Lucas, pembunuh bayaran paling mematikan dari Akademi Bayangan Utara, adalah master pisau dengan elemen air yang tak tertandingi. Obsesinya untuk menjadi yang terbaik dan persaingannya dengan Diana, senior ahli pedang es, membentuk dirinya. Namun, kedamaian hancur saat akademi diserang. Master Loe dan Niama gugur, memicu amarah Lucas yang melepaskan kekuatan airnya menjadi badai penghancur. Di tengah reruntuhan, Lucas bersumpah membalas dendam atas kematian mereka. Dengan sebuah lambang spiral gelap sebagai petunjuk satu-satunya, ia memulai misi pencarian dalang di balik kehancuran ini. Akankah balas dendam mengubahnya atau ia menemukan kebenaran yang lebih dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan Mentor dan Sahabat
Lucas, dengan tatapan tajam dan dingin, melancarkan serangkaian serangan mematikan yang belum pernah ia gunakan sebelumnya. Bilah pisaunya berkelebat begitu cepat, menciptakan ilusi bayangan yang menipu mata.
Setiap tebasannya presisi, mengenai titik vital para penyerang bertopeng yang mencoba mendekat. Jeritan tertahan terdengar saat satu per satu musuh tumbang, memperlihatkan betapa dahsyatnya kekuatan Lucas yang sesungguhnya.
Master Loe dan Niama yang melihatnya terkesima, karena Lucas menunjukkan tingkat keahlian yang melampaui apa yang pernah mereka saksikan. Pertahanan mereka yang sebelumnya goyah, kini menjadi lebih kokoh berkat kedatangan Lucas yang tak terduga.
Para penyerang, yang tadinya begitu percaya diri, mulai menunjukkan tanda-tanda kepanikan saat mereka menyadari bahwa Lucas bukanlah lawan biasa. Pemimpin mereka, seorang pria bertubuh besar dengan topeng tanduk, berteriak memberi perintah.
Ia memerintahkan pasukannya untuk fokus menyerang Lucas dengan seluruh kekuatan yang mereka miliki. Lusinan penyerang melesat bersamaan, membentuk formasi mengepung yang rapi. Mereka berniat untuk menjatuhkan Lucas dengan jumlah yang banyak.
Namun, Lucas hanya menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang jarang terlihat di wajahnya. Ia justru merasa tertantang dan siap menghadapi gelombang serangan yang datang bertubi-tubi.
Lucas melompat tinggi, lalu berputar di udara. Ia mendarat di tengah kepungan musuh dengan kecepatan yang mencengangkan. Tubuhnya bergerak seperti air yang mengalir, menghindari setiap serangan dengan sangat mudah.
Ia menggunakan momentum serangan musuh untuk melancarkan serangan balasan yang lebih kuat. Bilah pisaunya menari-nari dalam kegelapan, menciptakan simfoni kematian yang mengerikan.
Darah mengalir di lantai aula, bercampur dengan percikan api dan sihir gelap yang dilemparkan oleh musuh-musuh itu. Lucas terus bergerak maju, tak terbendung, sebuah kekuatan tunggal yang mampu membalikkan keadaan dalam pertempuran yang kacau itu.
Di tengah hiruk pikuk pertempuran yang tak berkesudahan, Master Loe dan Niama terus berjuang sekuat tenaga, tetapi jumlah musuh yang terus berdatangan tanpa henti akhirnya mulai mengikis kekuatan mereka.
Master Loe, dengan napas tersengal-sengal, sempat menebas beberapa penyerang terakhir sebelum sebuah tombak bayangan menembus dadanya, menjatuhkannya ke lantai dengan mata masih terbuka, seolah tak percaya pada akhir yang datang begitu cepat.
Bersamaan dengan itu, Niama yang panik melihat mentornya tumbang, lengah sesaat, dan sebuah serangan api gelap besar menghantamnya dari belakang, merenggut nyawanya dalam sekejap, meninggalkan kepulan asap hitam dan keheningan yang memilukan di tengah medan perang yang riuh.
Lucas, yang sedang sibuk menghadapi gelombang penyerang di depannya, merasakan lonjakan energi gelap yang tiba-tiba dan firasat buruk menusuk relung hatinya, lantas pandangannya teralih ke arah Master Loe dan Niama yang kini terbaring tak bergerak di antara puing-puing, sebuah pemandangan yang seketika membekukan darahnya.
Kemarahan yang membara, jauh melampaui emosi apa pun yang pernah ia rasakan, membuncah dalam dirinya. Rasa kehilangan yang mendalam itu menjadi pemicu bagi kekuatan tersembunyi yang Lucas miliki, mengubah tatapannya menjadi lebih gelap dan dingin, penuh dengan tekad balas dendam yang tak tergoyahkan.
Dengan raungan yang memekakkan telinga, Lucas melepaskan gelombang energi air yang besar dari tubuhnya, menghantam para penyerang di sekelilingnya hingga terpental jauh. Ia bergerak seperti kilat, menghabisi setiap musuh yang berani mendekat dengan kecepatan dan kekuatan yang mengerikan, seolah-olah ia telah menjadi personifikasi amarah dan kesedihan.
Setiap gerakan pisaunya kini sarat dengan kemarahan yang membara, meninggalkan jejak kehancuran di belakangnya. Lucas tak lagi peduli dengan taktik, hanya berfokus untuk menghancurkan siapa pun yang berdiri di antara dirinya dan pembalasan atas kematian orang-orang yang ia sayangi.
Api amarah yang membakar Lucas semakin membesar, menyatu dengan elemen airnya yang fleksibel dan kini menjadi kekuatan penghancur tak terkendali. Ia menciptakan badai air yang berputar kencang, diselingi bilah-bilah es tajam yang melesat dari setiap arah, menghantam setiap penyerang yang tersisa dengan kekuatan brutal.
Dalam hitungan detik aula utama berubah menjadi medan pembantaian, menyisakan puing-puing, genangan air yang bercampur darah, serta tubuh-tubuh penyerang yang tercerai-berai. Lucas berdiri di tengah kehancuran itu, napasnya terengah-engah, dengan mata yang masih memancarkan kobaran api balas dendam, sebuah pemandangan yang menunjukkan betapa mengerikannya jika kemarahannya telah mencapai puncaknya.
Setelah keheningan menyelimuti aula yang hancur, Lucas merasakan kekosongan yang menusuk hatinya saat pandangannya jatuh pada tubuh Master Loe dan Niama yang terbaring kaku, dan kemarahan yang tadinya membakar kini berganti menjadi kesedihan yang mendalam.
Dengan langkah gontai, ia mendekati mereka, berlutut perlahan di samping tubuh tak bernyawa Niama, menyentuh pipinya yang pucat dengan jemari gemetar. Kemudian beralih ke Master Loe, merapikan jenggotnya yang berantakan dengan hati-hati, sebuah isyarat perpisahan terakhir yang penuh rasa hormat dan duka.
Dengan tangan kosong, Lucas mulai menggali tanah di salah satu sudut taman akademi yang masih utuh, membuat dua liang yang sederhana namun penuh makna. Ia mengangkat tubuh Master Loe dan Niama dengan sangat hati-hati, membaringkan mereka berdampingan di dalam liang yang telah disiapkan.
Lalu menimbunnya dengan tanah sembari mengucapkan janji dalam hati untuk membalaskan kematian mereka. Lucas menancapkan dua bilah pisau miliknya sebagai penanda nisan. Ia berdiri tegak di sana untuk waktu yang lama. Matanya menatap kosong ke arah gundukan tanah, seolah mencoba menahan air mata yang mendesak keluar dari pelupuknya.
Suara angin berdesir lembut di antara pepohonan yang hangus, seolah ikut meratapi kepergian dua orang yang sangat ia hormati. Lucas, dengan suara serak yang jarang ia gunakan, berbisik perlahan ke arah gundukan tanah, "Aku bersumpah demi langit dan bumi, siapa pun yang bertanggung jawab atas kehancuran ini dan kematian kalian, akan membayar mahal."
Kalimatnya menggema dalam kesunyian, penuh dengan tekad yang dingin dan membara, sebuah janji yang terukir dalam setiap serat jiwanya, bahwa ia tidak akan pernah berhenti sampai semua pelakunya merasakan penderitaan yang setimpal. Kemudian ia mengepalkan tangannya, kuku-kuku jarinya menancap dalam daging, menahan gejolak emosi yang ingin meledak.
Lucas membalikkan badan, meninggalkan makam yang baru saja ia buat. Ia menatap ke arah reruntuhan aula yang masih berasap, melihat gambaran kehancuran yang terpampang jelas di hadapannya.
Setiap serpihan kayu yang terbakar, setiap noda darah di lantai, serta setiap mayat penyerang yang tersebar, menjadi pengingat pahit tentang malam kelam itu. "Siapa kalian sebenarnya?" gumamnya, suaranya dipenuhi pertanyaan yang belum terjawab dan rasa haus akan kebenaran.
Ia tahu bahwa di balik topeng-topeng itu tersembunyi sebuah kekuatan besar yang jauh melampaui apa yang pernah ia bayangkan. Ia mulai mencari petunjuk di antara puing-puing, berharap menemukan jejak yang bisa membawanya pada dalang di balik semua kekejaman itu.
Ia melangkah perlahan di antara sisa-sisa pertempuran, matanya menyapu setiap sudut dengan cermat, mencari benda atau simbol apa pun yang bisa memberinya petunjuk. Tiba-tiba pandangannya terpaku pada sebuah lambang aneh yang terukir di gagang pisau salah satu penyerang yang tewas, sebuah simbol spiral gelap yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Lucas mengambil pisau itu, memegangnya erat, lalu tatapannya berubah tajam, "Aku akan menemukan kalian semua," janjinya. Suaranya mengandung ancaman dingin yang mematikan, sebuah tekad bulat yang kini menjadi satu-satunya tujuan dalam hidupnya, yaitu untuk membalas dendam dan mencari tahu siapa di balik lambang misterius itu.