Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Selesai berbincang hangat dan memastikan Kakek Ali memejamkan mata untuk beristirahat, Syifa memutuskan untuk melaksanakan permintaan sang kakek. Ia melangkah keluar dari paviliun itu, berniat menuju ruang kerja Fadhlan yang berada di lantai lima gedung utama rumah sakit ini.
Masalahnya, selama tiga hari berada di rumah sakit megah ini, Syifa hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar rawat inap atau area cafetaria. Ia sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di lantai manajemen, apalagi mengetahui di mana letak persisnya ruang kerja pribadi suaminya yang menjabat sebagai CEO di sini.
Begitu pintu lift berdenting terbuka di lantai lima, Syifa disambut oleh koridor bernuansa putih-emas yang sangat tenang dan mewah. Di ujung koridor, terdapat sebuah meja resepsionis dan informasi khusus. Syifa melangkah ragu-ragu menghampiri seorang wanita staf administrasi yang tampak modis mengenakan setelan blouse ketat dan rok pendek di atas lutut.
"Permisi, Maaf saya mau bertanya. Apa betul di lantai ini ruang kerja Pak Fadhlan Ganendra?" tanya Syifa dengan nada suara yang sangat sopan dan halus.
Wanita staf itu menghentikan aktivitas mengetiknya, mendongakkan kepala. Matanya langsung menyipit, memperhatikan penampilan Syifa dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai, melihat jilbab sederhana dan pakaian santai yang dikenakan Syifa yang tampak kontras dengan lingkungan koridor eksekutif tersebut.
"Ada keperluan apa ya Anda mencari Pak Fadhlan? Dan, apakah saudara sebelumnya sudah membuat janji temu resmi dengan beliau?" tanya wanita itu balik dengan nada suara yang terdengar formal namun dingin, sedikit angkuh.
Syifa seketika tergagap, merasa terintimidasi oleh tatapan staf tersebut. "A-itu... saya belum membuat janji temu sebelumnya, Mba."
‘Ya Allah, mau bertemu dengan suami sendiri saja ternyata harus pakai membuat janji temu resmi segala ya di sini?’ batin Syifa menjerit canggung, merasa agak konyol dengan statusnya sendiri.
Wanita itu menghela napas pendek, lalu melirik jam dinding. "Saat ini Pak Fadhlan sedang memimpin rapat penting bersama beberapa jajaran dokter spesialis dan relasi rumah sakit di aula pertemuan sebelah. Kemungkinan besar rapatnya baru akan selesai sekitar setengah jam lagi."
"Ehm, kalau begitu, bolehkah saya menunggu di sini saja, Mba? Terima kasih," ujar Syifa menyerah, memilih tidak ingin memperpanjang perdebatan.
"Silahkan," jawab staf itu singkat tanpa minat, kembali menyibukkan diri dengan layar komputernya.
Syifa pun berjalan dengan langkah sedikit linglung dan canggung ke arah sebuah sofa kulit besar berwarna cokelat tua yang terletak di dekat jendela kaca besar, yang menampilkan pemandangan lanskap kota dari ketinggian.
Sembari mendudukkan diri di sofa yang empuk, Syifa melirik ke luar jendela. Matahari sore mulai tenggelam, memancarkan semburat warna jingga yang indah.
"Setengah jam lagi ya? Hufft, dia memang orang yang sangat sibuk dan disegani oleh banyak orang di sini, Syifa. Kamu harus sudah mulai belajar untuk memahami dunianya sekarang," gumam Syifa lirih pada dirinya sendiri, menyandarkan punggungnya yang terasa amat lelah.
......................
Sementara itu, di meja resepsionis, wanita staf administrasi tadi diam-diam mengamati gerak-gerik Syifa dari kejauhan. Begitu temannya sesama staf kembali dari toilet sebelah, ia langsung menyenggol lengan temannya itu dengan heboh, memicu obrolan berbisik yang bernada gosip.
"Eh, eh... kamu lihat ngga wanita yang duduk di sofa dekat jendela itu?" bisiknya dengan mata melirik ke arah Syifa.
Temannya mengernyitkan dahi, ikut melirik. "Iya, lihat. Memangnya kenapa?"
"Menurutmu dia itu siapa, sih? Datang-datang langsung mencari Pak Fadhlan dengan wajah bingung begitu. Aneh banget," tanya staf pertama penuh rasa penasaran yang menggebu-gebu.
"Mungkin saja dia salah satu fans beratnya Pak Fadhlan dari kalangan luar. Kalau dilihat dari penampilannya sih kelihatan seperti perempuan baik-baik, ya. Tapi kok ya sampai senekat itu datang langsung ke lantai manajemen sini," sahut staf kedua, mulai ikut terpancing bergosip ria.
"Iya, kan? Tadi waktu aku tanya, wajahnya kelihatan panik dan sepasang matanya juga sembab seperti habis menangis. Ngeri juga ya zaman sekarang... ngefans sama orang sampai berani mendatangi tempat kerja pribadi seperti ini. Padahal kan semua orang di rumah sakit ini sudah tahu kalau Pak Fadhlan itu sudah menikah."
"Ya kamu kan tahu sendiri bagaimana pesona seorang Pak Fadhlan Ganendra itu seperti apa di mata perempuan. Walaupun statusnya sekarang sudah sah jadi suami orang, ketampanan dan karismanya malah kelihatan makin bertambah berkali-kali lipat!" timpal staf kedua dengan nada mengagumi.
"Tapi ngomong-ngomong, sampai sekarang sosok istrinya Pak Fadhlan itu ngga pernah dipublikasikan secara resmi ke media atau karyawan ya? Sayang banget deh, aku kan baru mulai magang menggantikan Mbak Sari setelah dia cuti melahirkan minggu lalu, jadi ngga sempat lihat bagaimana megahnya acara pesta pernikahan mereka waktu itu."
"Oh, kalau soal itu, kabarnya karena istrinya memang masih berstatus sebagai mahasiswi aktif di kampus. Tapi dengar-dengar dari senior sih, nanti juga bakal diperkenalkan secara resmi ke publik kalau waktunya sudah tepat, cuma entah kapan pastinya. Eh, tapi kalau ngga salah, ada foto istrinya yang disimpan di dalam bingkai kecil di atas meja kerja pribadi Pak Fadhlan loh," bisik staf kedua membocorkan rahasia.
...----------------...
Setengah jam berlalu dengan sangat lambat. Karena rasa lelah yang teramat sangat setelah tiga hari berturut-turut kurang tidur demi menjaga sang kakek, Syifa tanpa sadar terpejam. Rasa kantuk yang luar biasa membuatnya ketiduran di atas sofa kulit tersebut dengan posisi duduk menyamping, kepalanya terkulai berbantalkan lengan sofa yang dingin. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa waktu tunggu telah habis, dan suaminya sudah keluar dari ruang rapat.
Di ujung koridor, Fadhlan melangkah tegap dengan wibawa yang memancar kuat. Ia berjalan sembari terlibat obrolan serius mengenai perkembangan medis bersama beberapa rekan dokter spesialis senior. Fokusnya sepenuhnya tercurah pada dokumen di tangannya, hingga ia berjalan melewati area sofa tanpa sempat memperhatikan keadaan sekitar.
Sementara itu, Aidan yang berjalan santai dengan langkah lambat di barisan paling belakang bersama dokter residen yang tak lain adalah Haikal, mendadak menghentikan langkah kakinya. Matanya menyipit tajam, menangkap siluet seorang gadis berhijab yang sangat familier sedang meringkuk tidur di atas sofa sudut.
"Kenapa kamu malah bengong di tengah jalan begitu, hah?" tanya Haikal heran, menyenggol bahu Aidan karena melihat sahabatnya itu tiba-tiba berhenti melangkah seperti melihat hantu.
"Syifa...?" gumam Aidan lirih dengan nada tidak percaya.
Haikal ikut menajamkan pandangannya, menghampiri sisi Aidan dan memperhatikan objek yang ditunjuk. Matanya membelalak kecil. "I-itu... itu Dek Syifa bukan, sih? Iya, sepertinya benar itu istri kesayangan sepupu gue," jawab Haikal, sengaja meniru panggilan akrab Fadhlan untuk istrinya.
Tanpa membuang waktu, Aidan langsung berbalik arah dan melangkah tegas menghampiri meja dua staf administrasi magang yang sejak tadi berjaga di depan pintu lorong ruangan Fadhlan.
"Wanita yang sedang tidur di sofa itu, sebenarnya sedang menunggu siapa?" tanya Aidan dengan nada suara yang datar namun mengintimidasi.
Salah satu staf magang yang melayani Syifa tadi buru-buru berdiri, menjawab dengan senyuman formal yang penuh percaya diri. "Oh, itu ..tadi dia datang mencari Pak Fadhlan, Pak Aidan."
"Lalu? Apa yang kamu katakan kepadanya?" kejar Aidan, melipat tangan di dada.
"Saya katakan kalau Pak Fadhlan sedang memimpin rapat penting di dalam, dan kemungkinan baru akan selesai setengah jam lagi," jawab staf itu lagi, masih merasa tindakannya sudah benar sesuai prosedur tamu tanpa janji.
Aidan mendengus pelan, matanya menatap tajam staf tersebut. "Dan kamu membiarkan dia duduk menunggu di sofa koridor yang dingin itu selama lebih dari tiga puluh menit tanpa menyuruhnya masuk atau memberinya minum?" tanya Aidan, menunjuk ke arah Syifa yang tampak sedikit menggigil karena embusan AC koridor.
Staf itu mulai merasa gugup, senyumnya memudar. "I-iya, Pak... karena tadi dia sendiri yang bilang mau tetap menunggu di sana."
Haikal yang berdiri di samping Aidan menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap kedua staf itu dengan raut wajah emosi yang ditahan. "Ya ampun... kalian berdua anak magang baru, ya? Apa kalian sama sekali tidak tahu siapa sosok wanita yang sedang tidur di sofa itu?" tanya Haikal ketus.
Kedua staf magang itu saling melempar pandangan ketakutan, nyali mereka mendadak ciut melihat asisten kepercayaan dan saudara sepupu CEO mereka tampak begitu marah. "K-kami benar-benar tidak tahu, Pak... memangnya wanita itu siapa ya, Pak?" tanya mereka bergantian dengan suara yang mencicit pelan.
Aidan menatap mereka lurus, lalu mengucapkan satu kalimat yang seketika meruntuhkan seluruh dunia kesombongan kedua staf tersebut.
"Dia adalah istri sah dari Pak Fadhlan Ganendra! Pemilik rumah sakit ini," ucap Aidan datar namun telak.
"I-istri... istrinya Pak Fadhlan?!" tanya kedua staf itu berbarengan dengan wajah yang seketika berubah menjadi pucat pasi seputih kertas. Tubuh mereka gemetar hebat, lidah mereka mendadak kelu, membayangkan nasib karier mereka setelah ini karena telah lancang membiarkan ibu bos besar mereka telantar di koridor, bahkan sempat menjadikannya bahan gosip murahan.
Tanpa memedulikan ketakutan dua staf tersebut, Aidan langsung melangkah lebar masuk ke dalam ruangan kerja Fadhlan untuk memberitahu sahabatnya yang baru saja duduk di kursi kebesarannya.
Sementara itu, Haikal masih bertahan di depan meja resepsionis, menatap kedua wanita itu dengan senyuman sinis yang meledek. "Ck... ck... ck... berani-beraninya kalian ya. Semoga saja masa magang kalian di rumah sakit ini tidak langsung di-cut dan diakhiri di tengah jalan sore ini," ledek Haikal sukses membuat kedua staf itu makin menundukkan kepala sedalam-dalamnya karena didera rasa malu dan ketakutan yang luar biasa.
--
Pintu ruangan kerja CEO terbuka dengan sentakan pelan. Fadhlan melangkah keluar dengan tergesa-gesa tanpa mengenakan jas formalnya, hanya kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga sebatas siku. Wajahnya yang semula datar kini dipenuhi oleh rona kecemasan yang kentara setelah mendengar laporan singkat dari Aidan.
Langkah kaki Fadhlan melambat begitu ia semakin dekat dengan sofa. Matanya menatap lekat tubuh ringkih istrinya yang tampak tertidur lelap dengan posisi yang pastinya membuat badannya pegal. Fadhlan menyadari tubuh Syifa sedikit meringkuk, menahan dinginnya hembusan angin AC yang tepat berada di atas koridor.
Rasa bersalah dan pengorbanan kasih sayang seketika memenuhi dada Fadhlan. Tidak ingin membangunkan sang istri yang tampaknya baru bisa memejamkan mata setelah berhari-hari didera lelah, Fadhlan perlahan mendudukkan tubuh tegapnya di sisi sofa yang kosong, tepat di samping Syifa.
Dengan gerakan yang teramat pelan dan hati-hati, Fadhlan mengulurkan lengan kokohnya, meraih pundak Syifa dan membawa tubuh istrinya itu untuk bersandar sepenuhnya ke dalam dekapan hangat dadanya.
Syifa yang sedang terlelap, samar-samar merasakan adanya perubahan suhu. Ia merasa menemukan sebuah tempat yang teramat hangat, nyaman, dan familiar yang seolah melindunginya dari dinginnya dunia luar. Tanpa membuka mata, secara refleks instingnya bekerja, jemari kecil Syifa bergerak melingkarkan tangannya erat ke sekeliling pinggang tegap Fadhlan, lalu menenggelamkan wajah sembabnya ke dalam dada bidang suaminya, menghirup aroma maskulin khas Fadhlan yang selalu berhasil menenangkannya.
Fadhlan tersenyum begitu tulus, sebuah senyuman penuh kasih yang belum pernah diperlihatkannya kepada siapa pun di rumah sakit ini. Ia merapatkan pelukannya, tangan kanannya terangkat mengusap-usap lembut puncak kepala istrinya yang tertutup hijab.
"Istirahatlah dulu sejenak di sini, Dek... Mas tahu kamu pasti lelah sekali beberapa hari ini," bisik Fadhlan dengan suara yang teramat lirih di dekat telinga Syifa, lalu ia menundukkan kepala, mendaratkan sebuah kecupan hangat dan lama di kening istrinya dengan penuh perasaan.
Haikal dan Aidan yang menyaksikan adegan romantis nan intim itu dari jarak beberapa meter seketika memasang ekspresi jengah seolah tidak tahan melihat pemandangan tersebut. Apalagi kedua staf magang yang masih berdiri mematung di balik meja resepsionis, mereka benar-benar terperangah dan syok bukan main menyaksikan bagaimana seorang Fadhlan Ganendra yang terkenal dingin, kaku, dan tak tersentuh di lingkungan kerja, bisa berubah menjadi sosok pria yang begitu lembut, protektif, dan penuh kasih sayang di hadapan wanita yang baru saja mereka gosipkan tadi.
"Beuhhh... dasar! Bucin ngga kenal tempat dan waktu," ketus Haikal dengan nada malas, bersiap melenggang pergi meninggalkan koridor daripada matanya semakin panas melihat kemesraan sepasang pengantin baru itu.
Aidan terkekeh pelan, melangkah menyusul di samping Haikal. "Makanya, nikah sana lu, Kal! Biar hidup lu ada warnanya dan ngga gampang iri sama kebahagiaan orang lain," timpal Aidan meledek, lalu merangkul pundak sahabatnya itu. "Eh, ngomong-ngomong, gue numpang tidur siang di sofa ruangan lu ya?"
Haikal langsung menepis tangan Aidan dari pundaknya dengan wajah kesal. "Enak aja! Pulang sana kalau mau tidur, kasur di rumah lu kan banyak. Lagipula setelah ini gue masih ada janji temu penting sama pasien di poli."
Aidan menyipitkan mata, tersenyum penuh arti yang menggoda. "Pasien, apa anak koas, nih?" godanya bertubi-tubi.
"Beneran pasien woy! Ngga usah ngada-ngada lu!" seru Haikal dengan wajah memerah, melangkah cepat menuju lift demi menghindari godaan Aidan yang tiada habisnya.
Sementara di sudut koridor yang tenang itu, Fadhlan tetap bergeming, terus mendekap erat tubuh istrinya dalam keheningan, siap menjadi sandaran terkokoh bagi Syifa dalam menghadapi hari esok yang panjang.
...****************...