NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?

Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.

Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.

Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.

Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.

Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?

Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Alvian Bertunangan

Layar televisi raksasa di atas bar lobi Hotel Ritz menyala terang. Logo stasiun berita berputar cepat. Teks berjalan berwarna merah menguasai bagian bawah layar.

Suasana hotel mendadak bising. Puluhan wartawan berlarian ke arah pintu masuk ruang serbaguna di sayap kiri gedung. Kilatan lampu kilat kamera menembus dinding kaca.

Shanaya Putri Kesuma berdiri tenang di dekat pilar pualam. Dia memakai gaun hitam sutra yang melekat sempurna di tubuhnya. Tidak ada senyum di bibirnya. Matanya sedingin balok es. Dia merekam setiap pergerakan manusia di sekitarnya.

Dinda meremas tablet di tangannya keras-keras. Napas asisten itu memburu. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes di pelipisnya.

"Mbak Naya, ini gila." Suara Dinda bergetar. "Alvian berani ambil jalan pintas. Dia tidak menunggu kita menghancurkan sahamnya. Dia mencari pelampung baru."

Shanaya melipat tangan di dada. "Orang tenggelam akan meraih apa saja, Din. Bahkan ular berbisa sekalipun."

"Saham Restu Group pasti naik besok pagi kalau dia mengumumkan aliansi bisnis lewat pernikahan ini." Dinda menggigit bibir bawahnya. Dia menekan layar tabletnya berulang kali. "Semua kerja keras kita memboikot pendanaan dia jadi sia-sia."

"Tidak ada yang sia-sia." Shanaya menatap tajam kerumunan wartawan. "Alvian bodoh. Dia pikir pernikahan bisa menyelamatkan pembukuan yang busuk. Dia hanya memindahkan bom waktu ke rumah orang lain."

Pintu putar kaca utama hotel bergerak lambat. Sosok tinggi melangkah masuk.

Steven Aditya.

Jas hitam pekat membalut tubuh atletisnya. Kemeja putih di bagian dalam dibiarkan tanpa dasi. Tiga pengawal berbadan tegap mengekor di belakangnya. Mata tajam pria itu memindai lobi dalam hitungan detik. Tatapannya langsung terkunci pada sosok Shanaya.

Langkah kaki Steven panjang dan pasti. Pria itu mengabaikan sapaan beberapa kolega bisnis di lobi. Dia mengibaskan tangan menolak kamera. Dia berhenti tepat di samping Shanaya. Aroma parfum kayu dan tembakau menguar tipis di udara.

"Kamu tidak terkejut, Shanaya," kata Steven santai. Suaranya rendah.

"Kamu juga tidak sedang mencari berita, Steven." Shanaya menoleh sekilas. "Bos Kanal Satu turun langsung ke lapangan? Berita ini pasti mahal harganya."

Steven memasukkan satu tangan ke saku celana. "Alvian memblokir semua akses wartawan Kanal Satu malam ini. Dia menyewa media partisan untuk mengontrol narasi acaranya. Aku benci orang yang mencoba mendikte berita di depanku."

Shanaya mendengus pelan. Sudut bibirnya menyunggingkan senyum sinis. "Alvian selalu punya ego lebih besar dari otaknya."

"Rencanamu berantakan." Steven menatap lurus ke depan. "Sekarang dia mencari paru-paru baru."

"Rencana dibuat untuk diubah." Jemari Shanaya mengetuk pelan lengannya sendiri. Ketukannya punya ritme hitungan mundur. "Kalau dia mendapat suntikan dana baru, aku hanya perlu mencari tahu siapa donaturnya. Aku akan menenggelamkan mereka berdua sekaligus."

Ponsel di dalam tas kecil Shanaya bergetar hebat. Nama Rio Pramana berkedip di layar.

Shanaya menggeser tombol hijau. "Ya, Rio."

"Naya, syukurlah kamu angkat." Nada suara Rio di ujung telepon panik. Napas pria itu tersengal. "Aku baru melihat berita di televisi. Kamu di mana sekarang? Kamu butuh bantuan? Kalau wartawan mengejarmu, datang ke tempatku. Akses apartemenku aman."

Steven melirik layar ponsel Shanaya. Postur tubuh pria itu mendadak kaku. Dia menarik napas pelan, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain.

"Aku baik, Rio." Shanaya menjawab tenang. "Aku sedang ada urusan pekerjaan di luar. Tidak ada wartawan yang mengejarku."

"Pekerjaan? Naya, Alvian baru saja mengumumkan pertunangan dan kamu memikirkan pekerjaan? Ini penghinaan untuk keluarga Kesuma."

"Rio, dengar." Suara Shanaya berubah tegas. "Alvian bukan pusat duniaku. Dia bertunangan atau melompat ke jurang sekalipun, jadwalku tidak akan berubah. Terima kasih tawarannya. Aku harus kembali bekerja."

"Naya, tunggu, aku bisa menjemputmu..."

Shanaya langsung memutus sambungan. Dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

Steven melonggarkan kerah kemejanya dengan gerakan kasar. "Rio Pramana. Pahlawan kesiangan yang selalu salah jadwal."

Shanaya menatap Steven heran. "Dia hanya mencoba membantu."

Nada suara Steven dingin. "Orang seperti Rio selalu berpikir niat baik cukup untuk menyelamatkan seseorang."

Shanaya menahan senyum. "Kamu cemburu, Steven?"

"Aku benci ketidakefisienan." Steven memalingkan wajah. "Ayo naik. Delegasi Paris itu datang untuk memastikan siapa yang sedang mempermainkan nama Maison de Blanc. Kamu tidak mau mereka menganggap Kesuma Group sama kotornya dengan Anastasia, kan?"

Mereka berjalan beriringan menuju lift khusus tamu VIP. Dinda mengikuti dari belakang dengan langkah setengah berlari.

Di dalam lift, keheningan menguasai ruang sempit berlapis cermin itu. Angka penunjuk lantai terus bertambah. Otak Shanaya bekerja dengan kecepatan penuh. Dia merancang ulang seluruh struktur serangannya.

"Aku tidak percaya pada kebetulan seperti ini," ucap Shanaya dingin. "Alvian ada di Ritz. Delegasi Maison de Blanc juga ada di Ritz. Kalau ini bukan permainan Anastasia, berarti ada orang lain yang sedang menggerakkan mereka dari belakang layar."

Steven melirik deretan angka digital lift. "Tugas kita sekarang memastikan perwakilan Paris itu melihat fakta yang sebenarnya, sebelum mereka membuat asumsi liar."

Lift berdenting di lantai lima puluh. Pintu besi berlapis emas itu terbuka lambat.

Lorong lantai eksklusif itu sepi. Karpet merah tebal meredam suara langkah kaki mereka. Di ujung lorong, dua pria berjas khas Eropa berdiri menjaga pintu ganda ruang pertemuan. Itu pasti utusan Maison de Blanc.

Ponsel Shanaya bergetar lagi. Kali ini nada dering khusus berbunyi panjang.

Mama Kesuma.

Shanaya berhenti melangkah. Dia memberi isyarat tangan agar Steven dan Dinda jalan lebih dulu.

"Masuklah duluan," kata Shanaya. "Aku angkat telepon ini sebentar."

Steven mengangguk. Dia berjalan melewati Shanaya menuju ruang pertemuan.

Shanaya menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo, Ma."

"Naya, kamu sudah lihat berita?" Suara Mama Kesuma di ujung sana bergetar hebat. Ada kemarahan tertahan yang siap meledak. "Alvian Restu. Anak kurang ajar itu. Keluarga kita baru saja membantu perusahaannya bulan lalu. Dia berani melakukan ini pada kita?"

"Ma, tenang. Tarik napas." Shanaya membalas dengan suara datar. "Ini hal bagus. Dia memotong talinya sendiri. Kita tidak punya beban moral lagi untuk menghancurkan Restu Group sampai rata dengan tanah."

"Siapa perempuan itu, Naya?" Mama Kesuma menangis menahan emosi. "Keluarga mana yang berani melawan Kesuma dengan menerima pinangan mendadak seperti ini?"

"Itu yang sedang aku cari tahu, Ma. Berita di lobi belum menampilkan wajah tunangannya."

Tepat pada detik itu, Dinda berlari keluar dari ruang tunggu VIP. Wajah asistennya itu pucat pasi. Dinda menyodorkan layar tablet tepat di depan wajah Shanaya. Tangannya gemetar.

Layar tablet itu menampilkan siaran langsung dari dalam ruang serbaguna lantai dasar. Kamera menyorot tajam ke arah panggung utama.

Shanaya langsung mengenalinya.

Bukan karena mereka pernah bertemu, tapi karena wajah perempuan itu muncul di dokumen transfer yang Steven kirim pagi tadi.

Pemilik rekening cangkang yang menerima uang dari Anastasia Lim.

1
gina altira
Rasakannn
gina altira
Gila, ini duo monster
gina altira
Bikin emosi ni Anastasia
sukensri hardiati
dari shanaya pindah ke sabrina...trus ke shanaya lagi....makasiiih....
sukensri hardiati: Sami2 👍💪🙏
total 2 replies
sukensri hardiati
tambah rameee....
sukensri hardiati
waduuuuh....
sukensri hardiati
bodoh banget yg mau kerja sama ama anastasia....dah ketahuan dua kali jadi plagiator
gina altira
Konflik nya makin seruu, 👍
gina altira
Shanaya kuat
tutiana
luar biasa
sukensri hardiati
cepet up ya....pingin tahu cara steven keluar dr jeratan masalahnya
sukensri hardiati
ayah shanaya dah meninggal ya...
sukensri hardiati
lama juga tunangannya...tujuh tahun..
sukensri hardiati: 🙏💪👍 ok....dah klir
total 3 replies
gina altira
Steven perhatian juga
Titi Liana
suka
tutiana
sm seperti bab sebelumnya Thor ?
INeeTha: Makasih kak🙏🙏
total 4 replies
gina altira
greget bgt sama Alvian
INeeTha
Makasih buat semua yang sudah mampir, semoga suka dan baca sampai tamat lagi ya 🙏🙏🙏
tutiana
hadirr Thor
gina altira
Semangat terus Thor
INeeTha: makasih kaka🙏🙏🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!