Bagi Winda, menjadi istri Baskara adalah sebuah kepasrahan. Namun, sebuah bisikan miring di pesta malam itu meruntuhkan harga dirinya: Winda hanyalah singgasana sementara sebelum masa lalu suaminya kembali. >
Kecewa, hancur, dan mati rasa, Winda nekat melangkah ke dalam takdir yang kelam. Di bawah guyuran hujan malam itu, ia menyerahkan raganya pada Aryo—suami dari sahabat baiknya sendiri. Sebuah pelarian gila demi membalas rasa sakit hatinya.
Namun, selembar benang rahasia itu perlahan ditarik oleh takdir. Saat kebenaran tentang kesetiaan Baskara terungkap, Winda justru mendapati dirinya terbangun di rumah sakit dengan sebaris kalimat yang meremukkan jiwanya: "Kamu hamil, Sayang."
Di atas dua ranjang yang berbeda, satu rahasia besar kini terkunci rapat. Winda terjebak dalam labirin penyesalannya sendiri, sementara di seberang sana, sang sahabat juga tengah merayakan kehamilan yang sama.
Ketika waktu perlahan membongkar tabir, siapakah yang akan bertahan di atas singgasana yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey.writerid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EKSPETASI YANG PATAH
Lonceng besar di sudut koridor kampus berbunyi dengan nyaring, gema suaranya memantul di langit-langit gedung tua itu, menandakan jam kuliah makroekonomi yang membosankan dan penuh kurva rumit akhirnya selesai. Suasana kelas seketika berubah riuh oleh suara gesekan kursi dan riuh rendah obrolan mahasiswa yang bersiap pulang. Di barisan tengah, Winda bergegas merapikan buku-buku tebalnya yang berserakan, memasukkannya satu per satu ke dalam tas kain lusuh andalannya. Di tengah kesibukannya, sepasang mata Winda tidak bisa berhenti melirik ke arah bangku barisan paling depan.
Di sana, Serena sedang berdiri anggun sambil menguncir rambut panjangnya yang hitam berkilau. Gerakannya begitu santai namun memancarkan pesona khas anak orang kaya yang terdidik. Hebatnya, dengan segala kemewahan yang melekat sejak lahir, Serena tidak pernah sekali pun bersikap tinggi hati atau memandang sebelah mata orang lain.
Bagi Winda, Serena bukan sekadar anak dari Bapak Rudi Wijaya—bos besar pemilik perusahaan properti raksasa tempat ayahnya, Pak Hendra, mengabdi bertahun-tahun sebagai team leader. Lebih dari urusan pekerjaan orang tua, Serena adalah sahabat sejatinya sejak mereka masih duduk di kelas satu SMA. Persahabatan mereka tumbuh dengan tulus dan kokoh, sama sekali tidak memandang kasta sosial yang jomplang, atau kontrasnya warna kulit sawo matang Winda yang bersanding dengan kulit porselen Serena yang putih bersih, cantik, dan penuh kharisma.
"Win, kantin yuk? Lapar banget nih , cacing di perutku udah pada demo dari tadi " ajak Serena sambil berjalan mendekat dan mencolek lembut bahu Winda. Ia tersenyum manis setelah selesai menyampirkan tas bermereknya.
Winda mendongak, ikut tertular senyuman hangat sahabatnya itu. "Yuk! Aku juga butuh yang segar- segar juga nih."
Namun, baru saja kedua gadis itu melangkah keluar melewati pintu kayu kelas, langkah kaki Winda mendadak terkunci di lantai koridor. Sesosok cowok bertubuh tegap dengan kemeja flanel yang rapi sudah berdiri bersandar santai di dinding koridor luar. Aryo.
Detik itu juga, jantung Winda seketika berdesir hebat, berdegup dengan ritme yang liar di dalam dadanya. Sudah hampir satu tahun penuh, tepatnya sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di gerbang universitas ini sebagai mahasiswa baru, Winda telah memendam rasa cinta yang teramat dalam pada cowok populer itu. Winda benar-benar suka sampai klepek-klepek, dan seluruh dunianya seolah langsung berputar di sekitar Aryo setiap kali cowok itu berada di dekatnya.
Aryo menegakkan tubuhnya yang tinggi, melangkah mendekat ke arah mereka berdua dengan sepasang mata yang menatap lurus tanpa berkedip. Belakangan ini, dalam beberapa bulan terakhir, Aryo emang sering banget datang menghampiri mereka, entah untuk sekadar mengganggu jalannya diskusi kelompok atau melempar lelucon-lelucon kecil di dekat meja kuliah mereka.
Bodohnya, dengan segala kepolosan hati yang dipenuhi bunga-bunga asmara, Winda selalu mengira bahwa semua tindakan konsisten itu adalah cara halus Aryo untuk mencari perhatian dirinya. Winda sering kali merasa geer setengah mati, merasa bahwa dialah alasan kenapa cowok sepopuler Aryo mau meluangkan waktu mendekati kubu mereka.
"Hei," sapa Aryo saat jarak mereka tinggal dua langkah. Nada suaranya yang berat terdengar begitu ramah dan menenangkan di telinga Winda.
Tangan Aryo bergerak perlahan merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah gantungan kunci berbentuk miniatur buku yang sangat lucu dan estetik. "Ini... kemarin jatuh di dekat perpus pusat. Punya kamu, kan?" Aryo menyodorkannya tepat di depan wajah Winda yang sedang terpaku.
Seketika itu juga, Winda merasakan seluruh darah di tubuhnya berdesir naik ke wajah. Pipinya memanas, merona merah jambu yang pekat. Jantungnya kini berdegup dua kali lipat lebih cepat hingga dadanya naik turun. Dia memperhatikanku? Dia bahkan tahu barang pribadiku jatuh dan menyimpannya? batin Winda berteriak penuh euforia.
Dengan tangan yang sedikit gemetar menahan rasa bahagia yang membuncah dan sebuah senyuman manis yang mulai merekah lebar di bibirnya, Winda perlahan mengulurkan telapak tangannya untuk mengambil gantungan kunci itu. "Eh, iya... makasih banyak ya, Ar. Kamu repot-repot amat sampai nyariin aku buat ngembaliin—"
"Bukan buat kamu, Winda."
Kalimat pendek itu meluncur santai dari mulut Aryo, seketika memotong kalimat Winda dengan cepat tanpa beban. Wajah Aryo tampak begitu polos tanpa dosa saat melanjutkan kata-katanya.
"Itu punya Serena, kan? Kemarin aku lihat jelas Serena pakai gantungan itu di tasnya," sambung Aryo, dan di detik itu juga, sepasang matanya langsung beralih dari Winda, terkunci sepenuhnya pada sosok Serena yang berdiri di belakangnya. "Bener kan, Ren? Punya kamu? Aku tahu kamu emang suka banget koleksi barang-barang miniatur yang begini dari dulu."
Tangan Winda yang sudah setengah terbuka di udara mendadak membeku, menggantung kaku di antara mereka bertiga. Senyuman manis yang baru saja merekah di bibirnya mendadak terkunci, berubah menjadi rasa pening luar biasa yang menghantam kepalanya bagai godam tak kasat mata. Rasa bersalah karena sudah terlalu percaya diri, rasa malu yang membakar pori-pori kulitnya, dan rasa nyesek yang teramat perih seketika bercampur menjadi satu, menyergap dada Winda hingga ia merasa sangat sesak untuk sekadar menarik napas.
Seluruh ekspektasi indahnya patah berkeping-keping menjadi debu di lantai koridor. Dia telah keliru lagi. Kenyataan pahit menampar kesadarannya dengan sangat keras: Aryo mendekati kubu mereka selama ini sama sekali bukan karena dirinya, melainkan karena Serena. Aryo menyukai Serena—terutama karena Serena memiliki paras yang cantik jelita dan datang dari latar belakang keluarga kaya raya yang terpandang. Sementara dirinya? Winda hanyalah 'jembatan' transparan yang tidak terlihat, figuran yang sengaja dimanfaatkan agar Aryo bisa berada di dekat sang putri mahkota.
Serena berkedip bingung beberapa kali, menatap bergantian antara gantungan kunci di tangan Aryo dan wajah Winda yang dalam hitungan detik sudah memucat pasi kehilangan warna. Atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah menjadi sangat canggung. "Ah... iya, ini punyaku yang hilang dua hari lalu. Makasih banyak ya, Aryo," jawab Serena dengan nada suara yang terdengar sangat canggung dan tidak enak hati pada Winda. Serena sendiri sebenarnya tidak terlalu menanggapi pesona atau tebar pesona Aryo selama ini, dia murni menganggap cowok itu sebagai teman kuliah biasa, tidak lebih.
"Sama-sama, Ren. Oh ya, kalian berdua mau ke kantin kan? Mau aku temenin sekalian? Kebetulan aku juga belum makan siang nih," tanya Aryo dengan penuh semangat, benar-benar mengabaikan eksistensi dan keberadaan Winda sepenuhnya seolah wanita itu hanyalah udara kosong.
Winda menarik napasnya dalam-dalam secara sembunyi-sembunyi, sekuat tenaga menelan bulat-bulat rasa perih dan panas yang membakar dadanya. Dia tahu diri. Dia sadar di mana posisinya berada. Winda akhirnya memilih untuk mengalah, diam, dan bersumpah akan memendam perasaan cintanya dalam-dalam di laci hati paling gelap yang tak boleh dibuka oleh siapa pun lagi. Dia tidak akan mungkin egois dan bersaing memperebutkan cowok dengan sahabat baiknya sendiri yang sudah teramat tulus padanya.
Sebelum Serena sempat membuka mulut untuk menjawab atau menolak ajakan Aryo, Winda dengan cepat langsung menyela pembicaraan. Ia memaksakan sebuah tawa kecil dari bibirnya, sebuah tawa yang terdengar sangat sumbang dan bergetar di telinga orang yang peka.
"Eh, Ren... ya ampun, aku baru ingat kalau sore ini aku udah janji sama Ibu harus jemput adekku pulang sekolah. Aku gak bisa ikut ke kantin deh. Kamu bareng Aryo aja ya ke kantinnya? Kasihan Aryo udah nawarin bareng. Duluan ya, Ar, Ren!"
Tanpa menunggu kalimat balasan atau pertanyaan lebih lanjut dari Serena, Winda langsung membalikkan badannya dengan cepat. Ia berjalan setengah berlari menyusuri koridor kampus yang panjang, mengabaikan panggilan cemas dari Serena di belakangnya.