No plagiat 🚫
" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.
Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarian Pedang di Atas Darah
Tuan Tua Han tidak menunggu sedetik pun setelah tawa parau itu berhenti. Tubuhnya yang tampak rapuh tiba-tiba melesat, meninggalkan jejak api keemasan di atas tanah hitam yang membeku. Kecepatannya melampaui logika manusia fana; ia bukan lagi seorang kakek tua, melainkan peluru energi Yang yang siap menghancurkan apa pun yang menghalangi jalannya.
"Berikan pil itu, atau Lembah Sunyi akan menjadi makam bagi kalian berdua!" raung Tuan Tua Han.
Bian Zhi tidak berkedip. Ia menghentakkan kaki kanannya ke tanah, memicu gelombang energi Yin yang membentuk perisai transparan di depannya. BOOM! Benturan antara api emas dan kegelapan hitam menciptakan ledakan udara yang mementalkan kabut hingga radius ratusan meter. Pepohonan mati di sekitar paviliun hancur menjadi abu dalam sekejap.
"Tuan Tua Han, kau terlalu banyak bicara untuk seseorang yang sudah menginjakkan satu kaki di liang lahat," balas Bian Zhi datar.
Bian Zhi memutar pedang hitamnya. Bilah pedang itu mulai mengeluarkan suara dengungan yang menyakitkan telinga—suara ribuan arwah yang pernah ditebas oleh senjata tersebut. Ia merunduk, menghindari pukulan telapak tangan Han yang membara, lalu membalas dengan tebasan horizontal yang mengincar pinggang si kakek sakti.
Tuan Tua Han melompat ke udara, berputar dengan lincah seperti burung walet. "Ilmu pedangmu memang hebat, asisten muda. Tapi kau lupa, aku telah berlatih di bawah Matahari Abadi selama seratus tahun!"
Han menyatukan kedua telapak tangannya di udara. "Jurus Rahasia: Matahari Jatuh ke Bumi!"
Sebuah bola cahaya raksasa terbentuk di atas kepala Han, memancarkan panas yang luar biasa hingga air di kolam teratai belakang paviliun mulai menguap. Cahaya itu seolah ingin menelan kegelapan Lembah Sunyi.
Di balkon, He Xueyi tetap tenang, meskipun jubah putihnya berkibar hebat terkena angin panas dari jurus Han. Ia mengangkat lenteranya, memutar sumbu kecil di dalamnya. "Bian Zhi, jangan biarkan dia merusak atap paviliun. Biaya perbaikannya terlalu mahal jika menggunakan sisik naga asli."
"Hamba mengerti, Tuan," sahut Bian Zhi di tengah deru angin.
Bian Zhi melepaskan pegangan tangan kirinya pada sarung pedang. Ia menggenggam hulu pedang hitamnya dengan kedua tangan, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Aura di sekitar Bian Zhi berubah total. Jika sebelumnya ia adalah air yang tenang, kini ia adalah badai yang menghancurkan.
"Jurus Pemecah Langit: Gerhana Abadi!"
Kegelapan yang lebih pekat dari malam yang paling gelap keluar dari bilah pedang Bian Zhi. Energi itu membumbung ke langit, membentuk parang raksasa yang langsung membelah bola matahari milik Han menjadi dua bagian. Ledakan besar terjadi di udara, namun anehnya, sisa-sisa energi emas itu tidak jatuh ke tanah, melainkan tersedot masuk ke dalam pedang hitam Bian Zhi.
Tuan Tua Han terjatuh ke tanah dengan keras, napasnya tersengal-sengal. "Tidak mungkin... pedang itu... pedang itu menghisap energi Yang-ku?"
Bian Zhi melangkah mendekat, ujung pedangnya menyeret di atas tanah, menimbulkan percikan api hitam. "Pedang ini tidak hanya memotong daging, Tuan Tua. Ia memakan esensi dari setiap serangan yang diarahkan kepadanya. Kau baru saja memberikan makan siang yang lezat untuk senjataku."
Han mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa sangat berat. Energi spiritualnya terkuras habis. Ia menatap ke arah He Xueyi yang masih berdiri di atas balkon dengan tatapan penuh kebencian dan ketakutan.
"Xueyi... kau... kau benar-benar menciptakan iblis di sini," bisik Han dengan suara gemetar.
He Xueyi melompat turun dari balkon. Gerakannya begitu ringan hingga ia mendarat tanpa menimbulkan debu sedikit pun. Ia berdiri di samping Bian Zhi, menatap Han dengan pandangan merendahkan. "Aku tidak menciptakan iblis, Han. Aku hanya memberi tempat bagi mereka yang dibuang oleh dunia yang kau sebut 'adil' itu."
He Xueyi mengarahkan lenteranya ke wajah Han. Cahaya biru kehijauan dari lentera itu menyinari kerutan di wajah si kakek. "Kau datang mencari Pil Pemurnian Roh karena kau takut mati, bukan? Kau takut semua pencapaianmu selama seratus tahun ini lenyap begitu saja."
"Semua orang takut mati, Xueyi!" raung Han.
"Tidak semua orang," He Xueyi tersenyum dingin. "Bian Zhi tidak takut mati, karena dia sudah pernah merasakannya. Dan aku? Aku adalah kematian itu sendiri."
He Xueyi menyentuh dahi Tuan Tua Han dengan jari telunjuknya yang pucat. Seketika, tubuh Han membeku. Bukan karena es, tapi karena seluruh aliran Qi-nya dihentikan paksa.
"Bian Zhi, bawa dia ke Ruang Bawah Tanah ketiga. Aku ingin mengekstrak ingatannya tentang Sekte Matahari Abadi sebelum kita menjadikannya lentera utama," perintah He Xueyi.
"Baik, Tuan."
Bian Zhi menarik kerah baju Han seolah-olah pria tua itu hanyalah karung beras, lalu menyeretnya masuk ke dalam paviliun. Suasana kembali sunyi, menyisakan bau hangus dan sisa-sisa energi yang berceceran di tanah.
He Xueyi berbalik, menatap ke arah pintu paviliun yang terbuka lebar. Ia tahu, Tuan Tua Han hanyalah pembuka. Masih banyak "serangga" lain yang akan datang mencoba peruntungan mereka. Namun, selama ia memiliki Bian Zhi dan lenteranya, Lembah Sunyi akan tetap menjadi tempat di mana ambisi manusia berakhir dengan tragis.
Ia menutup pintu paviliun dengan lambaian tangan. "Babak selanjutnya akan lebih menarik," gumamnya pelan sambil berjalan masuk ke dalam kegelapan.
He Xueyi melangkah pelan mengikuti Bian Zhi yang menyeret tubuh lunglai Tuan Tua Han menyusuri lorong panjang di bawah paviliun. Berbeda dengan lantai atas yang megah dan penuh lentera biru, ruang bawah tanah ini hanya diterangi oleh lumut-lumut pendar yang tumbuh di sela-sela dinding batu yang lembap. Udara di sini tidak hanya dingin, tapi juga berat oleh aroma logam dan sisa-sisa napas dari ribuan jiwa yang pernah dikurung di sini.
"Tuan, kita sampai," ucap Bian Zhi sambil melemparkan Han ke dalam sebuah sel yang jerujinya terbuat dari tulang naga yang telah dimantrai.
Tuan Tua Han terbatuk, darah merembes dari sudut bibirnya. Matanya yang kabur menatap ke sekeliling, dan seketika wajahnya berubah menjadi pucat pasi—lebih pucat daripada saat ia hampir ditebas oleh pedang Bian Zhi tadi. Di dalam kegelapan sel-sel lain, ia melihat ribuan pasang mata merah yang menatapnya dengan penuh rasa lapar.
"Itu... itu bukan manusia," bisik Han gemetar.
"Tentu saja bukan," He Xueyi mendekat ke jeruji sel, wajahnya yang cantik tampak mengerikan di bawah cahaya lumut yang redup. "Mereka adalah para pengkhianat, serakah, dan pengejar keabadian yang gagal, sama sepertimu. Namun, mereka memiliki kegunaan. Mereka adalah penyeimbang bagi energi Yin yang menjaga Lembah Sunyi tetap tersembunyi dari mata langit."
He Xueyi mengangkat tangannya, dan tiba-tiba sebuah proyeksi cahaya muncul di depan Han—ingatan-ingatan Han mulai tersedot keluar secara paksa dari dahinya. Gambar-gambar tentang Sekte Matahari Abadi, lokasi rahasia perbendaharaan mereka, hingga teknik-teknik terlarang yang pernah dipelajari Han, semuanya terpampang jelas di udara.
"Ingatan yang sangat berharga," gumam He Xueyi, matanya berkilat puas. "Dengan ini, aku tidak hanya memiliki energimu, tapi aku juga memiliki semua rahasia sektemu. Bian Zhi, pastikan dia tetap 'hidup' sampai gerhana bulan darah tiba. Kita butuh esensinya untuk memperkuat segel yang retak tadi."
"Hamba laksanakan, Tuan," Bian Zhi menutup pintu sel dengan bunyi dentuman logam yang berat, mengakhiri segala harapan Tuan Tua Han untuk melihat matahari lagi.
He Xueyi berbalik dan mulai berjalan kembali ke atas. Setiap langkahnya bergema di lorong sunyi itu, sebuah simfoni kemenangan yang dingin. Ia tahu, dengan tertangkapnya Han, Sekte Matahari Abadi pasti akan mengirimkan pasukan yang lebih besar. Namun, itulah yang ia tunggu. Semakin banyak darah kultivator yang tumpah, semakin kuat pula lenteranya.
"Dunia ini butuh pembersihan," bisik He Xueyi saat ia kembali menginjakkan kaki di lantai atas paviliun yang terang. "Dan aku akan menjadi tangan yang memegang sapunya."
Ia kembali ke balkon, menatap langit malam yang kini mulai memerah di ufuk timur. Bukan matahari yang sedang terbit, melainkan pertanda bahwa badai yang lebih besar sedang bergerak menuju Lembah Sunyi.