NovelToon NovelToon
Matahari Dibalik Kabut

Matahari Dibalik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Chani Bae

Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.

​ Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
​Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.

Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30 (21+)

Fadhlan terkekeh melihat respons kesal istrinya yang justru terlihat sangat menggemaskan. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama saat Syifa melemparkan pertanyaan berikutnya dengan nada usil.

​"Sebelumnya... Mas Fadhlan pernah dijodohkan juga, ya?"

​Seketika, raut wajah Fadhlan berubah drastis. Ia kembali ke 'mode kulkas' andalannya datar, dingin, dan kaku. "Tidak," jawabnya ketus.

​Syifa menahan tawa melihat perubahan ekspresi yang begitu cepat itu. "Hehe... pasti bohong. Iya, kan? Ngaku saja, Mas."

​Fadhlan menghela napas pasrah, sadar ia tidak bisa mengelak dari tatapan menyelidik istrinya. "Itu dulu rencana sepihak dari Kakek Nizar, Sayang. Tapi, saya berani sumpah, yang benar-benar serius saya nikahi dari hati saya sendiri... cuma kamu," jelas Fadhlan defensif, berusaha meyakinkan Syifa setengah mati.

Syifa menggigit bibir bawahnya menahan tawa. 'Ya Allah, lucu banget sih Pak Fadhlan kalau lagi panik begini. Kalau sifat aslinya keluar, malah kelihatan mirip bocil yang lagi merengek takut disalahkan ibunya.'

​"Tapi, bukankah menikah dengan saya juga berawal dari rencana perjodohan Kakek Nizar? Berarti sama saja dong dengan yang sebelum-sebelumnya?" pancing Syifa lagi, menaikkan sebelah alisnya.

​Fadhlan melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Syifa bisa merasakan hembusan napas suaminya. "Siapa yang bilang sama?" bisik Fadhlan dengan suara rendah yang mengintimidasi namun seksi. "Hanya mahasiswa satu ini... yang bisa membuat saya ingin—"

​"Ingin apa?" potong Syifa cepat, melangkah mundur dengan wajah memerah. "Jangan aneh-aneh ya, Mas! Itu... masih ada pelayan restoran yang melihat kita dari jauh!"

​"Tidak ada yang aneh, Sayang. Kan kita sudah sah jadi suami istri?" goda Fadhlan dengan senyuman jahil yang jarang ia tunjukkan di kampus.

​"Pak Fadhlan! Jangan mulai, ya!"

​"Hei, panggil apa tadi?" Fadhlan menyipitkan matanya.

​"Bapak! Kenapa coba? Memang kenyataannya begitu, kan?"

​"Coba ulangi sekali lagi."

​Syifa menjulurkan lidahnya sedikit, lalu bersiap mengambil ancang-ancang. "Pak Fadhlan! Dosen Killer yang... hihi, galak! Lariii...!" celetuk Syifa, lalu langsung membalikkan badan dan berlari sekencang mungkin di atas pasir pantai.

​"Asyifa Humaira...!" panggil Fadhlan dengan suara baritonnya yang khas, yang biasa ia gunakan untuk menertibkan mahasiswa di kelas.

​Fadhlan langsung mengejar. Dengan langkah kakinya yang jauh lebih panjang, tentu saja tidak butuh waktu lama bagi Fadhlan untuk menyusul. Dalam beberapa detik, Fadhlan sudah berada di belakang Syifa dan langsung melingkarkan lengannya, memeluk dan mengangkat tubuh istrinya dari belakang hingga kaki Syifa menggantung di udara.

​"Mas! Ih, turunin ngga! Nanti jatuh!" jerit Syifa bercampur tawa.

​"Siapa suruh berani menjahili suami sendiri, hm?" ujar Fadhlan sambil memutar tubuh Syifa pelan di udara, layaknya adegan dalam film romantis.

​"Mas... iya, iya, aku minta maaf! Hahaha, turunin!"

​Namun, hukum fisika tidak bisa diajak kompromi. Karena terlalu asyik bercanda dan kehilangan tumpuan di atas pasir yang gembur, Fadhlan mendadak kehilangan keseimbangan.

​BRUK!!

​Keduanya jatuh bersamaan di atas hamparan pasir pantai yang lembut. Beruntung, Fadhlan dengan sigap menahan berat tubuhnya menggunakan kedua siku agar tidak menindih Syifa.

​Suasana mendadak hening. Syifa termangu, napasnya memburu, menyadari posisi Fadhlan yang kini berada tepat di atasnya. Begitu pun dengan Fadhlan, seolah dunia di sekitarnya runtuh, pandangannya terkunci sepenuhnya pada wajah cantik sang istri.

​"M-mas...?" cicit Syifa gugup, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

​"Tetap seperti ini sebentar saja, Sayang," bisik Fadhlan dengan suara yang terdengar parau. Hembusan napas hangatnya menerpa wajah Syifa, menciptakan sensasi menggelitik yang menjalar ke seluruh tubuh.

'​Dia... dia tidak mungkin mau melakukannya di sini, kan?' batin Syifa panik.

​Chu~

​Fadhlan mengecup bibir istrinya tanpa permisi. Syifa terbelalak terkejut. Namun, ini bukan sekadar kecupan singkat seperti malam-malam sebelumnya. Ciuman itu perlahan berubah menjadi dalam, penuh tuntutan sekaligus kelembutan yang memabukkan. Syifa seolah terhipnotis oleh pesona suaminya, hingga tanpa sadar tangannya merayap naik, melingkar di leher Fadhlan, membalas mesra di tepi pantai yang sepi itu.

​Semilir angin pagi bertiup lembut, seolah menjadi saksi bisu bersatunya dua hati yang kian mencair. Meski Syifa masih terasa sedikit kaku dan belum berpengalaman, ia berusaha keras mengimbangi suaminya yang begitu bersemangat menyalurkan seluruh rasa cintanya.

......................

​Sementara itu, dari kejauhan, beberapa pelayan yang membawa nampan berisi makanan mendadak menghentikan langkah mereka secara serentak.

​"Kalian... cepat berbalik arah dan berpura-puralah tidak melihat kejadian barusan," bisik sang kepala pelayan dengan ekspresi tegang namun profesional.

​"Baik, Pak," jawab para pelayan serempak, langsung memutar tubuh 180 derajat.

​"Jaga sikap profesional kalian. Beliau adalah tamu VVIP nomor satu di restoran ini. Jangan sampai mengganggu."

...----------------...

​Di sisi lain resort, tepatnya di restoran utama yang berbeda, keluarga besar Syifa beserta para sahabat sedang menyantap sarapan pagi mereka. Suasana di meja utama tampak hangat. Kakek Ali duduk dengan wajah yang luar biasa sumringah, matanya tidak lepas dari layar ponsel milik Abi Musthofa yang baru saja memperlihatkan sebuah foto/video atau laporan dari orang kepercayaannya.

​"Abah, sarapannya dimakan dulu, nanti keburu dingin," ujar Ummi Salwa mengingatkan ayah mertuanya.

​Abi memberikan kode lirih kepada istrinya agar membiarkan sang ayah menikmati kebahagiaannya pagi ini.

​Kakek akhirnya meletakkan ponsel tersebut dengan senyum yang semakin lebar, lalu bersiap menyantap hidangannya. "Haihh... cucuku akhirnya sudah dewasa. Sudah tidak sabar rasanya, sebentar lagi aku pasti bisa menggendong cicit!" pungkas kakek Ali dengan nada penuh kemenangan.

​Abi Musthofa hanya terkekeh pelan. "Doakan saja, abah. Semoga dilancarkan segala sesuatunya."

......................

​Sementara itu, di meja yang agak terpisah dari rombongan keluarga, Jihan yang tidak sengaja menangkap obrolan sensitif tersebut langsung menyenggol heboh lengan Adiba.

​"Eh, Diba, Diba! Kayaknya Syifa sama Pak Dosen udah 'itu' deh. Kamu denger gak tadi Kakek Ali bilang apa?" bisik Jihan dengan mata berbinar-binar penuh gosip.

​Adiba menghela napas, menyuap makanannya dengan tenang. "Hussh! Jihan, jaga bicaramu. Itu bukan urusan kita. Lagipula mereka kan sudah sah menjadi suami istri. Jadi wajar-wajar saja kalau dalam waktu dekat Syifa hamil."

​"Iya sih, bener juga," Jihan menopang dagunya, mendadak berubah lesu sekaligus iri. "Duh Ya Allah beruntung banget ya sahabat kita. Udah dapet pria tajir melintir, good looking, mapan, lulusan pesantren pula! Ya Allah... sisakan satu saja pria modelan begitu buat hamba, Aamiin!"

​Adiba tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya. "Aamiinkan saja deh, biar kamu senang."

​"Idih... mana ada cowok yang mau sama modelan cewek aneh mirip alien kayak lu," celetuk sebuah suara dari meja sebelah dengan nada mengejek yang sangat kentara. Siapa lagi kalau bukan Haikal.

​Jihan seketika menoleh patah-patah. Matanya melotot tajam menatap Haikal. Tangannya yang sedang menggenggam garpu langsung diacungkan ke udara, siap menusuk udara kosong. "Heh! Ngomong apa lu barusan? Coba ulangi!"

​"Jihan, sudah... ngga usah didengerin," lerai Adiba, mulai merasa tidak enak karena suara mereka agak meninggi.

​Haikal dengan santainya mengunyah kerupuk. "Apa? Perasaan gue lagi ngomong sendiri, kok ada yang merasa, ya?"

​"Sinting ya lu, ngomong sendiri tapi kencang banget?! Sini lu kalau berani, ngomong langsung di depan muka gue!" Jihan sudah bersiap beranjak dari kursinya, hendak melabrak Haikal.

​"Astaghfirullah, Jihan! Sabar, dudukk!" Adiba menarik paksa cardigan Jihan agar sahabatnya itu kembali duduk, melirik cemas ke arah meja keluarga Syifa yang untungnya masih sibuk mengobrol.

​"Sial... mulai lagi deh mereka berdua. Ngga bisa apa ya sehari aja ngga berantem?" rutuk Aidan yang duduk di sebelah Haikal, menggeleng-gelengkan kepalanya jengah.

​Jihan masih belum puas, ia memajukan tubuhnya. "Lu tuh sebenarnya punya masalah hidup apa sih sama gue, hah? Dari kemarin cari masalah terus! Kenal aja enggak, gue ganggu hidup lu juga enggak!"

​Haikal menatap Jihan remeh, lalu terkekeh. "Masalahnya? Masalahnya lu itu berisik banget, dan tingkat halu lu itu udah ketinggian, hahaha."

​"Kalian berdua ini... Haikal, Jihan, sama-sama berisik," tegur Paman Andi yang tiba-tiba melintas di dekat meja mereka sambil membawa secangkir kopi. "Kalau mau debat, tunggu selesai makan dulu baru dilanjutkan. Atau... apa perlu om jodohkan saja kalian berdua sekalian biar awet?"

​Seketika, aura permusuhan di antara keduanya mendadak senyap, berganti dengan ekspresi mual yang serempak.

​"Ih, naudzubillah min dzalik! Mending saya jomblo karatan daripada sama cowok modelan begitu!" seru Jihan dramatis sambil mengetuk-ngetuk meja.

​"Pahit... pahit, amit-amit! Mending gue menjomblo seumur hidup daripada harus nikah sama alien kayak dia!" balas Haikal tak kalah sengit sambil mengibaskan tangannya ke udara.

​Melihat kekompakan dalam hal saling menolak itu, Aidan dan Adiba akhirnya tidak bisa menahan tawa mereka lagi. Suasana sarapan yang semula tegang pun berubah menjadi penuh tawa geli di sudut restoran itu.

...****************...

1
Ulfa 168
lanjut
Ulfa 168
lanjut thor
Chani Bae ✨: ditunggu updatenya ya kaka ☺🧡
total 1 replies
Ulfa 168
bagus cerita nya kak ditunggu kelanjutannya
Chani Bae ✨: terimakasih kakak 🥰🙏 siapp...
total 1 replies
Idah Faridah
alhamdullilah sah 👍
Chani Bae ✨: alhamdulillah 😭🥰
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirr😍
Chani Bae ✨: Terimakasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!