Istriku terlalu boros, sementara selingkuhan ku sangat cantik dan pandai menabung, tapi ku tak sangka istriku berubah sangat drastis tanpa uang dariku. apakah dia memiliki simpanan yang menopang hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanaxu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 4
Seperti biasa Sania pagi ini ke pasar, Sania berjalan kaki, karena di pasar lebih murah dan lengkap.
"Sepertinya saya jual juga kue basa, cemilan pagi." Guman Sania dalam hati melihat kue basah yang di etalase.
Karena Sania belum sarapan, memutuskan untuk membeli kue basah, "bu kuenya campur sepuluh ribu."
"Ini mbak," Penjual memberinya kue yang di pesan, Sania menyerahkan uang pecahan sepuluh ribu.
Seperti biasa sesampainya di kontrakan, langsung masak dan memikirkan cara untuk menghubungi suaminya, tidak boleh marah terlalu lama.
Dua jam akhirnya selesai juga. Sania mulai promosi di media sosial, tapi melihat story ibu mertuanya memposting sesuatu.
"Jadi, uang nafkah itu hanya untuk ibumu mas." Lirih Sania, jari-jarinya mencengkram kuat ponsel yang ada di tangannya.
("Sayang, beri saya uang.") tulis Sania.
Mengirim pesan ke nomor lain, yang bukan nomor suaminya.
Sania menunggu balasan, tapi tidak ada, Sania kembali fokus mencari resep jajanan, mengabaikan pesan dari suaminya.
Tiba-tiba ada pesan dari mertuanya, (" Jangan minta kirim uang sama anak ku, jangan boros, seratus ribu itu cukup untuk biaya makan mu sebulan.")
Sania menatap datar pesan singkat dari ibu mertuanya Sumarni. Sania tidak membalas pesan mertuanya,
"Jadi apa pun pesanku selama ini, kamu beri tahu ibumu juga." Guman Sania.
Sania kembali fokus mencari menu sederhana tapi di minati di internet, tanpa peduli apa pun lagi, jualannya hari ini sepi, mungkin orang pada bosan pikir Sania.
Tepat jam tiga sore baru jualannya habis, jika kemarin dua kali memasak, hari ini dua puluh porsi baru habis jam tiga sore.
Sania mengumpulkan uang dagangan nya, uang tersebut akan di jadikan modal untuk bertahan hidup, Sania mencoba ke swalayan untuk membeli beberapa bahan kue, dan belanja apa yang habis.
"Andaikan saya punya kulkas ya?" Ucapnya sambil memandang tempatnya memasak, walaupun begitu dia tetap bersyukur, hanya kekurangan nya tidak bisa menyimpan bumbu jadi.
Sania memesan ojek online, untuk pergi ke swalayan, karena di dekat kontrakan ini sangat jauh dari toko besar.
Sementara di Negara lain Beni sudah pulang bekerja, hubungannya dengan Soraya semakin intens, bahkan mereka sudah tinggal satu apartemen.
Soraya tersenyum lembut menyambut Beni layaknya seorang istri, Beni sampai melupakan dirinya bahwa yang jauh di sana sudah memiliki istri, yang harus di jaga.
"Sayang, mau makan apa?" tanya Soraya dengan lembut.
"Mau makan kamu saja sayang." jawab Beni sambil menoel hidung Soraya.
Soraya tersipu malu, namun dia harus bisa menaklukan Beni seutuhnya. "Sayang gimana kalau ketahuan istri kamu." ucapnya sambil mencebik kan bibirnya yang di poles lipstik merah merona.
"Tidak akan tau sayang, kan dia jauh." jawab Beni mencubit pipi Soraya,karena saking gemasnya.
"Kamu serius nggak sama aku sayang?" Tanya Soraya sambil mengalungkan tangannya di leher kekasihnya.
"Serius dong, nggak mungkin kan kita tinggal bersama jika tidak cinta." Jawab Beni dengan kata-kata klasik yang sering di ungkapkan laki-laki untuk mencari mangsa baru.
Entah siapa yang memulainya, mereka sudah saling memeluk dan meraba satu sama lain, di iringi suara laknut mereka.
Beni menyukai permainan Soraya, bahkan sering membandingkan dengan Sania yang terkenal kaku dan pasrah jika urusan ranjang, sementara Soraya lebih aktif dan mengimbangi nya.
"Maksih ya sayang." Ucap Beni setelah pelepasan dan meninggalkan Soraya yang masih baring di ranjang tanpa sehelai benang.
Di kamar mandi Beni kembali mengingat pesan istrinya di ponsel Soraya, karena masih memblokir nomor istrinya saat ini.
"Dia baik-baik saja, lagian uang sudah ku berikan." Ucap Beni dalam hati.
Malam ini Sania menginginkan suaminya, merindukan suara suaminya, pesan itu hanya di baca, "ahh, lupa mungkin pemilik nomor menghapus pesanku."
Sania berusaha untuk tidur, waktu sudah larut malam, namun matanya enggan terpejam. Sania mengambil air wudhu, dan melaksanakan sholat malam yang selama ini tidak pernah di tinggalkan kecuali ada tamu bulanan.
Sania mengadu pada sang Pencipta. "Ya allah, buka lah mata dan hatiku untuk melihat sisi baik dan buruknya suamiku, berikan jawaban atas segala yang tidak pernah ku ketahui."
Selesai berdoa Sania memaksakan diri untuk tidur, karena sebelum subuh harus bangun bikin adonan kue dan masak nasi, serta lauk pauk untuk jualan.
Setelah lima belas menit kemudian akhirnya Sania tertidur, melupakan pikirannya sejenak. Tepat jam empat dini hari alaram sudah berbunyi, membangunkan Sania.
Sania setiap gerakan tangannya adalah ambisi sambil sesekali melihat ponselnya, dia ingin pesannya di balas, namun tidak juga.
Pagi ini Sania mempromosikan kue buatannya dan orang pertama beli adalah kakak tiri Ajeng. Yang mengantarnya saat itu.
"Hallo!" Sapa Arya dengan pakaian kerjanya. Sania menatapnya tak berkedip.
"Woi, kau melamun saja." Hardik Arya.
Sania kaget langsung, "Ganteng kok galak banget." Umpatnya dalam hati.
"Cepatan ya, nasi satu, kue sepuluh ribu. Mix." Ucap Arya tidak sabaran seperti orang kebelet.
"Ini uangnya." Arya meletakan uang di jendela, setelah mengambil makanannya.
"Pak kembalinya belum." Teriak Sania dengan kencang.
Tapi hanya melihatnya, langsung pergi begitu saja, "aneh, " guman Sania.
Uang lima puluh ribu, sudah berada di genggaman Sania, Sania tidak nyaman dengan uang itu, pikirannya entah kemana.
"Ya sudah lah." Ucap Sania meletakan uang tersebut di dalam kaleng hasil jualan, Sania berharap agar orangnya datang lagi.
Sania terus menerus untuk mempromosikan dagangannya di media sosial, karena pembelinya sebagian dari promosi media sosial.
Tiba-tiba bu Tiwi muncul, "Sania masih ada kue mu? "
"Masih bu, masih banyak pilihannya." Jawab Sania sambil tersenyum manis.
"Saya mau dua puluh ribu ya."
"Iya bu." Sania menyiapkan kue untuk bu Tiwi.
Sania sengaja melebihkan, karena mengingat kebaikan bu Tiwi tidak akan pernah setara dengan kue-kue tersebut.
"Ini ya bu, semoga suka." Ucap Sania memberikan Kantong kresek.
"Makasih ya Sania, jalan-jalan ke rumah juga, jangan jualan terus."
"Iya bu."
Sania menatap kuenya masih lumayan banyak, "kue ini belum banyak yang laku." Lirihnya.
Sementara nasi sudah laku sadari tadi, tapi kuenya masih banyak, "kirain laris kue seperti ini." Gumannya dalam hati.
Hatinya mencoles menatap tumpukan kue yang tidak laku, Sania menimbang apakah harus di bagikan ke anak kos lain atau bagaimana? Sania membungkus kue-kue ke dalam plastik dan akan siap di bagikan.
Sania membagikan kue-kue tersebut pada tetangga kos, daripada basi dan di buang. Semua kebagian.
"Anggap saja ini mereka jalur promosi, siapa tau mereka bisa promosi keteman mereka. Selesai sholat maghrib seperti biasa Aruna menulis apa-apa saja yang harus di beli besok pagi.
Tiba-tiba notifikasi ponselnya berdenting tiga kali, menandakan pesan beruntung. " Akhirnya suamiku membalas pesanku." Gumannya tersenyum.
Tangannya gemetar memegang ponselnya, takut pesan apa yang di kirim suaminya, namun setelah membuka aplikasi pesan harus menelan kenyataan pahit, bukan suaminya melainkan orang asing.
"Kirain kamu mas, kangen aku." Celetuk Sania sambil membalas pesan tersebut.
sesuatu untuk puyuh mu...
ngeles aja...dasar Casanova
kok genre nya jadi horor yaa 🥹🥹🫣
km bkal ketemu dg jodoh mu yg pas Dan di waktu yg pas juga ,,
masa jeruk makan jeruuuk 🤭🤭🤭🤣🤣🤣,,
makiin seruuu cerita ny😁😁
meuli Tempe , endog , cengek , minyak goreng jeung beas oge geus sabaraha ,, ni di titah jeung sabulaneun ,, di fikir pamajikan maneh makan angin unggal Poe ,, 😒😒😒😒
aku sekali nongkrong sama temen bisa habis ratusan ribu,ini seratus untuk sebulan, gila aja lu
uweeeek ,,
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
kk suka salah sebut nama tokoh🤭🤭🙏🙏 ,,
semangat trus ya kak nulis ny 😁
ad yx model laki2 kayak kerupuk begini ,, 😒😒😒😒