Di sekolah, semua orang mengenal keano sebagai “Ice Prince”—cowok paling dingin, pendiam, dan hampir tidak pernah tersenyum. Tidak ada yang berani mendekatinya… kecuali naura, cewek ekspresif yang terlalu ceria untuk cowok sedingin dia.
Awalnya hanya sekadar penasaran, tapi semakin naura mencoba mendekati keano, semakin ia sadar bahwa cowok itu menyimpan banyak rahasia di balik sikap dinginnya. Meski keano selalu bersikap cuek dan berusaha menjauh, naura justru tidak pernah menyerah mengejarnya.
Di antara kejadian konyol, momen manis, dan rahasia yang perlahan terungkap, satu pertanyaan mulai muncul di hati naura:
apakah mungkin seorang “Ice Prince” akhirnya akan mencair… atau justru dia yang akan terluka karena terlalu keras mengejar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilikematchaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 4
Langit sore tiba-tiba berubah gelap.
naura baru saja keluar dari gerbang sekolah bersama viona ketika rintik hujan mulai turun perlahan.
"Yah, gue lupa bawa payung…" keluh naura sambil menengadah ke langit.
viona membuka tasnya.
"Untung gue bawa. Tapi kita harus lari ke halte dulu." ucapnya.
Namun sebelum mereka sempat bergerak, hujan turun semakin deras.
Siswa-siswa langsung berlarian mencari tempat berteduh. Suasana depan sekolah mendadak ramai.
naura & viona berlari kecil menuju halte dekat gerbang.
"Capek juga," kata naura sambil mengatur napas.
viona menoleh ke samping, lalu matanya membesar.
"eh raa…"
"Hm?"
"Itu…"
naura mengikuti arah pandang viona.
di bawah pohon dekat gerbang sekolah, kean berdiri sendirian. tangannya dimasukkan ke dalam saku, wajahnya tetap datar seperti biasa, seolah hujan bukan masalah besar.
dia tidak membawa payung.
naura langsung tersenyum kecil.
"Kesempatan lagi."
viona langsung menarik tangannya.
"Jangan rese lo ya naura setan. lo udah ganggu dia seharian."
Namun naura justru mengambil payung dari tangan viona.
"Pinjam bentar."
"naura--"
Terlambat.
naura sudah berlari kecil menuju kean.
Beberapa siswa yang melihat itu langsung memperhatikan lagi.
naura berhenti di depan kean, lalu membuka payung di atas mereka berdua.
"Pakai bareng."
kean sedikit mengerutkan kening, lalu menatap naura.
"Lo. lagi." ucap kean dengan tatapan tidak sukanya.
naura tersenyum.
"Kalau lo kehujanan nanti sakit."
"Urusan gue" jawab kean dingin.
Namun naura tetap tidak bergerak.
"Hujannya deres," katanya santai.
Beberapa detik hening.
Kean menatap hujan di depannya, lalu melirik naura sekilas.
"Lo ngapain masih disini?"
Naura menatap kean.
" Lo gapeka banget si kean, gue kan bawain payung buat lo" ucap naura kesal.
Tanpa diduga kean mengambil payung dari tangan naura.
Naura sedikit terkejut.
Namun kean tidak langsung pergi, dia malah berdiri di samping naura.
tanpa diduga........
"Pulang." ucap kean singkat.
naura tersenyum kecil.
mereka berjalan berdua di bawah satu payung.
suasana mendadak terasa berbeda.
hujan turun pelan, suara rintiknya mengisi keheningan di antara mereka.
beberapa siswa yang melihat dari kejauhan langsung berbisik heboh.
"Ih, itu kean…"
"Dia jalan bareng naura ?"
Naura melirik kean diam-diam.
Cowok itu masih sama—tenang dan dingin.
namun kali ini, dia tidak menjauh.
Beberapa langkah kemudian, mereka sampai di persimpangan jalan kean berhenti.
"gue ke sana."
naura mengangguk.
"Kalau gitu… sampai besok, kean"
kean tidak langsung menjawab.
Namun sebelum pergi, dia berkata pelan—
"hati-hati, jangan kehujanan~"
naura membeku beberapa detik.
Sebelum sempat membalas, kean sudah berjalan menjauh.
naura menatap punggungnya, lalu tersenyum lebar.
Untuk pertama kalinya…
Ice Prince menunjukkan sedikit kehangatan.
Dan itu cukup membuat jantung naura berdebar lebih cepat dari biasanya.
Setelah bermesraan dengan kean, naura langsung menghampiri viona.
"gimana menggatalnya nyonya naura" tanya viona meledek naura.
"lancar jayaaa" seru naura ambil mengacungkan jempolnya.
"niceeeee"
Setelah percakapan itu berakhir mereka pun pulang bersama.
Sesampainya di rumah, naura langsung membuka pintu dengan langkah ringan. senyum di wajahnya masih belum hilang sejak kejadian tadi.
“Aku pulang!” serunya.
Dari dapur, bundanya keluar sambil tersenyum hangat.
“Kamu kehujanan?”
naura mengangguk pelan sambil melepas sepatu.
“Sedikit.”
Bundanya menggeleng kecil.
“Cepat ganti baju dulu, nanti masuk angin.”
“Iya, Bun.”
naura berjalan menuju kamarnya. Setelah mengganti pakaian, dia langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur.
Matanya menatap langit-langit kamar.
Tanpa sadar, kejadian tadi kembali terlintas di pikirannya.
kean berdiri di bawah hujan…
kean mengambil payungnya…
Dan kata-kata terakhir itu.
"Jangan kehujanan."
naura menutup wajahnya dengan bantal.
“Kenapa jadi kepikiran sih…” gumamnya pelan.
Jantungnya terasa berdebar lagi.
Untuk pertama kalinya, naura merasa bahwa cowok itu… tidak sedingin yang semua orang kira.
& untuk pertama kalinya ia menyukai laki-laki duluan.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Pesan dari viona
viona:
Gimana? Lo masih hidup setelah jalan bareng Ice Prince?
naura tersenyum kecil.
naura:
Masih, dan… dia gak sedingin yang lo pikir.
Beberapa detik kemudian, Sasha langsung membalas.
viona:
JANGAN BILANG LO MAKIN SUKA
naura terdiam sejenak.
Lalu dia menatap layar ponselnya.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
Naura:
Kayaknya… iya.
Di luar kamar, hujan masih turun pelan.
Sementara di dalam kamar, seseorang mulai menyadari…
Bahwa perasaan kecil itu perlahan tumbuh.
...----------------...