NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:23.7k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Di ruang tamu apartemen mewah yang luas, bersih, dan berbau harum, suasana terasa begitu damai dan hangat, sangat bertolak belakang dengan kegelapan dan kebencian yang baru saja terjadi di rumah Dimas berjarak beberapa kilometer dari sana. Lampu ruangan menyala lembut, menerangi wajah-wajah yang tampak tenang dan penuh kebahagiaan sederhana.

Ani duduk di samping ibunya, Bu Asri, sementara Ayahnya, Pak Harun, duduk di kursi seberang dengan segelas teh hangat di tangannya. Mereka berdua baru saja tiba sore tadi, datang dari kampung halaman untuk menjenguk putri tunggal mereka yang kini hidup mandiri dan sukses di kota besar. Rasa bangga dan bahagia jelas terpancar dari raut wajah kedua orang tua itu melihat perubahan besar pada Ani. Putri mereka yang dulu tampak lesu, kurus, dan selalu bersedih hati, kini berdiri tegak, bersinar, dan memancarkan kekuatan serta ketenangan yang luar biasa.

Malam itu, setelah makan malam sederhana namun lezat yang disiapkan Ani sendiri, mereka duduk bersama mengobrol panjang lebar. Dan di sanalah Ani menceritakan semuanya. Mulai dari pertemuan tak terduga dengan Dimas dan wanita itu, kecurigaan-kecurigaan yang dirasakannya, hingga rencana jahat pemalsuan dokumen yang disusun rapi untuk menjatuhkannya.

 Ani bercerita dengan tenang, tidak ada nada marah, tidak ada nada benci, melainkan hanya kisah perjuangannya membela diri dan kebenaran. Ia juga menceritakan bagaimana Damar mendukungnya, bagaimana ia mencari bukti teliti demi teliti, hingga akhirnya membongkar semua kejahatan itu di depan rapat besar, dan bagaimana Dimas serta Rina akhirnya mendapatkan balasan setimpal atas perbuatan mereka sendiri.

Bu Asri mendengarkan dengan napas tertahan, tangannya erat menggenggam tangan putrinya sepanjang cerita itu berlangsung. Sesekali ia mengusap air mata yang menetes, bukan karena sedih, melainkan karena rasa haru dan takjub. Pak Harun yang biasanya tenang dan sedikit banyak bicara, duduk diam menyimak dengan saksama, wajahnya serius namun perlahan berubah menjadi lega dan bangga.

Ketika Ani selesai bercerita dan menceritakan bahwa Dimas dan Rina telah diberhentikan secara tidak hormat serta dipermalukan di depan semua orang, keheningan sejenak menyelimuti ruangan itu.

"Jadi begitulah, Ayah, Ibu... Semuanya sudah selesai. Nama baik saya sudah bersih kembali. Mereka yang berniat menjatuhkan saya, justru jatuh sendiri ke dalam lubang yang mereka gali sendiri," tutup Ani dengan senyum tulus, matanya berkilat jernih.

Pak Harun menghela napas panjang, napas lega yang berat namun melepaskan segala beban kekhawatiran yang selama ini ia pendam di dada. Ia meletakkan gelas tehnya di meja, lalu menatap Ani lekat-lekat dengan pandangan seorang ayah yang penuh kasih sayang dan rasa syukur.

"Alhamdulillah... Puji Tuhan, Nak... Sungguh, Ayah merasa sangat lega mendengar semua itu," ucap Pak Harun pelan namun tegas, suaranya bergetar karena rasa haru. "Sejak kamu menceritakan pertemuan pertama itu, hati Ayah sudah tidak tenang. Ayah tahu, Dimas itu orangnya tidak akan terima melihatmu bahagia, tidak akan terima melihatmu lebih sukses darinya. Ayah takut dia berbuat jahat lagi sama kamu, sama seperti dulu dia menyakitimu."

Pak Harun bangkit berdiri, berjalan mendekati Ani, lalu menepuk bahu putrinya dengan bangga.

"Tapi ternyata kamu hebat, Nak. Kamu jauh lebih hebat daripada yang Ayah bayangkan. Dulu saat kamu menderita, saat kamu diinjak-injak harga dirimu, Ayah sedih sekali melihatmu. Tapi Ayah tahu, di balik kesabaranmu itu, ada kekuatan besar yang sedang kamu kumpulkan. Dan hari ini, kamu buktikan semuanya. Kamu membela diri bukan dengan kekerasan, bukan dengan kejahatan balasan, tapi dengan kebenaran, kecerdasan, dan kesabaran. Itu kemenangan yang paling mulia, Ani. Kemenangan yang membuat kepalamu tetap tegak tinggi dan bersih di hadapan Tuhan dan manusia."

Bu Asri langsung memeluk Ani erat, air matanya mengalir deras membasahi bahu putrinya.

"Ibu juga lega sekali, Nak... Lega sekali rasanya," isak Bu Asri pelan. "Ibu takut sekali kamu terluka lagi. Ibu takut masa lalu yang pahit itu kembali mengganggu ketenanganmu. Tapi ternyata kamu sudah bukan lagi Ani yang dulu, Nak. Kamu sudah jadi wanita yang kuat, wanita yang cerdas, wanita yang berani membela hak dan kehormatanmu sendiri. Ibu bangga sekali padamu. Sangat bangga."

Bu Asri melepaskan pelukannya, menatap wajah Ani dengan penuh kekaguman.

"Dan Ibu senang sekali kamu tidak membalas kejahatan mereka dengan kejahatan juga. Kamu tidak membenci mereka berlebihan. Kamu cuma mencari kebenaran. Itu yang membuatmu menang telak, Nak. Ingatlah selalu... orang jahat mungkin bisa menang sesaat, tapi mereka tidak akan pernah bisa menang selamanya. Kejahatan mereka sendiri yang akhirnya menelan mereka hidup-hidup, seperti yang kamu alami hari ini."

Ani tersenyum haru, mengusap tangan ibunya dengan lembut.

"Terima kasih, Ayah, Ibu... Terima kasih atas doa dan dukungan kalian. Tanpa doa kalian, saya mungkin sudah hancur duluan menghadapi semua itu. Jujur saja, saat saya tahu mereka berniat menjatuhkan saya, saya sedih dan sakit hati sekali. Saya bertanya-tanya, kenapa mereka begitu benci sama saya, padahal saya tidak pernah berniat jahat sedikit pun sama mereka. Tapi kemudian saya ingat pesan Ayah... bahwa kebencian itu sebenarnya beban berat bagi yang memeluknya, bukan bagi yang dibenci."

Ani melanjutkan dengan pandangan yang menatap jauh ke luar jendela kaca besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota di malam hari.

"Saya sadar sekarang, Ayah, Bu... Dimas membenci saya, bukan karena saya salah, tapi karena dia tidak terima kenyataan bahwa saya ternyata berharga. Dia sakit hati bukan karena saya menyakiti dia, tapi karena dia sadar dia sudah membuang permata yang berharga demi kaca yang berkilau saja. Dan Rina... dia benci karena dia merasa terancam, merasa tidak aman, dan tahu bahwa dia tidak akan pernah bisa jadi seperti saya. Kebencian mereka itu sebenarnya cermin dari rasa rendah diri dan ketakutan mereka sendiri."

Pak Harun mengangguk puas, tersenyum bangga mendengar penuturan bijak putrinya itu.

"Kamu sudah mengerti segalanya dengan benar, Nak. Itu yang paling penting. Sekarang, biarkan mereka dengan nasib mereka sendiri. Biarkan mereka menelan apa yang sudah mereka masak. Tugasmu selesai. Kamu sudah membuktikan kebenaran, kamu sudah membersihkan namamu, dan kamu sudah membuktikan pada dirimu sendiri bahwa kamu berharga dan mampu berdiri tegak tanpa bantuan siapa pun, apalagi bantuan mereka."

Pak Harun duduk kembali di samping istrinya, menatap Ani dengan lembut.

"Untuk ke depannya, lupakan saja mereka. Anggap mereka tidak pernah ada. Anggap mereka cuma pelajaran hidup yang pahit tapi sangat berharga. Kamu punya masa depan cerah di depan mata. Kamu punya pekerjaan yang bagus, teman-teman yang baik, atasan yang menghargai kamu, dan yang paling utama... kamu punya hati yang bersih dan ketenangan jiwa yang tidak bisa dibeli dengan apa pun. Itu harta paling berharga yang kamu punya, Ani."

Bu Asri menambahkan dengan nada penuh kasih sayang.

"Ibu cuma berdoa, semoga mereka sadar dan berubah. Tapi kalau tidak juga, biarlah. Jangan biarkan pikiran tentang mereka mengganggu tidur atau kebahagiaanmu lagi. Kamu sudah bebas, Nak. Benar-benar bebas. Bebas dari belenggu masa lalu, bebas dari rasa sakit hati, bebas dari orang-orang yang berniat buruk. Nikmati kebebasan dan kebahagiaanmu ini sepenuhnya."

Ani mengangguk mantap, hatinya terasa begitu ringan, seolah beban berton-ton yang tersimpan di dadanya selama bertahun-tahun akhirnya terangkat sepenuhnya malam ini bersama dukungan dan doa kedua orang tuanya. Ia merasa damai, merasa utuh kembali.

"Siap, Ayah, Ibu... Mulai sekarang, saya akan fokus ke masa depan saja. Saya akan bekerja lebih giat lagi, belajar lebih banyak lagi, dan membahagiakan Ayah sama Ibu. Biarlah Dimas dan Rina dengan hidup mereka sendiri. Bagi saya, mereka sudah masa lalu yang sudah tertutup rapat dan sudah selesai."

Suasana hangat itu kembali menyelimuti mereka bertiga. Mereka mengobrol tentang hal-hal yang lebih menyenangkan, tentang rencana masa depan Ani, tentang keinginan Pak Harun dan Bu Asri untuk sesekali tinggal di kota atau berkunjung ke tempat wisata bersama putri mereka. Tawa renyah Ani terdengar bergema di ruangan itu, tawa yang tulus, bahagia, dan bebas.

Di luar sana, malam semakin larut. Angin kota bertiup tenang, membawa serta doa-doa baik dari hati yang bersih. Ani tidak tahu, jauh di tempat lain, Dimas sedang menangis dalam diam karena rasa malu dan kehancuran, sementara Rina pergi dengan hati penuh amarah dan sumpah serapah. Namun bagi Ani, itu semua sudah tidak lagi berarti. Ia sudah melewati badai terberat, dan kini ia berdiri tegak di bawah langit yang cerah, siap menyongsong hari esok yang jauh lebih indah dan cerah, hanya miliknya dan orang-orang yang tulus menyayanginya.

Bersambung ,,,

1
partini
aku kira ketemu sama Arga
partini
susah kalau sifat rakus no satu di hati, berharap sekali sembuh mau berbuat jahat lagi ga ada kapoknya
semoga dapat karma yg lebih pahit biar seblm methong tobat dulu
partini
dihh ngapai peduli sih
partini
kebetulan masa sih
ahhhhh bohong yah
busettt dah tuan detil Banggt penjelasan nya 🤭
partini
siapa yah,,
menjaga ok ok yg melukaimu Ampe kaya gitu apa ga nongol lagi ga takut nya kamu oleng ehh ga sadar kamu menyakiti nya ,,bukan ga percaya tapi kebanyakan oleng kalau terjadi sesuatu baru nyesel kaya mantan suaminya ani
falea sezi
goblok malah plg ke desa harusnya ketempat lain lah 🤣 bloon
partini
mendengar kata" ayahnya Ani si Arga reaksinya macam mana yah secara yg di minta si damar apa spontan dia akan bilang aku siap menjaga atau tidak
Uthie
yg jahat yg selalu hancur 👍👍
Uthie
makin seruuu 👍👍👍
Uthie
Jahatnya emang tuhhh manusia😡
Uthie
👍👍👍👍👍👍
Uthie
Good Choice 👍👍👍👍
Uthie
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
Selalu ada orang baik untuk yg baik 👍👍👍
Uthie
tong kosong nyaring bunyinya.. anggap aja yg ngomongin adalah Yong sampah 😂
Uthie
Keluarga selalu menjadi tempat pulang yg paling nyaman dan aman👍👍👍
Uthie
Harusnya bikin dia dikeluarkan dr perusahaan sahabat nya dulu itu...biar sama cewek selingkuhan nya ..biar tau rasa mereka 😡😡😡
Uthie
Good Choice 👍👍👍😡
Uthie
beruntung nya punya ibu mertua yg bijak dan tau juga memihak hal yg.benar 👍👍😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!