NovelToon NovelToon
Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO
Popularitas:298
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.

Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.

Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?

Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30: Lembur Berdua, Detak yang Ketahuan

Pukul sepuluh lewat tujuh belas menit, hanya dua lampu yang masih menyala di lantai eksekutif Tan Group.

Satu di kantor Renard.

Satu di meja Liana.

Rizal, Bayu, dan Dimas sudah pulang sejak dua jam lalu setelah memastikan tidak ada rapat pagi yang perlu disiapkan. Staf kebersihan selesai bekerja. Suara pendingin ruangan terdengar lebih keras di lantai yang kosong.

Liana memeriksa halaman terakhir laporan divisi parfum, membetulkan satu angka, lalu mengirim versi final ke Renard.

Laporan itu memuat rekomendasi Bali, hasil uji minyak atsiri, dan revisi formula sampel 03. Nama Liana tercantum sebagai evaluator pada bagian akhir. Ia sempat mengira itu kesalahan, tetapi riwayat dokumen menunjukkan Renard sendiri yang menambahkannya.

Ia membaca namanya dua kali.

Selama ini pekerjaannya sering berakhir di balik tanda tangan orang lain. Satu baris kredit tidak mengubah dunia, tetapi membuat enam jam lembur terasa memiliki arah.

Liana tidak menghapusnya.

Tiga puluh detik kemudian, pintu kantornya terbuka.

"Selesai."

Liana menyandarkan punggung ke kursi. "Akhirnya."

"Kamu belum makan malam."

"Pak Renard juga belum."

"Aku bertanya dulu."

"Bapak bahkan nggak bertanya. Bapak menyatakan tuduhan."

Renard melihat bungkus biskuit di tempat sampah. "Itu bukan makan malam."

"Kita bisa beli nasi goreng di jalan."

"Baik. Aku antar."

Liana berkedip. "Pak Agus masih menunggu di bawah."

"Aku sudah menyuruhnya pulang."

"Kenapa?"

"Sudah malam."

"Pak Agus dibayar untuk mengemudi."

"Dia juga punya keluarga. Aku bisa menyetir sendiri."

Alasan itu masuk akal. Liana tetap curiga karena Renard mengatakannya sambil menghindari mata.

Ia mematikan komputer dan memasukkan tablet ke tas. "Kalau Bapak mengantuk, saya pesan Grab saja."

"Aku nggak mengantuk."

"Kalau tangan Bapak kram?"

"Sudah membaik."

"Kalau gejalanya muncul lagi?"

Renard menatapnya. "Kamu ada di mobil."

Udara di antara mereka menjadi hening.

Liana menutup ritsleting tas lebih keras daripada perlu. "Saya bukan perlengkapan darurat."

"Aku tahu." Suara Renard melunak. "Karena itu aku bertanya. Mau kuantar atau tidak?"

Liana menahan senyum. "Mau."

***

Area parkir bawah tanah hampir kosong. Langkah mereka memantul di antara pilar beton.

Renard membuka pintu penumpang untuk Liana, lalu berjalan ke sisi pengemudi. Tangannya memang sudah tidak gemetar, tetapi otot telapak masih nyeri setelah dua hari tegang berulang.

Begitu duduk, ia mencoba menarik sabuk pengaman. Wajahnya berubah sedikit saat pergelangan terputar.

Liana langsung melihat. "Sakit?"

"Sedikit."

"Jangan menyetir kalau sakit."

"Setirnya ringan. Menarik sabuk justru sudutnya lebih buruk."

"Kita panggil Pak Agus lagi."

"Dia sudah setengah jalan pulang."

Renard melepaskan sabuk. "Bisa bantu?"

Liana menatapnya.

"Sabuk pengaman," tambah Renard. "Bukan operasi tangan."

"Saya tahu."

Ia menaruh tas di lantai dan membungkuk ke arah Renard. Tangan kirinya meraih sabuk di belakang bahu pria itu. Posisi kursi lebar, tetapi tubuh Renard lebih lebar lagi. Liana harus mendekat sampai bahunya menyentuh dada pria itu.

Sabuk tersangkut di sisi kursi.

"Sebentar."

Liana menarik lagi. Tubuhnya bergeser lebih dekat. Telapak tangan kanannya mencari tumpuan dan mendarat tepat di dada Renard.

Di bawah kemeja, jantung pria itu menghantam keras.

Liana membeku.

Satu detik.

Dua.

Detaknya tidak melambat. Justru semakin cepat, seolah Renard baru berlari menaiki tangga, bukan duduk diam di dalam mobil.

Liana mengangkat wajah.

Mata Renard menunggunya di jarak sangat dekat. Gelap, dalam, dengan kilau hijau seperti giok yang terendam air. Tidak ada topeng dingin yang biasa ia pakai di ruang rapat.

Napas mereka bertemu.

"Pak Renard..."

"Hm?"

"Jantung Bapak cepat."

"Aku tahu."

Ia tidak mencoba menyangkal. Tidak menyebut serangan, kopi, atau kurang tidur. Tangannya tetap berada di paha, memberi Liana kebebasan untuk mundur.

Namun Liana belum bergerak.

Telapak tangannya masih merasakan setiap detak. Cepat. Jujur. Sangat berbeda dari wajah Renard yang tenang.

"Karena gejala?" tanyanya, meski ia sudah menduga jawabannya.

"Nggak mual. Nggak demam. Napasku normal."

"Berarti?"

Tatapan Renard turun ke bibirnya, lalu kembali ke mata.

"Kamu pintar."

Jawaban itu lebih berbahaya daripada pengakuan.

Jari Liana tanpa sadar mencengkeram kain kemejanya. Aroma cedar-kopi memenuhi ruang sempit. Di luar kaca, lampu parkir memantulkan bayangan mereka yang hampir menyatu.

Renard mengangkat tangan perlahan. Ia berhenti di dekat pinggang Liana, tidak menyentuh.

"Boleh?"

Liana tahu apa yang ditanyakan. Ia juga tahu satu anggukan bisa membawa mereka kembali ke jarak terakhir yang gagal ditutup pada malam terapi.

Sebelum ia menjawab, sabuk pengaman yang sejak tadi ditarik mendadak lepas dari kaitannya.

Tubuh Liana terdorong lebih dekat. Hidungnya nyaris menyentuh rahang Renard.

Renard menahan pinggangnya agar tidak jatuh.

Keduanya terdiam.

Lalu Renard berkata dengan wajah paling serius, "Kamu harus latihan otot inti."

Liana menatapnya tidak percaya.

"Apa?"

"Keseimbanganmu buruk."

"Sabuknya yang macet!"

"Sabuknya cuma menguji kesiapan fisik."

Liana menarik sabuk itu, memasukkannya ke pengunci dengan bunyi keras, lalu mundur ke kursinya. "Silakan menyetir sendiri, Pak. Sekalian latihan tangan."

Telinga Renard merah, tetapi mulutnya tetap datar. "Terima kasih."

"Nggak tulus."

"Sangat tulus."

Mesin mobil menyala. Ketegangan pecah, tetapi detak yang Liana rasakan masih tertinggal di telapak tangannya.

***

Mereka membeli nasi goreng di warung yang masih buka dekat Kuningan. Renard menunggu sampai Liana menghabiskan setengah porsi sebelum melanjutkan perjalanan.

Di depan apartemen, Liana melepas sabuknya sendiri dengan gerakan tegas.

"Besok saya minta tim fasilitas memeriksa sabuk Bapak."

"Nggak perlu."

"Untuk keselamatan."

"Sabuknya sudah bekerja dengan sangat baik."

Liana memelototinya, lalu membuka pintu.

Ponselnya bergetar di dalam tas.

Satu nomor baru mengirim pesan WhatsApp. Tiga akun Instagram tanpa foto profil juga mengirim permintaan pesan. Nama Aldi muncul dalam satu tangkapan layar, sedangkan akun lain memakai kalimat-kalimat manis palsu yang biasa digunakan Nadia sebelum menyerang.

Liana tidak membuka tautan apa pun. Ia mengambil tangkapan layar, menyimpan waktu penerimaan, lalu meneruskannya ke folder bukti dan kontak penasihat hukum.

Renard melihat perubahan wajahnya dari kursi pengemudi. "Ada masalah?"

"Akun baru. Kemungkinan Nadia dan Aldi."

"Tunjukkan."

Liana ragu sesaat, lalu mengulurkan layar tanpa menyerahkan ponsel. Renard membaca dari jarak yang ia izinkan.

"Kita laporkan akun-akunnya malam ini," katanya.

"Saya sudah simpan bukti. Besok legal bisa cek apakah ada pola yang sama dengan pesan lama."

"Aku tunggu sampai kamu masuk."

"Pak Renard nggak perlu."

"Aku tahu. Aku tetap menunggu."

Renard memindahkan mobil ke tempat yang tidak menghalangi pintu masuk. Ia tidak turun, tidak mengambil alih ponsel, dan tidak memerintahkan Liana tinggal di dalam mobil. Kehadirannya hanya menjadi pilihan yang tetap ada di belakangnya.

Notifikasi terakhir muncul saat Renard masih menunggu di balik kemudi.

`Malam, Mbak Liana. Sebentar lagi semua orang akan tahu siapa dirimu sebenarnya.`

Liana mengenali cara kalimat itu tersenyum tanpa kehangatan.

Nadia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!