NovelToon NovelToon
Ceruk Hati Zahra

Ceruk Hati Zahra

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:31.4k
Nilai: 5
Nama Author: picisan imut

Ada cinta yang tumbuh… bukan untuk dimiliki sepenuhnya, tapi untuk bertahan di hati yang sudah retak.

~ Zahra ~

Zahra menikahi Adnan, seorang duda yang kehilangan istrinya karena maut lebih dulu memanggil. Ia tahu, sejak awal, bahwa ia bukan cinta pertama. Ia hanya perempuan yang datang setelah sebuah kisah agung berakhir. Namun Zahra tetap memilih bertahan, menanam kasih di tanah hati yang sebagian masih ditumbuhi bayang-bayang masa lalu.
Setiap sudut rumah menyimpan kenangan yang bukan tentang dirinya dan Adnan.
Lalu sampai kapan sebuah hati sanggup bersabar?
Sampai kapan cinta bisa hidup tanpa benar-benar dimiliki?
Di antara kesetiaan, keikhlasan, dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh… Zahra harus memilih: tetap berusaha mencintai, atau pergi menyelamatkan dirinya sendiri.
Sebab terkadang…
yang paling menyakitkan bukan tidak dicintai,
melainkan dicintai setengah hati oleh seseorang yang masih hidup di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perkenalan

Seperti keajaiban yang jatuh tanpa suara.

Pagi di hari setelahnya kondisi Abah menunjukan tanda positif. Bahkan dokter menyatakan jika kondisi pria yang usianya lebih dari setengah abad itu telah stabil dan bahkan bisa di pindahkan secepatnya keruang rawat inap yang telah di pesan.

Wajah-wajah keluarga yang menunggu Abah dengan setia terlihat berbinar-binar. Puja dan puji syukur pun tercurahkan.

"Hamdan katsiron thoyyiban mubarokan fih,"* gumam Zahra sebelum berpelukan dengan Hanifah.

*(Puji-pujian yang banyak, baik, dan diberkahi di dalamnya.)

Siang harinya setelah beberapa pertimbangan dari dokter, Abah akhirnya dipindahkan ke bangsal perawatan VIP. Dan di sanalah, hari terasa semakin ajaib. Tubuh pria gempak itu semakin sehat, bahkan lebih banyak mengeluarkan banyolan lebih dari biasanya.

Umi mengusap pundak putrinya, senyum Umi menunjukkan tanda terima kasih pada putrinya itu. Sementara zahra hanya membalas dengan senyuman tipis yang tak seorang pun tahu seperti apa isi hatinya saat ini.

Hari berikutnya, Seorang pria berusia sekitar lima puluh tujuh tahun datang dari Magelang. Beliau sengaja datang sendiri tanpa anak-anak melainkan hanya mengatur janji temu dengan Ustadz Rahmat karena praturan pembatasan pengunjung dari rumah sakit. Terlebih Beliau habis menghadiri sebuah seminar di salah satu kampus islam swasta sebagai pembicara, yang tak jauh dari rumah sakit tempat sahabatnya itu di rawat.

Saat pintu akan Beliau buka setelah meminta izin pada Kak Siti (istri Pak Huda) Beliau sudah mendengar suara tawa dari dalam yang di sinyalir dari Ustadz Rahmat yang telah tiba lebih dulu bersama dengan si pasien itu sendiri.

"Assalamualaikum..."

Sorot matanya yang teduh terbingkai kacamata itu terpancar, seiring dengan bibir mengulas senyum tipis. Yang dimana meskipun usianya sudah tak muda lagi, sisa-sisa ketampanannya serta karismanya masih terlihat. Ya selayaknya seseorang yang telah lama berdamai dengan banyak hal dalam hidup. Ketenangan selalu terpancar dari wajah pria yang sebelum inu akrab di panggil Ustadz Irsyad.

"Wa'alaikumsalam..." sahut yang ada di dalam hampir bersamaan. Wajah-wajah yang sudah tak lagi muda menyambutnya dengan hangat.

“Widiiiih tamu jauh?" seloroh Pak Huda.

Pria dengan kacamata yang semakin tebal itu tertawa kecil. Tergopoh pelan langkahnya mendekati mereka berdua. Saling berpelukan secara bergantian melepas kerinduan setelah berbulan-bulan tak bertemu.

"Terlalu lama di dunia lain jadi begini nih..." cetus Pak Huda.

“Dunia lain sudah tamat Pak. Ndak ada lagi sekarang... Kasian crew-nya nggak ngaso kalo tayang terus."

Kyai Irsyad menangkap lawakan itu dengan menyambungkan pada salah satu acara televisi hingga membuat Pak Huda terkekeh lemah. Dan seperti biasa Ustadz Rahmat lebih banyak kebagian tertawa saja. Karena Beliau sendiri termasuk pria yang tak banyak bicara lebih sering menjadi pendengar. Berbeda dengan Irsyad. Yang dimana jika dua orang itu bertemu pasti akan mengaduk-aduk perutnya.

Pak Huda terlihat gembiraan ketika dua sahabatnya. Termasuk Irsyad yang kini berdomisili jauh menyempatkan diri datang.

"Pak Kyai... Pak Kyai..." gumam Pak Huda yang kini dalam posisi duduk.

“Sebenarnya saya ini masih canggung kalau di panggil Kyai sama Pak Huda,” sahutnya sambil menggeleng, senyum tak lepas dari wajah teduh Beliau.

"Kenapa canggung?"

“Serasa sudah aki-aki...”

“Kan emang udah aki-aki. Nggak liat itu rambut udah putih semua?”

"Ini?" Irsyad yang duduk di kursi dekat ranjang menunjuk kepalanya sendiri. "Wah, ngece... Iki model rambut jaman sekarang, tahu! Sedang di gandrungi anak muda. Jadi nggak bisa buat tanda tuanya seseorang."

"Bisa saja, Mas-Mas satu ini. Bajai udah nggak operasi tapi ngelesnya masih di pake sama dia." Menunjuj Ustad Irsyad.

"Hahaha—" Irsyad tergelak. Menatap sahabat lamanya itu dengan mata penuh kekhawatiran yang di bungkus ketenangan.

Semenjak mendengar Pak Huda sakit. Bahkan sampai tak sadarkan diri. Jatung Irsyad seolah ingin copot. Ia tak akan bisa membayangkan ketika sahabatnya yang biasanya paling cerewet, paling pandai menghibur orang tidak bisa ia dengar lagi celotehannya.

Pak Huda masih terkekeh pelan. “Ada jadwal dakwah di jakarta kah?"

"Enggak."

"Lantas, tumben kesini?"

"Tumben piye? kan saya punya anak cucu disini. Nggak harus nunggu ada jadwal dakwah dong harusnya."

"Jawaban yang sangat mengecewakan, ckckck..."

"Loh, tenane. Emang saya datang sengaja untuk jenguk teman yang sakit? Enggak lah.. Saya maunya datang kesini dan mengatur janji temu seperti biasa dengan Pak Huda dan Ustadz Rahmat dalam keadaan sehat. Maunya seperti itu terus. Jadi ketika Anda terbaring di sini, ini udah melanggar namanya. Jadi yoo, ndang sehat... kita jalan-jalan lagi."

"Yo...yo..." Pak Huda mengejek dengan logat jawa yang kaku. Mereka pun tertawa bersama. Tawa yang tidak keras, namun hangat.

Di tengah keseruan tiga kakek di dalam, ketukan pelan terdengar di pintu.

“Assalamu’alaikum…” Seorang wanita bercadar berdiri di ambang pintu. Usianya sekitar empat puluh sembilan tahun. Sikapnya tenang, geraknya santun. Ia menundukkan kepala sedikit saat melihat semuanya yang ada di dalam.

Irsyad reflek turut mengangguk, senyum tipis mengembang samar. “Wa’alaikumussalam," jawabnya kemudian.

“Maaf, saya tidak tahu kalau sedang ada tamu, kalau begitu saya permisi,” ucapnya lembut sebelum kembali menutup pintunya.

Mendadak suasana kamar senyap. Meskipun bercadar namun Irsyad masih dengan jelas mengingat suara halus wanita yang usianya sudah tak lagi muda itu. Perempuan yang dulu pernah ingin ia lamar dengan niat yang sangat serius. Namun harus keduluan seorang habib.

Namun bukan berarti ia menyesali ketika akhirnya ia menikahi wanita lain. Karena tentunya mereka memiliki posisi yang sangat jauh berbeda di hati Kyai Irsyad. Rahma, tetap paling unggul tanpa perlu di jabarkan. Karena Isti hanya nama yang pernah lewat saja, meskipun Beliau pernah mencobanya lagi, saat keduanya sudah kembali sendiri.

Diamnya Irsyad bukan serta merta masih ada rasa yang gimana, Ia hanya tak menyangka bisa melihatnya lagi setelah sekian tahun. Dan pertemuannya di sini adalah moment kebetulan yang cukup membuat hatinya merasa geli.

Dimana saat ini perasaan itu… sudah biasa saja.

Tak ada degup berlebih. Tak ada kegugupan. Hanya kenangan yang lewat seperti angin sore.

"Itu tadi namanya Ibu Anisa Nur ISTIqomah," goda Pak Huda, dengan penekanan nama Isti di belakang. Memecah lamunan Kyai Irsyad yang langsung membenahi kacamatanya. Ustadz Rahmat pun langsung terpingkal pelan.

Kebiasaan Pak Huda yang sepertinya akan abadi. Yakni menggodanya saat mereka kembali bertemu.

“Masih inget, nggak?” sambungnya kemudian.

Irsyad hanya tertawa kecil, geleng-geleng kepala.

“Tenang. Saya cuma mau pastikan, kamu nggak pingsan karena melihatnya lagi."

"Ngomong opo?" senyum Irsyad melebar.

"Ngomong-ngomong mau sesi ketiga? Kali saja berhasil?"

“Wasalamualaikum, tak muleh sek—” balas Irsyad sambil berdiri dan menjabat tangan Ustadz Rahmat kemudian Pak Huda yang disambut gelak tawa dimana pria itu menahan Kyai Irsyad agar kembali duduk. Mereka pun melanjutkan percakapan santainya.

Di luar, Isti memilih duduk sendirian di kursi panjang. Karena Kak Siti dan Hanifah sedang di kantin rumah sakit.

"Nis?" suara lembut dari istri Pak Huda memanggilnya.

"Ceu?" Isti bangkit. Berjabat tangan lalu berpelukan.

"Kamu disini? Kamu sendirian saja?"

"Sama Hafiz tadi, Ceu. Tapi anak itu lagi ke ATM dulu. Jadi saya masuk duluan. Tuh dia anaknya—" menunjuk ke arah di belakang Kak Siti dan Hanifah. Mereka berdua menoleh kebelakang. Hafiz menyapa keduanya dengan takzim pada Uwa Siti dan sepupunya Hanifah.

"Yuk masuk?" ajak Kak Siti.

"Nanti aja, Ceu. Di dalam lagi ada teman-temannya Kang Huda."

"Oh iya," Kak Siti mengintip dari kaca yang ada di pintu ruangan VIP tersebut.

Isti tersenyum simpul. Kak Siti pun mengajak Isti untuk duduk. Sementara Hafiz izin masuk ke dalam menemui Uwa Huda dan yang lainnya.

🍂

🍂

🍂

Sepekan kemudian...

Keputusan Zahra sepertinya memberi pengaruh besar. Bahkan, beberapa hari kemudian, Abah diperbolehkan pulang. Rumah pun terasa hidup kembali.

Malam itu, suasana rumah terasa ramai. Anak-anak, menantu, cucu-cucu dari anak pertama dan kedua semua berkumpul.

Namun, tidak hanya itu, moment pertemuan ini justru jauh lebih sepesial. Sebab adanya tamu lain.

Ibu Laksmi dan putranya akan datang kata Umi pagi tadi, dengan nada yang dibuat biasa.

Namun tidak bagi Zahra.

Kini, dari balik jendela kamarnya, Zahra mengintip ke halaman. Sebuah mobil terparkir. Seorang pria turun. Postur tubuhnya tegap. Rapi dan tenang.

Zahra memperhatikan dengan gugup dengan pemikiran entah apa meskipun pandangannya terbatas. Ketukan di pintu kamarnya membuat Zahra terperanjat.

“Assalamu’alaikum!” Hanifah masuk dengan wajah ceria, serta senyum bernada godaan. “Teh...."

"Apa?"

"Kok apa sih? Ayo turun."

Zahra menelan ludah. “Sekarang?”

“Iya dong." Hanifah mendekat, berbisik nakal. “Calon suamimu ganteng banget loh, Teh.”

“Kamu ini…” Zahra melotot. Kaki Zahra sudah terasa lemas. Telapak tangannya dingin, basah oleh keringat. Ia menatap cermin.

Hijabnya menutup dada dengan rapi. Riasan natural memperhalus wajahnya tanpa berlebihan. Ia terlihat sangat cantik dengan hatinya berisik tak jelas.

“Sudah cantik, masih aja ngaca! Ayo!” Ia menarik tangan Zahra. Gemas.

Langkah mereka menyusuri tangga terasa panjang. Begitu memasuki ruang keluarga, Zahra ingin berbalik. Namun Umi sudah melihat mereka.

“Zahra, sini Nak.” Semua menoleh, termasuk pria bernama Adnan. Pria itu duduk tenang. Wajahnya bersih, jenggot tipis menghiasi rahangnya.

Tatapannya tenang yang tidak menusuk, dan juga menghindar. Mata mereka bertemu beberapa detik yang terasa terlalu lama. Zahra langsung menunduk.

Ia duduk di kursi yang berhadapan dengannya. Jarak dijaga. Sikap dijaga. Nafas pun berusaha dijaga agar tetap normal. Prosesi dimulai.

Perkenalan sederhana. Nama. Pekerjaan. Latar keluarga tanpa basa-basi berlebihan. Hanya percakapan yang terbingkai syariat.

1
Hera sasuwe
👍
Nuryanto Yanto
lanjut kak
Bunda'Nya Reihan Kusnadi
kak imut kapan up lgi,..????
FiKiBiMi
kapan kak upnya.. panjang bener liburnya.
Umi Jasmine
kok blm up date
eka noviasih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Good//Good//Good/
Cah Dangsambuh
tetap semangat kak kami maklum tapi tetap selalu nunggu,makasih masih tetep merhatikan kita🤣👍🙏
Bunda'Nya Reihan Kusnadi
duhhhhh mau dong ngabisin duit bulanan aww 😆😆😆
picisan imut: impian bgt ya Kak 🤣
total 1 replies
Susilawati
Aamiin ya robbal alamiin 🤲
Susilawati
Selamat hari raya Idul fitri, mohon maaf lahir dan batin juga thor 🙏
picisan imut: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Umi Jasmine
mohon maaf lahir & batin thoor
Syakila Uuy
aamiin ya robbal alamiin 🤲🥰
Anjellita
hatimu memang seluas samudrah zahra
Anjellita
waduh kok bisa kamu ngak buang surat keramat itu si adnan alamat berabeh dah
Anjellita
alhamdulillah up juga
Nuryanto Yanto
makasih up nya kak selamat hari raya idul fitri mohon maaf lahir dan batin🙏
Momo Bulbul: selamat hari raya idul fitri ka imut mohon maaf lahir batin
🙏🙏🙏
total 1 replies
Ai Meysi
makasih dah nyempetin up ka di malam tskbir.. mohon maap lahir batin ya ka🙏🙏😍
Oha Hermawan
kayak nya hamidun tuh c zauhara ya neng imut..
Anjellita
alhamdulillah akhirnya up juga
Umi Jasmine
semangat kak imut.... santai aja, kita setia menunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!