Gendis tidak pernah menyangka di umurnya yang baru menginjak 17 tahun ia sudah harus menyandang status sebagai calon istri seorang Dewa Ganesha, seorang tentara yang memiliki jarak usia tiga belas tahun dengannya.
"Gue mau mati aja, hiks."
Gendis Mahesa.
Demi neneknya yang sudah merawatnya sejak bayi, Dewa melepas kebebasannya sebagai lelaki merdeka. Ia yang terbiasa sendiri dan hidup bebas menikmati kepopulerannya dimata para wanita harus terikat dengan seorang gadis yang baru saja lulus SMA yang kini sedang menempuh pendidikan di luar negeri sebagai calon ilmuwan.
"Anjaaaay! Gue mau nyentuh ni anak berasa ******* bangat."
Dewa Ganesha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LeeGo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ribut
Gendis tengah berada di kamarnya ketika mbok memberitahunya bahwa ada keluarga Guntoro sedang bertamu. Gendis yang mengenal sepintas keluarga itu merasakan ketidaknyamanan mendengarnya. Entah apa yang dilakukan keluarga itu di rumahnya yang pasti jika mengingat kelakuan Gerald putra sulung Guntoro, Gendis tak bisa memikirkan hal baik. Orang itu selalu mengganggunya sejak dulu. Ada saja alasannya untuk menemui dirinya. Ganteng sih tapi untuk apa kalau psiko.
"Harus bangat Gendis turun ya, Mbok? "
"Kata Mami Non sih gitu."
Gendis menghela nafas gusar. Ia belum lama pulang dari tempat Dewa dan baru saja mengistrahatkan badannya setelah bersih-bersih.
"Yaudah, bilangin Mami Gendis udah mau turun. "
"Baik, Non." Mbok pamit untuk turun kebawah sedangkan Gendis dengan malas-malasan mengganti pakaiannya dengan yang lebih tertutup. Mungkin cuma perasaannya tapi tatapan Gerald padanya kadang membuatnya tak nyaman. Jenis tatapan tak sopan yang paling Gendis tidak suka.
Setelah mengganti pakaiannya dengan blouse lengan panjang dan rok sebetis, Gendis turun kebawah menemui tamu yang tak diundang itu.
"Selamat malam. " Sapanya lembut membuat lima orang di ruang tamu itu menoleh.
"Malam Gendis. "
Gendis menyalami semua tamu di ruangan itu dan giliran menyalami Gerald, laki-laki itu tak lekas melepas tangannya.
"Kamu cantik bangat." Ujar mulut playboy itu. Gendis tersenyum dipaksakan.
"Terima kasih. Tolong tangan saya dilepas. " Ujarnya tanpa menutup-nutupi ketidaksukaanya. Kedua orangtua Gerald saling melirik tak nyaman. Sedangkan Gerald yang memang dasar muka badak malah tersenyum lebar.
"Sini sayang, duduk. " Mami Gendis mengajak putrinya untuk duduk di kursi kosong disampingnya.
"Masih ingat Mas Gerald kan Ndis? " Tanya Papi lembut. Seperti biasa keluarga ini meskipun tidak menyukai sesuatu tetap menjaga adab sopan santun terhadap orang lain.
"Masih, Pih. Sering liat juga di hotel biru. Yakan Mas? "
Gerald yang tadinya tersenyum lebar langsung diam tak nyaman. Siapa yang tidak tahu hotel biru tempat para pekerja malam menjajakan diri. Gendis biasa kesana dengan misi sosialnya dan tak jarang melihat Gerald datang sebagai tamu VVIP. Yah, manusia berduit yang sayangnya moralnya nol.
"Biasa Om, namanya bisnis. Om tau sendiri para clien suka tempat-tempat anti mainstream." Kilah Gerald yang diangguki oleh Bapak dan Nyonya Guntoro. Sementara Gendis tampak tak berdosa bersikap seolah memang tidak ada yang salah. Dia juga paham kehidupan glamour para manusia bau duit hanya saja ia tidak mau masuk dalam lingkaran itu. Dia suka hidup yang sederhana sebab orangtuanya selalu mengajarkan tentang kerendahan hati dan rasa syukur bukan mendewakan kedudukan dan kekuasaan apalagi uang.
"Gimana kuliahnya Ndis, lancar? Hebat loh bisa diterima di kampus bergengsi. " Nyonya Guntoro membuka topik baru. Ia tidak mau putranya terjebak pada situasi yang tidak menguntungkan.
"Lancar, Tan. Ini bentar lagi Gendis balik kesana. " Jelas Gendis begitu manis. Memang raut mukanya terlampau ramah bisa menipu orang-orang yang tidak mengenalnya. Dari wajah Gendis terlihat seperti yang mudah di bohongi tapi sebenarnya gadis ini cukup pedis dan licin. Susah ditaklukan.
"Beruntung ya Jenk Kadek punya putri sebaik ini. Beruntung juga nanti yang akan mendapatkan Gendis. Udah cantik, baik hati, dari keluarga terhormat, kuliahnya di tempat bergengsi juga.”
"Sayang saja tidak mengambil jurusan bisnis.” Sambung Tuan Guntoro dengan nada meremehkan.
“Kami memang tak mengharuskan Gendis sekolah bisnis. Kami membebaskannya memilih apapun yang penting dia happy.” Ujar Papi tersenyum lembut pada sang putri. Gendis melirik papinya, yah yang kemarin itu cuma prank kali ya?!Batinnya.
"Saya setuju sama Om. Yang terpenting memang kebahagiannya orang yang kita sayangi.” Ujar Gerald sembari menatap Gendis penuh maksud.
"Iya. Pak Made dan Bu Kadek orangtua yang bijaksana. Pasti akan memilih juga pasangan yang tepat kan untuk putri mereka yang tersayang ini?!“ Nyonya Guntoro memamerkan senyum khas sosialitanya.
Mami Gendis tersenyum kecil, ”Tentu saja. Gendis anak kami satu-satunya.” katanya sembari mengelus lengan Gendis yang mulai menerka-nerka maksud dari semua ini.
"Berarti kita bisa melanjutkannya kan, Pak Kadek?” Nyonya Guntoro menoleh pada Papi Gendis yang memberikan senyum kecil.
"Melanjutkan apa, Pih?” Gendis tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Rencana pernikahan kita, Ndis.”
"APAAA?”
"Iya, Gendis. Kedatangan kami kesini untuk melamar kamu seperti yang Gerald bilang tadi.” Kata Nyonya Guntoro membuat Gendis menatap tak percaya Mami dan Papinya. Jadi maksudnya yang tadi pagi itu apa?Perjodohan dengan Dewa dibatalkan tapi perjodohan dengan orang lain diatur?Begitu?
"Pi, Mi, ini apa?Bukannya tadi pagi--”
"Nanti papi jelaskan sekarang kita makan malam dulu. Obrolan ini akan kita lanjutkan sebentar.” Ujar Papi kalem, ”Ayo Pak, Bu, Mas Gerald.” ajak papi terlampau ramah membuat Gendis tak bisa berkata-kata.
"Mih, ini maksudnya apa?” Gendis mengguncang bahu Maminya dengan wajah panik. Kenapa kedua orangtuanya jadi seperti ini?
"Udah tenang. Percaya sama Papi.”
“Gimana Gendis bisa tenang, Mih. Ini papi udah keterlaluan.” Gendis rasanya mau mati saja sekarang. Ya Tuhan, apa salahnya sih sampai harus mengalami semua ini?
“Ayo Gendis.” Panggil Mami yang ternyata sudah berada di ruang makan dengan para tamunya. Bagaimana ia bisa menelan makanan jika nasib masa depanya kini terancam?Sekarang ia harus apa?
***
Gendis terbangun dengan mata sembab. Semalaman ia menangisi keputusan orangtuanya yang ingin menikahkannya dengan Gerald. Ia tak menyangka penolakannya pada Dewa berakhir dengan dia yang harus menikah dengan putra dari orang terkaya nomor ke delapan belas di negara ini. Gerald ganteng jika ingin membicarakan masalah fisik. Dia memenuhi kriteria sebagai calon suami yang diidam-idamkan oleh para wanita. Berduit, berkedudukan, bertampang oke, berpengaruh dan banyak ber-ber lainnya tapi orang ini tidak berotak. Yang ada dikepalanya hanya bersenang-senang dan Gendis jelas saja tidak menyukainya.
Gendis bergegas turun dari ranjang dan membersihkan dirinya. Ia harus meminta penjelasan kepada kedua orangtuanya. Ia tidak mau menikah dengan Gerald atau siapapun. Dia belum mau menikah itu intinya. Setelah mengganti pakaian, Gendis langsung menemui Mami dan Papinya yang tengah sarapan di taman belakang. Keduanya tampak sangat asik bercanda bahkan sama sekali terlihat tidak memperdulikan perasaannya disini.
"Pih, Mih.” Ucapnya pelan.
"Pagi sayang. Sini dudu. Sarapan sama mami papi.” Maminya menyambut Gendis dengan riang. Gendis benar-benar dibuat bingung. Mereka berdua orangtuanya kan?Bukan orang jahat yang menyamar?
"Gendis nggak laper, Mih. Gendis mau ngomong sama Papi.” Ujar Gendis dengan suara datarnya. Papi yang sedang memberi makan ikan-ikan hiasnya menoleh.
"Mau ngomong apa sayang?”
Sayang, sayaaang, masih bisa sayang-sayangan setelah yang papi lakuin?!Maunya Gendis mengatakan itu tapi tidak sopan kan.
"Papi nggak serius kan mau nikahin Gendis sama putranya Pak Guntoro?Bukannya papi kemarin udah bilang kalau Gendis boleh lanjutin kuliah di inggris lagi?!”
"Memang. Tapi kan kuliah nggak menghalangi sayang.”
"Nggak bisa dong papi. Papi juga udah batalin kan perjodohan sama Bang Dewa?!Tapi kenapa malah gini lagi?”
Papi tersenyum kecil. Ia duduk di kursi kosong dan meminta istrinya menyuapinya. Benar-benar orangtua yang aneh. Dalam situasi kacau begini kenapa mereka masih bisa bersikap tidak terjadi apa-apa sih?
"Kamu benar, Sayang. Perjodohan dengan Dewa memang batal tapi lelaki di dunia ini bukan hanya Dewa kan?Ada Gerald juga.” Ujar Papinya santai. Terlampau santai. Gendis harus terus mengulang-ulang bagian ini.
"Gendis nggak mau Pih. Dari pada sama Gerald mending juga sama Bang Dewa kemana-mana.” Katanya tak terima.
Papi dan Mami saling melirik.
"Tidak bisa dong sayang. Kita nggak mungkin melanjutkan perjodohan dengan Nak Dewa setelah kita menolaknya. Keluarganya pasti tidak terima. Terima aja ya, Gerald baik kok kalau kamu bisa sabar.” Mami menyodorkan roti pada putrinya, ”Makan dulu, sebentar kita ketemuan sama Gerald dan Ibunya.”
"GENDIS NGGAK MAU MAMI--HIKS." Gendis menangis histeris. Kali pertama kedua orangtuanya melihat sang putri seperti itu.
"Tapi sayang--”
"Pih. Udah dong jangan jodohin Gendis, hiks.” Pintanya dengan berurai airmata. Ini sangat tidak adil untuk dirinya.
"Maafin Papi sayang tapi ini semua demi kebaikan kamu. Apapun yang terjadi kamu tidak bisa menolak. Papi akan menerima lamaran Gerald untuk kamu.”
"Nggak mau miii, piih. Yaudah, nikahin aja Gendis sama Bang Dewa. Gendis nggak mau sama Gerald, Mi. Mami tau sendiri kan kalau Gerald orangnya nggak bener. Mami tega sama Gendis?”
"Untuk kebaikan kamu dan perusahaan, Ndis.” Kamu tega membiarkan pegawai kita yang ribuan itu kehilangan pekerjaan?Anak istrinya nanti makan apa. Kasian kan?”Ujar Mami lembut seraya mengusap bahu putrinya. "Kita juga nggak mungkin balik sama Dewa. Kamu sudah menolaknya.”
Gendis menggelengkan kepala tak mau mendengar. Airmata mengalir deras di pipinya. Ia harus bikin apa sekarang?
"Tapi Mih, Pih, Gendis nggak mau.”
"Kita tidak punya pilihan, sayang.”
Jadi seperti ini akhir nasibnya?Terjebak dengan orang yang salah selamanya?Tidak, ia harus melakukan sesuatu. Dewa. Dewa pasti bisa menolongnya.
***
Gendis memegang handphone sambil menangis. Sejak tadi Dewa tidak mengangkat telfonnya. Chatnya terkirim tapi tidak dibaca. Kemana orang itu?Biasanya walaupun di kantor tetap bisa mengangkat telfon atau membalas chat tapi sekarang tidak sama sekali. Ia sudah mengirim pesan pada para The Girls dan kerusuhan pun tidak bisa terelakan. Gendis hanya memberitahukan bahwa pernikahannya tetap di lanjutkan tanpa menjelaskan lebih lanjut. Ia belum siap bercerita lebih banyak. Yang dia butuhkan sekarang adalah Dewa. Tapi saat ia butuh sekali abang satu itu malah menghilang sudah seperti avatar saja. Ini bukan hanya negara api yang menyerang tapi seluruh alam semestanya akan hancur kalau ia jadi menikah dengan pewaris tahta Guntoro.
"Angkat telfonnya dong Bang, hiks.” Gendis mengusap airmatanya kasar. Ia duduk di halte, bingung harus kemana karena menggunakan kartu ATM akan memudahkan kedua orangtuanya melacak keberadaannya. Jadi dia kabur lagi sekarang?Tidak. Gendis tidak kabur karena kabur pun ternyata tak menyelesaikan apapun. Ia akan menghadapi semuanya tapi untuk sekarang ia butuh ketenangan dan butuh Dewa. Hanya orang itu yang bisa menolongnya. Gendis makin galau melihat baterai hpnya yang tinggal beberapa persen.
Dilain tempat Dewa baru saja menyelesaikan laporannya. Sebentar lagi jam makan siang. Sialnya ia lupa membawa hpnya untuk memesan makanan. Adik angkatannya tidak bisa diharapkan karena ditanggal tua seperti ini para bujang itu bahkan harus mengutang di kantin untuk bertahan hidup. Jadi bagi para wanita diluar sana yang menginginkan kekasih seorang abdi negara sebaiknya di pikirkan ulang karena mereka ini hidupnya pas-pasan. Pas-pasan ada makanan, pas-pasan ada tempat tinggal, pokoknya sederhanalah. Tapi tentu saja tidak mengurangi rasa cinta terhadap pekerjaan mereka. Apalagi saat memakai seragam pesona kaum kacang ijo tuh pasti bertambah berkali-kali lipat. Tak salah banyak wanita yang mau dengan mereka. Tidak salah juga Dewa punya banyak partner.
"Tidak ke kantin, Bang?” Tanya salah satu rekan seruangannya kala melihat Dewa berjalan kearah lain.
"Gue nyusul. Mau ngambil hp di asrama.” Katanya lalu melambaikan tangannya pada rekannya itu. Ia mengendari motornya lalu pulang ke rumah. Hpnya tadi tidak sengaja ditinggal saat ia mencashnya.
Dewa tiba di rumah langsung mengambil hpnya yang sudah terisi penuh. Ia melihat banyak panggilan masuk dari tiga nama berbeda, Sandra, Gendis dan Aleksis. Ada apa dengan para gadis muda ini?
Dewa membaca pesan yang masuk dan dari ketiga pesan yang ia terima dua pesan itu isinya sama yaitu ancaman pada dirinya jika berani menyakiti Gendis.
"Apa-apan nih para bocah?Pake ngancem-ngancem. Emang gue takut apa?” Dewa menggumam sendiri namun saat membaca pesan lainnya keningnya makin berkerut. Pesan Gendis tentang ajakannya untuk menikah. Ini ada apa?
Sender
Si tuyul 🐇
Abang, mau ya nikahin Gendis. 😭
Kenapa nih?
Dewa yang niatnya hanya pulang mengambil hp langsung menghubungi nomor Gendis namun beberapa kali di telfon nomor itu malah tidak aktif. Dewa tidak memiliki pilihan lain selain menelfon Sandra dan Aleksis meskipun sebenarnya sangat malas berurusan dengan para gadis berisik itu.
Tuuuuut.... tuuuuut....
Tak lama menunggu seseorang langsung menjawab panggilannya.
"Awas ya Om kalau sampe temen gue kenapa-kenapa?Gue acak-acak tuh batalyon. Gak peduli gue kalau harus di penjara sekalipun.”
Sungguh sapaan yang sangat ramah.
Dewa menjauhkan sedikit gawainya. Tak kuat mendengar pekikan Sandra. Cantik-cantik kok bar-bar.
"Heh, anak kecil ngomong apa sih?Gue telfon baik-baik juga.” Balas Dewa tak kalah sewot. Emang mulut cewek kan, ”Teman lo mana?”
"Orangtua macem lo tuh nggak usah banyak gaya. Pake mau nikahin anak muda. Sadar diri Woe!Lo ditolak.”
"Nggak sopan ya lo?Buruan gue nggak ada waktu ngeladenin bocah PMS. Mana Gendis?”
Sandra masih misuh-misuh dibalik telfon, ”Ini kita juga lagi nyari. Hpnya nggak aktif. Ini semua gara-gara Om. Kalau Om nggak--“
"Ck. Berisik.” Dewa menutup telfon sepihak. Wajahnya kusut. Ia lapar dan sekarang ada lagi masalah dengan tuyul kecil itu. ”Ketahuan lo kabur lagi, awas lo ya yul. Gue kawinin di tempat.” Ucapnya kesal. Baru juga selesai satu masalah, ada lagi yang baru.
Dewa mengentik satu nama lalu mendial tombol hijau, ”Halo, Om. Ini Dewa. Gendis kenapa, Om?” ia mendengar dengan seksama penjelasan Papi Gendis. Lama-lama senyumnya mengembang, ”Gitu ya Om. Baik, saya tunggu alamatnya.”
"Yaelah si bocah.” Dewa tertawa pelan memandangi layar hpnya. Ia bisa makan siang dengan tenang sekarang.
***
Kami kembali lagiiiii
Happy reading, kalau ada typo maklumin yaaaa 😁
makasih banyak ya ❤🥰💪
sukaakk bangeett sama kebucinan Gendhis Dewa 😍😍