novel ini sedang direvisi.
Menceritakan kisah Nana yang tumbuh di tengah keluarga yang berantakan.
Membuatnya hidup tanpa aturan, menjadi gadis yang liar mencari kebahagian.
Namun, suatu hari Nana harus menerima kenyataan bahwa dirinya memiliki Ibu tiri. Siapa sangka Nana yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang Ibu, kini mendapatkannya dari wanita simpanan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MERASA JAHAT
Hari ini sangat terlihat kebahagiaan dari Brian, sehingga membuat dirinya dengan semangat untuk pulang dari kantor.
Brian semakin bahagia disaat mendapatkan pesan dari istri kecilnya yang meminta dibawakan seblak pedas.
Dan lagi, Brian mengeluarkan ponselnya meminta anak buahnya membeli kulkas untuk Amara. Brian melakukan itu karena tidak melihat ada kulkas disana, Brian berfikir membelikan itu untuk Amara menyimpan buah-buahan.
Dalam perjalanan Brian mengingat ucapan Amara yang masih menolak untuk kembali ke apartemen.
Walaupun Brian mengatakan akan adil untuk kedua istrinya, tetapi Amara tetap menolak untuk tinggal di apartemennya.
Brian sendiri sedikit bingung apa yang membuat Amara sedikit luluh pada dirinya.
___________
Di kost, Amara merasa heran karena ada orang yang membawakan kulkas untuk Amara.
"Maaf ini mungkin salah orang, saya tida memesannya."
"Tidak, ini memang buat kamu sayang," ucap Brian yang baru tiba dengan membawakan anekan makanan untuk Amara.
Kemudian Brian memerintahkan pada orang -orang itu untuk membawa masuk kulkas Amara.
Setelah itu Brian dan Amara masuk kedalam kamar kostnya.
"Makasih Om," ucap Amara.
Brian merasa ada yang berbeda dengan Amara, Biasanya Amara akan genit atau mencium Brian tetapi sekarang Amara amat datar.
Brian tak mempermasalahkan itu, yang penting Brian sudah menemukan Amara dan amara sudah tidak merajuk lg.
"Om," panggil Amara yang melihat Brian menatapnya.
Brian mendekat pada Amara dan meraih tangannya, Brian akan meminta sesuatu pada Amara, "Sayang apa om boleh minta sesuatu?"
"Sesuatu apa itu Om? Bukan anu kan?" tanya Amara, Amara mengira kalau Brian akan meminta haknya sebagai suami.
"Anu? apa?" Brian tidak mengerti arti 'anu' dari Amara.
"Anu itu loh," ucap Amara dengan mata yang melihat kearah ranjang.
Kemudian Brian mencubit hidung Amara, "Dasar anak nakal, bukan itu yang Om maksud."
"Om minta, jangan panggil Om lagi!"
"Mas?"
"Sayang," jawab Brian.
"Ok Om, eh Mas...."
"Sayang aja,"
"Mas aja, ya...ya...,"
"Ya sudah lah, ayo makan dulu Mas bawakan ini untukmu."
Dengan antusias Amara membuka bungkusan makanan itu satu demi satu. Amara sedikit kecewa melihat pesanannya sudah mengembang.
Lalu Amara melihat nasi padang yang Brian bawa dan Amara meminta itu. Amara menukar makanannya dengan makanan Brian.
Brian sendiri kurang menyukai seblak, untungnya Brian membawa banyak makanan.
Brian melihat Amara yang begitu lahapnya, dan Amara yang merasa diperhatikan lalu melihat kearah Brian, kemudian Amara berinisiatif menyuapi Brian.
"Aaaaa," Amara meminta Brian untuk membuka mulutnya.
Brian membuka mulutnya dan menerima suapan dari Amara.
Brian melihat air mata Amara menetes di pipinya lalu Brian mengusapnya.
"Kamu kenapa?"
"Om, apakah Mara jahat apabila mempertahankan hubungan kita?" tanya Amara dengan suara yang sangat pelan tetapi Brian masih mendengarnya.
"Sayang jangan Om lagi donk, Mas nggak mau orang salah paham sama hubungan kita. Mas jelaskan dan ini sudah mas jelaskan berulang kali kalau memang saat mas bertemu kamu itu mas sudah berantakan rumah tangganya dengan dia."
"Tapi sekarang dia hamil Mas, nggak mungkin kan Mas akan ninggalin dia buat Amara, Amara merasa jahat udah buat Mas harus memilih antara Amara atau dia, Mas."
"Mas akan menceraikan dia dan membawa anak Mas bersama kita, apa kamu nggak keberatan apabila merawat anak Mas bersama Melinda?"
Bergeming, Amara belum bisa memberikan jawaban untuk saat ini, Amara takut kalau dirinya tidak akan bisa adil terhadap anaknya dan anak Melinda. Amara sendiri belum memberi tahu pada Brian kalau dirinya juga hamil.
"Mas...," lirih Amara.
"Aku—" belum sempat melanjutkan ucapannya Amara mendengar ponsel Brian yang berdering, Amara melihat siapa yang memanggil, ia adalah Melinda.
"Jawablah Mas, siapa tau itu penting," perintah Amara pada Brian.
Brian sendiri sangat malas menerima panggilan dari Melinda, mau tidak mau akhirnya Brian menerima panggilan itu.
Brian terkejut mendengar Melinda mengalami pendarahan, setelah mematikan teleponnya Brian pamit pada Amara karena harus mengantar Melinda ke rumah sakit.
Amara diam saja, Amara yang menunduk menganggukkan kepalanya.
Brian sebenarnya tak tega pada Amara tetapi Brian juga tak ingin terjadi apa-apa pada anaknya yang berada didalam kandungan Melinda.
"Cup," Brian mengecup pucuk kepala Amara.
___________
Di kafe
Tara sedang mengalami perundungan yang dilakukan oleh mantan sahabat-sahabatnya.
Nindy, dia yang dulu selalu merasa iri pada Tara sekarang bisa menyalurkan nafsunya untuk membully Tara.
Nindy mencari alasan agar dirinya dapat menyalahkan Tara, Nindy menumpahkan jus yang telah dipesannya, Nindy beralasan kalau Tara membawakan yang tidak sesuai dengan pesanannya.
Sedangkan teman-temannya hanya menertawakan apa yang telah Nindy lalukan, "Puas lo?" tanya Tara.
"Belum, gue belum puas sebelum liat lo bener-bener jatuh," ucanya dengan penuh kebencian.
"Kenapa? Gue punya salah apa sama lo?"
"Salah lo banyak, lo lebih cantik dari gue, lo juga lebih tajir dari gue, itu semua bikin gue muak sama lo yang di puji-puji dari bangku SMA sampai kuliah,"
"Jadi lo iri sama gue?"
Nindy tak terima dikatai iri oleh Tara membuat Nindy mengangkat tangannya hampir menampar Tara, kalau saja Bima tak menahan tangan Nindy.
"Jangan ikut campur," kata Nindy pada Bima.
Bima menjatuhkan tangan Nindy secara kasar seraya berkata, "Tangan lo nggak pantes nyentuh pipi semulus ini, apalagi menamparnya, dan gue bisa bawa kasus ini kekantor polisi, gue yakin orang tua lo pada bakal nangis mohon sama dia (menunjuk Tara) untuk bebasin lo pada," gertak Bima.
Mendengar itu membuat Nindy dan rombongan sedikit menciut kemudian Nindy mengajak teman-temannya untuk pergi.
"Kamu nggak papa?" tanya Bima pada Tara.
Bima mengusap wajah Tara yang terkena jus dan Tara dengan kasar menepiskan tangan Bima.
Tara merasa ini semua salah Bima yang bermain serong dengan Rindu dan menyebabkan dirinya menjadi miskin lalu dibully, sejenak Tara terdiam. Sepertinya Tara sekarang sedikit berterimakasih pada Bima.
Dengan kejadian itu Tara dapat melihat siapa aslinya Rindu dan teman-temannya yang didepan memuja dibelakang menusuk.
"Terimakasih sudah membantu," ucap Tara kemudian Tara membalikan badan dan melihat bosnya yang baru saja masuk kafe.
"Ada apa ini? Kamu kenapa?" tanya bos Tara.
"Tidak apa-apa pak, ini hanya kesalah pahaman saja," ucap Tara lalu dirinya kembali masuk ke pantry.
__________
Lian menjadi semakin dingin dan pendiam, saat ini dirinya sedang berada di ruang kerja untuk mempelajari berkas-berkas penting.
Ratna melihat perubahan Lian dan menganggap perubahan itu sebagai keseriusan Lian dalam bekerja.
Lian sangat tertutup pada siapapun terkait masalah yang sedang dihadapinya terkecuali dengan sahabatnya yaitu Randy.
Selesai dengan berkas-berkasnya, Lian melihat kunci motor miliknya dan kemudian mengambilnya.
Hmm, apakah Lian akan kembali kedunia balap liarnya?
Bersambung....
Yuk kak like love dan votenya ya. sampai jumpa diepisode selanjutnya.
soalnya ini kenapa tiba2 si nana meninggal? trus melinda sakit? sama amara berhubungan sma brian? dan brian tiba2 udah cerai sma melinda?
ini apa gue yang ngelengkah2 bacanya apa gimna sii😭
tapi perasaan gue liat ulang kagak salah bacanya🥲