NovelToon NovelToon
Gaji Untuk Suami Pengkhianat

Gaji Untuk Suami Pengkhianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​"Saat Setya membuang Arumi demi wanita muda yang lebih cantik, ia lupa bahwa rezekinya tertitip pada doa sang istri sah. Kini, setelah jatuh miskin dan dipecat, Setya terpaksa kembali bersimpuh hanya untuk mengemis pekerjaan di gudang milik Arumi—wanita yang kini menjadi bosnya sendiri."

Selamat membaca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cermin Retak di Balik Jeruji

Pagi itu, keringat dingin membasahi punggung Setya bukan karena lelah bekerja, melainkan karena rasa takut yang mencekam. Di saku celananya, ada selembar kertas lusuh titipan dari seorang kurir gelap—pesan dari Mbak Lastri, sang penguasa sel nomor 4. Pesannya singkat tapi mematikan: "Kalau sampai hari ini tidak ada rokok dan makanan enak untuk kami, istrimu yang cantik ini akan menghias lantai WC dengan wajahnya."

​Setya menelan ludah. Ia menatap ke arah kantor lantai dua yang berdinding kaca. Di sana, ia melihat Arumi sedang menyesap teh hangat, tampak sangat berkelas dalam balutan blazer warna emerald yang membuatnya terlihat sangat mahal.

​Dengan langkah terseret dan tangan yang masih gemetar, Setya memberanikan diri naik ke lantai atas. Ia berdiri di depan pintu ruang kerja Arumi cukup lama, ragu untuk mengetuk. Hingga akhirnya, suara Arumi terdengar dari dalam.

​"Masuk saja, Setya. Aku tahu kamu sudah berdiri di sana selama sepuluh menit hanya untuk mengotori karpet kantorku dengan sepatu bot kotor itu," suara Arumi terdengar sangat jernih dan tenang.

​Setya masuk dengan kepala tertunduk. Ia berdiri di depan meja Arumi, merasa seperti seorang pesakitan yang menunggu vonis mati. "Rum ... maaf mengganggu. Aku ... aku mau minta izin keluar sebentar sore nanti."

​Arumi meletakkan cangkir tehnya perlahan. Ia menyandarkan punggung ke kursi kerjanya yang ergonomis. "Izin? Untuk apa? Bukannya jadwal pembersihan bak sampah belakang belum selesai?"

​"Aku harus ke lapas, Rum. Raya ... dia dalam bahaya. Dia diancam oleh narapidana lain kalau aku tidak datang membawab... sesuatu," suara Setya bergetar hebat.

​Arumi tertawa kecil. Tawa yang sangat pendek, namun sanggup membuat bulu kuduk Setya merinding. Arumi kemudian berdiri, berjalan perlahan mengitari mejanya, dan berhenti tepat di depan Setya. Ia menatap wajah Setya yang kusam dengan pandangan penuh selidik.

​"Jadi, ratu kecantikanmu itu sekarang butuh pertolongan dari suaminya yang tukang sikat toilet ini?" tanya Arumi dengan nada yang sangat manis, tapi mengandung racun di setiap katanya.

​"Rum, tolonglah ... biar bagaimanapun dia masih istriku."

​"Tentu saja dia istrimu. Istri yang kamu pilih dengan penuh kebanggaan di atas air mataku dan anak-anak dulu, bukan?" Arumi melipat tangan di dada.

"Setya, coba jelaskan padaku. Di mana letak 'jauh lebih baik'-nya perempuan itu sekarang? Di mana letak 'kesuburan' dan 'kemolekan' yang dulu kamu agung-agungkan sampai tega mengatai aku sebagai daster bau bawang yang membosankan?"

​Setya hanya bisa diam membisu.

​"Lihat dirimu sekarang," lanjut Arumi, suaranya naik satu oktav namun tetap terkendali. "Kamu mengemis izin padaku hanya untuk mendatangi wanita yang sekarang tidak lebih dari sampah masyarakat. Dulu, kamu bilang aku adalah beban. Tapi lihat sekarang, siapa yang menjadi beban yang sesungguhnya? Aku yang memberimu makan, atau dia yang menghisap sisa-sisa harga dirimu di balik jeruji besi?"

​Arumi mengambil sebuah cermin kecil dari atas mejanya dan menyodorkannya tepat di depan wajah Setya.

​"Tatap matamu sendiri, Setya. Apa kamu melihat sosok pria gagah yang dulu merasa paling hebat saat membuang keluarganya? Tidak ada, kan? Yang ada hanyalah seorang pecundang yang tidak sanggup melindungi gundiknya sendiri dari sikat WC narapidana lain. Kamu mencampakkan berlian demi sebongkah kotoran yang kini membuatmu harus mandi lumpur setiap hari."

​"Rum, cukup ... jangan hina aku lagi..." rintih Setya, air matanya mulai menetes.

​"Hinaan itu gratis, Setya. Yang mahal itu adalah kesempatan yang sudah kamu sia-siakan," Arumi kembali ke kursinya. "Kamu mau izin? Boleh. Pergilah. Temui perempuan itu. Lihatlah bagaimana kecantikannya membusuk di sana. Tapi jangan harap aku akan memberikan uang transport atau uang sogokan untuk teman-teman selnya."

​"Tapi Rum, kalau aku tidak bawa apa-apa, Raya akan disiksa..."

​"Lalu? Apa itu urusanku?" Arumi menatap Setya dengan mata yang sedingin es. "Dulu, saat aku dan anak-anak tidak punya uang untuk makan karena semua gajimu kamu habiskan untuk memanjakan selingkuhanmu itu, apa kamu peduli kalau kami disiksa oleh rasa lapar? Tidak, kan? Kamu justru asyik bercumbu di hotel sementara aku harus berhutang pada tetangga."

​Arumi membuka laci mejanya, mengambil selembar uang sepuluh ribu rupiah dan melemparkannya ke meja. "Itu untuk ongkos angkot pulang-pergi. Tidak ada lebih. Jika kamu telat kembali satu menit saja dari waktu istirahatmu, aku akan memotong gajimu untuk satu minggu kedepan. Paham?"

​Setya mengambil uang itu dengan rasa malu yang luar biasa. Ia merasa seperti pengemis di depan wanita yang dulu mencium tangannya setiap pagi.

​Sore harinya, Setya sampai di lapas dengan tubuh yang terasa remuk. Ia masuk ke ruang besuk dengan hanya membawa kantong plastik berisi dua bungkus nasi bungkus paling murah yang ia beli dengan sisa uang recehnya sendiri.

​Saat Raya muncul, suasananya jauh lebih buruk dari pertemuan sebelumnya. Mata Raya sembab, dan ada bekas cakaran di pipinya yang dulu selalu ia banggakan.

​"Mas! Mana?! Mana titipan Mbak Lastri?!" Raya langsung bertanya dengan suara histeris begitu duduk di depan kaca.

​"Aku cuma punya ini, Raya ... dua bungkus nasi. Arumi tidak memberiku uang lebih," Setya menunjukkan kantong plastiknya.

​Raya tertawa histeris, tawa yang terdengar sangat gila. "Nasi? Kamu kasih mereka nasi murah ini?! Mas, kamu mau aku mati ya?! Lastri minta rokok dan ayam goreng! Kalau kamu cuma bawa ini, aku bakal dihabisi malam ini juga!"

​"Aku tidak punya uang, Raya! Aku cuma kuli sikat toilet sekarang! Kamu mengerti tidak?!" bentak Setya, akhirnya emosinya pecah.

​Tiba-tiba, dari kejauhan di dalam sel selasar, Mbak Lastri terlihat berdiri menatap ke arah mereka dengan senyum seringai yang mengerikan. Ia memberikan isyarat "menggorok leher" ke arah Raya. Raya seketika lemas dan jatuh pingsan di depan meja besuk.

​Petugas segera membopong Raya masuk kembali ke dalam. Setya hanya bisa mematung di balik kaca. Ia ingin menolong, tapi ia tidak punya kekuatan apa pun. Ia baru sadar, bahwa mencintai Raya adalah kesalahan paling mahal yang pernah ia lakukan dalam hidupnya.

​Saat ia berjalan keluar dari lapas, ia melihat sebuah baliho besar di seberang jalan. Itu iklan produk bumbu instan Arumi yang terbaru, dengan slogan: "Keadilan Rasa dalam Setiap Masakan".

​Setya tersenyum pahit. Ya, keadilan rasa. Arumi sudah mendapatkan rasa bahagianya, sementara ia dan Raya sedang menikmati rasa pahit yang tidak akan pernah selesai mereka telan.

​Setya berjalan kaki menuju gudang karena uang sepuluh ribu tadi tidak cukup untuk ongkos yang harganya sudah naik. Di tengah jalan, ia melihat mobil Dhanu melintas. Di dalamnya, ia melihat Liam dan Arjuna duduk di kursi belakang sambil tertawa riang membawa kotak pizza besar.

​"Ibu benar," bisik Setya di tengah debu jalanan. "Aku mencampakkan berlian ... dan sekarang, aku bahkan tidak layak untuk sekadar menjadi debu di bawah roda mobil mereka."

​Setya mempercepat langkahnya. Ia harus segera kembali ke gudang untuk menyikat toilet, sebelum Arumi memotong gajinya lagi. Itulah satu-satunya "masa depan" yang tersisa untuk seorang pengkhianat sepertinya.

1
❤️⃟Wᵃfᴄͫᴇᷰɢͫɪᷰʟ☘𝓡𝓳
ulah kamu sndri kan, ibumu jdi ga peduli lagi
❤️⃟Wᵃfᴄͫᴇᷰɢͫɪᷰʟ☘𝓡𝓳
kasian ibunya setya
𑇛ʜᴇ ʏᴜ ǫɪ
masih untung ada kerjaan
𑇛ʜᴇ ʏᴜ ǫɪ
jatuh kan kebawah setya
❤️⃟Wᵃfᴄͫᴇᷰɢͫɪᷰʟ☘𝓡𝓳
bagus kalau kamu sadar
❤️⃟Wᵃfᴄͫᴇᷰɢͫɪᷰʟ☘𝓡𝓳
bukan mereka yang melupakan tapi kamu yang berbuat awlanya
❤️⃟Wᵃfᴄͫᴇᷰɢͫɪᷰʟ☘𝓡𝓳
malu kan diliat anak"nya
𑇛ʜᴇ ʏᴜ ǫɪ
smngat kamu pst bisa arumi
𑇛ʜᴇ ʏᴜ ǫɪ
iya bner
mantu baik harusnya dibela
𑇛ʜᴇ ʏᴜ ǫɪ
kalian smaa" perempuan tapi ga ada hati
𑇛ʜᴇ ʏᴜ ǫɪ
udh maen selingkuh aja nih
❥ѕᷟнᷰαᷟσᷰ ωєι
agak kasian sih banyak yang dipotong tapi gmn lagi dia juga yng salah
❥ѕᷟнᷰαᷟσᷰ ωєι
kamu yang bikin ibumu seperti itu😭
❥ѕᷟнᷰαᷟσᷰ ωєι
setya bodoh demi wanita lain dia bikin ibunya masuk rumah sakit
❥ѕᷟнᷰαᷟσᷰ ωєι
kamu baru sadar iya raya itu ga sebaik yang kamu kira
❥ѕᷟнᷰαᷟσᷰ ωєι
salah kamy ninggalin keluarga demi orang lain
❥␠⃝ ͭ🍁мυмυ💃🅶🅳🅰🆅🅸🅳
raya kamu ga mikirin apa yang akan terjadi. kedepannya
❥ѕᷟнᷰαᷟσᷰ ωєι
kalau ga diambil kamu ga bisa makan enak raya
❥ѕᷟнᷰαᷟσᷰ ωєι
udh ga ada hak cemburu sih wkwkkw
❥ѕᷟнᷰαᷟσᷰ ωєι
mulai dari bawah lagi setya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!