Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.
Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.
Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Jawaban Yang Menggantung
Malam semakin larut, namun riuh rendah di lapangan utama SMA 1 Nusa Bangsa baru benar-benar mereda setelah seluruh kelompok menyetorkan stiker hasil buruan mereka. Sesuai prediksi Sarah, yang mereka kumpulkan menjadi salah satu skor tertinggi malam itu. Setelah pengumuman singkat dan beberapa patah kata dari Kakak Pembina yang memuji sportivitas para siswa, seluruh peserta akhirnya dibubarkan untuk kembali ke tenda masing-masing demi memulihkan energi yang terkuras.
Udara dini hari mulai terasa menusuk tulang, membawa kelembapan khas daerah yang tidak jauh dari pesisir. Di dalam tenda regu perempuan XI MIPA 1, suasana sudah tenang. Beberapa siswi langsung meringkuk di dalam tenda mereka, terlelap dalam hitungan detik karena kelelahan.
Cinta duduk di sudut tenda, beralaskan matras tipis. Ia sudah mengganti jaket pramukanya dengan sweter rajut longgar berwarna krem, namun rasa dingin masih terasa menggigit ujung-ujung jarinya. Pikirannya sama sekali tidak bisa diajak berkompromi untuk tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, memori di lorong gelap lantai dua gedung itu berputar kembali seperti rol film otomatis. Rasa hangat dari telapak tangan Rian, aroma wangi tubuh cowok itu saat ia refleks memeluknya.
"Belum tidur, Cin?" bisik Sarah pelan dari sebelahnya, mengejutkan Cinta dari lamunannya. Sarah sudah membungkus dirinya dengan selimut, hanya menyisakan wajahnya yang mengantuk.
"Belum bisa, Sar. Masih agak kaget saja gara-gara tadi," kilah Cinta sambil membetulkan letak tas kecil yang ia gunakan sebagai bantal.
Sarah tersenyum penuh arti, matanya yang semula merem-melek mendadak sedikit terbuka. "Kaget karena hantu pocongnya, atau kaget karena baru sadar kalau pelukan Rian itu nyaman?"
"Sarah! Kecilkan suaramu, nanti anak-anak bangun," tegur Cinta dengan wajah yang untungnya tersamarkan oleh remangnya lampu teplok di tengah tenda.
"Iya, iya, maaf. Tapi serius, Cin, mukamu itu kelihatan banget kalau lagi mikirin sesuatu yang serius. Jangan terlalu lama digantung, Rian itu tipe cowok yang bergerak cepat, tapi dia juga butuh kepastian kalau usahanya tidak bertepuk sebelah tangan." Setelah mengucapkan kalimat bijak yang jarang-jarang keluar dari mulutnya itu, Sarah membalikkan badan dan dalam beberapa menit, napasnya sudah terdengar teratur, tanda ia telah menjelajahi alam mimpi.
Cinta menghela napas panjang. Ia meraih ponselnya yang sengaja disetel dalam mode senyap. Layar digital menunjukkan pukul dua dini hari. Tidak ada notifikasi baru, namun ada satu pesan belum terbaca dari Rian yang dikirim tepat sebelum jurit malam dimulai tadi.
"Kalau dingin, pakai jaket tebalmu. Jangan sampai sakit."
Sebuah dorongan nekat tiba-tiba muncul di hati Cinta. Ia merasa butuh menghirup udara segar untuk mendinginkan kepalanya. Dengan gerakan sepelan mungkin agar tidak menimbulkan derit pada kain tenda, Cinta memakai alas kakinya dan menyelinap keluar.
...****************...
Suasana di luar tenda sangat sunyi. Lapangan yang beberapa jam lalu dipenuhi sorak-sorai kini hanya menyisakan deretan tenda yang membisu di bawah langit malam tanpa bintang. Di tengah lapangan, sisa-sisa bara api unggun masih menyala redup, memancarkan pendar jingga tipis dan asap tipis yang membubung ke angkasa, memberikan sedikit kehangatan di tengah hawa dingin yang mengepung.
Cinta berjalan mendekati lingkaran api unggun, berniat duduk di salah satu balok kayu yang tersisa di sana. Namun, langkahnya melambat saat ia menyadari bahwa ia tidak sendirian.
Seseorang sudah duduk di sana, membelakanginya. Cowok itu mengenakan jaket hoodie hitam tebal, tudungnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan rambut acak-acakannya yang tertiup angin malam. Dia sedang menatap lurus ke arah bara api yang perlahan menjadi abu, dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku jaket.
Rian.
Seolah memiliki radar alami, Rian menoleh tepat saat Cinta menghentikan langkahnya beberapa meter di belakangnya. Sorot mata dingin yang biasanya ia tunjukkan pada orang lain seketika melunak begitu mendapati siapa yang datang.
"Tidak bisa tidur?" tanya Rian, suaranya terdengar sedikit serak di tengah keheningan malam.
Cinta membetulkan posisi sweternya, lalu berjalan mendekat dan duduk di balok kayu yang berada di sebelah Rian, namun tetap menjaga jarak sekitar satu jengkal. "Iya. Udaranya terlalu dingin, kepalaku juga agak berisik."
Rian terkekeh pelan, sebuah suara rendah yang entah kenapa selalu terdengar menenangkan di telinga Cinta. Ia mengeluarkan tangan kanannya dari saku jaket, lalu memungut sebilah ranting kayu kecil di dekat kakinya, menggunakannya untuk mengusik bara api agar apinya sedikit naik. "Berisik karena memikirkan hantu tadi, atau memikirkan hal lain?"
Wajah Cinta kembali menghangat, bersyukur pendar bara api menyamarkan rona merah di pipinya. "Kamu sama saja dengan Sarah, suka sekali meledek."
"Aku tidak meledek, Cinta. Aku bertanya karena aku sendiri pun tidak bisa tidur karena alasan yang sama," ucap Rian serius. Ia meletakkan ranting kayu itu, lalu memutar tubuhnya menghadap Cinta, menatap gadis itu dengan intensitas yang selalu berhasil membuat Cinta salah tingkah. "Pikiranku juga berisik. Dan isinya cuma kamu."
Cinta tertegun. Gempuran kalimat jujur dari Rian selalu datang tanpa peringatan, membuatnya harus berulang kali menata ulang pertahanan hatinya. "Rian, kamu... kenapa bisa seyakin itu padaku? Kita belum lama kenal, dan kamu tahu aku bukan gadis populer seperti Clarissa atau anak-anak Jakarta yang biasa bersamamu dulu."
Rian menarik napas dalam-dalam, pandangannya beralih sejenak ke arah langit malam sebelum kembali mengunci manik mata Cinta. "Di Jakarta, semua orang mendekatiku karena apa yang melekat pada namaku. Uang, koneksi, atau sekadar gengsi karena berteman dengan orang yang dianggap berbahaya. Tapi di sini, di sekolah ini, saat pertama kali aku duduk di sebelahmu dengan sikapku yang berantakan, kamu tidak melihatku dengan pandangan memuja atau memanfaatkan. Kamu menatapku sebagai manusia yang butuh diingatkan saat salah."
Rian jeda sejenak, senyum tulus terukir di wajah tampannya. "Dan saat aku menceritakan bagian terburuk dari masa laluku semalam, kamu tidak pergi. Kamu justru berdiri membelaku di depan Clarissa. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku yakin bahwa aku tidak mau kehilangan orang sepertimu, Cinta."
Mendengar penuturan panjang dari Rian, sudut hati Cinta yang paling dalam terasa bergetar. Segala keraguan yang selama dua minggu ini ia simpan rapat-rapat perlahan mulai menguap. Ia menyadari bahwa di balik sikap posesif dan dingin yang sering Rian tunjukkan pada dunia, cowok ini memiliki ketulusan yang luar biasa rapuh, yang ia percayakan sepenuhnya pada Cinta untuk dijaga.
Cinta menunduk, menatap jemari tangannya yang saling bertautan di atas pangkuannya. "Aku... aku bukannya sengaja menggantung perasaanmu, Rian. Aku hanya butuh waktu untuk memastikan bahwa apa yang kurasakan ini bukan cuma karena rasa kagum atau karena situasi yang mendesak."
"Lalu sekarang? Apa kamu sudah tahu jawabannya?" tanya Rian, nadanya terdengar sedikit menuntut namun ada nada cemas yang terselip di sana yaitu sebuah hal langka yang menunjukkan bahwa seorang Rian pun bisa merasa tidak aman.
Cinta mendongak, menatap langsung ke dalam mata hitam Rian yang memantulkan sisa-sisa pendar bara api. "Aku tahu aku merasa aman saat berada di dekatmu. Aku tahu aku tidak suka melihat Clarissa atau orang lain mencoba mengusikmu. Dan tadi di atas... saat kamu memegang tanganku, aku tidak ingin melepaskannya."
Rian terpaku. Sepasang matanya sedikit melebar, tidak menyangka akan mendengar pengakuan seberani itu dari seorang gadis pemalu seperti Cinta.
"Tapi," lanjut Cinta dengan cepat, membuat Rian menahan napasnya kembali. "Aku ingin kita menjalaninya pelan-pelan. Hubungan di SMA 1 Nusa Bangsa tidak sesederhana yang kamu bayangkan, apalagi setelah rumor pagi ini tentang kita sudah menyebar. Aku tidak mau kita terburu-buru meresmikan sesuatu hanya karena desakan sekitar."
Rian terdiam selama beberapa saat, mencerna setiap kata yang diucapkan Cinta. Perlahan, ketegangan di bahunya mengendur. Ia mengulurkan tangannya, ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya menyentuh puncak kepala Cinta, mengusap rambut gadis itu dengan sangat lembut.
"Menjalaninya pelan-pelan, ya?" Rian tersenyum, kali ini sebuah senyuman lepas yang terlihat sangat tampan hingga membuat jantung Cinta melewatkan satu detakan. "Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan ikuti permainanmu, Sekretaris. Menunggu sedikit lebih lama lagi bukan masalah, selama ujungnya tetap bersamamu."
Cinta tidak bisa menahan senyumnya mendengar jawaban Rian. Rasa lega yang luar biasa kini memenuhi dadanya, membuat hawa dingin malam tidak lagi terasa menyiksa.
"Sudah hampir jam tiga, sebaiknya kamu kembali ke tenda sebelum Kakak Pembina patroli dan mengira kita sedang melanggar jam malam," ucap Rian sambil berdiri dari balok kayunya, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Cinta berdiri.
Cinta menerima uluran tangan itu, merasakan kehangatan yang sama seperti di lorong gedung barat tadi. Setelah berdiri tegak, ia melepaskan tangannya sambil tersenyum kecil. "Kamu juga harus tidur, Rian. Besok pagi masih ada senam dan upacara penutupan."
"Iya. Selamat tidur, Cinta," bisik Rian pelan.
"Selamat tidur, Rian."
Cinta berbalik dan berjalan kembali menuju tenda regu perempuan dengan langkah yang jauh lebih ringan. Jawaban yang selama ini menggantung memang belum sepenuhnya selesai dengan kata resmi, namun malam ini, di samping sisa bara api unggun, mereka telah saling menaruh potongan hati yang paling jujur. Dan bagi Cinta, itu adalah awal dari babak baru yang jauh lebih indah dari sekadar kepastian status di atas kertas.