.
"Ah, nggak pak ... Nggak ada apa-apa," jawab Anya, bersikap kalem seperti biasa agar tidak menimbulkan kecurigaannya.
"Yaudah, kalau gitu ... Saya permisi dulu," kata Tono, tersenyum ramah kepada Anya sebelum pergi meninggalkannya.
"Iyaa, pak ..." jawab Anya, ketika pandangannya sudah melihat Tono pergi. Anya terdiam, masih memikirkan tentang siapa orang yang mengancamnya sampai berani masuk kedalam kamar seperti itu.
•••
Di dalam sebuah kamar yang besar dan mewah. Tengah duduk di tepi ranjang mahal sosok wanita yang sedang memikirkan sesuatu dengan ekspresinya yang terlihat bingung.
"Sialan! ... Bagaimana caranya aku mengusir anak kampung itu? Kayaknya, mas Adi sendiri mulai menyukai Anya sebagai pembantu di rumah ini," gumam Nyonya Laras bicara sendiri, sambil duduk memegang ponsel yang tadi ia mainkan di tangan kirinya.
Laras mulai menggigiti kukunya sendiri. Sebuah kebiasaan yang sering ia lakukan ketika sedang berpikir serius.
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara Bi Inah dan Anya yang sedang memotong sayuran di dapur. Mereka berdua ingin membuat makan siang Nyonya Laras yang masih berada di dalam rumah ini.
"Maaf, yaa Anya ... Gara-gara Bibi, pekerjaan kamu jadi lebih banyak di lantai bawah. Bibi jadi ngerasa nggak enak," ungkap Bi Inah, dengan ekspresinya yang merasa sedih ketika melihat Anya yang berada di sebelahnya.
"Nggak apa-apa Bi ... Ini bukan salah Bibi, kok! Anya baik-baik ajak," balas Anya, menunjukan senyum yang manis agar membuat Bi Inah tidak lagi merasa cemas.
Karena bagaimana 'pun, ini semua adalah ulah Laras. Membuat peraturan yang semena-mena semau ia untuk memberatkan pekerjaan Anya sebagai pembantu di rumah ini.
"Kita mau masak apa Bi?" tanya Anya penasaran, ia memang tidak tahu menu makanan apa yang harus di sajikan untuk Nyonya Laras ketika ingin makan siang.
"Nyonya Laras ... Suka dengan capcay untuk menu makan siangnya. Kita buat itu saja," balas Bi Inah, ketika mulai menumis beberapa bahan ke minyak yang baru saja panas di hadapan mereka.
Cess~
Suara dari bawang bombay yang baru saja di masukan kedalam minyak panas oleh Bi Inah. Anya memperhatikan Bi Inah sambil belajar untuk membuat menu masakan yang di sukai oleh keluarga Adiwijaya.
"... Abis itu, kita aduk-aduk sebentar ... Terus masukan deh, sayur-sayurannya," kata Bi Inah, ketika ia sedang mengajari Anya memasak dengan penuh senyum.
Mereka berdua benar-benar terlihat seperti ibu dan anak. Bukan hanya sebatas rekan kerja yang sedang mengajari bawahannya.
"Sini Bi! Biar Anya aja yang teruskan ..." sahut Anya dengan senyum, ketika merasa senang. Seperti mendapat sosok ibu di dalam keluarga ini.
Tap ...
Tap ...
Tap ...
Suara langkah Laras yang sedang berjalan dengan angkuh menuruni anak tangga. Merasa dirinya sangat hebat dengan sikap sombongnya sebagai majikan.
Di tengah-tengah kebersamaan Anya dan Bi Inah, tercium harum masakan mereka yang sudah matang dan siap di hidangkan untuk Nyonya besar Laras.
"Humm ... Enak, Bibi ... Harum wanginya," kata Anya ketika mencium aroma masakan yang telah mereka buat. Anya langsung meletakan capcay itu di piring yang berada di atas meja makan di dapur.
Bi Inah merasa senang, tersenyum ketika melihat wajah Anya yang sangat bahagia sekarang. Namun tiba-tiba ... Terdengar suara langkah seseorang mendekat ke arah mereka dari belakang.
"Bi Inah !!!" teriak Laras tiba-tiba, yang sudah berada di belakang Anya dan Bi Inah yang sedang asik bahagia memasak bersama.
Kedua pundak Bi Inah dan Anya mengangkat bersama ketika mendengar suara itu, sebelum akhirnya menoleh berbarengan ke arah Laras.
"Apa Bibi lupa, dengan yang aku ucapkan tadi?! ... Bibi tidak perlu lagi mengurus masalah yang ada di lantai bawah!!!" bentak Laras, dengan nadanya yang sangat keras merasa kesal dengan Bi Inah yang hanya mencoba membantu Anya memasak.
"... Termasuk membantu pekerjaan Anya di sini !!!" teriak Laras, dengan nada yang sedikit keras dari sebelumnya.
Bi Inah yang tidak bisa berkata apa-apa lagi, memandang Anya sekali dengan tatapan yang merasa bersalah, karena ikut terkena ocehan Nyonya besar Laras. Majikan mereka berdua.
"Maaf, Nyonya ... Bi Inah tidak salah. Ini keinginan saya yang meminta ia mengajari saya masak, makanan kesukaan Nyonya ..." jawab Anya dengan perasaannya yang ragu, sambil terus kembali menunduk tidak berani menatap majikannya sendiri.
Bi Inah kaget mendengar ucapan Anya, ketika ia berusaha membelanya di depan Nyonya Laras. Padahal, Bi Inah sendiri yang datang ingin membantu Anya memasak karena merasa senang.
"Nah, nah, nah ... Itu kamu pinter tahu kesalahan kamu! ... Semenjak ada kamu di rumah ini, setiap saat otak saya jadi makin pusing! Tau nggak?" kata Laras, memutar kedua matanya dan menggerakan lengannya menutup telinga karena merasa sangat kesal.
"Maaf, Nyonya ..." kata Anya, pelan. Suaranya putus hampir tidak terdengar karena suara Laras yang sangat keras ketika memarahi mereka.
Huh ...
Suara Laras ketika manarik dan membuang nafasnya dalam-dalam. Laras sangat enggan dan tidak ingin berlama-lama menatap para pembantunya.
"Sekarang Bi Inah pergi ... Lakukan pekerjaan apapun yang bisa di kerjakan di lantai atas. Jika semuanya sudah beres, Bi Inah tidak perlu melakukan apa-apa lagi, cukup dengan beristirahat ..." ujar Laras, dengan kalimatnya yang pelan menatap kembali Bi Inah yang merasa semakin takut.
Bi Inah yang bingung karena sudah tidak ada pekerjaan yang bisa ia lakukan, kembali memandang Anya di sebelahnya. Dan hal itu membuat Laras semakin kesal.
"Pergi Bi Inah !!!" bentak Laras dengan emosi yang semakin meningkat, karena kelambatan Bi Inah merespon.
"B-Ba-Baik Nyonya ... Permisi," ucap Bi Inah mendadak gugup, dengan sopan menjatuhkan lengannya dan pergi meninggalkan Laras dan Anya dengan terus menunduk.
Ketika berada di depan tangga menuju lantai atas, Bi Inah menatap ke arah dapur. Membuang nafasnya yang sedari tadi ia tahan.
"Huh ... Ya, Gusti ... Kok bisa, ada orang kayak gitu, yaa?" gumam Bi Inah pelan, sambil mengelus dada dan menggelengkan kepalanya sebelum menaiki tangga.
Laras yang masih berada di dapur bersama Anya, melihat sebuah piring berisikan capcay makanan kesukaannya. Berhubung saat ini ia belum makan siang, ia ingin memakan capcay itu.
"Dan kamu Anya! Bawakan, apa yang telah kamu buat itu ke depan. Saya mau makan siang!" kata Laras lalu berbalik badan. Berjalan dengan sangat angkuh, ingin mencoba masakan Anya namun masih tetap dengan sikap gengsinya yang sangat besar.
"Baik Nyonya ..." balas Anya, segera mengambil piring yang berisi capcay itu dan membawanya mengikuti Laras yang sudah berjalan lebih dulu pergi ke depan.
Tap ...
Tap ...
Tap ...
Suara langkah Laras dan Anya ketika mereka berjalan ke ruang meja makan utama.
Keree ... Ket ... Duk!
Kini Laras sudah duduk di kursi dengan sangat anggun menunggu Anya yang menyusul di belakangnya.
"Permisi Nyonya ..." kata Laras, bersikap dengan sangat sopan ketika meletakan piring yang ia bawa ke hadapan Laras.
Tek ...
Tanpa basa-basi lagi Laras langsung mengambil sendok dan garpu yang sudah tersedia. Mencicipi hidangan capcay yang sudah Anya buat sebagai makanan favoritnya.
Nymm ... Nymm ...
Kedua Mata Laras membulat besar, kaget dengan rasa masakan yang baru pertama kali ia rasakan di lidahnya. Laras yang tengah mengunyah manatap Anya dengan tatapannya yang tajam. Membuat Anya yang masih berdiri di sebelahnya merasa menjadi takut.
"Siaaaal ... Siaaal ... Siaal! Kenapa bisa ada capcay seenak ini?" gumam Laras dalam hati, berbanding terbalik ketika memberi ekspresi tidak sukanya kepada Anya yang terus menunduk patuh.
Celenting!!!
Laras membanting sendok dan garpunya dengan sengaja agar membuat suara yang mengagetkan Anya. Menatapnya dengan ekspresi yang kesal, sehingga membuat lag-lagi pundak Anya terangkat karena kaget.
"Masakan apa ini?! Kamu ingin meracuni saya?! ... Hah?!" bentak Laras, dengan nada tingginya yang membuat Anya tidak berani memandang.
Anya yang bingung, merasa sangat takut melihat ketidak sukaannya Laras kepada masakan yang dengan susah payah ia buat. Dan menurut Anya sendiri, ia telah berusaha keras membuat masakan yang lezat itu.
"Ma-Maaf, Nyonya ... Kalau begitu ..." kalimat Anya yang belum sempat ia selesaikan karena terpotong oleh Laras.
"Tidak perlu !!! ... Kamu hanya akan menghabiskan bahan makanan di rumah ini saja, pergi kamu dari sini. Saya tidak ingin melihat kamu!" ucap pedas Laras, dengan ekspresi yang amat membuat Anya merasa takut.
Anya yang merasa sedih dan tidak bisa berbuat apa-apa, berbalik badan. Pergi dengan ekspresi murungnya dengan berjalan terus menunduk.
Laras memperhatikan Anya yang semakin menjauh. Ketika melihat Anya sudah tidak ada lagi di pandangannya, Laras langsung kembali mengambil alat makannya. Melahap dengan rakus masakan Anya yang tadi ia sempat hina.
"Sshh ... Ah! Astaga, kenapa anak kampung itu pintar memasak ..." ucap Laras, di sela-sela ketika ia sedang lahap menyantap makanan Anya dengan sangat nikmat.
•••
Di tengah-tengah kesibukan Laras yang sedang menyantap masakan Anya dengan lahap, tiba-tiba saja di layar ponsel yang sedang tergeletak di hadapannya itu menyalah.
Ting~
Suara notif pesan masuk yang muncul di ponsel Laras. Mau tidak mau, Laras harus menunda kenikmatan makanan yang sedang ia makan.
"Aish ... Siapa, sih yang ganggu aku lagi menikmati hidangan lezat ini?!" gumam Laras dengan kesal, karena aktivitasnya harus terhenti dan segera mengambil ponselnya.
Di paling atas layar ponselnya, terlihat nama [Bianca Sayang] yang baru saja ternyata mengiriminya pesan.
"Mih ... Aku sama Papih lagi belanja hadiah ulang tahun Mamih nanti ... Aku janji, aku bakal pilihin kalung berlian mahal yang cocok buat Mamih ..." kata Bianca, lewat isi pesannya yang baru saja Laras baca.
Ketika mendengar kabar itu, ekspresi senang Laras tidak lagi bisa ia sembunyikan. Laras melempar pelan kembali ponselnya ke meja sambil menutup mulut karena merasa kaget.
"Astaga! Yang bener sayang? ... Ih, Mamih seneng banget dengernya ..." balas Laras mengambil kembali ponselnya, lewat pesannya ketika mereka sedang berbalas pesan lewat chat.
"Aman Mih ... Tenang pokoknya, jangan khawatir!" kata Bianca, dengan banyak emot yang ia kirimkan kepada Mamih tercintanya.
"Ih ... Makasih, yaa sayang ... Mamih jadi nggak sabar mau lihat kalungnya seperti apa ..." jawab Laras, ketika bermain ponsel sekarang sambil tersenyum tidak sabar menunggu.
"Oke ... Udah dulu, yaa ... Bye Mih, muaach!" kata Bianca, menutup pembicaraan mereka lewat pesan bersama Laras ibunya.
"Muaachh !!!" balas Laras lagi, dengan mengecup ponselnya sendiri karena sangat merasa senang.
Laras menatap ke depan. Dengan wajahnya yang di penuhi kesenangan, mengepalkan kedua tangan dan mendekatkan ke wajahnya bertingkah lucu menggemaskan.
"Ihh ... Aku jadi nggak sabar," gumam Laras, bertingkah asik sendiri di ruang meja makan yang luas.
Bi Inah yang sedang berpura-pura menyapu karena pekerjaannya sudah beres, tidak sengaja melihat Nyonya Laras dari atas. Melihat piring yang berisi capcay itu telah habis Laras santap.
"Syukurlah ... Kayaknya, Nyonya Laras menyukai masakan yang telah Anya buat ..." kata Bi Inah pelan, tersenyum ketika menyaksikan ekspresi Laras yang merasa sangat senang.
Duk ...
Terdengar suara Anya dengan pelan ketika menutup pintu kamarnya. Anya berjalan perlahan duduk di tepi ranjangnya. Memperhatikan foto dirinya yang sedang memeluk ibu tercintanya.
"Bu ... Anya kangen, bu ..." ucap Anya tiba-tiba. Suara nya terdengar samar pelan berbarengan dengan tetesan air mata yang jatuh dengan sendirinya.
Usai mendapatkan perlakuan tidak baik dari Nyonya Laras majikannya, kini Anya sedang sendiri menatap rindu sebuah foto kecil keluarganya.
"Hiks ... Anya, nggak nyangka. Kalau kehidupan di kota besar seperti ini ... Anya nggak kuat bu ..." kata Anya lagi pelan, kali ini dengan suara yang agak serak karena Anya sedang menangis bersedih.
Perlahan Anya kembali menatap foto yang sedari tadi ia genggam, memeluknya dengan sangat erat membayangkan sosok ibunya yang selalu menjadi penyemangat hari bagi Anya.
"Anya kangen ibu ..." kata Anya pelan, berusaha menjadi seseorang yang di tuntut kuat oleh keadaan yang tidak bisa Anya sendiri hadapi. Anya harus terus bekerja untuk bertahan hidup dan untuk memenuhi kebutuhan ibunya di kampung.
Di dalam kamar Anya saat ini, ruangan itu menjadi saksi. Dari, sifat rapuhnya Anya yang harus kuat menghadapi kenyataan pahit hidupnya.
Di balik keceriaan yang Anya tunjukan, ada sisi rapuh yang belum di lihat siapa-siapa. Hanya Anya sendiri yang dapat memahami itu. Bersikap kuat. Jauh menepi dari balik ramai-meriahnya kehidupan Anya yang mencoba bertahan di kota besar ini.
Di sisi lain ...
Terlihat sebuah kalung berlian yang sangat cantik sedang di pegang oleh Bianca. Kalung mahal itu yang nanti nya akan menjadi hadiah ulang tahun Laras yang akan datang.
"Pih, liat deh ... Kalung berliannya bagus kan?" tanya Bianca menatap ayahnya, sambil menunjukan kalung berlian mahal yang ada di tangannya.
"Kamu yakin, mamih kamu bakalan suka?" tanya balik Adiwijaya menatap Bianca. Merasa ragu sebenarnya jika harus membelikan kalung berlian yang terlihat mahal ini.
Namun untuk keluarganya tercinta, sebisa mungkin ia ingin memberikan yang terbaik sebagai kepala keluarga dan sebagai CEO Perusahaan besar miliknya.
"Christie’s Diamond - 52 berlian putih (104,84 karat), desain simpel elegan, dijual 2025 kemarin. Satu-satunya kalung yang ada di kota ini ..."
"Kami mendapatkan ini, dari hasil menang pelelangan akhir tahun kemarin," ujar salah satu tangan kanan pemilik toko berlian mahal ini. Menjelaskan dengan singkat Christie's Diamond
Adi dan Bianca mengamati tangan kanan pemilik toko perhiasan mahal yang sedang menjelaskan barangnya.
"Hmm ... Kira-kira berapa harganya, om?" tanya Bianca, yang sedikit merasa penasaran dengan harga kalung yang sedang ia pegang.
"106 milyar! ... Tapi, jika pak Adiwijaya berminat, saya bisa memberi diskon 5%" jelas pria gendut yang berada di hadapan Bianca, dengan santai menyebutkan seakan-akan uang itu adalah jumlah yang sedikit.
"What!!! ... The ..." kata Bianca yang merasa kaget. Kalimatnya semakin pelan ketika Adiwijaya selaku ayahnya melihat tingkah anaknya yang tidak baik. "106 milyar?! ..." sambungnya masih merasa kaget ketika melihat kalung mahal yang sedang Bianca pegang.
"Ekhmm ... Saya mau itu. Tolong bungkus satu yang rapih sebagai kado untuk ulang tahun istri saya," jawab Adiwijaya dengan santai, ia tidak mau harga dirinya turun di depan orang lain sebagai seorang CEO.
Mendengar ucapan Adiwijaya, pria gendut itu menunjukan senyumnya sambil mengambil sebuah kartu yang Adiwijaya berikan. "Tunggu sebentar, yaa pak ... Kami akan kemas dengan baik dulu. Bapak bisa duduk sebentar selagi menunggu," katanya merasa sangat senang telah deal dengan CEO besar.
"Pah ... Apa papah yakin, mau belikan kalung mahal itu untuk hadiah ulang tahun mamih?" tanya Bianca pelan hampir berbisik, memastikan ucapan ayahnya yang ia sendiri merasa ragu.
"Kenapa memangnya? Bukankah, itu pilihan kamu ... Apa kita harus mengganti yang lain?" tanya balik Adiwijaya, berusaha bersikap tenang dan berwibawa di depan anaknya.
"Tapi ..." ucapan Bianca yang terpotong. Ketika pria gendut dari dalam toko perhiasan mahal itu telah keluar dengan kalung yang sudah ia bungkus secara rapih dan mewah. Kado itu benar-benar terlihat sangat elegan.
"Ini pak, kadonya sudah saya bungkus ... Senang bisa berbisnis dengan anda, terimakasih ..." ucap pria gendut itu ketika memberikan kadonya kepada Bianca, mengulurkan tangan yang di sambut baik oleh Adiwijaya.
"Sama-sama," balas Adiwijaya, dengan sangat tegas dan menunjukan kewibawaannya di depan semua orang yang bekerja di dalam toko itu sedang memperhatikan mereka.
"Wah ... Beruntungnya, yaa punya suami kayak dia. Walaupun udah punya anak, tapi tetep ganteng!" ucap salah satu pegawai toko perhiasan mahal itu ketika melihat transaksi bosnya sendiri.
"Iyaa, aku juga iri lihatnya ... Pasti istrinya orang baik," sahut pegawai wanita yang lain. "Aku ingin bekerja di rumah orang itu ... Pasti enak," sambungnya berbicara asal ketika sedang bergosip.
Akhirnya, Adiwijaya bersama Bianca pergi meninggalkan toko perhiasan mahal itu, berjalan ke arah luar bangunan mewah itu untuk segera pulang.
"Tau begini ... Aku pilihin aja yang jelek biar harganya murah, aku iri jadinya sama mamih yang di kasih hadiah semahal ini," gerutu Bianca dalam hati. Mengisi kekosongan di setiap langkahnya ketika berjalan di samping ayah tercinta sambil menatapnya.
Merasa sudah agak lebih baik, Anya keluar dari kamarnya. Berjalan menuju ruang makan utama keluarga Adiwijaya untuk mengambil piring capcay tadi.
Klek~
Suara Anya ketika perlahan menutup pintu. Ketika ia sudah sampai tepat berdiri di depan meja makan yang baru saja Laras tinggali, Anya merasa bingung sekarang.
"Capcay yang aku buat ... Kenapa habis?" gumam Anya pelan bicara sendiri, merasa bingung ketika melihat piring yang ia pegang sangat bersih. "Apa Nyonya Laras yang membuangnya? ... Ah, tapi itu tidak mungkin ... Karena ia pasti tidak ingin mengotori tangannya sendiri,"
"... Paling-paling di makan kucing," sambung Anya dengan sifat polosnya, yang sama sekali tidak berpikir bahwa makanan itu sebenarnya habis oleh Laras sendiri.
Karena setahu Anya, Nyonya Laras jelas-jelas tidak suka dan malah menghina masakan yang telah Anya buat dengan susah payah itu.
Tap ...
Tap ...
Tap ...
Suara langkah Anya ketika sudah membersihkan meja makan ruangan Adiwijaya. Dan sekarang, Anya ingin mencuci piring sebelum sore hari tiba. Karena selanjutnya ia harus memasak untuk makan malam keluarga Adiwijaya.
Bersambung ...