Harya Aditya Mura, seorang pemuda yang hidup dalam kesederhanaan di desa ternyata bukan sekedar pemuda desa biasa.
Satu persatu orang datang padanya dan menyuruh nya untuk pulang ke rumah. tetapi bukannya rumah nya di Desa?
Rahasia apa yang selama ini disembunyikan darinya? tidak, rahasia apa yang tidak diketahuinya selama ini.
Kisah perjalanan seorang pemuda Desa yang ingin mencari tahu siapa dirinya setelah ditimpa kemalangan saat masih kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloud_white, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Setelah kejadian yang lumayan mengejutkan itu, Harya dipaksa tinggal di Kediaman Keluarga Rayendra oleh Keluarga nya disana tetapi, ia masih harus menjaga Agam dan Lala yang masih ditinggal oleh bu Bella.
Harya masih tetap berada di Kost nya dan sekarang ia tengah duduk di teras sambil menikmati kenikmatan kopi hitam yang tak kalah tandingannya sambil melamun.
"Aku akan beritahu Mbah dan Nenek, kira-kira kapan waktu yang tepat ya" ucap Harya pada dirinya sendiri yang juga bingung bagaimana cara memberi tahu Kedua Orang Tua itu
Saat asik sedang berpikir, Telfon Harya berdering karna diTelfon oleh Rama secara mendadak.
"Halo? Assalamualikum ada apa libur-libur begini nelpon?" tanya Harya di ujung Telfon
"Bisa datang kerumah ku? Ibu ku mau ngajak teman-teman Kampus makan di rumah ya...cuman kau ama Arsyi aja sih"
"Alamat nya? Arysi udah sampai atau belum?"
"Si Arsyi dah sampai, ini lagi asik nonton TV disebelah ku dan alamatnya...jalan aja ke bagian Selatan Kota terus tanya dimana Kediaman Keluarga Arshad"
"Oh okelah kalau begitu"
Harya segera bersiap-siap mengenakan pakaian sopan dan menyisir rambutnya agar makin tampan dan kece, Harya menuruni tangga Kost dan mendapati Agam dan Lala tengah menoton TV bersama di bawah.
"Halo adik-adik kak Harya, kak Harya jalan sebentar ya...ada urusan" ucap nya membuat kedua bocah itu menoleh
"Pulang bawa kue" jawab mereka serempak dan kembali menatap TV
Harya memasang wajah malasnya, sekarang ia benar-benar seperti seorang kakak yang mengurus adiknya saat ditinggal pergi dan mau tak mau ia turuti saja kalau tidak...Lala akan menangis semalaman hadeh.
Harya mengambil sepeda kesayangannya walau sudah ditawari kendaraan lain oleh Tuan Harma namun apa daya lah bagi Harya yang masih ragu akan itu.
"Kira-kira nama asli si Rama siapa ya, dan kata Ibu mereka akan mengurus masalah Dokumen-Dokumen yang menyangkut Identitas ku" ucap Harya terus fokus kedepan
Sebuah mobil yang tak asing lewat disamping nya dan tak lupa membunyikan klakson dan berhenti tepat disitu, pintu jendela terbuka secara perlahan dan menampilkan seorang kakek tua dengan kece nya.
"Ngapain kamu jalan-jalan naik sepeda lagi Arya!" ucap kakek tua itu membuat Harya menampilkan ekspresi wajah yang aneh
"Ka...kakek...hanya mau pergi ke rumah kawan saja, kakek mau kemana emang?" jawab Harya pada kakek yang ternyata Tuan Arsenal
"Barusan dari Perusahaan, tunggu Kakek sebentar" ucap nya dan keluar dari Mobil mewah itu dan memegang stang sepeda Harya
"Mau...ngapain kek?"
"Turun sebentar aja Arya"
Harya turun dari sepeda nya dan membiarkan Tuan Arsenal mengambil alih seluruh sepedanya, tanpa basa-basi Tuan Arsenal langsung meluncurkan tendangan nya ke sepeda Harya membuat ia teriak bukan kepalang.
"KAKEKKK AAAA SEPEDA HARYA MAU DIAPAIN?!" paniknya disaat salah satu besi sepeda nya sudah bonyok karna ditendang
"Udah diem aja, Ahren pegangin ini anak supaya tidak ganggu" perintah Tuan Arsenal yang langsung di patuhi oleh Ahren
Tangan Harya disekap kebelakang oleh Ahren dan ia dipaksa menyaksikan bagaimana sepeda kebangaan nya yang luar biasa di eksekusi secara publik.
Tendangan, hantaman bahkan bantingan disaksikan Harya dengan mata kepalanya sendiri, kekasih tercintanya yaitu sepeda gunung kesayangan nya kehilangan nyawa saat itu.
"Se...sepedaa..."
Tuan Asenal menyeka keringat nya dan berbalik menatap Harya yang lemas bagaikan jiwa nya sudah diangkut naik kelangit, senyuman terbaik nya ia perlihatkan pada Harya.
"Nah kalau begini kan bisa naik mobil saja" ucap bahagia Tuan Arsenal
"Tapi...sepedanya mau dipakai buat kerja..." jawab Harya lemas bahkan tubuhnya bisa saja ditiup angin
"Ya tinggal beli motor, mau kemana kamu Arya biar diantarkan" ucap Tuan Arsenal
Mereka kembali masuk kedalam mobil dan Harya harus dibantu Ahren karna kakinya lemas sekali membuat Ahren tersenyum canggung.
"Tuan Muda Harya mau kemana? biar saya antar" tanya Ahren di kursi pengemudi
"Ke..Kediaman Arshad paman Ahren, tolong" jawab Harya dan perintah itu diterima
Selama perjalanan tak ada satu pun yang bersuara atau memulai percakapan dan akhir nya Tuan Arsenal menyerah.
"Harya, nanti Nenek kamu bakal datang mau ketemu..Nenek orang nya agak emosional dan sedikit sensi jadi bisa dibilang lebih lebay lah" ucap Tuan Arsenal membuat Harya duduk dengan tegap lagi
"Nenek? apa itu Nenek Istri nya Kakek?" tanya nya serius
'Sudah kuduga kalau kau pasti akan tertarik' batin Tuan Arsenal senang
"Ya, dia itu wanita yang sangat merepotkan dan mudah tersentuh akan hal-hal biasa, sekarang dia lagi berada di Canada bersama paman mu dan istrinya cih...suami ditinggal malah ketempat anak" ucap Tuan Arsenal dan mencibir di akhir nya
"Kenapa Nenek di Canada? lalu apa Ayah punya saudara" tanya Harya bersender di kursi belakang Mobil
"Ayah mu punya seorang Kakak yang dulu melarikan diri dan sekarang malah nikah di Canada, Nenek pergi kesana untuk menghadiri pernikahan mereka tapi malah nggak balik sampai sekarang hah..." jawab Tuan Arsenal
"Ya sabar, makanya peka dikit dong Kek...masa gitu aja nggak tau, itu artinya Nenek minta di samperin trus diajak pulang bareng" ucap Harya meledek dan melipat tangannya di depan dada
"Hih, bentar lagi juga pulang gara-gara berita kamu sudah ditemukan, pas kamu hilang dulu beh...yang paling sedih Nenek sampai mau lompat dari Jembatan Visbridge yang dibawahnya sungai dalam itu" jelas Tuan Arsenal panjang lebar
"Yang benar?!"
"Yaiyalah, yang Kakek bingungkan...ada ya...orang mau bunuh diri lompat dari Jembatan tinggi tapi pakai tali pengaman" ucap Tuan Arsenal membuat keadaan di dalam mobil hening karna sibuk meledek Tuan Arsenal dalam hati
Perjalanan menjadi tak terasa karna adanya Tuan Arsenal yang selalu melawak dan Ahren yang hanya diam tapi kesal, Harya yang sudah tiba di Halaman depan Kediaman Arshad segera turun dan mencium punggung tangan Kakeknya.
"Dah ya, Harya main dulu" ucapnya dan melepaskan tangan Kakeknya
"Mantap banget Cucu ku, nanti kamu Kakek pamerkan ke teman-teman Bisnis biar merek tau" jawab sang Kakek bahagia
"Yakali dipamerin, memang nya Harya itu barang apa Kek...yasudah Kakek hati-hati dijalan nya" ucap Harya dan Mobil itu pergi menjauh
Harya diam-diam terus menatap Mobil itu hingga benar-benar hilang dari pandangan nya, seketika ia teringat akan sesuatu.
"LAH...HARYA PULANGNYA GIMANA?!" gumam nya sendiri
Karna malas memikirkan hal itu, Harya segera berjalan kearah pintu besar yang dilihatnya dan mengetuk pintu itu pelan.
Tok...Tok...Tok
"Rama...main yuk"
Pintu dibuka dan menampilkan seorang gadis yang cantik paras nya dan lembut suara nya, ia memakai pakaian sopan dan membukakan Harya pintu.
"Masuk Mas , pasti teman nya Mas Rama kan...eh?!"
"EH?!"
"KAMU!" ucap mereka berbarengan
...----------------...
Maafkan saya karna lama, beberapa hari yang lalu Mangatoon saya sedikit....ya begitulah.
jadi Draft milik saya terhapus sebentar saat itu, mau tidak mau harus menunggu keesokkan harinya.
udah baca dari awal endingya kaya taaaai anjiiing..
Emang Noveltoon anjiiiing