Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.
Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.
Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.
Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CGS 34
Sampai akhirnya Tante Rosa menghela napas pelan. “Baik,” katanya. “Kalau dia masuk… dia dengar semuanya.” Ia menatap Leo lurus. “Dan setelah itu, kamu tidak bisa keluar seenaknya.”
Leo mengangguk kecil. “Saya tidak berniat keluar.” Keputusan itu terjadi. Tanpa seremoni. Tanpa persetujuan bulat. Tapi cukup untuk mengubah komposisi mereka.
Ella melangkah ke meja, membuka laptop, lalu menampilkan data yang selama ini mereka kumpulkan, kode, transaksi, pola, dan simbol yang semakin lama semakin jelas menunjukkan satu hal: ini bukan kasus biasa. “Ini yang kita punya,” kata Ella.
Leo mendekat.
Niko tetap di tempatnya, tapi matanya tidak lepas dari Leo mengawasi, menilai, seolah siap menarik garis kapan saja.
Tante Rosa berdiri di sisi lain, memperhatikan semuanya.
“Dan ini…” lanjut Ella, menunjuk pada bagian tertentu, “…yang belum kita pahami sepenuhnya.”
Leo menatap layar itu, ekspresinya berubah lebih serius, lebih dalam. “Ini bukan cuma transaksi,” katanya pelan.
“Ya,” jawab Ella. “Ini kontrol.”
Sunyi kembali turun. Tapi kali ini lebih berat. Karena semua orang di ruangan itu mulai melihat gambaran yang sama. Dan itu tidak kecil. Di tengah semua itu, tanpa mereka sadari sepenuhnya nama lain mulai muncul di antara data. Terkait alamat. Terkait pergerakan. Terkait rumah. Rumah yang sama tempat Ella tinggal.
Di titik itu Tante Rosa yang pertama menyadari. Tatapannya perlahan berpindah dari layar, ke arah Ella. “Ada sesuatu di rumah itu,” katanya pelan.
Niko mengernyit. “Apa maksudnya?”
Tante Rosa tidak langsung menjawab. Ia hanya berkata, “Pernikahan ayahmu… itu bukan kebetulan.”
Kalimat itu menggantung. Ella menatapnya. “Bu Vero…” lanjut Tante Rosa pelan, “…bisa jadi tidak datang untuk jadi keluarga.” Lebih dingin dari sebelumnya.
“Lalu untuk apa?” tanya Ella.
Tante Rosa menatap layar sekali lagi. Lalu kembali ke Ella. “Untuk sesuatu yang ada di rumah itu,” jawabnya. Dan untuk pertama kalinya semua potongan mulai mengarah ke satu tempat yang sama. Rumah. Yang selama ini mereka kira aman. Yang ternyata mungkin adalah bagian dari permainan itu sendiri.
***
Ruangan itu terasa semakin sempit, bukan karena ukuran, tapi karena kesadaran yang baru saja muncul bahwa semua yang mereka cari di luar, mungkin selama ini justru tersembunyi di tempat paling dekat.
Ella berdiri diam di depan layar, tapi pikirannya sudah kembali ke rumah itu: lorong-lorong yang ia lewati setiap hari, ruang kerja ayahnya yang kini terasa berbeda, sikap Bu Vero yang terlalu cepat mengambil alih, dan Sisil yang selalu seolah tahu lebih banyak dari yang ia tunjukkan. “Kalau rumah itu bagian dari sistem…” gumam Ella pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri, “berarti selama ini aku bukan cuma tinggal di sana… tapi diawasi.”
Niko langsung menoleh, ekspresinya mengeras. “Atau dijaga,” tambahnya. Tante Rosa mengangguk kecil. “Dua-duanya bisa benar.”
Leo yang sejak tadi memperhatikan data kini mengalihkan fokusnya sepenuhnya ke percakapan itu, pikirannya jelas mulai menghubungkan sesuatu yang lebih besar. “Kalau itu benar,” katanya perlahan, “berarti ada sesuatu di rumah itu yang cukup penting sampai seseorang harus ‘ditempatkan’ di sana.” Ia menatap Ella. “Dan pernikahan itu… jadi akses.”
Deg. Kata itu terasa dingin. Akses. Bukan hubungan. Bukan keluarga. Ella menelan pelan, dadanya terasa sedikit sesak saat potongan-potongan itu mulai membentuk sesuatu yang tidak ingin ia percaya sepenuhnya.
“Tapi… kalau Bu Vero ada di sana untuk menjaga sesuatu,” katanya pelan, “kenapa dia terlihat seperti ingin menguasai semuanya?” Niko menjawab lebih dulu, suaranya datar tapi tajam. “Karena yang jaga biasanya juga yang paling dekat untuk mengambil.” Sunyi. Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk menggeser arah pemikiran mereka.
Tante Rosa menyilangkan tangan, berpikir cepat. “Atau dia bukan satu-satunya yang tahu,” katanya. “Bisa jadi dia juga cuma bagian kecil dari sesuatu yang lebih besar.”
Leo mengangguk pelan.
“Dan Sisil?” tanyanya. Ella terdiam sejenak. Wajah kakak tirinya itu muncul di kepalanya, tatapan tajam, kata-kata menyakitkan, tapi juga… sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa ia baca. “Dia manipulatif,” kata Ella pelan. “Tapi…” Ia berhenti, mencari kata yang tepat. “…kadang seperti orang yang terjebak.”
Niko mengernyit. “Terjebak?”
Ella mengangguk kecil. “Seperti dia tahu sesuatu, tapi tidak sepenuhnya punya kendali.” Hening lagi, tapi kali ini lebih penuh pertimbangan.
Tante Rosa menghela napas pelan. “Berarti kita tidak bisa langsung anggap mereka musuh,” katanya. “Tapi juga tidak bisa percaya.”
Leo menatap Ella. “Kamu harus hati-hati sekarang,” katanya. “Kalau rumah itu memang titik penting, setiap langkah kamu di sana… bisa diawasi.”
Ella tersenyum tipis, pahit. “Sudah dari awal aku merasa seperti itu.” Ia menatap mereka satu per satu, lalu berkata dengan nada yang lebih tegas, “Kalau jawabannya ada di rumah itu… aku harus kembali ke sana dengan cara berbeda.”
Niko langsung mengangkat alis. “Berbeda bagaimana?”
Ella tidak langsung menjawab. Matanya kembali ke layar, ke data yang menampilkan pola-pola yang kini terasa lebih hidup. “Bukan sebagai korban,” katanya akhirnya. “Bukan juga sebagai anak yang tidak tahu apa-apa.” Ia menarik napas pelan, lalu melanjutkan, “Tapi sebagai seseorang yang tahu… dan pura-pura tidak tahu.”
Kalimat itu mengubah semuanya. Tante Rosa menatapnya lebih serius sekarang. “Itu berbahaya,” katanya.
Ella mengangguk. “Aku tahu.”
Leo menambahkan pelan, “Satu kesalahan saja… kamu bisa kehilangan semuanya.”
Ella menatapnya, kali ini lebih tenang. “Aku sudah di posisi itu sejak awal.” Tidak ada yang bisa membantah. Karena mereka semua tahu itu benar.
Beberapa detik kemudian, Niko akhirnya bersandar lagi, menghembuskan napas panjang seolah menerima sesuatu yang tidak ia sukai. “Kalau begitu kita ubah pendekatan,” katanya. “Kita tidak cari dari luar lagi.” Ia menatap Ella. “Kita masuk dari dalam.”
Leo mengangguk kecil. “Dan kali ini,” katanya, “kita tidak hanya cari data.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih berat, “kita cari siapa yang sebenarnya mengendalikan semuanya.”
Hening kembali turun, tapi bukan karena ragu melainkan karena semua orang di ruangan itu sadar, langkah berikutnya akan membawa mereka jauh lebih dalam dari sebelumnya. Dan kali ini, medan permainannya bukan lagi tempat asing. Tapi rumah. Tempat yang seharusnya aman. Yang kini berubah menjadi pusat dari rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
***
Malam itu rumah terasa terlalu sunyi, bukan karena tidak ada orang, tapi karena semua suara seperti sengaja ditahan. Lampu-lampu menyala seperti biasa, lorong-lorong tetap rapi, tapi ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat Ella tidak bisa diam di kamarnya.
Ia berdiri di depan pintu, tangannya sempat ragu beberapa detik sebelum akhirnya memutar gagang perlahan. Tidak ada suara. Ia melangkah keluar, menutup pintu dengan hati-hati, lalu mulai berjalan menyusuri lorong menuju ruang kerja ayahnya.