NovelToon NovelToon
Target Di Balik Gerobak Penyamaran Sang Komandan

Target Di Balik Gerobak Penyamaran Sang Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Dokter / Identitas Tersembunyi
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
​Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
​Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
​Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
​"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Takhta yang Bergoyang

​"Dokter Airine, Anda sadar apa yang baru saja Anda lakukan? Anda mempertaruhkan reputasi rumah sakit ini demi seorang pedagang kaki lima!"

​Suara bariton Dokter Reo bergema di lorong VVIP Rumah Sakit Medika Utama. Ia berdiri di depan pintu ruang kerja Airine dengan tangan bersedekap, menatap Airine yang baru saja selesai mengganti kemeja flanel kotak-kotak milik Nata dengan jas dokter putihnya yang bersih.

​Airine tidak menoleh. Ia sibuk menata rambutnya di depan cermin, meski tangannya masih sedikit gemetar. "Reputasi apa, Reo? Reputasi pria yang berselingkuh dengan kakak tiri tunangannya sendiri di ruang operasi? Jika ada yang harus khawatir soal reputasi di sini, itu adalah kamu."

​Reo mendengus sinis, melangkah masuk ke dalam ruangan tanpa izin. "Jangan kekanak-kanakan. Pernikahanmu tadi pagi itu lelucon. Ayahmu sudah tahu. Dia sangat marah, Airine. Beliau sedang menuju ke sini bersama pengacara keluarga."

​Airine berbalik, menatap Reo dengan tatapan sedingin es. "Katakan pada pria yang kau sebut Ayahku itu, bahwa aku sudah dewasa. Dan sesuai wasiat Kakek, hak kelola rumah sakit ini jatuh ke tanganku begitu aku memiliki suami sah. Namanya sudah terdaftar di sistem negara. Kamu ingin lihat buku nikahnya?"

​"Aku tidak butuh melihat sampah," desis Reo. Ia mendekat, mencoba mengintimidasi Airine dengan jarak yang terlalu dekat. "Siapa nama tukang bakso itu? Nata? Berapa kamu membayarnya untuk akting murahan ini? Seribu atau dua ribu dolar? Dia pasti sangat senang bisa tidur di kasur empuk untuk pertama kalinya."

​"Dia suamiku, Reo. Jaga mulutmu," suara Airine meninggi.

​"Suami? Kamu pikir pria seperti itu bisa melindungimu dari serigala-serigala di dewan direksi?" Reo tertawa meremehkan. "Shena sudah menyiapkan dokumen untuk menyatakan kamu tidak stabil secara mental. Menikahi tukang bakso adalah bukti terkuat bahwa kamu sedang depresi berat karena kematian ibumu."

​Airine terdiam. Itu serangan yang telak. Ia tahu Shena, ibu tirinya, adalah wanita yang licik.

​"Jangan pikir aku tidak tahu rencana kalian," ucap Airine pelan namun tajam. "Kalian menginginkan jalur distribusi farmasi kita untuk kepentingan pribadi, kan?"

​Reo tersenyum miring, senyum yang membuat Airine ingin sekali menamparnya. "Kami hanya ingin yang terbaik untuk perusahaan. Dan yang terbaik bukan dipimpin oleh wanita labil yang terobsesi pada penjual makanan jalanan."

​Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dengan kasar. Renata melangkah masuk dengan gaun merah mencolok, tampak sangat kontras dengan suasana rumah sakit yang steril.

​"Oh, lihatlah dokter hebat kita," sindir Renata sambil melihat sekeliling ruangan. "Airine, Papa menunggumu di ruang rapat direksi. Sekarang. Oh, dan dia bilang... bawa suamimu yang 'istimewa' itu kalau dia memang punya nyali."

​Airine menarik napas panjang. "Dia sedang sibuk. Dia tidak perlu datang untuk urusan kecil seperti ini."

​"Sibuk? Sibuk mencuci mangkuk?" Renata tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh Reo. "Jangan malu-malu, Airine. Kami ingin berkenalan dengan anggota keluarga baru kita. Atau jangan-jangan... dia kabur setelah tahu siapa keluarga Rubyjane yang sebenarnya?"

​Airine mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia merasa terpojok. Ia memang tidak bermaksud membawa Nata ke sini secepat ini. Ia ingin menyembunyikan "suaminya" sampai posisinya benar-benar kuat.

​"Aku akan datang ke ruang rapat. Sendiri," tegas Airine.

​"Papa memberimu waktu sepuluh menit. Jika suamimu tidak muncul untuk menandatangani berkas pengakuan keluarga, Papa akan menganggap pernikahanmu hanya penipuan untuk menguasai warisan," Renata berbalik pergi sambil melambaikan tangannya dengan angkuh.

​Begitu mereka keluar, Airine terduduk lemas. Ia segera meraih ponselnya dan mencari kontak Nata.

​"Angkat, Nata... tolong angkat," gumamnya panik.

​Di sisi lain kota, di sebuah gudang tua yang tersembunyi di balik pasar induk, Arnold Dexter—yang masih mengenakan apron baksonya—sedang menatap tiga layar monitor besar yang menampilkan skema aliran dana ilegal.

​Drtt... Drtt...

​Ia melirik ponselnya. 'Istri Kontrak' memanggil. Arnold menghela napas, namun ia tidak mengangkatnya. Ia justru menekan tombol pada radio panggil di mejanya.

​"Tim Satu, apa posisi kalian?"

​"Kami sudah di parkiran belakang RS Medika, Komandan. Orang-orang Tuan Rubyjane berjaga di setiap lift," suara dari radio menyahut.

​"Bagus. Jangan ada yang bergerak sampai aku memberi perintah. Aku akan masuk lewat pintu depan sebagai 'tukang bakso'. Pastikan kamera pengawas di lantai lima mati selama sepuluh menit saat aku masuk ke ruang rapat," perintah Arnold dengan nada dingin yang tidak menyisakan ruang untuk bantahan.

​Ia melepaskan apronnya, memperlihatkan sebuah kaos polo hitam yang rapi. Ia mengambil sebuah jam tangan perak yang merupakan alat pelacak dan komunikasi canggih, lalu mengenakannya.

​"Airine, kamu ingin aku datang?" gumam Arnold sambil menatap foto profil WhatsApp Airine yang tampak cantik dengan jas dokternya. "Baiklah. Mari kita beri mereka pertunjukan yang tidak akan pernah mereka lupakan."

​Arnold berjalan menuju motor besarnya yang tersembunyi di balik tumpukan karung bumbu bakso. Ia tahu, masuk ke ruang rapat itu berarti ia harus menunjukkan sedikit taringnya. Dan ia sangat menantikan wajah Reo saat pria itu menyadari bahwa "tukang bakso" yang ia hina memiliki aura yang bisa membuat jenderal sekalipun gemetar.

​Sementara itu, di ruang rapat lantai lima, Tuan Rubyjane duduk di kursi kebesaran, didampingi Shena dan pengacara mereka. Wajahnya merah padam, tangannya memegang map hitam yang berisi pembatalan hak waris.

​"Mana suamimu, Airine?" tanya Tuan Rubyjane saat Airine masuk sendirian. "Mana pria yang sudah merusak martabat keluarga kita?"

​Airine berdiri mematung di depan meja panjang itu. "Dia... dia sedang dalam perjalanan, Yah."

​"Bohong!" teriak Shena. "Dia pasti ketakutan. Siapa yang mau berhadapan dengan hukum hanya demi wanita depresi sepertimu?"

​TOK. TOK. TOK.

​Pintu ruang rapat yang tebal itu diketuk dengan irama yang tenang namun tegas. Semua mata tertuju ke arah pintu.

​Seorang pria masuk. Ia tidak tampak seperti tukang bakso yang kotor. Meski pakaiannya sederhana, cara ia berjalan dan tatapan matanya yang tajam langsung membungkam seluruh ruangan.

​"Maaf saya terlambat," suara berat Arnold bergema, membuat Airine terkesiap. "Istriku, kenapa kamu terlihat pucat sekali?"

​Arnold berjalan santai menuju Airine, lalu merangkul pinggangnya dengan posesif di depan sang Ayah dan para direksi. Ia menatap Tuan Rubyjane tanpa rasa takut sedikit pun.

​"Jadi, siapa di antara kalian yang ingin membatalkan pernikahan kami?" tanya Arnold dengan senyum miring yang menyimpan ancaman mematikan.

...****************...

1
Abinaya Albab
beneran ini perang terakhir? duhhhh capek gk sih mereka baru mau bernafas lega ada lagi
Abinaya Albab: blm lagi bikin bakso urat ya Thor 😂🤭
total 2 replies
Abinaya Albab
baru ini aku baca novel yg tegangnya tak beesudahan... lanjut
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
kakek jahat ga
aditya rian
sekalian updatenya banyak dong soalnya jadi penasaran banget
aditya rian
keren arnold
aditya rian
jangan marah dong... di awal jug udh bilang
hidagede1
ke inget nya sama jendral andika🤭
Ariska Kamisa: eehh??? 🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
yah... thor.. ayo sih update nya yang banyak sekalian... aku ga sabaran
aditya rian: Airine mulai jeniusnya nih
total 2 replies
umie chaby_ba
ampe airine bingung manggilnya dua nama padahal satu orang 🤭🤭🫣
umie chaby_ba
waduh... judulnya aja bikin takutt... apakah... airine tidak terima dibohongi?
umie chaby_ba
hayoloh . ga bisa ngelak lagi nol
umie chaby_ba
Arnold udah demen banget nih
umie chaby_ba
bisa aja anjayy
umie chaby_ba
hayoloh....
umie chaby_ba
udah nge spill Mulu padahal Nata de Coco... tak mungkin Abang bakso seberani itu.. mikir dong airine...
Ariska Kamisa: aaa.. kaka niu bisa aja ceplosannya jadi mata de coco🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
tuan Shen musuh sapa sih lu🫣
umie chaby_ba
udah komandan... cucu jenderal pula....👍
umie chaby_ba
secara komandan cuyyy....
umie chaby_ba
Arnold Dexter 😍
umie chaby_ba
tuan Shen ini.. jangan jangan orang terdekat 🫣
Ariska Kamisa: lanjut ikutin terus yaa biar tahu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!