Bulan gadis 18 tahun terpaksa menikah dengan Bharata, majikan ibunya karena dijebak.
Karena tidak ingin ibunya dipenjara, Bulan terpaksa menjadi istri ke 3 Bharata yang sudah berusia 39 tahun.
Tetapi setelah menikah, Bharata justru kecewa karena dibalik wajah innocent Bulan, dia menyimpan rahasia besar.
Bulan ternyata adalah sugar baby sahabatnya sendiri yang bernama Satria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIE INSTAN
Pulang dari kampus Bulan segera mendatangi kamar Dilla. Dia ingin melihat kondisi wanita itu.
"Mbak Dilla lagi sakit?" tanya Bulan.
"Cuma pusing aja Lan."
"Mbak kelihatan pucat banget Lo. Kenapa gak kerumah sakit aja?"
"Mbak gak papa kok, cuma anemia. Tadi udah dikasih obat penambah darah ama dokter. Besok juga pasti udah baikan."
"Mbak mau aku bawain makanan kesini?"
"Gak usah Lan, mbak udah makan. Kamu mending istirahat, pulang kuliah pasti capek."
"Ya udah istirahat ya mbak. Bulan kembali kekamar."
"Lan."
Dilla menarik tangan Bulan yang ingin kembali ke kamarnya.
"Bisa gak kalau malam ini Mas Bhara tidur dikamar kamu dulu."
Bulan bingung mau menjawab, sebenarnya dia tidak mau. Tapi dia tak enak hati menolak permintaan Dilla. "Aku terserah Mas Bhara aja deh mbak." jawab Bulan dengan senyum yang sangat dipaksakan.
Setelah dari kamar Dilla, Bulan jadi uring uringan. Mood nya kembali buruk. Dia yang malas sekali bertemu Bhara malah disuruh tidur bareng.
Bulan segera membereskan kamarnya. Dia tak ingin ada jejak Satria yang tertinggal hingga menjadi Bhara curiga.
...****...
Bhara meratap meja makan besarnya. Tidak ada seorangpun disana selain dia. Kedua istrinya tidak ada yang turun. Dia merasa seperti seorang duda saat ini.
"Bi, panggil Bulan turun. Suruh makan malam," titah Bhara pada asisten rumah tangganya.
"Non Bulan sudah berpesan kalau dia gak turun Tuan. Dia ingin makanannya dibawa keatas."
"Ya udah siapkan, aku akan antar ke atas. Makanan untuk Nyonya Dilla sudah kamu antar ke kamar kan?"
"Sudah Tuan."
Setelah bibi menyiapkan makam malam untuk Bulan. Bhara segera mengantarnya ke atas.
Seperti biasa Bhara langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
"Taruh aja makanannya dimeja Bi." ucap Bulan tanpa melihat siapa yang datang. Matanya masih fokus menatap layar ponsel.
"Cepetan makan, keburu dingin."
Mendengar suara itu Bulan langsung melihat ke arah sumber suara.
"Kenapa gak makan dibawah?" tanya Bhara.
"Lagi males turun aja." Jawab Ban asal.
"Males apa marah sama aku?"
Bukan menyeringai kecil "Emangnya pembantu boleh marah sama majikan?"
"Kok ngomongnya gitu?"
"Udah udah males debat sama kamu. Yang pasti aku bakalan kalah." Bulan segera turun dari ranjang dan menyantap makanannya.
Dia terus fokus menatap makanannya tanpa mempedulikan Bhara yang duduk didekatnya.
Selesai makan Bulan segera beranjak dan membawa nampan bekas makannya.
"Biarin aja, nanti biar aku suruh pembantu ambil."
Bulan meletakkan lagi nampan makanannya lalu kembali naik ke ranjang.
"Habis makan jangan langsung tidur." Bhara mengingatkan.
"Siapa juga yang mau tidur. Aku mau chating ama temen ngobrolin tentang design baju."
Bhara mencoba sabar menghadapi gadis labil itu.
Bhara mendekati Bulan dan merebahkan diri disamping Bulan yang sedang duduk. Entah kenapa Bulan merasa sangat tak nyaman Bhara berbaring diranjangnya.
"Kamu gak ada niatan mau tidur disini kan Mas?"
"Emangnya kenapa kalau iya. Gak boleh?" Bhara menatap tajam ke arah Bulan.
Tatapan Bhara sungguh bisa membuat Bulan mati gaya. Mau menjawab pertanyaan Bhara pun rasanya susah.
Bhara mengubah posisinya menjadi duduk. Matanya masih tak lepas dari wajah Bulan. Bulan menunduk, rasanya sangat tidak nyaman dengan tatapan itu.
Bhara mengangkat dagu Bulan.
"Kenapa menunduk, tatap aku." Bulan mulai menatap mata suaminya. Jantungnya berdegup tak beraturan. Oksigen disekitarnya seakan menipis hingga dia merasa susah bernafas.
Bhara mulai mengikis jarak diantara mereka. Dekat, dekat dan makin dekat. Bulan mendorong tubuh Bhara saat merasakan bibir pria itu mulai menyentuh bibirnya.
"Kenapa?" Tanya Bhara dengan tatapan kesal.
"Aku dorong kamu duluan sebelum kamu dorong aku. Aku duduk dipinggir, gak mau aja kalau kamu dorong aku sampai tersungkur kayak waktu itu." Bulan belajar dari pengalaman sebelumnya.
Bhara yang kesal langsung berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Bulan bernafas lega melihatnya. Setidaknya hal itu membuat Bulan merasa lebih nyaman.
......********......
Tidur satu ranjang dengan Bhara sungguh membuat Bulan tak bisa tidur. Ia melihat jam di ponselnya. Sudah jam 1 malam, tapi matanya sama sekali tak menunjukkan tanda tanda mengantuk.
Bulan turun kebawah untuk mencari makanan. Begadang membuatnya lapar. Saat didapur tiba tiba saja dia teringin makan mie instan. Makanan favoritnya itu sempat ia lupakan sejak menikah dengan Bhara.
Bulan tersenyum saat melihat ada stok mie instan merek kesukaannya di almari gantung. Saat mulai merebus air, tiba tiba ada orang yang masuk ke dapur.
"Kalian, ngapain kalian kesini?" Ternyata 2 bodyguard tadi pagi yang masuk kedapur.
"Maaf Nona, kami hanya ingin mengambil kopi. Stok kopi didepan habis. Tadi sore kami lupa meminta pada pelayan."
"Duduklah dulu," titah Bulan. Mereka saling memandang saat Bulan menyuruhnya duduk. Beribu pertanyaan hinggap dipikiran mereka. Mereka menatap bingung ke arah Bulan.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku hanya ingin memasak mie instan untuk kalian. Anggap saja sebagai permintaan maaf karena sudah menghukum kalian tadi pagi."
"Tidak perlu Nona, tidak perlu. Kami memang salah. Kami sama sekalli tak keberatan dengan hukuman tadi pagi."
"Sudahlah jangan membantah. Mau ditambah cabe berapa?"
"Cabe!" ucap mereka hampir bersamaan. Mendegar kata cabe membuat mereka kembali mengulang memori waktu itu.
"Gak usah tegang gitu kali. Mie nya mau ditambah cabe gak? kalian gak suka pedas?"
"Suka Nona. Tambah 5 saja."
"Baiklah, selera kita sama. Aku juga suka mie instan kuah plus 5 cabe, pedesnya nampol." Kata Bulan sambil menunjukkan jempol tangannya.
Setelah mie siap, Bulan menaruhnya dalam mangkok dan meletakkan didepan mereka masing masing.
"Enak gak?" tanya Bulan saat mereka baru mencicipi.
"Enak Non, Malem malem makan mie instan memang Mantul." Ucap salah satu dari mereka yang langsung dapat senggolan dari yang lain.
"Jaga bicaramu."
"Udah gak usah kaku gitu, biasa aja. Siapa nama kalian?"
"Romi."
"Aga."
"Sudah lama kerja sama Mas Bhara."
"Sudah hampir sepuluh tahun." jawab Romi.
Bulan membuka mulutnya "lama juga ya. Kok betah sih kerja sama dia?"
"Tuan orangnya baik kok." jawab Romi.
"Hahaha." Bulan tak bisa menahan tawanya kali ini. "Baik darimananya coba, perasaan banyak jahatnya deh. Selain itu juga ngeselin."
"Tuan baik, mungkin anda saja yang belum terlalu mengenalnya." Aga menimpali.
"Ish kalian ini. Kalian lihat sendiri aku hampir mati direndamnya dikolam. Orang seperti itu dibilang baik." Bulan menggeleng gelengkan kepalanya.
"Sepeetinya kalian sangat setia padanya. Memangnya berapa gaji kalian?"
Mereka berdua saling menatap, bingung mau menjawab.
"Ckckck gitu aja dirahasiain. Aku gak bakal minta tenang aja."
"Yang pastinya masih banyakan uang belanja anda daripada gaji kami."
"Hahaha....sok tahu. Memangnya kalian tahu berapa uang belanjaku sebulan?"
Mereka berdua kompak menggeleng.
Bulan menyuruh mereka menceritakan hal hal lucu tentang Bhara. Awalnya mereka ragu. Tapi karena desakan Bulan akhirnya mereka bercerita.
Mereka bertiga tampak seperti teman yang saling bertukar cerita. Tidak ada lagi lagi kecanggungan. Gelak tawa mewarnai obrolan mereka sambil menikmati mie instan pedas.
"Ehem." Suara deheman menghentikan gelak tawa mereka. Mereka bertiga kompak mengalihkan pandangannya pada sosok orang yang berdiri tak jauh dari Mereka.
"Tuan." Aga dan Romi kompak berdiri dan memberi salam pada Bhara.
"Ngapain kalian disini. Bukankah harusnya kalian berjaga diluar?"
"Maaf Tuan." Tampak raut ketakutan diwajah Aga dan Romi.
"Jangan marahi mereka. Aku yang memanggil mereka kesini untuk menemaniku makan mie. Aku hanya ingin minta maaf. Karena itu aku memasakkan mie untuk mereka sebagai tanda maafku."
"Apa! Apa aku tidak salah dengar? kau memasak untuk mereka?" Bhara terlihat kesal.