NovelToon NovelToon
Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert

Status: tamat
Genre:Obsesi / Nikah Kontrak / Romansa / Tamat
Popularitas:31.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Irma

Kakek Robert memang orang yang senang melucu, saking lucunya sampai membuat surat wasiat yang mensyaratkan musuh bebuyutan, Jenson dan Rachel, harus tinggal dalam satu atap dan mereka harus menikah.

Padahal setiap kali mereka bertemu, kata-kata setajam pisau akan melesat dan menusuk harga diri mereka. Enam bulan bukan waktu yang singkat dan 150 miliar bukan jumlah yang sedikit. Apalagi warisan sebesar itu hanya diturunkan kepada mereka berdua, bukan kepada saudara-saudara kakek Robert.

Bulan pertama merupakan bulan yang terberat di mana mereka harus saling bertoleransi. Di bulan itu pula juga mereka mulai menyadari percikan gairah yang muncul. Tapi tidak semuanya berjalan lancar karena ternyata ada seseorang yang menginginkan kematian mereka berdua dan memperoleh warisan Kakek Robert…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 04

Sepintas Rachel melihat lirikan mata pengacara itu. “Kakek Robert menulis bagian ini dengan kata-katanya sendiri.” Zephaniah berhenti Sejenak, entah untuk menimbulkan efek tertentu ataukah untuk mengumpulkan keberanian.

“Kepada Rachel Cecilion dan Jenson Dirgantara,” Zephaniah mulai membaca. “Kepada dua orang anggota keluargaku yang telah memberiku banyak kesenangan dan keceriaan, dengan harapan-harapan mereka pada kehidupan, juga menikmati bergaul dengan seorang pria tua dan lelucon-lelucon tua, kuwariskan sisa hartaku, yaitu, semua rekening bank, bisnis, saham, surat obligasi, semua properti berwujud dan properti pribadi, dengan segala cinta kasih dan sayang. Berbahagia-lah dan bagi dengan sama rata.”

Seketika Rachel bangkit, terpana, dan marah. “Aku tak bisa menerima uangnya.” Menjulang di antara keluarga yang duduk di sekelilingnya, gadis itu melangkah lurus-lurus ke arah Zephaniah.

Sang pengacara, yang sudah mengantisipasi serangan dari berbagai kubu, menguatkan diri untuk hal yang tak terduga ini. “Aku tidak akan tahu apa yang bakal kulakukan dengan semua itu. Itu cuma akan mengacaukan hidupku. Aku tidak mau uang itu,” Ia mengacungkan tangannya ke arah tumpukan kertas di atas meja seakan-akan benda itu adalah semacam gangguan kecil. “Seharusnya kakek Robert menanyakannya dulu padaku.”

“Miss Rachel…”

Sebelum si pengacara sempat berucap lagi, Rachel melabrak Jenson. “Kau boleh mengambil semuanya. Apalagi kau tahu apa yang mesti kaulakukan dengan warisan itu. Membeli hotel di New York, di L.A., klub bola kesukaanmu, dan helikopter untuk menerbangkanmu kemana pun kau mau, aku tidak peduli.”

Dengan amat tenang, Jenson memasuk kan kedua tangannya ke dalam saku. “Kuhargai tawaranmu, Sepupu. Sebelum kau marah-marah seperti ini, kenapa kita tidak menunggu sampai Mrs. Zephaniah selesai bicara supaya kau tidak mempermalukan dirimu sendiri lebih jauh lagi?”

Sesaat Rachel menatap Jenson. Tingginya hampir setara dengan pria itu karena ia mengenakan sepatu hak tinggi. karena sejak dini Rachel sudah terlatih untuk menghadapinya, ia menarik napas dalam-dalam dan menunggu sampai kemarahannya mereda. “Aku tak menginginkan uangnya.”

“Kau sudah menjelaskan pendapatmu.” Sebelah alis Jenson terangkat, dengan sinis dan setengah girang, yang selalu bisa membuat Rachel marah. “Kau membuat kerabat-kerabat kita terkesima oleh pertunjukan kecil yang kau tampilkan.”

Tak ada yang bisa membuat Rachel menemukan kendali dirinya lebih cepat dari saat itu. Ia mengangkat dagu ke arah sepupunya, mendesis, kemudian menyerah. “Baiklah, kalau begitu.” Ia berbalik. “Maafkan aku soal interupsi tadi. Silakan terus membaca, Mrs. Zephaniah.”

Si pengacara minta waktu sejenak untuk mencopot kacamata dan membersihkannya dengan selembar saputangan putih besar. Ia sudah tahu sejak Kakek Robert membuat surat wasiat itu, akan segera tiba hari di mana ia terpaksa harus menghadapi satu keluarga yang pasti akan marah besar. Ia sudah berdebat dengan kliennya soal masalah itu, membujuk, mengajukan alasan, menunjukkan ketidak laziman yang ada. Kemudian Zephaniah kembali mengambil surat wasiat itu dan menutup semua jalan keluar.

“Kuwariskan semua ini,” lanjutnya, “Uang, yang nilainya tidak seberapa, saham dan surat obligasi, yang penting tapi membosankan, bisnis berbunga, yang merupakan beban menarik untuk menjerat leher. Dan rumahku beserta semua yang ada di dalamnya, yang merupakan segalanya untukku, kenangan-kenangan yang terjadi di sana, untuk Rachel dan Jenson karena mereka memahami dan peduli kepada ku. Kutinggalkan ini pada mereka, meskipun ini akan menjengkelkan mereka, karena tak ada orang lain dalam keluargaku yang bisa kutinggali hal yang penting buatku. Apa yang dulu milikku kini menjadi milik Rachel dan Jenson, karena aku tahu mereka bisa membuatku tetap hidup dan aku yakin mereka bisa menjaga semua barang-barang milik aku. Aku sangat menyayangi Rachel dan Jenson, seperti mereka menyayangi ku. Aku hanya meminta satu hal saja sebagai balasannya.”

Genggaman Jenson jadi sedikit lebih longgar, dan ia nyaris tersenyum lagi. “Ini dia bagian pentingnya,” gumamnya.

“Dalam waktu tak lebih dari satu minggu setelah pembacaan dokumen ini, Rachel dan Jenson akan pindah ke rumahku yang kusebut sebagai Robert's. Mereka akan menikah dan tinggal bersama di sana selama enam bulan, dan tidak ada seorang pun yang boleh menghabiskan dua malam berturut-turut di luar rumah. Setelah periode enam bulan tersebut, tanah beserta rumah akan dikembalikan kepada mereka dan sah menjadi milik mereka, seluruhnya tanpa halangan, berbahagia-lah dan bagi-lah dengan rata.

“Jika salah satu dari mereka tidak menyetujui ketetapan tersebut, atau melanggar syarat dalam ketetapan tersebut selama periode enam bulan, tanah beserta rumah, secara keseluruhan akan diserahkan kepada semua ahli warisku dengan pembagian rata. Kuberikan restuku pada kalian, Anak-anak. Jangan biarkan seorang pria tua yang telah mati menjadi kecewa.”

Selama tiga puluh detik penuh, keheningan melanda mereka. Mengambil keuntungan dari itu, Zephaniah segera mulai merapikan kertas-kertasnya.

“Dasar tua bangka,” rutuk Jenson. Rachel pasti sudah membela diri seandainya saja ia tak menyetujui gerutuan itu dengan sepenuh hati. Karena menilai suhu di ruangan itu sudah terlalu panas, Jenson menarik Rachel keluar, melintasi koridor dan menuju salah satu kamar tamu kecil lucu yang bisa ditemukan di seisi rumah itu. Tepat sebelum ia menutup pintunya, ledakan pertama di perpustakaan itu meletus.

Rachel mengeluarkan selembar tisu basah, bersin di atasnya, lalu menarik sebuah kursi. Ia terlalu capek, bingung dan pusing dengan semua ini. “Well, bagaimana sekarang?.”

Jenson meraih sebatang rokok sebelum teringat bahwa ia sudah menghentikan kebiasaannya itu. “Sekarang kita harus membuat beberapa keputusan.”

Rachel memberinya salah satu tatapan tajam yang diketahuinya bisa membuat kebanyakan pria tergagap-gagap. Jenson Cuma duduk berseberangan dengannya dan balas menatap. “Aku bersungguh-sungguh dengan yang kukatakan. Aku tak menginginkan uangnya. Pada saat uang itu dibagi dan pajaknya selesai diurus, nilainya nyaris tujuh puluh lima miliar seorang. Tujuh puluh lima miliar,” ulangnya sambil memutar-mutar bola mata. “Konyol sekali.”

“Robert selalu berpikir begitu,” ujar Jenson seraya menyaksikan rasa duka datang dan pergi di mata Rachel.

“Dia hanya memilikinya untuk dimain-mainkan. Masalahnya adalah, setiap kali dia bermain, dia meningkatkan jumlahnya.” Tak mampu duduk, Rachel melangkah ke arah jendela. “Jenson, aku bisa mati lemas dengan uang sebanyak itu.”

“Uang tunai tidaklah seberat yang kaukira.”

Sambil mengekspresikan sesuatu yang mirip dengan suasananya saat ini, Rachel berbalik dan duduk di birai jendela. “Kau tidak menolak tujuh puluh lima miliar atau sekitar itu setelah dikurangi pajak yang kuambil.”

Jenson ingin sekali menghapus ekspresi itu dari wajah Rachel. “Aku tak memiliki sikap tak pedulimu akan uang, Rachel, mungkin karena aku dibesarkan dengan ilusi mempunyai uang, bukan kenyataannya.”

Rachel mengangkat bahu, menyadari orang tua Jenson tetap bertahan, dan selalu akan bertahan sampai saat ini, terutama karena kredit dan hutang dimana-mana. “Jadi, ambil saja semuanya.”

1
Christ Mlg
👍🏻
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Wahh Rachel punya bodyguard sekarang siapa yang mengganggu Rachel akan berhadapan dengan Bruno si anjing jelek dan kejam 😊
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
Happy ending, cerita nya menarik. di mana mana yg nama harta warisan pasti di perebutkan. ku alami sendiri dalam keluarga suamiku, itu harta sedikit, apalagi kalau harta nya banyak. kalau berurusan dgn harta warisan orang pun pasti menginginkan nya. meributkan.

selamat kk irma, sukses selalu 🥰🥰🥰
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
jebakan nya langsung mengena, good
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
aku membayangkan kalung dan anting nya Rachel, aku yg pakai cantik kali ya🤭🤭🤭🤭
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
mereka bersekongkol & saling membongkar. tapi pemenangnya tetap jenson & Rachel. keren kakIR
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
gempar, gaduh. tapi pembunuh belum ditemukan
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
moment luar biasa. mengundang pembunuh ke rumah.
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
pasti Rachel panik akan bertemu para saudara
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
jangan pernah mikir cerai Rachel. itu cinta ❤
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
semua di sketsa itu bersekongkol.
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
kalian harus semakin waspada. pondok yg dulu belum lagi diperiksa
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
para lawan semakin brutal. semoga mereka bisa bertahan
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
pelan2 harapan jessica & nyoman berjalan lancar
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
jaga2 dengan bor. pinter Rachel.. 😁😁
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
mungkin dgn mengundang mereka, siapa tau akan terbongkar semua misteri selama ini
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
demi harta orang melakukan berbagai hal utk mendapatkan nya, apa lagi harta warisan yg mudah di dapat tampa bekerja
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
jenson dan Rachel pasangan anehh
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
Rachel wanita kuat, hebat dan keras kepala 🤭
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
mana ada orang siap mau mati🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!