Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Undangan dan Persiapan
Suasana kantin kampus siang itu cukup ramai, namun di salah satu meja pojok, Rara dan Sari—dua sahabat Mita—sedang asyik membolak-balik sebuah kartu tebal berhias tinta emas yang tampak sangat mewah.
"Eh, apa ini, Mita?" tanya Rara, matanya membelalak menatap deretan huruf kapital di atas kertas konveks tersebut. "Ini... ini kartu undangan pesta dari keluarga Baskoro?"
Mita yang sedang mengaduk minumannya hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Ya ampun, Mita! Ini siapa yang menikah? Mas Sam, kan?" sahut Sari tidak kalah heboh. "Wah, bagaimana ini? Ini pasti sangat menghebohkan! Pestanya keluarga Baskoro kan selalu terkenal sangat mewah. Tapi... duhh, aku bingung. Aku tidak tahu harus pakai baju apa, aku tidak punya gaun yang bagus untuk dipakai ke acara semegah ini nanti."
Melihat kepanikan kedua sahabat yang selama ini selalu tulus mendukungnya dalam keadaan sulit, Mita terkekeh pelan. Ia melipat kedua tangannya di atas meja dengan ekspresi ceria.
"Oh, kalau gitu ayo kita pergi belanja sekarang. Biar aku yang traktir untuk kali ini," ujar Mita santai.
"Eh, betulkah?! Ya Allah, ya ampun, Mit! Kamu baik sekali!" pekik Rara dan Sari hampir bersamaan, tidak menyangka akan mendapat rezeki nomplok.
Tanpa membuang waktu lagi, setelah jam kuliah selesai, mereka bertiga langsung bergegas pergi ke salah satu mal terbesar di pusat kota. Rara dan Sari tampak sangat antusias, menyusuri deretan butik untuk berburu gaun pesta terbaik sebagai persiapan menghadiri hari pernikahan Sam dan Vanya minggu depan.
Saat mereka sedang asyik berjalan melewati deretan butik mewah di dalam mal, langkah Mita mendadak terhenti. Dari arah depan, tampak Sam berjalan beriringan dengan Vanya yang bergelayut manja di lengannya. Di belakang mereka, seorang asisten pribadi Sam tampak berjalan dengan napas sedikit terengah-engah, kedua tangannya dipenuhi oleh belasan kantong belanjaan bermerek milik Vanya yang begitu banyak.
Pertemuan yang tak terduga itu seketika membuat suasana di koridor mal menjadi tegang. Rara dan Sari langsung saling senggol, menatap sinis ke arah Vanya yang sengaja membusungkan dadanya dengan angkuh untuk memamerkan tumpukan belanjaannya di depan Mita. Namun, Sam justru terpaku di tempatnya, matanya langsung terkunci pada sosok Mita yang berdiri dengan anggun tanpa beban, membuat rasa bersalah dan penasaran yang sempat ia kubur kini perlahan mulai terusik kembali.
"Duluan ya, Kak Sam," ucap Mita dengan nada suara yang tenang dan jernih, menjadi orang pertama yang memecah keheningan di antara mereka. Sebuah senyuman ramah namun berjarak terukir di wajah cantiknya, seolah keberadaan Sam dan Vanya sama sekali tidak memengaruhi ketenangan hatinya lagi.
Mendengar suara Mita yang terdengar begitu lepas tanpa beban, Sam sempat tertegun sebelum akhirnya mengangguk kaku sebagai balasan. Mita kemudian menepuk pelan bahu Rara dan Sari, mengajak kedua sahabatnya itu untuk kembali melangkah melewati pasangan tersebut tanpa menoleh lagi, meninggalkan Vanya yang mendadak cemberut karena merasa aksi pamer belanjanya sama sekali tidak berhasil memancing emosi Mita.
"Lagipula, untuk apa pamer barang belanjaan kalau statusnya saja masih bayangan orang lain," bisik Rara cukup keras sengaja agar terdengar oleh Vanya saat mereka berjalan menjauh.
Sam yang sempat menangkap selentingan kalimat itu langsung melirik Vanya dengan tatapan dingin, sementara jemarinya diam-diam mengepal di dalam saku celana, merasa bahwa ketenangan yang selama ini ia banggakan perlahan-lahan mulai runtuh setiap kali berhadapan dengan sosok Mita yang baru.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)