NovelToon NovelToon
Di Jual 500 Juta, Istri Kontrak CEO Dingin

Di Jual 500 Juta, Istri Kontrak CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: TheDee

Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin

Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.

Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.

Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.

Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.

Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Bab 34: Rumah Kecil di Pinggir Kota

Setelah melewati badai panjang, akhirnya Liana dan Arka bisa menarik napas lega.

Beberapa bulan berlalu sejak kasus Hendra tumbang dan KPK mengumumkan status tersangka. Hidup mereka nggak lagi dikejar ancaman, nggak lagi berpindah dari satu kontrak ke kontrak lain.

mereka membeli rumah kecil. Rumah minimalis dua lantai, sederhana, tapi cukup untuk mereka bertiga… sebentar lagi berempat.

Cat temboknya putih bersih, dengan sedikit aksen kayu di bagian depan. Halaman kecilnya ditanami bunga melati dan lidah mertua—kesukaan Liana. Di ruang tamu, ada ayunan kayu kecil yang sengaja dibuat Arka sendiri. Katanya, “Buat anak kita nanti.”

Liana sekarang hamil lima bulan. Perutnya sudah mulai membulat, jalannya pelan, tapi matanya selalu berbinar setiap kali menyentuh perutnya.

Setiap pagi, Arka selalu membawakan susu hangat dan roti bakar.

“Jangan kerja berat dulu,” katanya sambil mencubit hidung Liana.

Liana cuma ketawa kecil. “Aku cuma ngecek stok bahan buat rumah makan, Ark. Nggak berat.”

Bengkel Arka makin berkembang. Dari yang dulu cuma satu ruang kecil dengan tiga mekanik, sekarang sudah punya cabang di dua tempat. Reputasinya bagus—cepat, jujur, nggak pernah main curang.

Sering kali pelanggan nggak tahu kalau pemilik bengkel itu adalah Arka Wijaya, keponakan dari Hendra yang dulu jadi musuh besar mereka. Tapi Arka nggak peduli. Dia bilang, “Nama besar nggak penting. Yang penting, orang percaya sama kerjaan kita.”

Sementara itu, rumah makan kecil Liana juga ramai. Menu andalannya—ayam bakar madu dan sop buntut—jadi langganan pegawai kantor di sekitar.

Liana nggak lagi turun langsung ke dapur setiap hari. Sekarang dia lebih banyak ngatur manajemen dan resep baru. Tapi sesekali, kalau kangen, dia tetap pakai celemek dan masak sendiri. Katanya, “Rasanya beda kalau aku yang masak buat orang-orang yang dukung aku dari awal.”

Di sudut rumah, Pak Dimas duduk di kursi goyang. Rambutnya sudah lebih putih, langkahnya pelan, tapi senyumnya nggak pernah hilang.

Sejak keluar dari rumah sakit, dia memilih pensiun total. Tugasnya sekarang cuma satu: menunggu cucu pertama lahir.

Setiap sore, dia duduk di teras sambil membaca koran lama, lalu berbisik pelan,

“Kamu kuat ya, nak… sama kayak ibumu.”

Liana sering duduk di sampingnya, menyandarkan kepala.

“Ayah tenang aja. Kali ini aku nggak akan kabur lagi.”

Malam itu, hujan turun pelan.

Liana, Arka, dan Pak Dimas duduk bersama di ruang makan. Di meja ada nasi hangat, ayam bakar, dan sup jagung buatan Liana.

Ngga ada kemewahan. Ngga ada pesta. Tapi ada kehangatan yang dulu mereka kira mustahil didapat lagi.

Arka menatap Liana, lalu menoleh ke Pak Dimas.

“Rumah ini mungkin kecil, Pak. Tapi ini rumah pertama yang benar-benar terasa rumah buat aku.”

Pak Dimas mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca.

“Jaga mereka berdua, Nak. Itu cukup buat Ayah.”

Liana memegang tangan Arka di bawah meja, lalu berbisik,

“Kita sudah sampai di sini, ya?”

Arka tersenyum, menggenggam balik tangan itu erat.

“Iya. Dan kita nggak akan lepas lagi.”

Di luar, hujan semakin deras.

Tapi di dalam rumah kecil itu, hangatnya lebih dari cukup untuk mengalahkan dinginnya dunia

Setelah makan malam, hujan belum juga reda. Suara rintiknya mengetuk kaca jendela pelan, menemani obrolan hangat di ruang tamu.

Liana bersandar di sofa, bantal kecil menopang punggungnya. Arka duduk di lantai, kepalanya bersandar di lutut Liana. Sementara Pak Dimas duduk di kursi goyang, matanya setengah terpejam tapi telinga tetap waspada.

Tiba-tiba Liana menoleh ke Arka.

“Kalau anaknya laki-laki, namanya apa?”

Arka mengangkat alis. “Baru lima bulan udah mikirin nama? Nanti keburu ganti lagi kalau dia perempuan.”

“Ya siapa tahu besok aku nggak bisa tidur karena kepikiran terus,” Liana cemberut pelan. “Ayah, Ayah mau kasih nama apa?”

Pak Dimas membuka mata, tersenyum tipis.

“Kalian yang tentukan. Ayah cuma mau satu… jangan kasih nama yang bikin dia susah hidup nanti. Nama itu doa, Lia.”

Liana mengangguk serius. Tangannya mengusap perutnya pelan.

“Arka, gimana kalau Dimas? Dimas Arka Putra?”

Arka diam sejenak. Nama itu berat. Itu nama ayah Liana, juga nama yang hampir hilang dari hidup mereka.

“Bagus,” katanya akhirnya, suaranya pelan. “Tapi… kalau dia laki-laki, biarin dia punya nama sendiri dulu. Biar dia nggak hidup di bawah bayang-bayang siapa-siapa.”

Liana menatapnya lama, lalu mengangguk pelan.

“Kamu benar. Dia harus punya jalannya sendiri.”

“Aku suka nama Raka,” Arka tiba-tiba nyeletuk.

“Raka Dimas Arka. Singkat, kuat, gampang dipanggil.”

Liana tertawa kecil. “Raka? Kamu nggak takut dia jadi nakal?”

“Kalau nakal, biar aku yang urus,” Arka nyengir, tangannya meraih perut Liana dan mengusapnya lembut.

“Dengar itu, Nak. Ayahmu siap jadi satpam pribadi.”

Pak Dimas tertawa pelan mendengar itu. Tawa yang sudah lama nggak terdengar sejak semuanya hancur dulu.

“Kalau perempuan gimana?” tanyanya tiba-tiba.

Liana dan Arka saling pandang.

“Belum kepikiran,” akui Liana. “Mau yang lembut, tapi nggak lemah.”

“Kayra,” kata Pak Dimas pelan.

“Kayra Putri Arka. Artinya anak yang dimuliakan. Cocok sama ibunya.”

Liana tertegun. Nama itu indah, dan entah kenapa rasanya pas.

“Kayra… Kayra Putri Arka,” ulang Liana pelan, seolah mencicipi nama itu di lidahnya.

“Aku suka.”

Arka mengangguk. “Kalau anaknya keluar besok dan matanya kayak kamu, ya udah fix Kayra.”

Mereka tertawa bersama. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, rumah itu dipenuhi suara tawa tanpa rasa takut mengintip dari balik pintu.

---

Malam semakin larut. Pak Dimas sudah masuk kamar, meninggalkan Liana dan Arka berdua di ruang tamu.

Lampu kuning temaram menerangi halaman kecil yang basah oleh hujan.

Liana menyandarkan kepala di bahu Arka.

“Kamu takut nggak?” tanyanya pelan.

“Takut,” jawab Arka jujur. “Takut nggak bisa jadi ayah yang baik. Takut nggak bisa jagain kalian.”

Liana mengangkat wajahnya, menatap Arka.

“Kamu udah jaga aku sejak aku nggak punya siapa-siapa, Ark. Itu cukup.”

Arka menunduk, mengecup kening Liana lama.

“Janji ya… apapun yang terjadi nanti, kita hadapi bareng. Nggak ada yang kabur lagi.”

Liana mengangguk, matanya berkaca.

“Janji. Rumah ini, keluarga ini… aku nggak akan lepasin lagi.”

Di dalam perutnya, si kecil bergerak pelan, seolah ikut mengiyakan janji itu.

---

Di kamar, Pak Dimas duduk di pinggir tempat tidur. Di tangannya ada foto lama—foto Liana kecil yang duduk di pangkuannya waktu masih umur lima tahun.

Dia menatap foto itu lama, lalu berbisik,

“Lihat ya, Bu… anak kita akhirnya punya rumah. Dan sebentar lagi, dia akan jadi ibu.”

Di luar, hujan mulai reda.

Dan di dalam rumah kecil itu, tiga hati berdetak dalam satu harapan yang sama: menyambut kehidupan baru yang akan datang.

Bersambung....

maaf ya selama ini saya sakit kepala jadi jarang update🙏🤗

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!