Sepuluh tahun menikah bukan menjadi jaminan untuk terus bersama. gimana rasanya rumah tangga yang terlihat adem-adem saja harus berakhir karena sang istri tidak kunjung mempunyai anak lantas apakah Aisy sanggup di madu hanya untuk mendapatkan keturunan?? saksikan kisahnya hanya di Manga Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Aisy me re mas ujung bajunya, matanya mulai berkaca-kaca, meskipun sekuat tenaga ia menahan agar tidak jatuh, namun cairan bening itu lolos begitu saja, hatinya han cur berkeping-keping menyaksikan sendiri keluarga dari su ami nya yang sama sekali tidak peduli dengan ra sa sa kit yang ia rasakan.
"Mami ... Papi ... sebagai seorang is tri aku menolak di madu, aku tegaskan lagi apapun kondisiku, aku tidak mau di ma du," ujar Aisy sambil sedikit berdiri dari duduknya.
"Kau mau melawan kami Aisy, lagian suami boleh me ni kah lagi tanpa restu dari is tri nya," sahut Lusi dengan enteng.
"Iya Mami benar, tapi ketahuilah, jika is tri pertama mur ka dan tidak ridho maka keberkahan dalam rumah tangga hilang Mi," tekan Aisy.
"Jangan s o k menceramahi kamu sendiri saja sebagai is tri kurang ikhlas kurang ridho, seharusnya kau tahu ke ku ran gan mu, ini bukan satu tahun atau dua tahun kami di suruh nunggu cu cu yang tak kunjung datang, ini sudah sepuluh tahun Aisy," ucap Lusi sambil menunjukkan sepuluh jarinya dihadapan Aisy.
"Tapi Aisy bukan Tuhan Bu."
"Justru itu seharusnya kau peka, jangan ke ras ke pa la, terima saja tak dir mu yang man dul itu."
"Mi stop, jangan terus-menerus menghujani Ais dengan kata-kata yang me nya kit kan itu," tegur Reyhan.
"Biar is tri mu sadar Rey, dia itu ke ras ke pa la sudah tahu man dul tapi tidak mau me nga lah," ce le tuk Lusi yang sungguh-sungguh me nya kit kan.
Aisy tidak ta han mendengar celetukan nye le kit yang ditunjukkan kepadanya, dan tanpa menunggu lama wa ni ta yang mengenakan hijab krem itu langsung meninggalkan ruang keluarga yang men ceng kam batinnya itu.
"Aisy tunggu!" panggil Rifat dengan suara te gas.
Aisy menoleh ke arah suara itu, tatapan Rifat benar-benar ta jam seolah me ngin ti mi da si nya, namun hal itu tidak membuat Aisy berhenti langkahnya terus maju memasuki ka mar nya.
Je rit ta ngis nya mulai meng gun cang dada, selama sepuluh tahun ini ia pikir su ami nya itu akan menerima ke ku ran gan nya, tapi ... semua berbeda.
"Ya Allah kenapa harus aku yang disalahkan dan kenapa harus aku yang di suruh untuk mengalah!" teriak Aisy sambil me ne kan dadanya yang terasa sa kit.
Ta ngi san itu masih menemani dirinya di ruang kamar yang su nyi itu, hingga tidak lama kemudian suara pintu terdengar dan ternyata Reyhan datang dengan wajah yang begitu ku sut.
"Apakah se hi na itu, seorang pe rem pu an yang tidak bisa memberikan an ak? Apa se hi na itu Mas, jawab!” Ger tak Aisy.
Reyhan hanya terdiam, terlihat sulit untuk menjelaskan sesuatu yang terjadi saat ini. “Aisy tidak seperti itu, keluargaku butuh keturunan untuk meneruskan usahanya.”
“Lalu kau lebih memilih untuk mengorbankan aku, mengorbankan ketulusanku yang selama ini hanya untukmu Mas,” potong Aisy segera.
“Tidak seperti itu Sy?
“Lantas bagaimana jika tidak seperti itu, sepuluh tahun yang lalu aku rela melepas karirku sebagai seorang dokter semua keahlianku aku gunakan untuk menjaga kesehatan mu dan keluargamu Mas, tapi kenapa mereka semua seolah menganggap ku A i b, aku tidak pernah menyangka."
Tan gis Aisy pecah tangannya ber ge tar seolah tidak sanggup menghadapi pahitnya kehidupan ini, kehidupan yang ia kira akan baik-baik saja ternyata membuatnya hancur berkeping-keping.
“Aku tidak akan pernah memilih orang lain meskipun orang itu diatas kamu, tapi pada kenyataannya kesetiaanku dipertaruhkan dengan ke ha mi lan, aku bukan Tuhan Mas ...!" te ri ak Aisy.
Sementara itu Reyhan hanya bisa diam sambil menahan amarah yang ada di dalam hatinya, pergejolakan batin yang kontras dengan apa yang terjadi di dalam hidupnya, selama ini ia sudah berusaha menjadi su ami yang baik dan setia namun de sa kan orang tua membuatnya harus menyakiti seorang is tri.
"Ais, maafkan aku, tapi aku mohon jangan pernah pergi dari hidupku, aku sangat mencintaimu Ais," ucapnya dengan nada lembut.
"Bohong Mas, jika memang kau mencintaiku tidak akan mungkin ada is tri kedua, di sini sudah jelas, bahwa cintamu sudah mulai terbagi, dan kalau memang kamu menurut dengan kedua orang tuamu, maka bersiaplah kamu akan ke hi la ngan Aisy yang sesungguhnya," ce tus Aisy.
☘️☘️☘️☘️☘️
Satu Minggu kemudian di sebuah masjid ujung kota sana, Reyhan benar-benar menentang semua perkataan is tri nya, dengan balutan kemeja putihnya pria itu benar-benar terlihat tampan dan te gas, namun dibalik semua itu ada rasa bersalah yang cukup besar terhadap is tri pertama, Aisy.
Akad segera di mulai dengan diantar keluarga besarnya, Reyhan terlihat begitu gagah dan siap meskipun di dalam hatinya terlintas wajah Aisy yang saat ini tidak bisa hadir karena tidak diberi tahu, Pemuka agama itu mulai menjabat tangan Reyhan lalu mengucapkan ijab dan dengan tegas Reyhan menyahutinya.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Arsinta Devi Suherman Binta Binti Marcus Suherman dengan mas kawin uang senilai 1,5 M beserta logam mulia 20 gram di bayar tunai."
Pemuka agama itu diam sejenak kemudian Mengangguk. "Sah ...."
"Sah ... Sah ...," ucap saksi pertama dan kedua yang saling bersahutan.
"Alhamdulillah."
Doa pun dipanjatkan. Suaranya lembut, menembus kalbu, seakan memohon agar pernikahan ini tak membawa dosa bagi siapa pun.
Tak lama kemudian, dua wanita paruh baya Lusi dan Yani menuntun mempelai wanita memasuki ruangan. Arsinta Devi melangkah perlahan, dengan wajah yang berseri-seri, tanpa peduli jika lelaki yang menikahinya itu merupakan su ami orang.
Dengan hati yang bergetar Reyhan mulai melihat untuk pertama kalinya wanita yang sekarang tengah menjadi istri keduanya itu dengan raut yang sulit untuk diutarakan.
'Ya Allah aku benar-benar menikahi wa ni ta pilihan orang tuaku, teruntuk Aisy maafkan aku, dan posisimu di dalam hatiku masih sama seperti dulu Sayang,' gumamnya dalam hati.
Setelah akad selesai sepasang pe ngan tin itu di giring keluarga besar untuk keluar dari masjid, tan gis haru dan kebahagian bertumpah menjadi satu, begitu juga dengan pengantin kedua yang merasa lega, akhirnya ia bisa me ni kah untuk menutupi sebuah hal.
'Terima kasih, Dewi Fortuna sedang berada di pihakku,' gumamnya di dalam hati.
Lusi dan Yani sudah selesai menggiring kedua pe ngan tin itu, hingga masuk mobil, lalu keduanya mulai bercengkerama dengan besan mereka yang dianggap sepadan itu.
"Ibu Sarita gimana perasaan anda ketika sudah berhasil menikahkan anak perempuan anda dengan putraku," ucap Lusi begitu jumawa. Sementara itu para suami mereka hanya tersenyum lebar seolah ikut bahagia dengan pernikahan keduanya.
"Tentunya sangat bahagia, akhirnya kita bisa jadi besan," sahut Sarita.
"Semoga saja, setelah ini segera diberi momongan, soalnya aku sudah lama ingin menimang cucu," sambung Rifat.
"Itu pasti doakan saja, karena anak kaki masih muda otomatis mesin produksinya masih bagus," sahut Marcus.
Mereka pun tertawa bersama seolah sedang mengejek istri Reyhan yang pertama yang selama ini masih belum bisa memberikan keturunan.
Mobil sudah pergi meninggalkan pelataran masjid, dan untuk pertama kalinya istri kedua di bawa ke dalam kediaman Rifat Firmansyah di saat keduanya masuk, keluarga Firmansyah menyambutnya dengan begitu mewah dan meriah, dan tanpa mereka sadari, di dalam rumah megah itu ada salah satu pembantu yang mengabadikan momen itu dan mengirimkannya potongan video dan foto kepada Aisy.
Bersambung ....
Di bab 4 akan ada perubahan ya Kak ...
semoga Aisya d buat punya kebahagian tersendiri, dan d pertemukan pria yg tulus padanya..