Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.
Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.
Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Percakapan itu tidak benar-benar selesai. Hanya berhenti dan menggantung. Seperti sesuatu yang terlalu berat untuk ditarik lebih jauh.
Fania duduk diam beberapa detik setelah kalimat terakhirnya sendiri. Tangannya masih di atas meja, matanya kosong. Namun pikirannya tidak pernah sepi.
Chaerlina dan Livia saling melirik. Tidak lagi menekan, tidak lagi mendorong.Karena mereka tahu Fania sudah sampai di batasnya hari ini.
“Aku rasa cukup,” ujar Livia akhirnya. Lebih lembut dari biasanya. “Kau butuh waktu.”
Fania mengangguk kecil tanpa benar-benar menatap.
Chaerlina tersenyum tipis, namun matanya tetap serius. “Jangan lari dari apa yang kau rasakan.”
Kalimat itu pelan namun cukup jelas untuk tinggal. Fania tidak menjawab, ia hanya berdiri. Mengambil tasnya dengan gerakan tenang. Namun ada beban yang ia bawa pulang, yang tidak terlihat namun terasa.
Mereka keluar dari kafe bersama. Langkah mereka berdampingan namun tidak banyak bicara.
Udara sore menyambut, sedikit lebih dingin dan sedikit lebih jernih. Namun di dalam diri Fania tidak ada yang benar-benar berubah. Hanya satu hal yang pasti, ia tidak bisa lagi sepenuhnya berbohong pada dirinya sendiri.
***
Seminggu kemudian. Tiba hari pernikahan Chaerlina. Gedung itu terlihat megah dan dipenuhi cahaya. Dekorasi bunga putih dan soft gold menghiasi setiap sudut ruangan.
Hangat dan elegan, namun tetap hidup. Suara musik mengalun lembut. Tamu berdatangan, percakapan dan tawa saling bersahutan. Hari bahagia untuk semua orang.
Kecuali mungkin tidak sepenuhnya untuk Fania. Ia datang bersama Livia. Gaun panjang berwarna lembut membalut tubuhnya. Rambutnya ditata rapi begitu sempurna.
Dari luar tidak ada yang salah. Namun di dalam ia masih berusaha menjaga sesuatu agar tetap terkendali.
“Are you oke?” tanya Livia pelan saat mereka melangkah masuk.
Fania mengangguk. “Ya.” Jawabnya dengan cepat dan refleks.
Livia meliriknya namun tidak memperpanjang. Mereka berjalan masuk, menyapa beberapa tamu. Memberi selamat, dan tersenyum. Semua terlihat normal, sampai Fania melihatnya. Ronald.
Pria itu berdiri di sisi ruangan dengan setelan rapi. Seperti biasa, terlihat tenang dan terkontrol. Namun ia tidak sendiri. Valencia, ada di sampingnya. Mereka dekat, terlalu dekat.
Fania berhenti. Langkahnya terhenti begitu saja, matanya terpaku. Dadanya langsung terasa sesak. Tanpa aba-aba dan tanpa waktu untuk bersiap.
Livia yang menyadari perubahan itu langsung mengikuti arah pandangan Fania. Dan ia melihat.
“Fan…” bisiknya pelan.
Namun Fania tidak menjawab. Ia hanya berdiri. Menatap dan di sana semuanya terlihat jelas.
Valencia berbicara dan Ronald mendengarkan. Sesekali tersenyum, ebih ringan dan lebih lepas. Sesuatu yang tidak Fania lihat belakangan ini.
Dan yang paling mengganggu bukan hanya kedekatan mereka. Namun reaksi orang-orang di sekitar.
Beberapa keluarga menyapa mereka, tersenyum dan berinteraksi seperti biasa. Tidak ada yang terlihat aneh dan tidak ada yang mempertanyakan.
Tidak ada yang merasa itu salah. Seolah itu normal. Seolah itu memang seharusnya begitu. Fania menelan pelan, tenggorokannya terasa kering.
“Dia… datang bersamanya?” suara Livia pelan namun jelas. Dahinya mengernyit bingung sembari tangannya menunjuk Ronald dan Valencia bergantian. Ada keterkejutan di sana.
Fania mengangguk kecil, dengan lambat. Seolah tubuhnya sedikit terlambat merespons.
“Iya.” Satu kata namun berat. Ia kembali menatap lebih detail sekarang.
Cara Valencia berdiri, cara ia sesekali menyentuh lengan Ronald saat berbicara. Cara Ronald tidak menjauh dan tidak menghindar. Dan yang lebih parah tidak terlihat canggung sama sekali. Seolah itu nyaman. Seolah itu sudah biasa.
“Dia pasti sudah memberikan alasan logis ke keluarganya,” gumam Livia pelan. Setengah pada dirinya sendiri, setengah pada Fania.
Fania tidak menjawab namun pikirannya langsung menangkap. Benar, ia rasa pasti begitu. Kalau tidak, tidak mungkin semua orang setenang itu. Tidak mungkin tidak ada yang bertanya. Dan tidak mungkin tidak ada yang memandang aneh.
Berarti Ronald sudah mengatur semuanya. Memberi alasan yang cukup masuk akal. Yang cukup kuat untuk membuat semua orang menerima. Dan entah kenapa itu yang paling terasa. Bukan hanya karena ia datang dengan Valencia. Namun karena ia melakukannya tanpa melibatkan Fania.
Tanpa memberi tahu dan tanpa menjelaskan. Seolah Fania tidak lagi perlu tahu. Seolah posisinya memang sudah sejauh itu.
“Fan…” Livia menyentuh lengannya pelan. “Kau akan keluar dulu?”
Fania menggeleng cepat dengan refleks. “Tidak.” Terlalu cepat.
Ia menarik napas dalam. Memaksa dirinya tetap berdiri dan tetap terlihat normal.
“Aku baik-baik saja.” Kalimat itu keluar lagi namun kali ini bahkan tidak terdengar meyakinkan.
Ia mengangkat dagunya sedikit, memperbaiki postur. Menyusun kembali ekspresinya.
“Ini acara Chaerlina.” Pelan, lebih ke dirinya sendiri. “Aku tak akan merusaknya.” Alasan logis dan masuk akal. Namun di dalam tidak sesederhana itu.
Mereka melangkah lebih jauh ke dalam namun setiap langkah terasa berat. Karena setiap beberapa detik tanpa sadar mata Fania kembali mencari. Dan selalu menemukan. Ronald dan Valencia.
Masih di sana dan masih dekat. Masih bersama dan setiap kali itu terjadi dadanya kembali sesak. Lebih kuat, lebih dalam. Namun tetap ia menahannya. Menekan dan berusaha menolak.
“Aku tak cemburu…” bisiknya pelan. Hampir tidak terdengar. Namun kalimat itu kali ini terasa paling lemah. Karena di hadapannya realitasnya terlalu jelas.
Ronald tidak hanya menjauh. Ia mulai mengisi jarak itu dengan orang lain. Dan untuk pertama kalinya Fania tidak hanya merasa terganggu. Namun ia merasa tertinggal.
"Kau yakin baik-baik saja, Fan?" Lagi, Livia kembali mengulangi pertanyaannya. Ia khawatir pada sahabatnya yang sejak tadi terlihat mencuri curi pandang ke arah Ronald dan Fania.
Namun sayangnya pria itu masih belum menyadari keberadaan istrinya, yang melihat dengan jelas bagaimana dekatnya ia dengan perempuan lain.
Fania berusaha tersenyum, lebih tepatnya terlihat seperti memaksakan senyumnya. Karena jelas terlihat kaku dan dipaksakan.
"Tentu, aku baik-baik saja. Aku tak begitu peduli dengan apa yang Ronald lakukan." Ujar Fania mencoba meyakinkan Livia dan ...dirinya sendiri.
Livia mendengus ringan, masih saja Fania mengelak dengan perasaannya sendiri. "Ya, baiklah. Aku harap kau memang baik-baik saja sampai acara selesai." Ujar Livia kembali melanjutkan langkah bersama Fania.
Fania hanya tersenyum tipis guna menanggapi ujaran Livia. Namun pikirannya tak berhenti berpikir, terasa berisik dan sebenarnya mengganggu.
"Dia begitu terang-terangan datang bersama wanita itu ke acara sebesar ini. Apa benar jarak yang selama ini ada, telah diisi wanita itu. Apa mungkin Ronald melakukan hal sepicik itu?." Bisik Fania dalam hati.
Menggeleng dengan cepat, Fania merasa itu tidak mungkin. Namun mengingat perkataan sahabatnya, perasaan tak memandang status. Apa semua itu mungkin saja terjadi? Hatinya kembali sesak setelah memikirkan banyak kemungkinan itu.
NEXT .......