Dewangga tak menyangka di usianya yang menginjak 42 tahun, dia harus menikahi sahabat putrinya karena kesalahan pahaman. Pernikahan mereka pun harus dirahasiakan dari sang putri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Escendol94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Bibir itu semakin menggoda.
“Kamu ke luar lah! Saya ingin ganti baju," perintah Dewangga setelah memutus pandangannya dari bibir tipis itu.
Riri segera pamit dan ke luar kamar. Di luar, Riri menepuk kedua pipinya. "Sadar, Riri! Dia Ayah Nura!" Dia bergidik dan segera turun ke lantai bawah.
Beberapa saat kemudian Dewangga turun dengan penampilan rapi. Dia menghampiri Riri yang duduk di sofa ruang tamu.
"Om, sarapannya sudah datang. Udah aku tata di meja makan," kata Riri saat melihat Dewangga.
"Kita sarapan." Dewangga berjalan menuju ruang makan. Dia menarik satu kursi dan duduk di sana. “Kenapa tidak pakai baju yang ada?“
Riri ikut menarik satu kursi dan duduk. “Aku gak enak kalau pakai baju Nura, Om. Apalagi aku belum izin."
Dewangga hanya mengangguk sebagai jawab. Mereka pun makan dalam diam. Selesai sarapan, Dewangga kembali berkata, “Jam dua nanti saya jemput."
"Mau ke mana, Om?" tanya Riri penasaran.
“Beli baju untuk kamu. Begitu saya sampai, kamu harus sudah siap. Saya tidak suka menunggu."
Riri mengangguk, setelah Dewangga pergi, dia membereskan piring bekas sarapan.
*,*.
Pukul 14.00, waktu Jepang, Dewangga menjemput Riri untuk mengajak istrinya membeli kebutuhan untuk wanita.
Sampai di pusat perbelanjaan di sana, Dewangga langsung mengajak Riri ke sebuah butik ternama.
"Pilihlah baju yang kamu suka."
Riri terdiam melihat deretan baju branded di depannya. "Om, seriusan?" Matanya berbinar.
Mendapat anggukan dari sang suami, Riri berjingkrak senang. "Makasih, Om!" Dia segera menghampiri deretan baju.
Riri tidak akan sungkan, toh, Dewangga sudah sah menjadi suaminya. Uang suami adalah uang istri. Sebelum mereka cerai, Riri akan memanfaatkan nafkah dari suaminya.
Setelah mendapatkan beberapa baju, kini mereka masuk ke dalam toko tas dan sepatu. Riri hanya membeli satu tas dan dua pasang sepatu.
Dewangga sudah terbiasa menemani putrinya belanja. Dia tahu apa yang dibutuhkan gadis seusia mereka. Dia pun mengajak Riri membeli keperluan lain, seperti, parfum, skincare dan masih banyak lagi.
“Mau beli es krim?“
Riri mengangguk cepat. Riri seperti Nura, putrinya juga suka minta beli es cream setelah lelah belanja.
Mereka berjalan di sepanjang lorong mall yang ramai. Tangan mereka sedikit bersentuhan dan Dewangga merasakan itu. Hatinya sedikit berdenyut.
Dalam hati mengumpat, dulu saat melihat Riri ataupun tak sengaja bersenggolan, hati serta tubuhnya bereaksi biasa saja. Namun, setelah sah kemarin, entah mengapa hatinya selalu berdenyut saat menatap ataupun bersentuhan dengan gadis ini.
Inikah yang di namakan, jatuh hati setelah halal?
'Jangan gila! Dia masih bocah!' Dewangga terus mengumpat dalam hatinya.
Sampai di stand ice cream, Riri langsung memesan ice cream rasa coklat stroberi. Dia menoleh ke belakang. "Om, mau rasa apa?"
“Saya tidak suka makanan manis."
'Pantesan mukanya pahit,' gumam Riri dalam hati. Dia tersenyum lalu berkata, "Makanan manis bisa melepas Dopamin, hormon yang bisa membuat kita bahagia. Asal tidak berlebihan, makan makanan manis tidak masalah." Riri menyendok ice cream, lalu mengarahkan ke depan mulut Dewangga, dia sedikit berjinjit karena tingginya jauh di bawah Dewangga.
"Buka mulutnya, Om. Cobain dikit aja," pinta Riri sambil tersenyum.
Senyum manis itu seperti menghipnotis Dewangga. Tanpa sadar, dia menerima suapan ice cream dari tangan Riri.
"Manis gak Om?"
Dewangga mengangguk pelan. "Sangat Manis." Tatapannya menatap lekat wajah Riri. 'Kenapa sekarang dia jadi sangat manis?' gumamnya dalam hati.
"Om, bisa temani aku jalan-jalan?" pinta Riri. Berharap Dewangga mau menemaninya.
"Baiklah. Mau ke mana?“
"Ke Ueno Park. Mau lihat bunga sakura. Boleh, kan?" Riri memohon dengan kedua tangan berada di dagu. Menatap Dewangga dengan wajah memohon.
Dewangga berdehem pelan, melihat ekspresi Riri, dia jadi gemas. "Baiklah, ayo."
"Makasih, Om!" seru Riri gembira.
Sudut bibir Dewangga terangkat tipis. Melihat wajah bahagia Riri, hatinya menghangat. Tanpa sadar tangannya mengusap kepala Riri lembut.
Usapan di kepala membuatnya terdiam. Riri menatap beberapa saat wajah Dewangga, lalu memutus tatapan dan berkata, "Ayo, kita pergi, Om."
Dewangga menarik kembali tangannya. Merasa sedikit canggung. "Hem."
Riri berjalan lebih dulu, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya. Gawat! Jangan sampai baper karena perlakuan manis Dewangga. Dia harus membentengi hatinya, jangan sampai ada cinta di sana. Riri tak berniat untuk meneruskan pernikahannya, saat pulang nanti, dia akan meminta cerai.
*,*
Sore mulai menua saat mereka sampai di Ueno Park. Cahaya matahari menembus ranting pohon sakura, dan menciptakan bayangan lembut di tanah. Angin membawa aroma manis bunga sakura di seluruh penjuru Ueno Park.
Kedua netranya berbinar menatap betapa indah pemandangan di depannya. Riri melangkah perlahan di jalan setapak yang dipenuhi kelopak jatuh, seolah dia sedang berjalan di tengah salju merah muda.
"Cantik banget," gumamnya. Dia menengadah ke atas. Ratusan bunga sakura berayun lembut tertiup angin. Cahaya matahari menembus sela-sela ranting, menciptakan bayangan lembut di wajahnya. Bibirnya tersenyum bahagia.
Dewangga berdiri di belakang, pandangannya lurus pada sosok Riri di depan sana.
Riri menoleh, dia tersenyum lalu berkata, "Om, cantik ya?"
Dewangga tersenyum. "Ya, sangat cantik," gumamnya. Tatapannya masih lekat pada Riri. 'Dia sangat cantik,' gumamnya dalam hati. Dia ikut tertawa saat Riri tertawa. Hatinya semakin diselimuti kehangatan yang belum pernah ia rasakan.
Sosok gadis yang selalu ia katai culun, kini mampu menggetarkan hati.
*,*
Hari semakin larut, mereka memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan menuju apartemen, Riri tertidur. Beberapa kali Dewangga membangunkan gadis itu, tapi tak ada hasil. Riri tetap tertidur pulas.
Dewangga ke luar mobil, membuka pintu mobil di samping Riri. Ia mencondongkan tubuh, menyisipkan salah satu tangan di bawah paha, dan yang satu di balik punggung. Dewangga mengangkat tubuh gadis itu dalam gendongan. Membawanya menuju apartemen.
Sampai di apartemen, Dewangga membawa Riri naik ke lantai atas di mana kamar mereka berada. Bukannya ke kamar Riri, pria itu malah membawa Riri ke kamarnya.
Dewangga merebahkan tubuh Riri dengan hati-hati, seperti menjaga barang yang mudah pecah. Bukannya langsung berdiri, Dewangga malah nyaman dengan posisinya saat ini. Di mana dia membungkuk di atas tubuh Riri.
Pria itu merapikan rambut Riri yang menutupi wajah. Ia menatap lekat wajah Riri yang terlihat damai dalam tidurnya.
“Cantik," gumamnya pelan.
Tatapannya turun ke bibir tipis yang sedikit terbuka. Dewangga meneguk ludah. Bibir itu terlihat sangat menggoda.
Apa rasanya akan manis?
Selama 42 tahun ia hidup, belum pernah sama sekali merasakan bagaimana rasanya benda kenyal itu. Dulu mungkin pernah ti dur dengan Sarah, tapi saat itu dia sedang mabuk. Bahkan esok harinya sudah lupa bagaimana rasanya.
Entah setan apa yang mendorongnya hingga berani menempelkan bi birnya pada bi bir Riri.
Deg!
*,*