"Kenapa kau suka sekali ikut campur dengan urusan pribadiku?"
"Karena aku sedang mencari celah untuk mendekatimu dan merebut dirimu dari suamimu yang brengsek itu," jawab Hansel blak-blakan.
Jatuh cinta pada seorang gadis bukanlah hal yang memalukan. Tapi bagaimana jika ternyata kau jatuh cinta pada seorang wanita yang berstatus sebagai istri dari pria lain?
Hal inilah yang dirasakan oleh seorang Hansel Abraham. Hansel jatuh cinta pada Hanni, perawat pribadinya yang saat ini menyandang status sebagai istri dari Raymond Damara.
Langkah apa yang akhirnya akan diambil oleh seorang Hansel Abraham?
Apakah Hansel akan merelakan Hanni tetap bersama Raymond?
Atau Hansel akan menggunakan segala cara untuk merebut Hanni dari pelukan Raymond?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MULAILAH MENJAGA JARAK
Pesawat sudah mengudara selama tiga puluh menit. Masih setengah jarak lagi yang harus di tempuh Alex dan Hanni untuk sampai ke kota tujuan mereka.
Dua sahabat itu masih saling diam dan belum melanjutkan obrolan. Alex sibuk membaca koran yang memang ia bawa saat naik tadi. Dan Hanni hanya melamun seraya membuang pandangannya ke luar jendela pesawat.
"Apa kau sudah lama mengenal keluarga Abraham?" Hanni buka suara.
"Tujuh tahun," jawab Alex.
Hanni diam sesaat. Mencoba mencerna jawaban Alex barusan.
"Jadi, orang baik yang kamu maksud saat itu..."
"Ya. Beliau adalah Uncle Bayu, papa kandung dari Hansel," Alex melipat koran di tangannya sebelum melanjutkan ceritanya.
"Uncle yang membawa aku dan Jevon ke rumah besar itu tujuh tahun silam. Uncle membiayai kuliah kami dan memberikan kami kehidupan yang layak," cerita Alex panjang lebar.
"Apa Tuan Abraham masih memiliki hubungan saudara dengan mendiang orang tuamu?" Tanya Hanni mulai penasaran.
Alex menggeleng,
"Uncle adalah sahabat baik papa. Itu saja," ujar Alex.
"Lalu, dimana sekarang Tuan Abraham. Aku belum pernah melihatnya selama dua bulan ini," tanya Hanni ragu-ragu.
"Di Amerika. Rumah tangga Uncle dan Aunty bisa dibilang tidak sedang baik-baik saja setahun belakangan. Ada masalah rumit yang akhirnya membuat Uncle dan Aunty memilih untuk tidak tinggal serumah lagi," tutur Alex kembali bercerita.
"Mereka berpisah?" Tebak Hanni menerka-nerka.
"Tidak. Mereka tidak berpisah. Mereka hanya tidak tinggal satu rumah. Uncle memilih menetap di Amerika untuk menenangkan diri sekaligus mengawasi Viola yang juga kuliah disana," jawab Alex menjelaskan.
Hanni manggut-manggut mengerti.
"Apa Hansel jadi temperamental juga karena masalah ini?" Tanya Hanni sekali lagi.
Alex kembali menggeleng,
"Hansel sebenarnya pria baik meskipun kata-katanya selalu pedas. Hansel hanyalah korban dari ketidakpedulian Aunty,"
"Aunty yang merupakan wanita sosialita, terlalu sibuk dengan dunianya hingga jarang ada waktu untuk Hansel dan Viola. Hansel merasa terabaikan, jadilah pria itu menjadi keras hati dan keras kepala," Alex sedikit terkekeh.
"Dan belakangan Hansel juga semakin menyebalkan setelah kecelakaan yang menimpanya," imbuh Alex lagi.
"Kecelakaan macam apa yang sebenarnya dialami Hansel?" Tanya Hanni semakin penasaran. Sudah sejak lama Hanni ingin menanyakan hal ini pada Alex.
"Kecelakaan mobil yang disengaja. Ada orang jahat yang menyamar sebagai supir pribadi Hansel. Supir gadungan itu dengan sengaja menabrakkan mobil Hansel," Alex menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.
"Tak hanya itu, supir gadungan itu juga membawa komplotan untuk memperparah luka-luka Hansel."
"Saat ditemukan, kondisi Hansel begitu mengenaskan. Pria itu bahkan sempat koma selama satu bulan karena luka-luka parah yang ia alami. Dan saat bangun, Hansel harus menjadi pria lumpuh yang hidupnya bergantung pada kursi roda. Hansel yang malang," pungkas Alex mengakhiri ceritanya.
"Lalu apa pelakunya sudah ditemukan?" Tanya Hanni lagi yang semakin penasaran.
"Belum,"
"Supir gadungan itu seperti hilang ditelan bumi. Hansel menduga, supir itu memakai topeng saat kejadian, jadilah polisi kesulitan menemukan orang dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh Hansel. Semuanya buntu hingga kini," ucap Alex yang terdengar putus asa.
Hanni hanya mengangguk-angguk seakan paham dengan cerita Alex barusan.
Pemberitahuan bahwa pesawat akan mendarat sebentar lagi sudah terdengar di dalam kabin.
"Kau besok akan kembali sendiri. Apa tidak masalah?" Tanya Alex sedikit khawatir.
"Tidak masalah, Alex! Aku bukan lagi anak kecil. Jadi aku tidak mungkin tersesat," jawab Hanni sedikit berkelakar.
"Lagipula, supir dari Tuan Hansel yang terhormat akan menjemputku di bandara besok. Jadi apa yang harus aku takutkan?" Imbuh Hanni lagi masih tertawa kecil.
Alex ikut tertawa.
"Boleh aku memberimu satu nasehat, Hanni?" Ucap Alex dengan raut wajah yang berubah serius.
Hanni menoleh ke arah sahabatnya tersebut.
"Tentu saja,"
"Sebelumnya maaf jika perkataanku menyinggungmu," Alex kembali menghela nafas.
"Hansel tidak pernah dekat dengan wanita manapun sebelum ini. Tapi melihat sikap Hansel kepadamu selama dua bulan ini, jujur aku merasa sedikit khawatir,"
Hanni mengernyit dan masih menatap ke arah Alex yang belum menyelesaikan kata-katanya.
"Aku khawatir Hansel jatuh cinta dan menyimpan sebuah perasaan kepadamu," ujar Alex lagi. Terlihat jelas raut kekhawatiran di wajah pria dua puluh lima tahun tersebut.
"Hansel jelas tahu kalau aku sudah bersuami, Alex. Jadi aku rasa ketakutanmu itu sedikit berlebihan," sela Hanni mengemukakan pendapatnya.
"Semoga kau benar," gumam Alex.
"Hansel akan bertemu gadis baik hati yang sepadan dengannya suatu hari nanti. Dan seorang Hansel tidak akan mungkin jatuh cinta kepadaku yang miskin ini," Hanni sedikit terkekeh.
Tentu saja wanita itu sedang menertawakan dirinya sendiri.
"Aku akan mulai menjaga sikapku pada tuan muda itu mulai sekarang," ucap Hanni lagi seakan sedang berjanji pada Alex.
"Tapi jangan terlalu kaku juga. Aku lihat sikapmu pada Hansel selama dua bulan ini sudah bagus dan tidak berlebihan. Kalian lebih terlihat sebagai teman yang akrab," tutur Alex mengemukakan pendapatnya.
"Menurutmu begitu? Syukurlah jika akhirnya aku bisa menjadi teman untuk tuan muda temperamental itu." Hanni kembali terkekeh.
Alex ikut-ikutan terkekeh.
Pesawat sudah mendarat dan berhenti secara sempurna.
Hani dan Alex segera melepas sabuk pengaman dan mengambil barang bawaan mereka di bagasi kabin.
"Kau akan langsung ke rumah sakit?" Tanya Alex.
"Ya. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu ibuku," jawab Hanni yang matanya berbinar senang.
"Baiklah! Ayo!" Dua sahabat itu segera keluar dari pesawat mengikuti penumpang lain yang sudah terlebih dulu keluar.
****
"Jadi, kau bekerja apa di rumah majikan Alex?" Tanya bu Halimah seraya mengusap kepala Hanni.
Saat ini, bu Halimah sudah pulang ke rumah. Perkembangan kondisi bu Halimah menunjukkan peningkatan seminggu terakhir. Jadilah, dokter sudah mengijinkan wanita paruh baya tersebut untuk pulang hari ini.
"Menjadi perawat untuk tuan muda Hansel yang terhormat," jawab Hanni lengkap.
"Apa mereka bersikap baik kepadamu?" Tanya bu Halimah lagi.
Hanni mengangguk,
"Mereka sangat baik pada Hanni, Bu! Jadi ibu tidak perlu khawatir," jawab Hanni menenangkan sang ibu.
"Kau sudah bertemu Raymond lagi?" Tanya bu Halimah mengalihkan pembicaraan.
"Ya. Hanni bertemu Raymond satu kali di sana." Hanni meraih tangan sang ibu dan mengusapnya dengan lembut.
Sekuat apapun Hanni menyembunyikan kesedihannya, bu Halimah selalu bisa menangkapnya dari raut wajah Hanni.
"Kau ada masalah lagi dengan Raymond?" Tebak bu Halimah yang seakan tahu dengan isi hati Hanni.
Hanni menggeleng,
"Raymond sibuk belakangan ini, Bu. Jadilah kami jarang bertemu meskipun kami berada di kota yang sama," ucap Hanni seraya mengusap airmata yang mendadak meleleh dari sudut matanya.
"Jadi, Raymond masih belum mengajakmu bertemu dengan orang tuanya?" Tebak bu Halimah sekali lagi.
"Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat, Bu. Tapi Hanni yakin kalau Raymond akan menepati janjinya itu satu hari nanti," lirih Hanni yang mulai terisak.
"Sampai kapan, Hanni? Sudah dua tahun kamu menunggu dan bersabar. Kamu juga berhak bahagia," tutur bu Halimah seraya meraup sang putri ke dalam pelukannya.
"Hanni mencintai Raymond, Bu," cicit Hanni yang masih terisak.
"Ibu paham perasaanmu, Hanni. Tapi cepat atau lambat kamu juga harus mengambil keputusan. Kamu tidak bisa menjadi istri siri Raymond seumur hidup," nasehat bu Halimah yang kini ikut berkaca-kaca.
Hanni hanya diam dan tak menjawab lagi.
Hati Hanni saat ini juga merasa dilema.
"Kau itu masih muda, Hanni. Masa depanmu masih panjang. Jika hubunganmu dengan Raymond saat ini hanya membuat batinmu tersiksa, tidak ada salahnya kalian berpisah. Kamu juga berhak bahagia," nasehat bu Halimah sekali lagi.
Hanni masih diam dan mencoba meresapi kata-kata sang ibu.
.
.
.
Terima kasih para pembaca baik hati yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.