NovelToon NovelToon
Initium Saga

Initium Saga

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Chicklit / Tamat
Popularitas:87.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: hafitria_571

Lunna itu cuma anak kelas sebelas SMA. Rada julid, lumayan kalem, irit komentar, tapi kadang bisa juga cerewet bin rempong. Tapi walau kadang mukanya keseringan datar, Lunna itu sebenarnya asyik kok.

Lunna punya temen cewe. Namanya Kira, panjangannya Arkiera, guru-guru sering salah manggil, disebut lebih bagusan kalau Aksara.

Lunna juga suka novel fantasi. Tapi apa dia tahu... kalau sihir itu sesungguhnya ada? Bahkan pada dirinya sendiri?

Lunna itu rahasia, misteri dengan sejuta kata.

Lunna itu berbahaya, tapi juga amat memesona.

Kau tahu legenda tentang Razenskalavia? Negeri dongeng yang jauh di dimensi sihir sana? Karena ternyata, Lunna adalah anggotanya....

'Hello, Bangsawan Razenskalavia... masih ingat dengan Mitos Balaur dan Wiz?'~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hafitria_571, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PART 30

Cahaya matahari mulai menerobos masuk lewat celah ventilasi. Kicauan burung terdengar dari kejauhan. Lunna membuka mata, lalu menegakkan badan. Ia semalaman ada di dapur, dan malah ketiduran di kursi makan sampai pagi.

Gadis itu meregangkan otot, bahunya pegal sekali, dan lehernya terasa nyeri jika digerakkan. Ia mengeluh, merutuki diri sendiri yang dengan ceroboh tidur di sini. Sekarang sakit semua anggota badannya.

Lunna pun memutuskan untuk pergi ke ruang tengah. Hendak menemui Drole. Dia melihat kucing itu tiduran, tapi sudah membuka mata. Di kursi kayu panjang, Flynn duduk membaca lebaran kertas yang ditumpuk di atas meja.

Lunna mendekati Drole, duduk di lantai kayu. Ia mengelus kucing itu. Lalu mendekatkan wajahnya untuk berbisik.

"Drole? Kita ke Razenskalavia?" tanya Lunna. Kucing perak itu mengangguk.

Lunna pun menoleh ke arah Flynn. Ia jelas tak tahu arah dan jalan ke Razenskalavia. Jadi harapan satu-satunya adalah minta tolong ke pemuda itu.

"Flynn, kau tahu arah ke Razenskalavia? Aku tidak tahu jalan di sini," kata Lunna.

Flynn menjauhkan kertas yang dibacanya, lalu gantian menatap Lunna. "Tahu, kau perlu bantuan lagi?"

Lunna tersenyum paksa. "Jika tidak merepotkan," katanya setengah tak enak.

Flynn terlihat berpikir sebentar. Lalu akhirnya mengangguk. "Baiklah," putusnya kemudian.

Wajah Lunna berubah jadi sumringah. Ia tak menyangka Flynn masih mau membantu. "Terima kasih banyak," kata Lunna tulus. Lalu kemudian ia berdiri dan menggendong Drole. "Kalau begitu kapan kita berangkat?" tanyanya penuh harap.

"Sekarang juga?" Flynn tampak kaget. Ia menggulung lembar kertas di tangannya lalu mengikat gulungan itu dengan tali pendek.

"Tentu saja. Lebih cepat lebih baik, bukan?" seru Lunna. Berharap di Razenskalavia ada jalan untuk pulang, ia ingin segera kembali.

Flynn menghela napas. "Baiklah, ayo pamit ke Nek Azu," ia berdiri. Lalu berjalan menuju kamar Nek Azu. Memasuki ruangan yang masih hening sejak semalam.

Lunna mampir dulu ke kamar mandi, basuh muka, lalu mengambil ranselnya. Ia kemudian ikut menyusul ke dalam kamar Nek Azu. Di sana, nenek tua itu sudah terjaga. Duduk bersandar di ranjangnya.

"Kalian mau pulang?" tanya Nek Azu.

Mendengar kata pulang membuat hati Lunna berdesir hangat. Ia mengangguk semangat. "Iya, Nek."

Nek Azu tersenyum tipis. "Baik, pergilah dan hati-hati," katanya seraya mengibaskan tangan.

Alis Lunna tanpa sadar naik. Tapi kemudian ia menormalkan kembali raut wajahnya.

"Terima kasih, Nek. Atas semuanya, saya pamit dulu," Flynn membungkuk hormat. Lalu setelah Nek Azu melambaikan tangan, pemuda itu langsung keluar kamar.

Lunna terkesiap. Apa seperti itu cara berpamitan di sini? Ia kemudian menatap Nek Azu yang masih setia bersama dengan kasurnya.

"Terima kasih, Nek. Dan saya juga minta maaf atas segala kesalahan atau tindakan saya yang menyinggung nenek, saya pamit dulu, sampai jumpa, Nek."

Lunna ikut melakukan seperti yang Flynn contohkan, lalu setelah Nek Azu mengijinkan, ia keluar dari kamar dan menutup pintu itu kembali.

Setelah acara perpisahan yang kaku dan agak canggung, Lunna dan Flynn segera angkat kaki dari rumah jamur Nek Azu. Mereka memulai perjalanan. Dengan Flynn sebagai peta hidup, memimpin arah.

"Seberapa jauh kota itu dari sini?" tanya Lunna memecah keheningan setelah beberapa menit.

"Mungkin sekitar 74 kilo. Dan itu butuh satu hari berjalan kaki." Flynn yang berjalan di depan Lunna menjawab tanpa menoleh.

Lunna membulatkan mata. Melirik ke sepatu yang membungkus kakinya. Berjalan kaki seharian? Kaki ini bisa patah nanti, keluhnya dalam hati.

Iris cokelatnya kemudian beralih ke sesosok hewan yang berjalan di sampingnya. Drole. Kucing itu tak pernah membuka suara sejak ada orang lain bersama mereka.

Ratusan menit berlalu dengan lambat. Entah sudah seberapa jauh dua orang dengan satu hewan itu menapaki jalanan hutan. Mereka memang melewati jalan pintas, yang kata Flynn lebih cepat sampai.

Tapi itu harus menerobos hutan belantara. Lunna tak punya pilihan lain selain menurut dan setuju dengan keputusan Flynn. Ia tak berhak protes.

"Kita istirahat sebentar?" Flynn tiba-tiba membuka suara. Pemuda itu berbalik, sekadar memastikan bahwa gadis yang mengikutinya masih ada.

"Ah, ya," sahut Lunna pendek.

Gadis itu langsung mencari tempat ternyaman. Lalu merebahkan diri untuk memulihkan tenaga. Meski cukup risih karena tubuhnya bertemu dengan permukaan tanah secara langsung, tapi akhirnya ia memilih untuk mengabaikan.

Flynn duduk di akar pohon yang tak jauh dari posisi Lunna. Pemuda itu bersandar dan memejamkan mata. Sedangkan Drole ada juga di sana. Kucing itu duduk manis, melemaskan otot kakinya yang sudah mulai lelah.

Langit di sini cerah dan bewarna biru. Dengan beberapa awan tipis yang menghiasinya. Lalu pepohonan yang tumbuh juga tidak terlalu rapat. Jadi cahaya matahari tetap bisa menyentuh permukaan tanah, membuat dasar hutan tak terlalu lembab.

Dua puluh menit kemudian...

"Sudah."

Flynn berdiri. Pemuda itu memberi tahu bahwa sudah saatnya untuk kembali meneruskan perjalanan. Tak baik menunda-nunda. Jika hari mulai malam, ancaman dari hutan tak bisa dianggap remeh.

Lunna ikut berdiri. Ia menepuk beberapa tempat di pakaiannya, menghilangkan debu dan remah-remah daun yang menempel. Mereka kembali melangkah, dengan Flynn yang memimpin di depan.

Tadinya di hutan ini ada bekas jalan. Yang tercipta karena sering dilewati, namun lama kelamaan jalannya hilang. Digantikan jalan tanah yang sudah tertutup rumput dan lumut. Juga ada banyak batu kerikil yang tersebar acak.

"Kau punya benda tajam?" Flynn melambatkan langkahnya. Pemuda itu menatap awas ke sekitar.

Lunna juga ikut memelankan langkah, mensejajarkan diri di samping Flynn. "Tidak, untuk apa?" heran Lunna.

"Sebentar,–" Flynn merogoh saku di balik mantel. "–untung ke bawa," ia berkata lega saat sebuah belati ada di tangannya.

Lunna terperanjat. Mau apa Flynn? Mengeluarkan belati di dalam hutan yang sepi ini?

"Hey, kau tidak berniat memutilasiku kan?" Lunna bertanya dengan nada tak ramah. Ini hutan, kalau Flynn macam-macam, tidak ada orang yang dengar jika ia berteriak minta tolong.

Flynn menatap tajam. "Bisakah kau tidak berpikir buruk? Aku hanya bersiap siaga. Kau juga butuh senjata," ujarnya serius.

Lunna meneguk ludah. Senjata? Tak pernah terlintas di pikirannya bahwa ia akan menggunakan salah satu barang yang bisa dikategorikan sebagai benda tajam. Lagipula ia memang tak punya, dan tak perlu. Untuk apa juga?

Lalu Flynn, kenapa pemuda itu membawa belati bersamanya? Apa itu salah satu kebiasaan unik di dunia ini? Kenapa terdengar mengerikan?

Lunna menelisik ke sekitar. Ia juga melihat sorot mata Drole menajam. Seolah memang ada ancaman yang hendak datang. Lunna pun mengambil kayu panjang yang tergeletak di tanah. Yang mungkin patahan dari pohon di atasnya.

Ia memegang kayu itu dengan kedua tangan. Ikut waspada. Ia jadi percaya situasi ini cukup mencurigakan saat ada suara-suara ganjil yang tiba-tiba bermunculan. Lalu kemudian ada juga gerakan aneh di hutan ini. Perlahan... semua itu semakin jelas.

1
Kgs Indra Rajasyah
Lanjutttt
✰‪ ⃟ ⃟ 🐝ε𝖗𝖑𝖎𝖓𝖆ᵉᶬʷ⋆᭄
semangat kakak, maaf baru bisa baca lagii 😊😊😊
🖤༒︎★𝕱𝖚𝖏𝖔𝖘𝖍𝖙★༒︎🖤
Gambar amuba fix kelas gw banget 😂😂😭😭
nazaruddin thamrin
ada lanjutannya thor? Fresh Nazar mendukungmu. Ditunggu LIKE dan KOMEN mu ke novel PEMBALASAN SANG CEO dan HOT MAN ON CAMPUS. kita saling support terus ya.
Bintang Calista Putri
5 like 💞💓
Bintang Calista Putri
Keren ceritanya kak
Bintang Calista Putri
Bagus kak ceritanya
Bintang Calista Putri
Keren kak thor
Bintang Calista Putri
Hmmm
Rachel Ichza Cullen
masih ada kelanjutannya ga kak author cerita ini??
Rachel Ichza Cullen: sambunggin donk thorr..kerennn tauuu
total 2 replies
Rachel Ichza Cullen
asinn..hahahaaa
Rachel Ichza Cullen
bahasanya gaul khas bocah zaman now yaa... semngat thor
🌻Ruby Kejora
5like dulu...nanti q sambung lagi.
like blk karyaku ya
cinta rasa covid -19
the Thunder's love
🌻Ruby Kejora
hai thor...q datang mendukung mu.like setia mendarat
Riana Nazwa
ceritanya bagus kak aku suka

bdw mampir juga ya kak di novel Ku judulnya TERSISIH KARENA MENDUA
Yuli
ayo thor semangt update ny aq 😘tunggu lho😘😘😘baru mampir dah ska ceritanya
Lade eunoia
like 🥰 ditunggu up selanjutnya
Ezrahi
selamat Thor
mampir ya
Dian Anggraeni
mantap tor ! lanjut dong 👏👏👍👍👍
Ls
hadir thor.. like ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!