Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.
~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~
Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.
▪︎Objek Utama:
- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.
- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).
- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.
.
.
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Mata Merah di Balik Kabut
Di bab ini, ketegangan meningkat karena Elara dan Kael akhirnya bertemu lagi di tempat yang tak terduga.
▪︎▪︎▪︎▪︎
RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Bab 4: Mata Merah di Balik Kabut
Jantung Elara berdegup kencang bagai genderang perang. Ia memandang tajam ke arah pepohonan di mana tadi ia melihat sepasang mata merah itu berkilat. Namun kabut di luar semakin tebal, menyembunyikan segala sesuatu di baliknya. Apakah itu benar-benar Kael, atau hanya halusinasinya saja karena terlalu banyak berpikir?
"Siapa di sana?" teriak Elara, suaranya sedikit bergetar.
Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang menderu pelan membelah ranting pohon.
Elara menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia segera menutup kembali buku tebal itu dan memasukkannya ke dalam laci meja kerjanya dengan hati-hati, seolah menyembunyikan harta karun yang paling berharga—atau paling berbahaya.
Informasi yang baru saja ia baca terus berputar di kepalanya. Kunci Sejati... Kekuatan yang bisa menghancurkan atau menyelamatkan...
Semua itu menunjuk pada satu nama: Kael Voss.
Jika apa yang tertulis di kitab kuno itu benar, maka lari darinya sama saja dengan melari dari dirinya sendiri. Kael adalah satu-satunya jalan agar Elara bisa menjadi utuh kembali. Tapi risikonya? Kematian. Atau kehancuran dunia.
"Tidak, aku tidak boleh takut," bisik Elara pada dirinya sendiri, menggenggam tangannya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku harus tahu kebenarannya. Aku harus bertanya langsung padanya."
Malam mulai menjelang. Elara tahu di mana biasanya Kael berada. Orang-orang di kota sering membisikkan bahwa pemuda itu suka menyendiri di tempat tertinggi di seluruh Lunaria—Menara Pengawal Lama, sebuah bangunan reruntuhan yang terletak di ujung tebing. Tempat itu angker dan berangin kencang, cocok sekali dengan sosoknya yang dingin dan menyendiri.
Tanpa memberitahu Nenek Mara, Elara menyelinap keluar dari kedai. Ia mengenakan jubah tebal berwarna abu-abu dan menundukkan kepala, berjalan cepat menyusuri jalanan berbatu yang mulai sepi. Kabut malam turun sangat tebal, membuat jarak pandang hanya beberapa meter saja.
Perjalanan menuju Menara Pengawal memakan waktu hampir satu jam. Saat Elara sampai di sana, angin bertiup begitu kencang hingga hampir menerbangkan jubahnya. Menara itu tampak mengerikan dan megah di bawah langit yang gelap, menancap tinggi menembus awan.
Elara mulai menaiki tangga batu yang sudah licin dan sebagian rusak. Jantungnya berdegup bukan hanya karena kelelahan, tapi karena antisipasi.
Saat ia sampai di lantai paling atas, di ruang terbuka tanpa atap, ia melihatnya.
Kael berdiri membelakangi pintu, tepat di tepi pembatas menara. Ia tidak bergerak, seolah menyatu dengan kegelapan. Angin menerbangkan rambut dan jas panjangnya, membuatnya terlihat seperti burung gagak raksasa yang siap terbang.
Suara langkah kaki Elara di atas batu membuat Kael menoleh perlahan.
Mata merah mereka bertemu lagi.
"Kuduga kau akan datang," ucap Kael. Suaranya terdengar tenang, namun terdengar jelas di tengah deru angin. "Atau lebih tepatnya... takdirmu yang membawamu ke sini."
Elara berhenti beberapa meter darinya. "Kau mengikutiku sejak tadi sore, kan? Aku melihatmu di dekat jendela ruang bawah tanah."
Kael tidak menyangkal. Ia hanya mengangguk pelan. "Energi kita terikat, Elara. Sejauh apa pun kau pergi, aku bisa merasakan getaran di dadaku. Seperti kompas yang selalu menunjuk ke utara. Aku datang bukan untuk menguntit, tapi... untuk memastikan kau tidak melakukan hal bodoh seperti membuka rahasia yang seharusnya tetap tertutup."
"Kenapa kau melarangku?!" seru Elara, emosinya meledak. "Kau tahu kan rasanya bagaimana? Hidup selama bertahun-tahun merasa hampa, merasa tidak utuh, merasa seperti robot tanpa perasaan! Dan sekarang aku tahu ada cara untuk membukanya, kenapa kau malah mencoba menghentikanku?!"
Elara maju selangkah, mendorong rasa takutnya ke pojok paling jauh. "Kau adalah Kunci Sejatiku, kan? Buku itu menuliskan segalanya! Hanya sentuhanmu yang bisa melepaskan segel ini! Jadi kenapa kita harus terus berpura-pura?!"
Kael menatap Elara lekat-lekat. Wajahnya tampak lebih gelap dari biasanya di bawah sinar rembulan yang samar. Ia terdiam lama, seolah sedang memproses kata-kata Elara.
Akhirnya, ia berjalan mendekat. Langkahnya pelan namun pasti, membuat Elara secara refleks mundur hingga punggungnya menabrak dinding batu menara.
Kael berhenti tepat di hadapannya, sangat dekat. Elara bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari tubuh pemuda itu, namun juga bisa mencium aroma aneh—campuran antara dupa dan hujan.
"Kau benar," bisik Kael, suaranya rendah tepat di depan wajah Elara. "Aku tahu rasanya. Karena aku juga merasakan hal yang sama."
Elara tertegun. "Apa?"
"Aku juga hampa, Elara," lanjut Kael, matanya menelusuri wajah gadis itu. "Sihirku adalah sihir pemutus. Setiap kali aku menggunakan kekuatanku, aku merasa ada sebagian kemanusiaanku yang ikut terputus. Aku menjadi dingin. Aku tidak bisa merasakan cinta, tidak bisa merasakan kasih sayang. Aku berpikir itu adalah harga yang harus kubayar... sampai aku bertemu denganmu."
Tangan Kael perlahan terangkat, jarinya yang dingin menyentuh pipi Elara dengan sangat pelan, seolah menyentuh porselen yang rapuh.
"Saat menyentuhmu... untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa hidup. Aku merasa... lengkap," aku Kael jujur. "Tapi kau harus mengerti, Nona Peramal... api tidak bisa bermain dengan air. Jika kita membiarkan ikatan ini terbuka sepenuhnya..."
"Aku siap mengambil risiko," potong Elara tegas, menatap manik mata merah itu tanpa berkedip. "Aku lebih memilih hidup sebentar dengan perasaan yang utuh, daripada hidup seribu tahun sebagai patung batu."
Ada kilatan kaget di mata Kael, lalu berubah menjadi sesuatu yang lain—sesuatu yang lembut namun juga berbahaya.
"Kau sungguh gadis yang nekat," gumam Kael. Ia mendekatkan wajahnya, jarak mereka tinggal beberapa sentimeter saja. "Tapi ingat kata-kataku hari ini. Jika nanti kau terluka... jika nanti kau menangis karena aku... jangan menyesal. Karena sekali kunci ini diputar, tidak ada jalan untuk menguncinya kembali."
"Aku tidak akan menyesal," jawab Elara lirih.
Di atas menara tua itu, di tengah kabut dan angin malam, dua dunia yang berbeda akhirnya bersentuhan. Kael perlahan memejamkan matanya, dan Elara pun melakukan hal yang sama.
Namun, tepat saat jari-jemari mereka siap untuk saling menggenggam erat...
WUSSS!
Sebuah anak panah hitam beralur hijau melesat sangat cepat dari arah belakang pepohonan, menembus angin, dan langsung mengarah ke jantung Kael!
"AWAS!" teriak Elara.
°
°
°
(**Bersambung ke Bab 5**...)
Bagaimana menurutmu bab ini? Akhirnya mereka saling mengakui perasaan dan takdir mereka, eh malah ada serangan! 😱
Mau lanjut ke Bab 5 untuk lihat siapa penyerangnya dan apa yang terjadi selanjutnya?
❤️ jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman?