Nayla Putri Atmaja (21) seorang gadis riang yang tengah menempuh pendidikan di sebuah universitas swasta di kota Jakarta, tak pernah menyangka hidupnya akan serumit ini setelah ia bertemu dengan Bayu Pratama (30). Seorang dosen muda yang mengisi mata kuliah di semester lima. Selain menjadi seorang dosen Bayu merupakan seorang pengusaha muda. Pria yang cukup sukses dan berpendidikan tinggi, namun menyandang status duda beranak satu.
Entah disengaja ataupun tidak pertemuan mereka di kampus menjadi awal kisah cerita mereka dimulai. Hidup Bayu yang semula terlihat begitu datar, kini berubah menjadi sangat menyebalkan ketika takdir mempertemukan dirinya dengan sosok Nayla yang memiliki sikap menjengkelkan, merepotkan, banyak maunya, bicara sembarangan dan blak-blakan. Sangat berbanding terbalik dengan kehidupan Bayu yang terlihat begitu tenang, datar dan tertutup.
Mau tau kelajutan kisah mereka selanjutnya? Yuk simak terus cerita Jodoh Tak Diundang...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JTD Bab 4
Jebakan Sang Dosen
Bayu segera memutus kontak mata dengan Nayla. Dengan suara baritonnya yang tenang, ia meminta para mahasiswa memperkenalkan diri satu persatu sebelum memulai materi.
Jika biasanya dosen memulai dari barisan depan, Bayu justru sebaliknya. Ia meminta barisan paling belakang—yang didominasi mahasiswi berpenampilan "cetar membahana"—untuk memulai lebih dulu. Melihat hal itu, prasangka buruk langsung berkecamuk di kepala Nayla.
"Aneh. Harusnya dari depan ke belakang, ini malah sebaliknya. Pasti tipe dosen 'Om-om girang' yang senang dikelilingi pasukan ondel-ondel," gerutu Nayla pelan. Namun, pendengaran tajam Bayu menangkap setiap kata itu dengan jelas.
Senang sekali mulutmu menggerutuiku sejak tadi, batin Bayu. Jika benar kamu adalah putri Tuan Gunawan Atmaja, berarti kamulah wanita yang dijodohkan Daddy padaku. Inikah calon ibu yang baik untuk Sultan? Mau jadi apa rumah tanggaku nanti?
Kini giliran Nayla yang memperkenalkan diri. Seperti sebelumnya, ia menyebutkan nama dengan suara lantang. Begitu selesai, Bayu justru melangkah mendekati meja Nayla dan melemparkan pertanyaan yang terasa sengaja dibuat-buat.
"Siapa namamu tadi?" tanya Bayu, seolah memorinya baru saja terhapus.
"Nayla," jawab Nayla ketus sambil memutar bola mata malas.
"Oh ya, Nayla Putri Atmaja," ucap Bayu, pura-pura baru mengingatnya.
"Iya, Pak," sahut Nayla dengan wajah ditekuk.
Bayu kini berdiri tepat di depan meja Nayla, mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di sana. "Nayla, jika saya boleh tahu... apa kamu salah satu putri Tuan Gunawan Atmaja dari Perusahaan Combo?"
"Tuan Gunawan Atmaja hanya punya dua anak, satu putra dan satu putri. Saya adalah anak bungsunya yang mungkin Anda maksud," jawab Nayla, tetap dalam mode sinis.
"Okelah kalau begitu. Setelah kelas saya selesai, ikut ke ruangan saya," ucap Bayu singkat, lalu kembali ke mejanya tanpa menunggu jawaban.
Dua jam berlalu tanpa terasa. Meskipun kepribadiannya menyebalkan, cara Bayu menyampaikan materi Kepemimpinan harus diakui sangat luar biasa. Ia begitu lugas dan cerdas, membuat seluruh mahasiswa—termasuk Nayla—terhipnotis hingga waktu terasa berlari cepat.
"Cukup sampai di sini untuk hari ini. Selamat siang," tutup Bayu tepat pukul 12.00 siang.
"Cepat banget, Pak! Nambah jam dong!" teriak salah satu mahasiswa. Bayu hanya menarik sedikit sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang sangat seksi.
Seketika, seisi kelas (kecuali Nayla) kembali meleleh. Bisik-bisik memuja terdengar di mana-mana. Ada yang bilang hatinya meleleh, ada yang menyebut bibir Bayu "ngajakin tabrakan". Namun, Bayu tetap cuek dan kembali menatap Nayla.
"Nayla, ke ruangan saya sekarang. Bawa barang-barang saya," perintah Bayu sambil menunjuk tumpukan buku dan laptopnya, lalu melenggang pergi begitu saja.
"Apa?! Maksudnya apa nih dosen? Gue disuruh jadi asisten dadakan? Manja banget jadi orang!" umpat Nayla sambil menghentakkan kaki ke lantai.
Amel yang melihat itu hanya tertawa kecil. "Makanya, mulut dijaga. Kebiasaan sih ngajakin perang sama dosen. Gue tunggu di mobil ya. Jadi kan kita double date sama Tyo dan Dimas?"
"Jadilah! Sebelum gue dinikahkan paksa, mending gue puas-puasin uwu-uwu sama Yayang Tyo dulu," sahut Nayla keras-keras.
Langkah Bayu sempat terhenti di ambang pintu mendengar kata "Yayang Tyo". Tak akan aku biarkan calon istriku melakukan hal bodoh dengan kekasihnya itu, gumam Bayu dalam hati.
Dengan langkah berat, Nayla membereskan barang-barang Bayu. Wajahnya ditekuk sedalam mungkin, persis seperti dompet karyawan di akhir bulan. Ia berjalan di belakang Bayu sambil terus merutuki nasibnya.
"Mimpi apa gue semalam? Dari pagi sial mulu. Ketemu kakak gesrek, disuruh jodoh sama orang nggak jelas, sekarang ketemu dosen nyebelin kayak gini. Ampun deh!"
Tanpa aba-aba, Bayu menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.
Brukk!
Nayla menabrak punggung kekar Bayu hingga barang-barang di tangannya berjatuhan ke lantai.
"Aduh! Pak Bayu kalau berhenti bilang-bilang dong! Jadi jatuh semua kan? Ngerepotin banget jadi dosen!" omel Nayla berani.
Nayla berjongkok dengan ribet karena tas laptop yang melingkar di bahunya. Akhirnya, Bayu ikut membantu memunguti buku yang berserakan.
"Bisa tidak mulutmu itu bungkam sebentar? Sejak tadi saya perhatikan kamu hanya bisa merutuk. Ingat, saya ini dosenmu. Seharusnya kamu bisa menjaga kesopanan," cetus Bayu tajam.
"Terserah Bapak. Mulut ini punya saya, bukan punya Bapak. Seharusnya Bapak yang jaga sikap. Nggak pantas saya disuruh bawa barang sebanyak ini sementara Bapak cuma jalan santai. Saya ini wanita, Pak!" protes Nayla.
"Ya, saya tahu kamu wanita. Siapa yang bilang kamu pria?" balas Bayu datar. Ia justru menumpukkan sisa buku ke atas tumpukan di tangan Nayla yang sudah penuh, lalu berjalan membukakan pintu ruang kerjanya.
Nayla masuk dengan langkah gontai. Namun, begitu ia berada di dalam, suara klik anak kunci yang diputar terdengar jelas.
"Pak Bayu! Kenapa pintunya dikunci segala?!" pekik Nayla dengan suara cemprengnya. Rasa kesal kini bercampur dengan ketakutan.
Jangan-jangan dia mau berbuat mesum? Tampang doang ganteng, tapi ternyata otaknya 'minus'! batin Nayla ketar-ketir.
Ia segera meletakkan barang-barang Bayu di meja dan berniat kabur. Namun, sebelum sempat mencapai pintu, lengan Nayla dicengkeram kuat oleh Bayu, menghadang langkahnya untuk pergi.
emang bener-bner si Nayla