Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.
Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.
Follow tiktok : aricia.agestis6
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Christiana Ingrid
Suara isak tangis yang tertahan terdengar di dalam salah satu kamar mandi kantor Falcon Corp.
Di dalam sana, Siska bersandar pada dinding keramik yang dingin, meremas jemarinya yang gemetar.
Sebagai bendahara kepercayaan perusahaan, Siska selalu berusaha bekerja dengan jujur dan teliti. Namun siang ini, harga dirinya diinjak-injak. Ia dipaksa melakukan tindakan kriminal yang sangat berisiko demi menutupi kesombongan atasannya sendiri.
"Tuan Theo benar-benar sudah gila," bisik Siska dengan suara serak.
Air matanya kembali jatuh mengingat bagaimana Theo membentaknya di depan pelakor seperti Bianca. Siska menyeka air matanya, lalu kembali menanangkan dirinya.
Di depan cermin besar, ia menatap pantulan wajahnya yang sedih. Ingatannya kembali pada dokumen ilegal yang baru saja ia tanda tangani dua jam lalu.
Mengambil dana cash dari proyek yang sedang berjalan, lalu menutupinya dengan pinjaman dari rentenir kelas kakap demi mengumpulkan uang lima miliar rupiah dalam sekejap.
"Bunga lima belas persen..."
Setelah merapikan riasan wajahnya agar sisa tangisnya tidak terlihat, Siska kembali ke meja kerjanya.
Suasana kantor sudah mulai sepi karena jam pulang sudah lewat. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Siska membereskan barang-barangnya ke dalam tas. Ia sudah tidak tahan lagi berada di tempat ini.
Saat berjalan menuju pintu keluar, Siska terpaksa melewati ruangan kerja Theo. Ia sempat melambat ketika tatapannya tak sengaja melihat pemandangan di balik kaca yang sedikit terbuka.
Di dalam sana, Theo dan Bianca masih asyik mesra-mesraan. Theo tertawa angkuh sambil menyesap segelas wine, sementara Bianca bersandar di bahunya, terus-menerus memuji kehebatan pria itu.
Siska tersenyum sinis, ada rasa muak yang mendalam di dadanya. "Tertawalah selagi bisa, Tuan Theo. Nikmati kesenangan palsu Anda bersama wanita itu." batin Siska ketus sebelum akhirnya pergi meninggalkan area kantor Falcon Corp dengan perasaan campur aduk.
...****************...
Sementara itu, di waktu yang hampir bersamaan, di dalam gedung kantor Avalanka Group justru terasa jauh lebih tenang.
Di dalam ruangan kerja, Pak Bramasta Rahesa tampak berjalan keluar terlebih dahulu setelah berpamitan dengan Tristan.
Pengusaha senior itu memutuskan untuk menunggu di dalam mobil yang sudah disiapkan di area parkir VIP bawah gedung.
Di dalam ruangan, kini hanya tersisa Zarlin, Tristan, dan Christiana yang sedang merapikan beberapa salinan berkas dokumen kerja sama di atas meja.
Zarlin mengembuskan napas panjang, merapikan blazer kerjanya sebelum kemudian menoleh ke arah Christiana yang sejak tadi bergerak mengurus berkas itu.
Melihat kesetiaan wanita di hadapannya, seketika senyum tulus muncul di wajah cantik Zarlin.
Zarlin melangkah mendekat, lalu menepuk pelan bahu Christiana.
"Chris, makasih banyak ya sudah bantu urus dokumen tadi. Capek banget ya hari ini?" tanya Zarlin.
Christiana langsung menegakkan tubuhnya, menatap bos sekaligus sahabatnya itu dengan senyum profesional yang sopan.
"Sudah tugas saya, Nona Zarlin. Semuanya sudah rapi dan siap dibawa kembali ke kantor kita besok pagi."
Zarlin menggelengkan kepalanya pelan, Ia merasa agak risih di wajahnya mendengar panggilan itu.
"Kan aku sudah sering bilang, Chris. Kalau lagi berdua saja seperti ini, panggil Zarlin saja seperti biasa. Kita kan teman kuliah dulu, jangan terlalu kaku."
Christiana tersenyum haru, namun ia menggelengkan kepalanya dengan tegas namun tetap santun.
"Di lingkungan kantor kita harus tetap profesional, Nona Zarlin. Lagipula, saya tidak akan pernah melupakan posisi saya. Saya sangat menghormati Anda."
Christiana menjeda kalimatnya sebentar, matanya berkaca-kaca mengingat masa lalu.
"Kalau dulu Nona Zarlin tidak mengulurkan tangan untuk membantu carikan beasiswa penuh saat saya hampir putus kuliah karena tidak ada biaya, saya tidak akan mungkin bisa lulus S1. Apalagi sampai bisa menjadi sekretaris kepercayaan di perusahaan besar seperti sekarang. Kebaikan Nona Zarlin telah mengubah seluruh hidup saya."
Zarlin menatap Christiana dengan pandangan tulus. Ia tahu bagaimana watak Christiana. Wanita di depannya ini adalah sosok yang sangat rajin, taat, dan tahu cara balas budi.
Zarlin tidak mau mendebat lebih panjang lagi karena ia menghargai prinsip profesionalitas yang dipegang teguh oleh sahabatnya itu.
Bagi Zarlin, Christiana bukan sekadar bawahan, melainkan salah satu orang paling berharga yang selalu ada di sisinya, bahkan di saat-saat paling terpuruk ketika ia menghadapi rumah tangganya dengan Theo dulu.
Kehadiran Christiana dengan kerja kerasnya telah membantu perusahaan Zarlin maju pesat hingga kini menjadi salah satu perusahaan yang diperhitungkan dengan nama Aricia International.
"Ya sudah kalau itu maumu. Tapi di luar jam kantor, kamu harus janji jangan terlalu formal ya," ucap Zarlin sambil tersenyum tipis.
"Aku duluan ke bawah ya, Chris. Mau menyusul ayah di mobil. Kamu jangan pulang terlalu larut."
"Baik, Nona Zarlin. Hati-hati di jalan," jawab Christiana mengiringi langkah Zarlin yang berjalan anggun keluar dari ruangan.
Setelah Zarlin pergi, di ruangan itu menjadi sangat hening. Christiana mengembuskan napas pelan, kembali fokus memeriksa sisa map dokumen di tangannya. Namun, dia kemudian beralih ke arah meja kerja besar yang berada di ujung ruangan.
Di sana, Tristan Avalanka masih duduk di kursinya. Pria itu tampak sangat kelelahan setelah seharian penuh mengurus strategi untuk memojokkan Falcon Corp.
Tristan bersandar pasrah pada kursi kerjanya, memejamkan mata rapat-rapat sambil sesekali memijat pelipisnya yang terasa pening.
Christiana terdiam di tempatnya berdiri. Ada rasa tidak tega yang tiba-tiba melihat rasa lelah di wajah tegas pria itu.
Selama ini, ia selalu melihat Tristan sebagai sosok pemimpin yang berwibawa dan kuat di depan Zarlin. Namun saat ini, dalam kesendiriannya, Tristan terlihat seperti pria biasa yang juga bisa kehabisan energi.
Tanpa banyak bicara, Christiana meletakkan dokumen di tangannya. Ia berjalan pelan menuju dispenser yang terletak di sudut ruangan, lalu berinisiatif membuatkan segelas air putih hangat.
Christiana berjalan mendekati meja kerja Tristan. Ia meletakkan gelas kaca berisi air hangat itu di atas meja, tepat di sebelah kanan laptop Tristan yang masih menyala.
"Diminum dulu airnya, Tuan Tristan. Supaya pikiran Anda bisa sedikit lebih rileks," ujar Christiana dengan sopan.
Mendengar suara itu, Tristan menegakkan posisi duduknya, lalu menatap gelas air hangat di depannya.
"Terima kasih banyak, Christiana. Kebetulan kepala saya memang agak pening dari tadi," ucap Tristan.
Christiana membalas senyuman itu dengan sebuah anggukan kecil yang sangat profesional.
"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu, saya pulang terlebih dahulu."
"Ya, silakan. Berhati-hatilah di jalan, Chris," balas Tristan.
Christiana membalikkan badannya, berjalan keluar dari ruangan kerja Tristan. Dia langsung memesan taxi dan pulang ke apartemennya.
Baginya, Tristan adalah pria yang menaruh hati pada Zarlin, wanita yang sudah ia anggap seperti pelindung dalam hidupnya.