Masih tahap revisi PUEBI 🙏
Andy Frederica, seorang mahasiswi magang di sebuah perusahaan multinasional. Suatu hari, ia harus berurusan dengan seorang presdir dingin yang sudah memiliki seorang istri.
Takdir mempertemukan mereka terus-menerus dan membuat Andy masuk lebih jauh ke kehidupan pribadi sang presdir. Mampukah ia bertahan dari jeratan cinta yang kapan saja bisa mengambil alih pikiran logisnya? Lantas, bagaimana dengan istri sang presdir?
"Ini bukan sembarang cincin. Bukan cincin pertunangan ataupun pernikahan. Cincin ini adalah simbol kalau aku adalah pembantunya. Dia adalah majikanku. Jangan pernah jatuh cinta pada majikanmu!"
"Apa!"
"Narsis sekali dia bicara begitu. Memang ini bukan cincin pertunangan. Apalagi cincin pernikahan. Ikatan cincin ini lebih sakral karena ini adalah cincin perbudakan!"
[ Andy Frederica ]
Genre : Adult Romance, friendship, family
Setting : Jakarta, Indonesia
Alur : Maju
Status. : Tamat 124 Episode
Cover : Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayu Assanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Penata Rias Pribadi
Tuan Asland mencondongkan sedikit tubuhnya ke arahku dan menatap lekat-lekat setiap inci wajahku. Wajah kami jadi berjarak sangat dekat. Aku tidak mampu bersemuka dengannya dalam jarak sedekat ini. Lantas kucari alasan agar dapat berpaling.
Tuan Asland mengambil sebuah ikat rambut. Ia mengumpulkan semua helaian rambutku kemudian mengikatnya jadi satu di belakang. Ketika melakukan itu, dapat kucium aroma wangi dari bagian dalam pergelangan tangannya.
Bunga-bunga bermandikan air hujan.
Oh, sungguh wangi. Keharuman yang sungguh memikat. Tiap kali menghirup aroma parfum Tuan Asland, aku seperti orang candu yang diberi obatnya.
Selesai mengikat rambutku, Tuan Asland membuka peralatan make up lalu mengambil sebuah botol alas bedak. Seketika itu pula aku terkejut.
'Astaga! Jadi Tuan Asland sendiri yang mau meriasku?'
"Apa Tuan pernah jadi penata rias, ya?" candaku sambil cengar-cengir.
"Dulu aku sering melukis. Itu sudah lama. Tapi merias wajah sama seperti melukis. Sama-sama menggambar. Bedanya kalau merias itu di wajah sedangkan melukis itu di kanvas."
'Oh, my Gosh! Sekarang mukaku dijadikan kanvas percobaannya!'
Tuan Asland membersihkan wajahku dengan tisu basah. Lalu mulai mengoleskan alas bedak ke permukaan kulit wajahku. Gerakannya lembut. Ia mendandaniku tahapan demi tahapan, sangat hati-hati agar hasilnya maksimal.
Dalam diam kuperhatikan wajah Tuan Asland. Matanya biru dan bening, membuatku ingin menyelam. Hidungnya mancung. Bibir tipisnya terlihat basah, lembut dan sensual.
Glek!
Aku bahkan sampai menelan saliva saat melihat bibir itu. Tanpa sadar kepalaku meneleng saking fokusnya. Alhasil, ujung kuas maskara yang akan Tuan Asland oleskan pada bulu mataku malah mengenai sudut kelopak mata.
"Aww...," decakku sakit.
Tuan Asland segera menjauhkan tangannya yang memegang kuas maskara.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya spontan.
Kugelengkan kepala pelan seraya memberikan senyum tipis. Ingin kuberitahu dia kalau aku baik-baik saja. Tuan Asland segera mengambil selembar tisu basah lagi. Ia memagut daguku dan sedikit mendongakannya. Pelan-pelan dia membersihkan noda dari kuas maskara.
Jarak kami yang sangat dekat membuatku bisa merasakan napasnya yang hangat. Tiap napas itu jatuh ke kulit wajahku. Selanjutnya ada embusan kecil di mata. Ternyata Tuan Asland meniup mataku yang terkena ujung kuas maskara tadi. Aroma udara yang keluar dari mulutnya segar, sesegar daun mint.
Aku berdebar luar biasa. Tanganku meremas kuat gaun yang kukenakan. Oh, perasaan ini. Begitu menyenangkan sekaligus menyiksa secara bersamaan.
Setelah berhasil menyapu bulu mataku dengan maskara hitam, Tuan Asland mengambil lipstik merah muda. Ia kembali memegang lembut daguku dan mendongakannya sedikit agar dapat mengoleskan lipstik tadi.
Hal terakhir yang Tuan Asland lakukan adalah memutar kursiku kembali menghadap cermin rias. Tuan Asland sendiri berdiri seraya mengambil sisir dari kotak yang berada di dekat cermin itu.
Ditariknya ikat rambut yang mengikat rambutku tadi, hingga kumpulannya tergerai bebas lalu mulai menyisir rambutku dengan gerakan dari atas ke bawah.
Tuan Asland tampak menikmati ketika sedang menyisir rambutku. Dia melakukannya secara lembut dan perlahan-lahan. Seakan ingin berlama-lama melakukan hal itu.
Aku yang terus memperhatikannya di cermin, menundukan pandangan. Kuakui ada getaran hebat muncul di hatiku. Getaran itu membuatku tidak tenang seperti perasaan yang bercampur-aduk.
Harus senang atau sedihkah aku dengan semua ini? Aku tidak tahu. Yang aku tahu getaran hebat yang ada di hatiku adalah kehangatan.
Hatiku menjadi hangat diperlakukan begini olehnya. Orang yang kunilai dingin selama ini, bahkan ia bisa menjadi percikan api yang menghangatkan di tengah dinginnya keheningan malam.
Dan ketika Tuan Asland menyelipkan rambutku ke sisi kiri telinga, semua debaran yang kurasakan pun berakhir.
"Sudah selesai sekarang. Di mana acaranya?" Tuan Asland bertanya menatap bayanganku di cermin rias.
"White Lines Lounge And Bar, Tuan."
"Ayo!" ajaknya.
"A-aku bisa pergi naik taksi, Tuan."
"Ini sudah malam. Jadi aku akan mengantarmu.."
"Ah, tidak apa-apa, Tuan. Aku bisa pergi sendiri, kok." Kutolak secara halus agar ia tidak tersinggung.
"Tidak! Aku akan mengantarmu."
Tuan Asland bersikeras hingga aku terperanjat mendengarnya. Pria itu akan mengantarku pergi? Bukan hal yang aneh bila hanya diantar pergi. Tetapi masalahnya adalah hatiku jadi bimbang.
Aku pun beranjak bangkit dari kursi. Tuan Asland yang masih memperhatikanku tiba-tiba mengangkat gaunku sedikit ke atas.
"Eh...." Berdecak kaget. "Apa yang Tuan lakukan?"
"Kamu memasangkan sepatu hitam dengan gaun merah muda? Itu tidak pas, Andy!"
Rupanya dia memperhatikanku sampai sedetail ini.
"Tidak apa-apa, deh. Gaunnya kan panjang. Sepatunya jadi tidak kelihatan, Tuan."
"Tapi itu tidak benar, Andy. Di mana sepatunya?"
"Di situ, Tuan." Kutunjuk lemari tempat menyimpan sepatu.
Tuan Asland mengambil sepasang sepatu kitten heels yang berwarna senada dengan gaunku. Ia mulai membungkuk, hendak memakaikannya.
"Eh, jangan! Jangan, Tuan. Biar aku sendiri saja." Sudah pasti aku segan bila dia melakukannya. Lantas kutarik ke belakang kakiku.
Namun, Tuan Asland tidak menggubris. Ia tetap melepas sepatuku. Setelah itu kejadian tak terduga terjadi.
"Haah!" Tuan Asland kaget bukan kepalang. Itulah yang kutakutkan. Dia melihat kuku kakiku yang jelek.
"Kamu perempuan, tapi kenapa kakimu menyeramkan seperti ini? Warna kukunya kuning. Kulitnya kasar. Tumit pecah-pecah." Tuan Asland memandang jijik.
"Itu karena ... itu karena...." Tidak mampu aku berkilah saking malunya.
"Sekarang tidak ada waktu lagi. Besok kamu harus pergi ke salon untuk memperbaiki kakimu."
Tahu-tahu Tuan Asland mengambil sebotol pewarna kuku warna biru gelap.
"Sementara pakai ini dulu untuk menutupi kukumu yang jelek ini."
"Ya, Tuan." Aku menurut saja.
Kemudian Tuan Asland memakaikan cat kuku pada kakiku. Beberapa saat setelahnya, kami pun keluar dari apartemen menuju White Lines Lounge And Bar. Tempatku bekerja dulu, tempat Yolanda mengadakan pesta ulang tahunnya.
Aku duduk bersebelahan dengan Tuan Asland yang sedang mengemudikan mobilnya. Pria itu jarang mengemudikan mobilnya sendiri. Biasanya Asisten June yang akan melakukan itu untuknya. Tetapi kali ini, kenapa Tuan Asland mau melakukannya untukku? Yang cuma seorang pembantunya.
Sepanjang jalan kami diam. Tidak berkata dan juga tidak saling melihat. Hanya musik Jazz yang diputar oleh Tuan Asland, yang menjadi bahan pencair suasana. Setibanya di White Lines Lounge And Bar, aku ingin segera turun dari mobil. Namun, panggilan Tuan Asland mencegahku.
"Andy...."
Aku menoleh. "Ya, Tuan."
"Ingat, jangan minum alkohol."
Tetiba aku terdiam. Aku mengerti maksud dari kata-kata Tuan, tetapi tidak bisa menjawabnya.
"Jangan minum alkohol," ulangnya sekali lagi. Dia nampak serius tatkala mengatakan itu.
"Ya, Tuan." Aku menurut saja agar Tuan Asland tidak khawatir lalu turun dari mobil.
***
BERSAMBUNG...
andykqn udh di katai prlacur di maluin pas tmt orang ramai di katai pembantu
coba andynya tegas sedikit thor punya harga diri gitu
jangan mudah luluh lg dengan aslannya
Apa novel nya sudah direvisi yak ?
coz aku caba dikolom komentar banyak yg bingung sama alurnya 😅
serem² nagih yg modelan begini
bisa untuk d rekom pada teman untuk d bacz