NovelToon NovelToon
ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Action / Showbiz
Popularitas:357
Nilai: 5
Nama Author: Ab Je

Di dunia pro-scene FPS yang kejam, satu peluru bisa menentukan segalanya.

Reno, seorang remaja yang bekerja di warnet kumuh, hanya dikenal sebagai "hantu" di server publik. Tanpa tim, tanpa perlengkapan mewah, ia mendominasi setiap pertandingan dengan satu ciri khas: satu tembakan, satu nyawa melayang. Kemampuannya yang tidak masuk akal membuat banyak orang menuduhnya menggunakan cheat.

Namun, nasib Reno berubah saat sebuah tim e-sport yang sedang di ambang kehancuran menemukannya secara tidak sengaja. Di tengah keraguan rekan setim yang tidak mempercayainya dan rival-rival besar yang siap menjatuhkannya, Reno harus membuktikan bahwa [aim] miliknya adalah murni bakat dewa.

Dari turnamen antar-warnet yang penuh asap hingga panggung megah kejuaraan dunia, Reno akan menunjukkan bahwa untuk menjadi yang terbaik, kamu tidak butuh peluru kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ab Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Badai di Marina Bay

Udara dingin dari mesin pendingin di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta terasa menusuk tulang di pukul empat pagi. Namun, bagi Reno dan anggota tim Black Viper lainnya, rasa dingin itu kalah oleh adrenalin yang berdesir di dalam aliran darah mereka. Mengenakan jaket seragam tim yang baru dengan bordir perak bertuliskan "Indonesia", mereka berjalan melewati koridor keberangkatan dengan langkah yang sangat solid.

"Sudah bawa semua perlengkapan cadangan, Leo?" tanya Ardi sambil memeriksa dokumen keberangkatan tim.

"Siap, Coach. Dua *mousepad* cadangan, tiga *mouse* dengan sensor yang sama, dan *mechanical keyboard* utama sudah masuk ke koper khusus. Tidak ada yang tertinggal," jawab Leo dengan nada semangat yang tidak bisa ia sembunyikan.

Reno berjalan paling depan, tas punggungnya berisi satu barang yang tidak diketahui siapa pun: sebuah kartu memori kecil berisi analisis data yang ia kerjakan sepanjang malam. Matanya menatap lurus ke arah pintu gerbang keberangkatan. Ia tahu, begitu ia melewati pintu itu, ia bukan lagi sekadar Reno sang anak warnet. Ia adalah perwakilan dari sebuah negara yang selama ini sering dianggap remeh di peta persaingan e-sport dunia.

Penerbangan menuju Singapura hanya memakan waktu sekitar satu jam empat puluh menit. Begitu roda pesawat menyentuh landasan pacu Bandara Changi, suasana langsung berubah. Changi tidak seperti bandara biasa; di setiap sudutnya terdapat layar digital raksasa yang mempromosikan *World Invitational*. Wajah para pemain bintang dunia, termasuk Apex, terpampang besar-besar dengan latar belakang neon yang futuristik.

"Selamat datang di panggung yang sebenarnya," bisik Ardi saat mereka keluar dari area imigrasi dan disambut oleh staf turnamen yang membawa papan bertuliskan "BLACK VIPER - INDONESIA".

Mereka diantar menuju hotel tempat seluruh tim elit dunia menginap: sebuah gedung ikonik di kawasan Marina Bay yang menjulang tinggi menantang langit. Di lobi hotel, kemewahan itu terasa nyata. Namun, bagi Reno, kemewahan itu hanya kebisingan visual. Fokusnya tertuju pada sekelompok pemain dengan seragam putih-biru yang baru saja keluar dari lift.

Mereka adalah **Northern Stars**, tim unggulan dari wilayah Utara yang terkenal dengan disiplin militer mereka dalam bermain. Di tengah kelompok itu, berdiri seorang pria jangkung dengan tatapan mata yang sangat tajam. Dia adalah sang kapten, pria yang oleh informan misterius disebut sebagai 'The Silent Reaper'.

Suasana di lobi seketika menjadi sangat sunyi. Tidak ada kata-kata yang terucap, namun tekanan udara seolah meningkat secara drastis saat kedua tim itu berpapasan. Reno tidak menundukkan kepalanya. Ia menatap balik sang Reaper dengan pandangan yang tenang namun penuh tantangan. Sang Reaper berhenti sejenak, menoleh ke arah Reno, lalu hanya memberikan anggukan kecil yang sangat dingin sebelum melanjutkan langkahnya.

"Gila... tekanannya benar-benar terasa," gumam Marco setelah Northern Stars menjauh. "Mereka bahkan tidak bicara, tapi aura mereka seolah-olah sudah menjatuhkan kita."

"Jangan biarkan aura mereka mengganggu permainanmu, Marco," sahut Reno sambil berjalan menuju konter *check-in*. "Mereka hanya manusia yang menggunakan monitor dan *mouse* yang sama dengan kita."

Setelah masuk ke kamar hotel yang memiliki pemandangan langsung ke sirkuit kota Singapura, Reno tidak langsung beristirahat. Ia membuka amplop cokelat kecil yang diselipkan di saku kopernya oleh staf hotel saat mereka tiba. Di dalamnya terdapat sebuah catatan pendek lagi, kali ini dengan tulisan tangan yang lebih berantakan.

> [S]: Cek pengaturan latensi di arena utama besok. Ada sedikit perbedaan antara server latihan dan server panggung utama. Northern Stars sudah tahu hal ini. Jangan sampai kamu menyesuaikan diri terlalu lambat. Badai pertama akan dimulai di pertandingan pembuka melawan Apex.

Reno menghela napas panjang. Ia duduk di pinggir tempat tidur, menatap ke arah Marina Bay Sands yang berkilauan di bawah cahaya lampu kota. Ia tahu, pertandingan melawan Apex bukan sekadar adu cepat tembakan. Itu adalah perang mental. Apex akan menggunakan segala cara untuk merusak konsentrasi Reno, termasuk melalui provokasi di atas panggung nanti.

Malam itu, Reno memanggil seluruh anggota timnya ke ruang latihan pribadi yang disediakan di hotel. "Malam ini, kita tidak akan latihan mekanik. Kita akan melakukan sinkronisasi strategi 'Arctic Base' sekali lagi. Aku ingin kalian hafal setiap sudut bangunan tanpa harus melihat peta."

"Tapi Reno, kita baru saja sampai. Apa tidak sebaiknya istirahat?" tanya Bimo pelan.

"Lawan kita tidak sedang istirahat, Bimo," jawab Reno tegas. "Mereka sedang mempelajari kelemahan kita saat ini. Kita harus selangkah lebih maju."

Selama empat jam berikutnya, tim Black Viper tenggelam dalam analisis strategis yang sangat mendalam. Reno membongkar semua rahasia yang ia temukan dari analisis datanya. Ia menunjukkan bagaimana tim kelas dunia sering kali terjebak dalam rasa percaya diri mereka yang berlebihan, dan di situlah celah bagi Black Viper untuk melakukan serangan balik yang mematikan.

Saat latihan berakhir, Reno berdiri di dekat jendela besar kamarnya. Ia merasakan getaran di dadanya—bukan karena rasa takut, melainkan karena kegembiraan yang luar biasa. Panggung dunia sudah di depan mata. Ia telah menempuh perjalanan jauh dari kursi warnet yang berlubang hingga sampai ke pusat perhatian dunia.

"Apex... Northern Stars... siapa pun kalian," bisik Reno pada kegelapan malam. "Kalian mungkin menganggapku mangsa. Tapi besok, kalian akan menyadari bahwa predator yang sebenarnya baru saja tiba di Singapura."

Besok adalah hari pertama turnamen. Badai di Marina Bay akan segera pecah, dan Reno siap menjadi satu-satunya orang yang berdiri tegak saat badai itu berakhir.

1
Alia Chans
wow cerita nya menarik, semangat✍️ nya
Ab Je: makasih yahh sudah menyemangati. (🌹)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!