Gea seorang gadis desa yang ceria mencintai Dio teman sejak kecil dengan diam-diam. Ia mengejar cita- citanya dengan melanjutkan studinya di kota. Dengan sekelumit masalahnya di sana.
Dio teman Gea yang jatuh hati pada Gea sejak sekolah. Seorang pemuda dari kalangan biasa yang menjadi tulang punggung keluarga, dan terjebak dalam perjodohan dengan Desi anak majikannya.
Jarak memisahkan mereka apakah cinta mereka dapat diperjuangkan?
Demi kemanusiaan Dio melepaskan rasa cinta yang ada pada dirinya yang telah lama. Menerima perjodohan yang datang tiba-tiba.
Dapatkah cinta mereka bersatu, atau hanya memendam rasa cintanya dalam diam.
Novel ini khusus untuk dewasa bijaklah dalam membacanya.
terimakasih
Revisi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Utiks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resmi
Hari minggu yang cerah, keluarga Dio bersiap menuju ke kediaman pak Hendra.Hati Dio berdebar mengingat moment yang tak terduga seperti ini.
" Ayo Yah, kita berangkat. Barangnya biar Dio dan adik yang bawa".
" Ibu, periksa dulu jangan ada yang tertinggal ! "ucap Ayah.
Kendaraan yang mereka sewa segera menuju ke tempat tujuan dengan lancar. Mereka tidak punya mobil ,karenanya pakai mobil sewa.
Sampai di kediaman calon mertuanya Dio turun dengan mbawa barang seserahan untuk acara lamaran sekaligus pertunagannya. Disambut dengan ramah oleh Pak Hendra, Desi sekaligus para pembantunya.
Pak Hendra anak angkat tunggal dan tak punya saudara. Maka acara ini juga cuma dihadiri oleh pembantu mereka yang setia dan dua orang karyawannya.
" Selamat pagi pak, bu, mari silahkan masuk !" pak Hendra mempersilahjan para tamunya masuk ke dalam rumah. Pembantu segera menyiapkan minum untuk tamunya.
" Sebelumnya perkenalkan saya Yadi Saputra ayah Dio dan ini istri saya Sri anggraeni ,dan itu dua adiknya Dio Dini dan Dena." Ayah Dio mengatur napasnya untuk memulai.
" Pak Hendra sebenarnya kami sangat terkejut sekali menerima berita ini, seperti mimpi.Tapi saya menyerahkan keputusan sepenuhnya pada anak saya Dio. Walaupun masih muda sata yakin dia bisa memutuskan untuk masa depannya sendiri."
"Tapi sekali saya ingin mendengar sendiri dari bapak, apakah memang bapak sudah mempercayakan anak bapak pada Dio anak saya? "
" Terima kasih sebelumnya pak Yadi, atas kedatangan bapak sekeluarga di sini. Saya ingin menyampaikan bahwa saya dengan tulus mempercayakan semua urusan saya pada Dio anak bapak." berkaca-kaca mengatakannya dan menoleh pada Desi anaknya.
" Desi tak punya saudara saya juga sebatangkara, dulu saya hanya anak angkat dari pasangan tidak punya keturunan.Saya tidak tahu siapa orang tua saya sampai saat ini."Pak Hendra terdiam sejenak dan melanjutkan debgan suara lirih.
" Desi, kemarilah nak..!" lanjutnya.
" Nak, Papa sudah menyerahkan semua tugas Papa pada Dio.Urusan showrom biar dia yang tangani, kamu sekolah yang benar dulu sampai lulus. Dia yang nanti akan membimbingmu, dunia akherat waktu Papa tak lama lagi....ah.... " menekan dadanya.
Tiba-tiba pak Hendra tersengal dan sesak napas. Semua tiba-tiba panik dan berteriak.
" Papa... papa kenapa.. ? hik.. hik.. " Desi mulai menangis.
" Des, tenanglah.Tolong ambilkan berkas Papa. Ayah tolong bantu Dio bawa Papa ke mobil, kita ke Rumah sakit sekarang!"Perintah Dio pada sopir yang biasanya mengantar pak Hendra ke Rumah sakit.
Sampai di IGD pak Hendra pingsan, suster segera menanganinya. Tak ada yang boleh masuk ke dalam.Desi, Dio dan Ayah nya menunggu di ruang lain.
Sesaat kemudian...
" Siapa yang bertanggung jawab dengan pasien Hendra? " tanya suster.
" Saya Sus, bagaimana kondisi Papa saya. ?" tanya Dio.
Dio mengikuti suster masuk ke ruang Dokter yang menangani pak Hendra.
" Begini pak, kondisi pasien saat ini kritis, kankernya sudah menyebar hampir seluruh tubuh. Kemungkinan hanya 50% pasien bisa bertahan" jelas dokter.
Hening tak ada yang diucapkan Dio dan Desi yang terus meneteskan air mata.
" Dok lakukan yang terbaik buat Papa kami" ucap Dio.
" Silahkan bapak atau ibu menandatangani berkas ini sebelum. kami melalukanntindakan lebih lanjut." Dokter menyodorkan berkas peryataan dan Desi segera menandatanganinya dengan deraian air mata.
" Terima kasih silahkan tunggu di luar kami segera menanganinya."
Dio menuntun Desi yang lemas dan tambah sesenggukan. Dio memeluknya erat menguatkan. Dia sendiri menahan air matanya keluar agar tak terlihat Desi.
" Kak, hik.. hik.. kenapa Papa tidak cerita ke aku kalau sakit hik.. hikk.. "
" Papa tak ingin mengganggu sekolahmu, sudah kamu harus kuat ya, doakan yang terbaik buat Papa! "
" Ya nak Desi, mari kita sama-sama berdoa yang terbaik buat pak Hendra" ayah Dio ikut memeluk Desi, kasihan melihatnya masih muda harus memikul beban berat.
Suster datang menemui mereka.
"Pasien sudah siuman silahkan bisa dilihat satu-satu saja masuknya!"
Dio memandang Desi menyuruhnya masuk dulu, tapi Desi menggeleng tidak mau akhirnya dia yang masuk.
" Dio, waktu Papa tidak lama lagi, papa ingin kamu segera menikahi Desi nak sekarang, di sini..."
" A..apa Pa? Tidak salah? Papa harus yakin pasti sembuh.. " air matanya tak dapat ditahan lagi.
" Ce..cepat nak kamu cari penghulu sekarang! Dan panggil Desi ke sini! " ucapnya tersengal - sengal "
" Ba.. baik Pa, tunggu ya.. tunggu" panik Dio bergegas keluar ruangan menyuruh Desi segera masuk.
"Ayah, tolong segera cari penghulu buat kita nikah siri, aku menunggu di sini! "
" Maksudnya apa ini Dio? "bingung.
Dio menceritakan kejadian di dalam tadi agar orang tuanya tak salah paham.
" Baiklah Ayah pulang dulu, secepatnya ke sini, kamu yang sabar ya nak? "
Ayah Dio bergegas pulang diantar sopir menjemput penghulu.
Sedangkan Desi yang ada di dalam ruang hanya pasrah melihat kondisi Papanya semakin menurun.
" Sayang, kamu harus kuat kalau sudah tak ada Papa. Nurut pada suamimu nanti. Percayalah dia yang bisa gantikan Papa" pak Hendra batuk-batuk sesak napas.
" Papa, kenapa bisa begini Pa, hik.. hik.. Desi sendirian" terus menangis.
" Cup.. cup.. putri Papa yang cantik tak boleh lemah ya? Ayo senyum buat Papa nak, biar Papa tak sedih meninggalkan kamu" membelai wajah putrinya dengan lembut.
Di luar Dio minta ijin untuk ruangan khusus melangsungkan ijab khobul.
Dengan hati yang masih bingung serba mendadak tapi berdoa ini yang terbaik untuk semuanya.
Pak Hendra akhirnya di pindahkan ke ruang VVIP untuk acara ini. Ayah Dio sudah datang bersama dengan penghulu dan masuk ke ruangan.
Desi diam membisu tak berkata apapun.Hanya nurut apa yang diperintahkan Dio.
" Desi, kamu gak pa pa menikah denganku? Tolak lah kalau memang keberatan sebelum semua terjadi Des ? Menikah itu untuk seumur hidup bukan main-main! "Tanya Dio lirih serius menatap calon istrinya.
" Aku tak ada pilihan kak, hanya ingin Papa bahagia dan bangga memiliki aku putri satu-satunya hik.. hikk.. " kembali menangis. Dio memeluknya dengan erat.
Mereka duduk berdampingan menghadap penghulu disamping Papanya yang terbaring di Brankar. Sementara ayah Dio, beserta istrinya dan sopir ikut meneteskan air mata melihat pemandangan mengharukan ini.
Umur manusia tidak ada yang tahu sampai kapan, kita hanya menjalani garis hidup yang telah di tentukan Nya.
" Saya terima nikah dan kawinnya Desi arumsari..... " Dio mengucapkan janji suci.
" Bagaimana saksi SAH..? "
" SAH.... " Dio memeluk Desi dan mengecup keningnya, menyematkan cicin yang disediakan untuk acara pertunangan tadi menjadi cincin kawin.
Desi mencium tangan Dio, dan mereka bersama-sama sama mencium tangan kedua orang tuanya.
Acara selesai mereka pergi keluar, karena pak Hendra segera mendapatkan perawatan yang intensif.
semangaat 🆙😍
semangaat🆙😍
semangat 🆙😍