"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."
Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.
Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.
Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.
"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4. Gangguan Tak Di Undang
SUV hitam itu berhenti dengan suara decit rem yang halus tepat di depan gerbang utama kampus yang megah.
Mesinnya tidak dimatikan, memicu getaran konstan yang seolah merambat dari kursi kulit ke tulang belakang Alea.
Bima duduk tegak di balik kemudi, jemarinya mengetuk-ngetuk setir dengan irama yang tidak sabar.
Kacamata hitam menyembunyikan matanya, namun Alea bisa merasakan tatapan pria itu sedang menguliti setiap gerak-geriknya.
"Aku ada pertemuan bisnis satu jam lagi di daerah sini," ujar Bima tanpa menoleh sedikit pun.
Suaranya kembali ke nada profesional yang dingin, seolah kejadian jilat-menjilat di telinga tadi hanyalah halusinasi Alea.
"Selesaikan urusan administrasimu secepat mungkin. Jangan berkeliaran. Aku akan menjemputmu tepat di titik ini. Jika aku sampai di sini dan kau tidak ada..."
Bima menggantung kalimatnya, memberikan jeda yang penuh ancaman.
Ia menoleh perlahan, menurunkan sedikit kacamatanya hingga mata elangnya terlihat.
"Kau tahu apa yang bisa kulakukan, little bird."
Alea tidak menjawab.
Ia hanya ingin segera keluar dari ruang sempit yang berbau parfum pria itu—aroma yang kini mulai terasa seperti candu yang menyesakkan.
Tanpa pamit, ia membuka pintu dan melangkah keluar, menghirup udara kampus yang terasa jauh lebih segar.
"Alea," panggil Bima tepat sebelum pintu tertutup.
Alea menoleh malas, sebelah tangannya memegang tali tas punggungnya.
"Ingat pesanku. Jangan bermain-main dengan kesabaranku."
Alea membanting pintu mobil itu sebagai jawaban akhir. Ia berjalan cepat memasuki area kampus, mengabaikan deru mesin mobil Bima yang perlahan menjauh meninggalkan kepulan debu tipis.
Untuk pertama kalinya sejak matahari terbit pagi ini, Alea merasa paru-parunya benar-benar berfungsi.
"Alea! Hei, Alea!"
Seorang pemuda dengan kemeja flanel biru dan senyum cerah berlari menghampirinya dari arah lobi.
Itu Revan. Teman satu SMA yang selama tiga tahun terakhir selalu menatap Alea dengan binar yang berbeda.
Revan adalah segalanya yang bukan Bima: ia ramah, hangat, mudah ditebak, dan sangat normal.
"Revan? Wah, senang sekali melihat wajah yang kukenal di sini!" seru Alea tulus. Beban di bahunya seolah terangkat melihat kehadiran Revan.
Di mata Alea, Revan adalah sauh yang menariknya kembali ke kenyataan bahwa ia masih remaja delapan belas tahun, bukan mainan seorang pria posesif berusia tiga puluh tiga tahun.
"Aku juga! Aku cari-cari namamu di daftar maba, ternyata benar kita satu fakultas,"
Revan tampak sangat antusias, wajahnya sedikit memerah saat menatap Alea yang meskipun hanya memakai hoodie longgar, tetap terlihat luar biasa cantik.
"Ayo, aku antar ke ruang administrasi. Aku sudah hafal jalannya. Setelah itu, kita makan siang di kantin belakang? Ada kedai ramen baru yang enak, kuteraktir sebagai perayaan kita resmi jadi mahasiswa."
Alea sempat ragu. Bayangan wajah Bima yang gelap melintas di benaknya. Namun, rasa kesal dan dendam karena diperlakukan seperti tawanan tadi pagi membuatnya justru ingin memberontak.
"Tentu, ayo! Aku sedang sangat butuh makanan enak."
Satu jam berikutnya terasa seperti pelarian yang sempurna. Bersama Revan, Alea merasa hidup kembali.
Mereka berbincang tentang masa SMA, tertawa tentang rencana-rencana konyol di semester pertama, dan Revan terus melontarkan pujian kecil yang membuat Alea tersipu.
Perasaan ini jauh lebih aman dan nyaman daripada intimidasi fisik yang dilakukan Bima.
Di kantin yang cukup ramai dan bising oleh suara mahasiswa lain, mereka duduk berhadapan.
Revan baru saja menceritakan lelucon konyol tentang pengalamannya salah masuk kelas tadi pagi, membuat Alea tertawa lepas.
Alea mendongak, menyibakkan rambut pirangnya yang sedikit menutupi wajah, membiarkan leher jenjangnya terekspos di bawah sinar matahari siang yang masuk lewat celah atap kantin.
"Kau jauh lebih cantik kalau tertawa begini, Alea," bisik Revan lembut. Ia memberanikan diri mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya bergerak di atas meja, hampir menyentuh jemari Alea.
"Sejujurnya, aku senang kau masuk ke sini. Aku ingin kita lebih sering menghabiskan waktu bersama."
"Terima kasih, Van. Aku hanya... sedang butuh banyak tawa hari ini. Pagi ini terasa sangat berat bagiku."
"Kalau begitu, biarkan aku yang membuatmu tertawa setiap ha—"
Kalimat Revan terputus di tengah jalan. Udara di sekitar mereka mendadak terasa membeku, seolah suhu di kantin yang panas itu turun drastis dalam satu detik.
Alea merasakan bulu kuduknya berdiri. Sebuah bayangan besar dan gelap tiba-tiba jatuh menutupi meja mereka, menghalangi cahaya matahari yang hangat.
Alea mendongak, dan jantungnya terasa seperti jatuh ke lantai.
Bima berdiri di sana. Kacamata hitamnya sudah terselip di saku kemeja, menyingkap sepasang mata sehitam jelaga yang kini memancarkan kemarahan murni yang sangat pekat.
Ia masih mengenakan pakaian yang sama, namun auranya sekarang jauh lebih berbahaya, jauh lebih liar daripada saat ia berada di rumah.
"Satu jam, Alea. Aku bilang satu jam, dan aku akan menunggumu di gerbang," suara Bima sangat rendah, nyaris seperti geraman predator yang sedang memperingatkan mangsanya.
Revan tersentak kaget dan langsung berdiri, mencoba bersikap sopan meski wajahnya memucat melihat postur Bima yang menjulang.
"Maaf, Anda siapa?"
Bima sama sekali tidak melirik Revan. Baginya, pemuda itu hanya serangga kecil yang mengganggu.
Matanya terkunci pada Alea yang kini mematung di kursinya, dengan sendok ramen yang masih menggantung di tangannya.
Tanpa permisi, Bima melangkah mendekat dan mencengkeram sandaran kursi Alea dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menumpu di meja, mengurung Alea di tempat duduknya.
"Jadi ini alasanmu tidak menjawab teleponku? Makan siang dan tertawa genit dengan bocah ini?" Bima mengabaikan keberadaan Revan sepenuhnya, fokusnya hanya pada Alea yang kini gemetar.
"Uncle, aku hanya makan siang! Revan adalah temanku, kami tidak melakukan apa-apa!" Alea mencoba membela diri, meski suaranya terdengar mencicit.
"Teman?" Bima tertawa sinis, sebuah tawa kering yang tidak mengandung humor sedikit pun.
Ia menoleh perlahan ke arah Revan, memberikan tatapan yang begitu tajam hingga Revan mundur satu langkah.
"Dengar, Nak. Aku tidak suka barang milikku disentuh, dilihat, atau bahkan didekati oleh orang lain. Pergilah sekarang, sebelum aku kehilangan kesabaranku yang sudah sangat tipis ini."
"Milikmu?" Revan mencoba memberanikan diri meski suaranya bergetar.
"Alea bukan barang! Dan dia punya hak untuk berteman dengan siapa saja."
Bima mendengus, sebuah seringai kejam muncul di wajahnya. Ia melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Revan, menekan pemuda itu dengan postur tubuhnya yang dominan.
"Dia di bawah pengawasanku. Secara hukum, secara moral, dan secara fisik. Setiap detiknya adalah urusanku. Dan aku tidak butuh izin dari bocah kencur sepertimu. Pergi."
"Revan, maaf... sebaiknya kau pergi dulu. Aku akan bicara dengannya," Alea memotong dengan panik.
Ia bisa melihat kepalan tangan Bima mengeras, dan ia tidak ingin Revan terluka karena kegilaan pria ini.
Revan menatap Alea dengan tatapan cemas dan tidak berdaya, namun melihat kilat gelap yang mematikan di mata Bima, ia akhirnya mengangguk kaku dan berjalan pergi dengan langkah terburu-buru.
Begitu Revan menjauh, Bima kembali fokus pada Alea. Ia tidak memberikan waktu bagi Alea untuk memprotes. Tangannya yang besar langsung mencengkeram lengan Alea, menarik gadis itu hingga berdiri dengan paksa.
"Kau berani membangkang, little bird? Kau sengaja memaksaku masuk ke tempat sampah ini hanya untuk menyeretmu keluar?" bisik Bima tepat di depan wajah Alea.
Tangannya yang bebas kini berpindah ke pinggang Alea, menariknya begitu rapat hingga payudara Alea tertekan ke dada bidang pria itu.
Di tengah kantin yang ramai, di bawah tatapan mata mahasiswa lain, Bima melakukan klaim yang begitu terang-terangan.
"Kau mempermalukanku di depan semua orang!" desis Alea dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena amarah dan malu.
"Aku baru saja memulainya," sahut Bima dingin, matanya menatap tajam ke bibir Alea seolah ingin melumatnya di sana juga.
"Karena kau terbukti tidak bisa dipercaya saat aku memberimu sedikit kebebasan, maka kebebasanmu berakhir hari ini. Aku tidak akan membiarkanmu keluar dari jangkauan tanganku lagi."
Bima mulai menyeret Alea keluar dari kantin dengan langkah lebar. Alea terpaksa setengah berlari untuk mengimbangi pria itu.
Di parkiran, Bima membukakan pintu mobil dengan kasar dan mendorong Alea masuk.
"Masuk ke mobil. Sekarang. Kita punya banyak hal untuk diselesaikan di rumah, Alea. Dan kali ini, tidak akan ada ayahmu yang bisa menyelamatkanmu dari hukumanku."
Pintu mobil dibanting keras, meninggalkan Alea dalam keheningan yang mencekam, menyadari bahwa pelariannya baru saja berakhir dan neraka yang sesungguhnya baru akan dimulai di dalam rumah mereka sendiri.