Dua saudara berstatus kakak beradik tinggal bersama sejak usia remaja tanpa kedua orang tua. Karena kedua orang tuanya sudah bercerai dan memilih tinggal bersama keluarga baru masing-masing.
Hal itu membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, dan takdir mereka berubah ketika dewasa.
Namun, suatu ketika kedua orang tuanya memperebutkan anak kedua , di situlah kakak membela adiknya tidak membiarkan mereka mengambil adiknya.
Lalu, bagaimana mereka melalui masa-masa sulit?
Ikuti terus kisahnya dan dukung karya author,
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30.
Seseorang membuka pintu dengan terpaksa membuat Salindra dan pria yang di dalam terkejut menoleh ke arah pintu. Mereka melihat Arbian masuk, Salindra mendadak terpaku diam seribu bahasa. Ia semakin terancam dan terpojok di balkon. Senyum pria di depannya semakin liar, sedangkan Arbian menatap keduanya dengan tatapan penuh arti.
“Cepat selesaikan dan pergilah, sisanya biar aku yang urus," perintah Arbian kemudian melangkah keluar.
Dalam hati Salindra berkata, "Apa dia bilang... Memangnya aku barang apaan, kita lihat saja nanti aku akan buat kekacauan yang lebih parah dari ini,“
Salindra menatap kepergian Arbian, hatinya sangat membenci pria itu. Tatapannya beralih pada pria di depannya yang jaraknya cukup membuatnya waspada. Ia mencari cara melumpuhkan pria itu dengan cepat dan menyelesaikan urusan dengan Arbian. Salindra tidak mau menunggu lebih lama tapi, pikirannya mendadak buntu tidak tahu harus berbuat apa.
“Apa kamu sudah capek dan menyerahkan diri padaku, atau masih mau main-main di sini. Sayangnya kamu sudah tidak ada celah untuk melarikan diri.“ Pria itu tersenyum penuh gairah melihat tubuh Salindra.
“Dalam kamusku tidak ada yang namanya menyerah, kamu sama sekali tidak mengenalku dasar pria mesum." Salindra mengambil posisi untuk segera berlari menjauhi pria itu dengan secepat kilat.
Saat Salindra berlari ia terpeleset dan terjatuh di lantai, pria itu sempat terkejut dan terdiam melihat Salindra jatuh tepat di sampingnya. Di saat akan memegang tubuh Salindra, sebuah tendangan mengarah ke perutnya. Salindra bangun dan berlari untuk bersembunyi.
Pria tersebut mengerang sambil memegang perutnya, merasakan kesakitan. Ia mencari Salindra di setiap sudut ruangan tapi, tidak menemukannya membuatnya marah. Arbian masuk kembali ke kamar melihat keadaan mereka berdua.
Mata Arbian menatap pria itu dan dan mencari Salindra, kemudian ia memukul pria itu tanpa aba-aba. Pria itu jatuh tersungkur di lantai lalu, berkata, "Dasar tidak becus, urus satu perempuan saja tidak bisa."
“Salindra, keluar kamu sekarang. Kamu tidak usah sembunyi kamar ini terlalu sempit untuk bersembunyi, kalau mau bermain, aku juga bisa.“ Arbian merasa tertantang setelah melihat apa yang ia lihat baru saja terjadi antara Salindra dan pria suruhan Citra.
Salindra di tempat persembunyian diam tanpa berani keluar. Ia memutar otak untuk segera pergi dari tempat terkutuk itu. Terdengar suara pintu di ketuk dari luar, Arbian melangkah untuk membukanya.
Sepasang pria dan wanita berdiri dengan wajah serius menyapa Arbian dengan sopan. Melihat mereka Arbian menyuruh masuk dan duduk di ruang utama.
“Ada keperluan apa kalian ke sini?" tanya Arbian dengan wajah acuh.
"Kami ke sini mencari adik kami bernama Salindra, tadi kami mendapat informasi kalau adik kami ada di kamar ini," jelas Hezel tanpa basa-basi.
Deg
Arbian merasa terkejut mendengar penjelasan Hezel, ternyata Salindra sudah menghubungi mereka untuk menolongnya keluar dari sini. Ia tersenyum kecil mencoba lebih tenang seolah tidak terjadi sesuatu di dalam kamar itu. Dan menjelaskan kepada mereka kalau di sini tidak ada yang bernama Salindra.
Jayanti dan Hezel tidak percaya dengan perkataan Arbian. Ia ingin melihat sekitar ruangan di dalam kamar tersebut memastikan sendiri kalau firasatnya tidak salah. Arbian mencari cara agar mereka berdua segera pergi. Tapi, Hezel dan Jayanti tidak mau pergi sebelum melihat sendiri kalau Salindra ada di sana.
"Di sini tidak ada yang namanya Salindra, lebih baik kalian cepat pergi karena aku sedang ada urusan," usir Arbian berdiri dan hendak masuk ke dalam.
"Apakah anda menyembunyikan Salindra?" tanya Jayanti dengan tatapan tajam ke arah Arbian.
" Kamu pikir aku penculik adik kamu, kurang kerjaan saja." Arbian melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
Dari balik pintu kamar terdengar suara gaduh, Jayanti dan Hezel sudah di belakang pintu berbalik merasa curiga. Mereka berjalan dengan cepat menuju pintu kamar dan mencoba membuka namun, Arbian mencegahnya.
"Kalian berani kurang ajar masuk kamar pribadi orang, aku bisa menuntut kalian ke penjara," ancam Arbian menatap tajam sambil memegang knop pintu.
Jayanti memberi kode kepada Hezel mengalah dan pergi dari kamar tersebut. Lagi, lagi mereka mendengar suara kali ini lebih sering dan
Brakk
Pintu kamar terbuka lebar semua orang terkejut melihat sosok Salindra keluar dari kamar dengan wajah panik. Salindra melihat kakaknya dan kakak ipar tidak menyangka akan bertemu di tempat itu.
"Kak Jayanti,"
"Kak Hezel,"
"Salindra,"
Mereka bertiga saling menyebut nama dan terkejut saat melihat pintu kamar terbuka. Salindra langsung berhambur ke pelukan kakaknya, lalu melepaskannya pandangan Salindra tertuju pada Arbian yang berdiri terkejut melihatnya bisa keluar.
Hezel mengepalkan tangannya bergerak melangkah maju dan memukul Arbian dengan membabi buta. Arbian belum siap langsung tersungkur di lantai, ia membersihkan darah yang keluar dari sudut bibir. Lalu, melihat ke arah Hezel.
Pria yang mengejar Salindra ternyata sudah tidak berdaya, entah dengan cara bagaimana Salindra menghadapi pria berbadan besar dan kekar tersebut. Salindra merasa puas melihat para pria yang akan melecehkannya kalah sebelum melakukannya.
Jayanti dan Salindra keluar dari kamar apartemen dengan langkah cepat menuju parkiran. "Kamu tidak apa-apa, Salindra?"
"Aku tidak apa-apa kok, Kak!" jawab Salindra mencoba tersenyum sambil mengusap airmata.
Sementara di kamar sedang adu kekuatan antara Hezel dan Arbian. Mereka belum menunjukkan kekalahan. Arbian melihat ada pisau di atas meja hendak menikam Hezel, tanpa di duga pisau tersebut melesat dengan cepat bergerak berbalik arah karena Hezel berhasil menghindar akhirnya pisau itu mengenai tangannya sendiri.
Arbian menjerit kesakitan dan melempar pisau tersebut ke segala arah. Hezel mendekati Arbian dan mengunci gerakannya lalu, membawa Arbian keluar dari kamar dalam keadaan terluka parah. Darah menetes di lantai menyisakan jejak perkelahian mereka.
Tidak berselang lama polisi datang mengamankan dua pria berbadan besar yang dalam keadaan tak sadarkan diri, membawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
...----------------...
Hari menjelang malam Citra pulang ke apartemen dalam keadaan mabuk berat bersama seorang pria teman kencannya. Mereka tidak menyadari keadaan ruangan yang berantakan kemudian, berjalan menuju kamar sambil berciuman mesra.
“Citra, aku sudah tidak sabar ingin bercinta denganmu," kata Pria yang bersamanya.
Citra melihat pria tersebut dengan pandangan sayu mencium bibir pria tersebut dengan penuh nafsu. Pria itu membalas dengan hal yang sama. Akhirnya mereka melakukan hubungan intim di kamar yang berantakan.
Citra mencium aroma tidak sedap di kamarnya, berusaha membuka mata. Ia menyadari sesuatu namun kepalanya terasa berat kemudian beranjak turun dari tempat tidur. begitu menginjak lantai dan melihat seluruh kamarnya terkejut matanya membulat sempurna.
"Kamarku, apa yang sudah terjadi... Dan kenapa bisa berantakan semua... Oh tidak. Ini pasti ada yang sesuatu yang tidak beres, pasti ada maling masuk," umpatnya berjalan dengan cepat keluar dari kamar.
Hal tak terduga di luar pun sama halnya berantakan dan lebih parah. Ia menjerit histeris melihat keadaan kamar dan seluruh isi apartemennya sangat tidak terbentuk, semua barang-barangnya berhamburan di lantai.
Citra semakin terkejut melihat darah di lantai sangat banyak dan hampir kering, ada pisau di dekat darah tersebut. Dahinya berkerut memastikan kalau itu bukan darah manusia. Saat mencium aroma darah ia merasa ingin muntah.
"Darah siapa ini, dan .... Salindra?“
Citra baru sadar ketika menyebut nama Salindra. Ia mencari keberadaan Salindra di kamarnya, tapi tidak menemukannya. Citra merasa frustasi dan takut kalau perbuatannya diketahui orang lain.
Citra semakin panik dan mencari jalan keluar dari masalah. Ia kembali masuk ke dalam kamar melihat pria yang tidur bersamanya bangun dari tidur dalam keadaan bingung melihat kamar yang berantakan.
“Apa yang terjadi dengan kamar kamu, Citra?" tanya Pria tersebut dengan pandangan kebingungan.
Mereka berdua sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi semalam. Sementara Citra sibuk dengan pikirannya sendiri.