Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 004
Tiga jam pelajaran sejarah terasa seperti dongeng pengantar tidur yang paling efektif bagi Ziva (Zura). Di saat murid lain sibuk mencatat tahun-tahun pemberontakan, Ziva justru sibuk berjuang melawan gravitasi kepalanya yang terus merosot dari lipatan tangan.
...Teng.Teng....
Bel istirahat berbunyi nyaring, memecah ketenangan yang sempat Ziva nikmati. Ia mengerang pelan, mengucek matanya yang sedikit sembap. Di sampingnya, Manda dan Tika sudah berdiri dengan wajah tidak sabar.
"Ziv! Kantin, yuk! Anak-anak Black Eagle pasti udah di sana, ajak Tika sambil membetulkan tatanan rambutnya di depan cermin kecil.
Ziva (Zura) menguap lebar, matanya berair. "Kantin? Males ah, jauh. Titip aja bisa nggak? Gue mau lanjut merem."
"Nggak bisa, Ziv! Reygan pasti di sana. Masa lo mau kehilangan momen buat mepet dia?"
"Apalagi si Liana pasti lagi di sana juga buat cari perhatian," kompor Manda.
Mendengar nama Reygan dan Liana, Zura mendadak teringat plot novel yang ia baca. Kalau tidak salah, jam istirahat ini seharusnya ada adegan Ziva menyiram Liana dengan kuah bakso karena Liana tidak sengaja menabrak Ziva.
"Duh, repot banget hidup mereka," batin Zura. Ia terpaksa berdiri karena perutnya sendiri mulai melancarkan demo besar-besaran.
"Ya udah, tapi gue ke sana buat makan, ya. Bukan buat jadi pemandu sorak atau tukang siram kuah."
...Skip....
Kantin SMA Pelita Bangsa lebih mirip food court mal mewah. Di pojok kanan, terdapat "meja kekuasaan" yang hanya boleh diduduki oleh inti Black Eagle. Aksa duduk di tengah, membelakangi kerumunan dengan gaya tenang yang mematikan. Di dekat mereka, Reygan duduk bersama Daren, tampak sesekali melirik ke arah pintu masuk.
Begitu rombongan Ziva—yang dikawal Manda dan Tika—masuk, suasana kantin mendadak senyap. Bukan karena aura jahat Ziva, tapi karena semua mata tertuju pada wajah "baru" sang Ratu Bully.
"Gila, beneran si Ziva?"
"Cantik banget kalau nggak dandan menor!" Bisik seorang murid kelas sepuluh.
Ziva (Zura) tidak peduli. Matanya hanya fokus pada satu titik: penjual bakso. Ia berjalan lurus, melewati meja Reygan tanpa melirik sedikit pun. Reygan yang sudah memasang wajah "siap-siap ditagih perhatian" mendadak kaku saat Ziva melewatinya begitu saja.
"Bang, baksonya satu. Kuah pedas, telurnya dua, jangan pake sayur. Ribet ngunyahnya," pesan Ziva dengan suara cukup keras.
"Siap, Non Ziva!" Sahut si Abang bakso yang biasanya ketakutan, kini malah bingung melihat majikan sekolah itu bicara dengan nada santai.
Namun, baru saja Ziva hendak mengambil mangkuknya, sebuah insiden terjadi. Liana, yang sedang membawa nampan berisi es teh manis, tampak terburu-buru dan tidak sengaja tersandung kaki kursi seseorang.
...BRUK! PYARRR!...
Nampan berserta gelas es teh itu terjatuh tepat di depan sepatu Ziva. Percikan es teh mengenai ujung sepatunya yang mengilat.
Seluruh kantin menahan napas. Manda dan Tika sudah pasang kuda-kuda, siap menerjang. Reygan langsung berdiri, siap membela Liana jika Ziva mengamuk.
M-maaf, kak Ziva, saya nggak sengaja, benar-benar nggak sengaja! Ucap Liana gemetar hebat, wajahnya sudah hampir mau menangis.
Ziva (Zura) menatap sepatunya yang basah, lalu menatap Liana. Di matanya bukan ada amarah, melainkan rasa lelah yang sangat mendalam. Ia menghela napas panjang.
"Lo!" panggil Ziva (Zura) pelan.
"I-iya, Kak?" Liana menunduk.
"Nggak apa-apa, nggak usah nangis. Cairan doang, bukan asam sulfat. Tapi lain kali jalannya pelan-pelan ya? Capek lho kalau jatuh terus harus ke UKS atau beresin ginian," ucap Ziva (Zura) sambil mengambil tisu dari sakunya dan membersihkan sepatunya sendiri dengan santai.
Seluruh kantin melongo. Aksa, yang tadinya hanya diam menyimak, perlahan memutar tubuhnya. Ia menatap punggung Ziva dengan mata elangnya yang tajam. Sesuatu di dalam dirinya merasa ada yang janggal—tapi menarik.
"Ziva? Lo nggak mau suruh dia berlutut atau apa gitu?" Tanya Manda tidak percaya.
"Aduh, Nda. Berlutut itu bikin lutut pegal. Kasihan dia, gue juga capek liatnya," sahut Ziva (Zura) cuek.
Ia kemudian mengambil mangkuk baksonya dan mencari meja kosong di pojokan, jauh dari keramaian, berniat makan dalam damai.
Tiba-tiba, sebuah suara berat menginterupsi langkahnya.
..."Zivanna."...
Ziva (Zura) berhenti. Ia menoleh dan mendapati Aksa sudah berdiri tidak jauh darinya. Pemimpin Black Eagle itu berjalan mendekat, auranya begitu dingin hingga murid-murid di sekitarnya refleks menyingkir.
Ziva menaikkan sebelah alisnya. "Ya? Kenapa, Aks? Mau bakso juga? Pesan sendiri, Bang baksonya masih di sana."
Vino dan Kenan yang berada di belakang Aksa nyaris tersedak air minum mereka sendiri. "Berani sekali Ziva bicara begitu pada Aksa?"
Aksa menatap mata cokelat Ziva yang jernih—tidak ada lagi obsesi gila di sana. "Lo... beda," ucap Aksa singkat.
Hanya dua kata, tapi tekanannya begitu kuat.
Ziva menguap kecil, sengaja menunjukkan kalau dia tidak terintimidasi. "Semua orang berubah, Aks. Kadang ada titik di mana manusia sadar kalau jadi jahat itu butuh banyak tenaga, sedangkan rebahan itu gratis dan menenangkan. Paham?"
Tanpa menunggu jawaban Aksa, Ziva melenggang pergi menuju mejanya. Ia mulai menyantap baksonya dengan lahap, seolah-olah percakapannya dengan penguasa sekolah tadi hanyalah gangguan lalat lewat.
Reygan yang melihat itu semua mengepalkan tangannya. Ada rasa tidak terima saat melihat Ziva yang dulu memujanya, kini bahkan menganggap keberadaannya seperti butiran debu di pojok kantin.
Ziva (Zura) baru saja hendak menyuap bakso telurnya yang montok saat sebuah bayangan kembali menutupi mejanya. Ia mendongak, kali ini Reygan yang berdiri di sana dengan wajah yang sulit diartikan—antara bingung, gengsi, dan kesal karena diabaikan.
"Ziva, lo beneran nggak apa-apa?" tanya Reygan. Matanya melirik Liana yang masih berdiri mematung di tengah kantin.
"Gue tahu lo marah, tapi jangan pura-pura baik di depan gue cuma buat cari perhatian. Kalau mau marah, ya marah aja ke gue, jangan ke Liana."
Ziva (Zura) berhenti mengunyah. Ia menelan baksonya perlahan, lalu menatap Reygan dengan tatapan datar yang sangat melelahkan. "Rey, lo punya cermin nggak di rumah?"
Reygan mengerutkan kening. "Maksud lo?"
"Maksud gue, tingkat kepercaya-dirian lo itu sudah melampaui batas kewajaran," sahut Ziva (Zura) santai.
"Gue nggak marah, gue nggak pura-pura baik, dan gue sama sekali nggak lagi nyari perhatian lo. Gue cuma... laper! Bisa nggak gue makan tanpa harus dengerin ceramah tentang perasaan lo yang nggak penting itu?
..."Uuhhukk."...
Kenan yang duduk di meja Black Eagle sampai tersedak es jeruknya. "Anj*r, Reygan kena skakmat!" bisiknya pada Vino yang sibuk merekam kejadian itu.
Wajah Reygan memerah. Ia merasa harga dirinya jatuh ke lantai kantin yang licin. Belum sempat ia membalas, Aksa yang sedari tadi berdiri tak jauh dari sana tiba-tiba melangkah mendekat. Langkahnya tenang, namun setiap hentakan sepatunya membuat suasana makin mencekam.
Aksa berhenti tepat di samping kursi Ziva (Zura). Ia tidak menatap Reygan, matanya hanya tertuju pada mangkuk bakso Ziva. "Satu mangkuk bakso lebih menarik daripada cowok populer?" Suara rendah Aksa memecah keheningan.
Ziva mendongak, menatap Aksa yang tingginya bukan main.
"Tentu. Bakso ini nggak banyak nanya, nggak bikin pusing, dan yang pasti... bikin kenyang. Cowok? Cuma bikin asam lambung naik."
Aksa terdiam sejenak, lalu tangannya bergerak mengambil sebotol air mineral dingin dari nampan yang lewat dan meletakkannya di meja Ziva.
"Minum. Biar nggak keselek baksonya."
Setelah itu, Aksa berbalik dan memberi isyarat pada anggota Black Eagle lainnya untuk pergi. "Cabut," perintahnya singkat.
"Tapi Ka, si Ziva—" Bram mencoba protes karena masih ingin menonton drama.
"Cabut," ulang Aksa, kali ini dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Geng Black Eagle akhirnya pergi, diikuti oleh Reygan yang melangkah pergi dengan perasaan campur aduk. Liana juga segera menyingkir setelah menggumamkan terima kasih yang sangat pelan pada Ziva.
Tinggallah Ziva, Manda, dan Tika di pojokan itu.
"Ziv... sumpah demi apa pun," Manda bicara dengan suara gemetar. "Lo baru saja dikasih minum sama Aksa Erlangga."
"Aksa! Cowok yang nggak pernah nyentuh barang orang lain apalagi ngasih perhatian!"
Ziva hanya melirik botol air mineral itu, lalu membukanya dan meminumnya seteguk. Dingin. "Lumayan", gumamnya.
"Tapi Nda, Tik, tolong banget ya. Besok-besok jangan ajak gue ke kantin lagi. Capek gue, baru mau makan satu butir bakso aja penontonnya udah kayak konser Blackpink."
"Tapi Ziv, Aksa itu—" Tika mencoba menyela.
"Aksa atau Reygan, sama aja. Sama-sama berisik," potong Ziva sambil kembali fokus pada baksonya. "Udah ah, buruan makan.
Bentar lagi bel masuk. Gue mau nyari spot di kelas yang nggak kena silau matahari buat tidur siang."
Di ambang pintu kantin, Aksa sempat menoleh sekali lagi. Ia melihat Ziva—atau Zura—yang sedang menikmati baksonya dengan sangat khusyuk, seolah dunia di sekitarnya tidak ada. Ada sebuah rasa penasaran yang mulai tumbuh di benak sang penguasa sekolah.
Baginya, Ziva yang dulu adalah buku yang membosankan karena isinya hanya tentang obsesi. Tapi Ziva yang sekarang? Dia adalah teka-teki yang sengaja dikunci, dan Aksa mulai merasa ingin mencari kuncinya.
"Menarik," batin Aksa sambil terus melangkah, meninggalkan kantin yang masih ramai membicarakan revolusi besar sang Ratu Bully.
lanjut ya thor... 🤧