AL harus pergi dari rumahnya karena di usir oleh orangtuanya, mereka lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya.
Meskipun begitu, ia tatap bangkit untuk bertahan hidup. Takdir berkata lain, ia mendapatkan sebuah sistem yang mengubah hidupnya dan membuat orang tuanya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Mereka pun melangkah masuk ke dalam restoran bergaya klasik modern itu. Aroma Masakan dan wangi parfum tercium di hidung mereka.
Di dekat pintu masuk, seorang karyawan dengan setelan jas rapi dan senyum profesional menyapa dengan ramah.
"Selamat datang, silakan masuk. Apakah sudah membuat reservasi sebelumnya, Tuan?" tanya karyawan itu dengan nada suara yang tertata.
Al mengangguk. "Sudah, atas nama Al. Meja nomor 20."
"Baik, mari saya antar menuju meja Anda," sahut sang karyawan sembari memberikan isyarat tangan, menuntun mereka melewati meja-meja yang lain.
Mereka pun duduk di kursi nomor 20. Saka tampak gelisah di kursinya.
Ia berulang kali membetulkan kerah kemejanya yang sebenarnya tidak berantakan.
"Wah, untuk pertama kalinya aku ke restoran semewah ini Al. Asli aku jadi gugup banget," bisik Saka dengan suara pelan, dan matanya melihat sekeliling.
Di meja sebelah kiri mereka, tampak sepasang keluarga konglomerat sedang berbincang elegan, sementara di sisi lain ada sekelompok pengusaha berpakaian mahal dengan jam tangan kristal.
"Santai saja, Saka. Anggap saja sedang makan di Kantin sekolah kita," canda Al terkekeh pelan, berusaha agar sahabatnya itu tidak tegang.
"Kantin apaan! Lihat tuh, orang-orang di sini pakaiannya mahal semua. Sepatu mereka saja mungkin bisa buat bayar SPPku setahun," balas Saka, masih dengan suara berbisik, takut kedengaran pengunjung lain.
Tak lama kemudian, seorang pelayan pria kembali datang dengan senyum ramah, membawa dua buah buku menu bersampul kulit tebal berlogo emas.
Ia meletakkannya di hadapan Al dan Saka dengan gerakan yang sangat sopan.
"Silakan menunya, Tuan. Jika sudah siap untuk memesan, Anda bisa memanggil saya," ucap pelayan itu sebelum mundur beberapa langkah memberi mereka privasi.
Al membuka menunya yang tebal, lalu menatap Saka yang malah bengong melihat deretan nama makanan asing dengan harga yang bikin jantungan.
"Saka, ayo kau pilih duluan. Beli apa saja yang kamu suka, nggak perlu takut uangku habis. Yang penting malam ini kamu senang. Anggap ini perayaan kita," kata Al tulus.
Saka menelan ludah, matanya terpejam sejenak melihat angka-angka di menu yang tidak masuk akal bagi dompetnya. "Al, kamu serius? Ini harga satu porsi supnya saja bisa buat kita makan nasi padang seminggu, lho?"
Al tertawa lepas, membuat beberapa orang di sekitar sempat menoleh, namun ia segera meredam suaranya. " Sudah, jangan mikirin harga. Pilih saja."
"Betul ini? Bebas, ya?" Saka memastikan sekali lagi, matanya berbinar menunjuk salah satu halaman menu.
"Oke deh! Aku dari dulu penasaran banget sama yang namanya Lobster. Tiap nonton acara masak di TV cuma bisa nelan ludah. Entah seperti apa rasanya daging hewan bercapit raksasa ini," katanya.
"Nah, begitu dong. Pelayan!" panggil Al melambaikan tangan dengan elegan.
Pelayan tadi segera menghampiri meja mereka dengan catatan kecil di tangannya. "Ya, Tuan. Sudah menentukan pilihannya?"
"Kami pesan Lobster Panggang dengan saus mentega bawang putih satu, lalu Cumi Bakar bumbu madu satu," ujar Al lancar.
"Untuk minumannya, Tuan?"
Al melirik Saka, lalu kembali menatap pelayan. "Berikan kami Sparkling Water premium dan dua gelas Mocktail buah tropis yang paling direkomendasikan di sini. Oh ya, untuk hidangan penutupnya, kami mau Mango Mousse Dessert dua porsi."
"Baik, saya ulangi pesanannya..." Pelayan tersebut membacakan kembali daftar makanan mewah tersebut dengan cekatan.
"Mohon ditunggu sekitar lima belas sampai dua puluh menit, Tuan. Terima kasih."
Setelah pelayan itu pergi, Saka menyandarkan punggungnya ke kursi empuk restoran, menarik napas dalam-dalam seolah baru saja lolos dari ujian berat.
"Lobster panggang... gila, akhirnya aku bakal makan makanan sultan," gumam Saka sambil tersenyum lebar, ia menjadi tidak sabar lagi.