NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Anak Genius
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: DafToon

Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎

Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.

Dulu dipuji, kini dihina.

Dulu didekati, kini dijauhi.

Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah Ular di Meja Merah

Bau anyir darah langsung menyengat hidung Xiao Ba begitu ia melintasi ambang pintu Kedai Anggrek Hitam.

Di dalam, suasananya kacau-balau. Meja-meja kayu jati yang kokoh telah hancur terbelah, menyisakan pecahan yang berserakan di atas lantai batu yang kini digenangi cairan merah. Beberapa mayat kultivator mandiri tergeletak dengan posisi mengenaskan, tubuh mereka membiru—tanda jelas dari keracunan tingkat tinggi yang menyerang sistem meridian dalam waktu singkat.

Di tengah aula kedai, dikelilingi oleh belasan anak buahnya yang bersenjata rantai berduri, berdiri seorang pria jangkung dengan jubah merah menyala. Wajahnya pucat dengan tato berbentuk sisik ular di sepanjang leher hingga rahang kirinya.

Pria itu adalah Lin Sha, pemimpin cabang Fraksi Ular Merah di Wuhe, sekaligus kakak kandung dari Lin Mo. Di tangannya, sebilah pedang lentur bergetar perlahan, meneteskan racun korosif yang mendesis setiap kali menyentuh lantai.

"Aku tanya sekali lagi," suara Lin Sha terdengar mendesis, menekan seorang pria paruh baya berpakaian pelayan kedai yang sudah berlutut bersimbah darah di depannya. "Di mana bajingan cilik yang berani mematahkan belati saudaraku dan membuatnya cacat? Lin Mo bilang bocah itu berjalan ke arah kota ini!"

Si pelayan kedai menggeleng ketakutan, bibirnya gemetar. "K-kami tidak tahu, Tuan... Kedai ini terbuka untuk siapa saja... Kami benar-benar tidak—"

Sret!

Belum sempat kalimat itu selesai, pedang lentur Lin Sha telah menyayat tenggorokan pria malang itu tanpa ampun. Tubuh si pelayan ambruk ke lantai, menambah genangan darah di aula.

"Sampah tidak berguna," umpat Lin Sha dingin. Ia menyeka bilah pedangnya dengan kain sutra. "Cari di setiap penginapan! Jika bocah berambut hitam panjang dengan pedang tua itu tidak ditemukan sebelum matahari terbenam, ratakan seluruh—"

"Tidak perlu mencari terlalu jauh."

Sebuah suara yang tenang, jernih, dan sama sekali tidak membawa intonasi ketakutan memotong kalimat Lin Sha.

Seluruh anggota Fraksi Ular Merah seketika menoleh ke arah pintu masuk. Di sana, berdiri Xiao Ba. Jubah hitamnya sedikit berkibar ditiup angin perbatasan yang menerobos masuk. Wajahnya sedatar air tenang di Teluk Beira, seolah-olah pemandangan jagal di depannya tidak lebih dari sekadar dekorasi ruangan biasa.

Lin Sha menyipitkan matanya yang merah. Tatapannya menyapu perawakan Xiao Ba, mencocokkannya dengan deskripsi yang diberikan adiknya yang sekarat.

"Jadi... kamu bajingan kecil yang bernama Xiao Ba itu?" desis Lin Sha, melangkah maju dengan aura membunuh yang meledak dari tubuhnya. Energi Qi miliknya berada di Ranah Pengumpulan Qi Tahap Puncak—jauh lebih kuat dan lebih stabil daripada Lin Mo. Udara di dalam kedai mendadak terasa menyesakkan, dipenuhi aroma belerang dan racun yang menguap.

Xiao Ba tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melepaskan pegangan tangan kirinya dari tas penyimpanan, lalu perlahan berjalan mendekat. Setiap langkah kaki Xiao Ba ketukan yang berirama, entah bagaimana, detak jantung para bandit di ruangan itu dipaksa mengikuti ritme langkah tersebut, menciptakan rasa sesak yang aneh di dada mereka.

"Berani bersikap sombong di wilayahku!" Lin Sha menggeram, merasa dihina oleh ketenangan anak muda di depannya. "Habisi dia! Sisakan kepalanya untuk kubawa pada adikku!"

"Haaah!"

Atas perintah itu, enam bandit dengan rantai berduri langsung melompat maju dari berbagai arah. Rantai-rantai besi yang dilapisi racun hijau berputar di udara, menciptakan siulan maut yang mengunci seluruh sudut pelarian Xiao Ba.

Namun, di mata Xiao Ba, gerakan mereka tampak seperti siput yang merangkak.

Di dalam lautan kesadarannya, bintang pertama yang baru saja terbuka malam tadi—Langkah Bayang Langit—memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan. Aliran energi murni mengalir instan ke titik-titik meridian di kakinya.

Syuut!

Rantai-rantai berduri itu menghantam lantai dengan keras hingga menghancurkan batu-batu dasar kedai. Namun, mereka tidak menyentuh apa pun kecuali udara kosong. Tubuh Xiao Ba seolah lenyap begitu saja, meninggalkan siluet bayangan hitam yang perlahan memudar diterpa angin.

"Apa?! Bayangan Semu?!" salah satu bandit berteriak panik.

"Di belakangmu," sebuah bisikan dingin terdengar tepat di telinganya.

Sebelum bandit itu sempat berbalik, Xiao Ba yang entah sejak kapan sudah berada di belakangnya, menggerakkan tangan kanannya dengan jari terbuka. Menggunakan sisi telapak tangannya yang dialiri Qi padat sekeras baja, ia menebas leher bandit tersebut.

Krak!

Tulang leher itu patah seketika. Tanpa membuang waktu, Xiao Ba memanfaatkan momentum untuk berputar. Pedang tuanya masih berada di dalam sarung, namun dengan menggunakan ujung sarung pedangnya yang berbahan besi hitam, ia menusuk dada tiga bandit lainnya secara beruntun dengan kecepatan kilat.

Bum! Bum! Bum!

Tiga tubuh kekar terlempar ke belakang, menabrak pilar-pilar kedai hingga retak sebelum akhirnya tumbang dengan dada yang melesat ke dalam. Jalur Qi di jantung mereka telah dihancurkan sepenuhnya oleh getaran energi tersembunyi (An Jin) milik Xiao Ba.

Hanya dalam waktu kurang dari tiga helai napas, lima dari enam penyerang telah tewas terkapar di lantai, sementara satu sisanya jatuh terduduk sambil mengompol karena ketakutan yang teramat sangat.

Lin Sha yang menyaksikan hal itu merasakan jakunnya naik turun. Wajahnya yang tadinya pucat kini berubah menjadi agak kebiruan. Kecepatan dan metode pembunuhan Xiao Ba terlalu efisien, terlalu bersih, seolah-olah pemuda ini telah melewati ribuan pertempuran hidup dan mati, bukan seorang remaja dari kota pesisir kecil yang terisolasi.

"Kamu... kamu menyembunyikan ranah kultivasimu!" Lin Sha berteriak, mencoba mengusir rasa takut yang mulai merayapi hatinya. Ia tahu jika ia berbalik dan lari sekarang, reputasinya di Wuhe akan hancur, dan Fraksi Ular Merah akan menjadi lelucon.

"Ular Merah Membelah Langit!"

Lin Sha berteriak histeris, mengerahkan seluruh Qi di dalam tubuhnya hingga pembuluh darah di dahinya menonjol. Pedang lenturnya bergetar hebat, mengeluarkan kabut racun merah darah yang tebal, lalu memanjang dan meliuk seperti ular sanca raksasa yang menerjang lurus ke arah jantung Xiao Ba. Ini adalah teknik andalannya, serangan yang memanfaatkan kecepatan dan racun yang bisa melelehkan zirah besi sekalipun.

Xiao Ba berdiri tegak di tengah kepungan kabut racun merah. Matanya tetap tenang.

Tangan kanannya akhirnya menggenggam hulu pedang tuanya.

Sret!

Pedang itu ditarik hanya sepertiga dari sarungnya. Sebuah kilatan cahaya perak yang sangat murni memotong kegelapan dan kabut racun di dalam kedai. Cahaya itu begitu terang hingga membuat Lin Sha terpaksa memicingkan matanya selama sepersekian detik.

Ting!

Suara benturan logam yang sangat nyaring terdengar, diikuti oleh suara patahan yang renyah.

Pedang lentur kebanggaan Lin Sha terpotong menjadi dua bagian rapi di udara. Tidak hanya itu, gelombang tebasan pedang (Jian Qi) yang dilepaskan oleh Xiao Ba terus melaju, membelah kabut racun merah menjadi dua bagian, dan lewat tepat di sisi leher Lin Sha, memotong beberapa helai rambutnya dan menyisakan garis luka tipis yang mengeluarkan darah di kulit lehernya.

Lin Sha berdiri mematung. Sisa pedangnya yang patah jatuh dari genggaman tangannya yang mendadak mati rasa. Ia tahu, jika pemuda di depannya ini menggeser sudut serangannya bahkan hanya seujung rambut, kepalanya sudah menggelinding di lantai sekarang.

Xiao Ba memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung dengan bunyi klik yang sunyi. Kabut racun di sekelilingnya lenyap, ditepis oleh sisa energi tebasannya.

Ia berjalan mendekat, berhenti tepat satu langkah di depan Lin Sha yang sudah gemetar hebat hingga lututnya lemas.

"Aku tidak tertarik dengan Fraksi Ular Merahmu," ucap Xiao Ba pelan, namun setiap kata terasa seperti gunung yang menindih jiwa Lin Sha. Ia merogoh tas penyimpanannya dan mengeluarkan batu hitam legam yang diberikan oleh pengemis buta tadi, lalu menunjukkannya di depan mata Lin Sha.

"Katakan padaku tentang lambang matahari hitam yang menelan rembulan di Lembah Tengkorak Putih. Jika jawabanmu memuaskan, kamu boleh keluar dari ruangan ini dengan nyawa yang masih utuh."

1
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
☕️☕️
Jojo Shua
😍
Jojo Shua
☕️
Dafa Faiha Roshiq: kasih tip dikit dikit dong
total 1 replies
Jojo Shua
😍
syarif ibrahim
akankah waktu berpihak kepada xiao Ba..... 🤔🤔🤔💪
Dafa Faiha Roshiq: pasti berpihak kan gw authornya
total 1 replies
Jojo Shua
😄😄✅️
Jojo Shua
😍
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
😍
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
☕️
Jojo Shua
😍
Dafa Faiha Roshiq: kasih penilaian nya dong
total 1 replies
sibaweh abduh
nice thor
Dafa Faiha Roshiq: Terima kasih bossku
total 1 replies
Jerry K-el
bagus ceritanya mengalir,tdk bertele-tele.
pertahankan👌
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Dafa Faiha Roshiq: done yahhh
total 1 replies
Dafa Faiha Roshiq
teman aku butuh penilaian mu
Dafa Faiha Roshiq
Gimana masih ada yang kurang tidak bro
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!