NovelToon NovelToon
Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:52
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 - Besi Karat dan Janji yang Mengikat

Gudang rongsokan di ujung utara Wana Asri sore itu terasa seperti oven raksasa yang dipenuhi tumpukan besi tua berkarat. Bau oli bekas, karat, dan debu kering langsung menyengat rongga hidung siapa pun yang menginjakkan kaki di sana. Sinar matahari sore yang berwarna jingga keemasan menembus celah-celah atap seng yang bolong, menciptakan pilar-pilar cahaya yang dramatis di tengah medan pertempuran dadakan tersebut.

Rama tiba di lokasi dengan memacu motor bebek pinjaman milik Dika yang entah bagaimana berhasil dia rampas di parkiran sekolah sebelum kabur melewati tembok belakang. Penampilannya benar-benar kacau balau. Seragam olahraga SMA Taruna Citra yang masih melekat di badannya sudah lecek dan basah oleh keringat. Kacamata minusnya sudah dia lepas dan simpan di saku celana, digantikan dengan tatapan mata elang yang tajam dan siap memangsa.

Begitu Rama mematikan mesin motor, suasana di dalam gudang yang tadinya bising oleh adu mulut langsung hening. Di sisi kiri, belasan anak Kobra Besi berdiri garang membawa balok kayu, rantai, dan besi pipa. Di tengah-tengah mereka berdiri Tora, dengan lengan kanan yang dibalut perban asal-asalan akibat jatuh semalam. Di sisi kanan, Galang, Bagas, Cakra, dan anggota The Ghost lainnya sudah bersiap dengan tangan kosong maupun perkakas bengkel seadanya. Wajah mereka tegang namun menyiratkan kelegaan saat melihat bos besar mereka akhirnya muncul.

"Gila, Bos. Lo beneran datang pakai baju olahraga sekolah begini?" bisik Galang saat Rama berjalan tegap mendekatinya, membelah kerumunan anggota The Ghost.

"Dinas dadakan. Nggak sempat ganti kulit," jawab Rama singkat, suaranya serak namun penuh otoritas. Dia menoleh ke arah Tora, memiringkan kepalanya sedikit hingga terdengar bunyi gemeretak dari sendi lehernya. "Jadi, pecundang Tikungan Setan belum puas cium aspal semalam? Sekarang mau nyari gara-gara di wilayah rongsokan?"

Tora meludah ke tanah, wajahnya memerah karena amarah yang memuncak. "Bacot lo kegedean, Ram! Semalam lo cuma beruntung karena ada paku sialan di jalur gue! Kali ini nggak ada motor, nggak ada aspal. Kita selesain pakai cara laki-laki. Lo, gue, dan sisa geng lo yang bakal habis di sini sekarang juga!"

Rama mendengus remeh, sebuah tawa sinis meluncur dari bibirnya. Fisiknya memang sedang berada di titik terendah. Kepalanya masih berdenyut sisa pingsan di sekolah tadi, dan rusuknya terasa nyeri setiap kali dia menarik napas. Tapi anehnya, di tengah kondisi setengah hancur ini, adrenalinnya justru terpacu dua kali lipat. Di sekolah, dia harus menunduk dan berpura-pura sempurna. Tapi di sini, di antara tumpukan besi karatan ini, dia adalah raja.

"Cara laki-laki kata lo? Bawa pasukan bawa pentungan gitu lo sebut cara laki-laki?" Rama melangkah maju dua tindak, berdiri tepat di garis tengah yang memisahkan kedua kubu. Dia menepuk dadanya sendiri. "Maju lo semua. Gue kasih diskon, sekalian bayar lunas rasa penasaran lo."

Provokasi itu sukses besar. Tora menggeram marah dan langsung mengayunkan pipa besi di tangannya ke arah kepala Rama.

Bentrokan pecah seketika. Gudang rongsokan itu langsung berubah menjadi arena kekacauan. Suara teriakan, makian, dan bunyi logam yang beradu dengan daging menggema ke seluruh penjuru utara Wana Asri. Galang dan Bagas langsung menerjang anak buah Tora, sementara Rama fokus menghadapi sang ketua Kobra Besi.

Ayunan pertama Tora berhasil dihindari Rama dengan cara menunduk cepat. Angin dari sabetan besi itu terasa sedekat beberapa milimeter dari telinganya. Memanfaatkan momentum Tora yang kehilangan keseimbangan, Rama mendaratkan sebuah pukulan keras tepat di ulu hati lawannya. Tora terbatuk hebat, terhuyung ke belakang.

Namun, Tora tidak menyerah begitu saja. Cowok beringas itu kembali menyerang dengan membabi buta. Rama yang fisiknya tidak sedang dalam kondisi prima terpaksa lebih banyak bermain bertahan. Dia menangkis, menghindar, dan memanfaatkan lingkungan sekitarnya. Saat Tora mengayunkan besinya lagi, Rama menendang sebuah pintu mobil karatan yang tergeletak di tanah hingga melayang dan menghantam tulang kering Tora.

"Argh! Bangsat lo, Ram!" teriak Tora kesakitan.

Rama tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia menerjang maju, mencengkeram kerah jaket Tora, dan mendaratkan pukulan telak ke rahang kiri musuhnya itu. Tora tersungkur ke tanah, memuntahkan darah segar dari sudut bibirnya.

Namun, di saat Rama mengira pertarungan utama sudah selesai, rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba menghantam bahu kanannya dari arah belakang. Salah satu anak buah Tora yang melihat bosnya tumbang, nekat menghantamkan balok kayu ke punggung Rama.

Tubuh Rama terdorong ke depan, nyaris ambruk menimpa kap mobil bekas. Matanya berkunang-kunang. Rasa sakit di bahunya menjalar hingga ke tulang rusuknya yang memang sudah bermasalah. Napasnya tercekat hebat.

"Bos!" teriak Cakra dari kejauhan, langsung berlari dan menendang anak buah Tora yang memukul Rama tadi hingga terpental.

Rama berpegangan pada pinggiran kap mobil, mencoba mempertahankan kesadarannya yang mulai menipis. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Di titik ini, tubuhnya benar-benar berteriak minta ampun. Pandangannya mulai memudar, persis seperti apa yang dia rasakan di tengah lapangan basket siang tadi.

Tora yang melihat Rama sempoyongan langsung tertawa girang. Sambil memegangi rahangnya yang bengkak, dia berusaha berdiri. "Kenapa, Sang Hantu Wana Asri? Lemes? Belum makan siang lo?"

Di detik-detik saat kesadarannya hampir hilang, sebuah wajah tiba-tiba berkelebat di benak Rama. Wajah dengan mata bulat yang menatapnya tajam, jilbab ungu yang berkibar ringan tertiup angin gazebo, dan sebuah suara tegas yang mengomelinya di ruang UKS beberapa jam yang lalu.

“Kalau lo sampai pulang tinggal nama doang, gue bakal datang ke acara tahlilan lo cuma buat nagih utang siomay yang belum lo bayar!”

Dan janjinya sendiri. “Lo tunggu gue besok pagi di gazebo biasa.”

Sial. Rama menggertakkan giginya kuat-kuat. Dia tidak boleh tumbang di sini. Dia punya janji yang harus ditepati. Dan membayangkan wajah Nayla yang menertawakannya di alam baka sana karena kalah oleh cecunguk macam Tora membuat harga dirinya menolak untuk mati.

Dengan sisa tenaga terakhir yang dia peras dari dasar jiwanya, Rama berbalik. Tatapannya kini berubah menjadi sangat gelap dan mematikan, membuat Tora yang tadinya tertawa mendadak kicep. Rama melangkah maju dengan cepat, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Sebelum Tora sempat mengangkat senjatanya lagi, Rama melompat dan mendaratkan sebuah tendangan memutar tepat di dada Tora.

Tora terpental jauh ke belakang, menghantam tumpukan ban bekas hingga susunannya rubuh menimbun tubuhnya. Tora pingsan seketika.

Melihat ketua mereka tidak berdaya, sisa anggota Kobra Besi yang masih bertarung langsung kehilangan nyali. Mereka membuang senjata mereka dan lari kocar-kacir menyelamatkan diri, menyeret tubuh Tora dan pergi dari area gudang rongsokan secepat kilat.

Keheningan kembali merayap turun bersamaan dengan matahari yang mulai tenggelam. Galang, Bagas, dan beberapa anak The Ghost yang babak belur bersorak kegirangan. Mereka menang lagi. Wana Asri masih aman di tangan mereka.

Rama bersandar lemas pada bodi mobil rongsokan. Dia merosot perlahan hingga terduduk di tanah yang kotor. Kaus olahraganya kini berubah warna menjadi cokelat kehitaman karena debu dan noda darah entah milik siapa. Napasnya tersengal-sengal.

"Gila lo, Ram! Tadi tendangan terakhir lo epik banget! Nggak nyangka gue biarpun lo kelihatan lemas kayak belum dikasih makan, tenaga lo masih sanggup bikin si Tora koma," celoteh Galang sambil menyodorkan sebotol air mineral yang langsung diteguk habis oleh Rama.

"Gue mau balik," ucap Rama susah payah, suaranya parau.

"Buru-buru amat. Kita ke tongkrongan dulu lah, ngobatin luka pakai alkohol sekalian ngerayain—"

"Gue bilang gue mau balik, Lang," potong Rama dengan tatapan tajam yang tak terbantahkan. Dia memaksakan diri untuk berdiri, meski bahu dan rusuknya terasa seperti mau rontok. "Ada orang yang bakal ngebunuh gue beneran kalau sampai besok pagi gue nggak nampakin muka dalam keadaan utuh."

Galang dan Bagas saling pandang dengan kening berkerut. "Orang? Siapa, Bos? Bapak lo?"

Rama tidak menjawab. Dia mengusap sudut bibirnya yang sedikit robek, tersenyum tipis—sangat tipis hingga tidak ada yang menyadarinya. Dia berjalan tertatih menuju motor bebek butut milik temannya. Rama tidak peduli dengan rasa sakitnya sekarang. Yang ada di kepalanya hanyalah memikirkan cara bagaimana menjelaskan kaus olahraganya yang hancur lebur ini kepada satpam sekolah saat dia mengambil tasnya nanti, dan yang terpenting... memastikan dirinya masih hidup untuk membelikan siomay bumbu kacang esok hari. Tuntutan gila yang entah sejak kapan menjadi candu baru dalam hidupnya yang monoton.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!