Aurora gadis desa yang penuh dengan misteri tentang masa lalunya. Ia datang mencari apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarganya di masa lalu. Ia hidup dengan identitas orang lain di besarkan oleh mantan pembantu ibunya sekaligus orang kepercayaan ibunya. Setelah berusia 21 tahun ia datang untuk mencari tahu penyebab ibunya mendekap di penjara dan kematian ayahnya yang masih melekat di ingatannya. Aurora kecil yang hampir kehilangan nyawanya karna ulah kejam sang ayah namun ia paham jika sikap ayahnya bukan seperti yang nampak di matanya. Setelah mendapatkan surat ucapan ulan tahun dari ibunya ia mencari sendiri kebenaran tentang dirinya. Bi inah mantan pembantu ibunya yang telah membesarkannya telah bercerita tentang masa lalunya namun ia merasa ada yang janggal ia memutuskan untuk pergi menemui keluarga ayahnya yang tak lain adalah dalang dari kekacauan keluarganya di masa lalu. Mampukah ia mengungkapkan beneran tanpa membongkar identitasnya. Kisah ini akan di bumbui dengan cinta segitiga yang berakhir tragis. akankah Aurora si gadis jenius mampu menghadapi kesulitan yang akan menghadang jalannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Era Nur agustina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30 Rasa tak percaya
Sinar mentari mulai menelusup dari balik kaca pesawat yang membawanya terbang. Pelan - pelan matanya mulai terbuka ia mengedarkan pandangannya masih di tempat yang sama pikirnya ia duduk di tepian ranjang kecil melihat dengan seksama pemandangan di atas awan yang memanjakan mata di liriknya jam tangan miliknya. Lalu menurunkan dengan malas di sisi tubuhnya. Suara ketukan dari pramugari membuyarkan rasa kantuk yang masih menggelayut di kedua matanya.
"Ya.. "
"Tiga puluh menit lagi kita akan sampai di bandara Sutta,Nona"
"Ya Baiklah"
Ia kembali dalam pikirannya mengumpulkan puing memori dalam otaknya ia kembali mengelus dadanya dengan pelan dan berhenti sejenak memikirkan sesuatu, lalu kembali ke dirinya lagi.
"Ponselku mana ya..." sambil melihat kiri dan kanannya ia mendapati tasnya di atas sofa kecil "Agh itu dia" ujarnya sambil melangkah mengambil ponsel di dalam tas miliknya. Begitu banyak pesan dan panggilan masuk
"Siiit... kenapa aku bisa lupa,nanti saja aku hubungi dia" ujarnya sambil menscrool ke arah bawah ponselnya mengecek pesan masuk dari seseorang yang membuatnya tersenyum manis melihat isi pesan itu dan tak lupa gambar yang di kirim di whatsapp miliknya
'Tunggu aku.' balasnya
Pesawat jet pribadi itu sudah mendarat dengan sempurna. Ia sudah membereskan keperluannya ia keluar dari pesawat dan mobil yang ia tunggu sudah datang. sebelum memasuki mobil ia berbalik dan melihat Sekertarisnya masih setia berdiri di sana
"Urusan kantor kamu tangani dulu cuti ku belum berakhir bukan"
"Ya Nona."
"Agh satu lagi barang barangku bawa saja kerumah dan kamu"
"Ya Nona saya" ujar sopir pribadinya
"Pulang dengannya aku mau menyetir sendiri."
"Ba.. baik Nona"
saat akan melangkah Linda memanggilnya
"Nona Muda Tunggu"
"Ya ada apa"
"Tuan Rehan menyuruh anda segera menemuinya dan empat hari lagi ada rapat internal pemegang saham, Nona"
"Baiklah aku temui dia nanti. Aku harus kuliah dulu" kelitnya
Ia lalu memacukan kendaraannya menuju tempat yang sudah ia siapkan. Ia sudah menghubungi orang suruhannya sejak di pesawat tadi dan mereka mengatakan bahwa semua sudah beres. Ia melajukan mobilnya ke sebuah hotel ternama sesampainya di sana ia sudah di sambut oleh beberapa orang suruhannya dan mereka menuju kamar yang di pesan olehnya. Saat ia masuk kamar itu sudah di hiasi dengan dekorasi yang apik nuansa putih dengan mawar putih. Ia lalu di rias oleh make up art profesional setelah selesai ia lalu menuju ke tempat yang sudah di sepakati di dalam perjalanan
"Halo,Mas....Mas udah nyampe ya"
"Ya Mas udah nyampe nih.. kamu di mana..?"
"Aku sebentar lagi sampai."
"Mas tunggu ya"
"Ya Mas..."
selang beberapa waktu ia pun tiba di sebuah Aula pernikahan di kantor urusan agama sempat. Tak ada pesta mewah seperti impian pengantin lainnya. Hanya beberapa orang saja bertindak sebagai saksi kedua mempelai hak perwalian di limpahkan ke wali hakim untuk Aurora. Ia turun dari mobil dengan perlahan ia berjalan di dampingi asisten perias yang sengaja ia bawa besertanya dengan syarat tak ada handphone atau alat komunikasi lainnya selain milik Aurora dan Dipta. Pegawai KUA pun sudah di beritahu oleh para pengawal Aurora. Nampak Dipta sudah berdiri di dekat meja penghulu menatap penuh kekaguman dan rindu pada sosok yang tengah berjalan pelan dengan pakaian kebaya putih senada dengan jas yang ia gunakan saat ini. senyum simpul tergambar jelas dari kedua insan itu. Mereka memilih menikah tanpa sepengetahuan keluarga dan teman mereka. Ini demi sebuah alasan besar yang harus mereka jalani. Aurora duduk tepat di samping Dipta. Acara segera di mulai dengan lancar ucapan kalimat akad terurai dengan penuh kesyahduan. Aurora menitihkan air matanya banyak rasa yang kini ia rasakan namun ketakutan akan berakhirnya kebahagiaan itu pun tak luput dari pikirannya. Saat setelah saksi mengucap sah Aurora mencium tangan Suaminya Dipta.
Setelah acara sakral mereka selesai. Mereka memutuskan untuk ke hotel tempat Aurora tadi bersiap. Mereka kini sudah menyandang status suami istri rasanya seperti mimpi.Ya mimpi yang menjadi kenyataan Dipta merangkul mesra tubuh Aurora dan membawanya kedalm pelukan hangatnya sambil mengelus lembut rambut wanitanya yang sudah tergurai sesekali mengecup puncak kepalanya sambil menatap pemandangan tepi laut dari jendela kamar hotel
"Mas ini masih siang... Jangan memulai aku lelah"ujarnya namun Dipta terkekeh pelan mendengar ucapan Aurora
"Iya,Kamu ngak kangen apa sama Mas, Dua hari loh kamu ngak ketemu Sama Mas"
"Kangen lah Mas tapi kan kita sering telponan ya tahu sendiri Jakarta - Kanada gimana kalau aku melek,Masnya udah bobo" ujarnya masih dalam pelukan sang Suami. Dipta kembali terkekeh
"Ya Mas tahu, gimana selama di sana lancarkan"
"Eemmm... Ya ngak sia - sia aku nahan rindu,Mas. Karna proyeknya gol "
"Wah... wah... ternyata istriku ini hebat. lebih jago dari dosennya yach... hhhhmmm"
"Hehhehe... iya dong pak dosen" sambil mendongakkan wajahnya keatas. Pandangan mereka saling mengunci tak dapat di pungkiri pesona Pria yang berada di depan matanya mampu meruntuhkan segalanya. Kini bibir mereka bertaut mengulam rindu dari milik masing masing dengan rasa yang makin bergairah berpacu dengan rasa gemuruh di hati mereka meluapkan rasa kasih dan cinta yang selama ini mereka jaga. Semakin larut dalam permainannya kini sudah tak ada batas yang menghalagi keduanya saling meminta dan mengiyakan. Berlanjut ke permainan yang lebih di mabukkan oleh rasa cinta yang bergelora. Bercinta dua insan itu masih bergelut dengan permainan mereka berkali kali d*s***n lolos dari bibir Aurora. Ia tak berdaya dengan cinta yang kian berakar di hatinya merengguh kenikmatan bersama, melewati hari yang begitu indah
"Aku ingin kamu selalu sama Mas"
"Mas kita sudah pernah bahas soal ini kan. Aku sudah siapin semuanya,Mas. "
"Tapi mas ngak akan bisa jauh dari kamu,"
"Satu bulan..."
"Ya baiklah satu bulan."
"Aku akan pindahin barang barang ke apartemen kita"
"Apartemen kita. Bukannya apartemen Mas"
"Kalau ibu tiba - tiba datang gimana Mas. Aku ngak mau sampai ketahuan dulu... ya... ya... ya"
Dipta terdiam nampak berpikir lalu tersenyum dan mengangguk pelan. Apapun demi wanita yang di cintainya tak akan ada penolakan
"Tapi setelah ini. kamu ngak boleh pergi lagi dari Mas"
"Ya.... bawel..." ujarnya sambil mencium bibir suaminya.
****
Hari yang melelahkan baginya ia masih di sibukkan dengan beberapa tugas kuliah yang menumpuk sebab beberapa hari ia izin tak mengikuti perkuliahan. Ia masih fokus dengan laptop di depannya sembari menyedot minumannya dari pipet. Ia bahkan tak menyadari kedatangan Yudis yang sejak tadi memasang tampang menyeramkan.
"Kamu kemana ajah beberapa hari ini"
"Lagi sibuk" masih fokus ke laptop
"Kamu lupa janji kita"
"Maaf"
"Segitu dinginnya ya kamu sama aku, Ra"
Aurora mengeryitkan alisnya satu dan menatap kearah Yudis
"Heh... Aku,Kamu..." ujarnya lalu kembali menatap laptop nya sambil memainkan pipet di dengan mulutnya.
"Kenapa salah"
"Ngak sieh aneh ajah... Aku, Kamu kan biasa di pakai buat sapaan ke seseorang yang lebih intim" ujarnya santai
"Lebih intim, apa kita bisa" tanya Yudis. Mata Aurora melotot sempurna sambil kembali menatap wajah Yudis yang nampak serius dengan ucapannya
"Jangan ngaco,Lu"
"Kenapa... Ngak bisa... Gue suka sama Lu, Ra ngerti ngak sieh. Tapi lu cuek dingin ke gue."
"Jangan ngarep lebih, Yud Lu bakalan sakit nanti. Gue cuma ngasih tahu lu dari awal Lu temen gue sama posisinya dengan Bella"
"Kenapa ngak bisa lebih, Apa karna dosen muda baru itu. Lu ama dia akrab banget"
"Bukan urusan Lu"
"Ya jadi urusan gue lah karna lu gadis yang gue cintai" ujarnya frontal sukses membuat Aurora tercengang. Ia tak tahu jika Yudis mencintainya ia mengira Rasa Yudis tunjukkan cuma kagum dan suka tak lebih mendetail seperti itu
"Harus berapa kali gue bilang ke Lu, Yud... jangan berharap lebih. Gue sama Lu ngak akan bisa sama - sama. buang jauh jauh degh perasaan lu ke gue"
"Ya kenapa, Ra? alasannya apa.. kalau bukan Pak Dipta terus apa... jelasin ke gue"
Aurora menghela nafasnya pelan dan mengambil sebuah amplop besar dari tas punggungnya. Ia letakkan di atas meja dan menyodorkannya di hadapan Yudis
"Ini Apa.." tanya Yudis sambil memegang amplop itu
"Jawaban atas pertanyaan Lu selama ini. Sebaiknya Lu tanyai ke Bokap minta penjelasan ke dia tentang Lu dan Gue" ujarnya sambil menutup kasar laptopnya dan berlalu meninggalkan Yudis dengan seribu pertanyaan di benaknya. ia terus melangkah meninggalkan Yudis 'untung ajah Mas Dipta lagi ngak ke kampus hari ini kalau dia ngeliat tadi bisa amsoyong gue nyampe rumah ngak bakalan di kasih tidur' gumamnya sambil berkidik ngeri membayangkan hukuman apa yang akan di terimanya jika sampai ketahuan seseorang nyatain cinta dengan istrinya.
Yudis mulai membuka amplop itu dengan tergesa gesa dan penuh emosi ia mulai membukanya melihat dan membaca isi dari amplop itu. Mulai dari data dirinya yang asli dan surat tes DNA serta foto - foto bayi dan masa kecilnya bersama kedua orang tuanya. Mata Yudis membelalak melihat selembar foto keluarga yang terdiri dari kedua orangtua dan seorang gadis kecil yang di yakini itu adalah Aurora. Rasa tak percaya.
Ia menarik nafasnya ada sesak yang menghantam dadanya gadis yang di sukainya yang di cintainya adalah saudaranya sendiri.
'Ayah, Yudis minta penjelasan soal ini' pesannya pada ayahnya setelah mengirimkan foto itu ke ponsel milik ayahnya.
Babak baru akan bermula pantengin terus ya.....jangan lupa like dan krisan nya