Di sebuah kabupaten kecil di provinsi Jawa Barat, di Negara Nusantara, Arkan Wijaya baru saja lulus SMA, namun saat pulang dia mendapati rumahnya kosong, kedua orang tuanya tidak ada, dia mencari kesana kemari namun tidak ada kabar tentang mereka, hanya menemukan secarik kertas bertuliskan "Arkan kamu sudah dewasa, carilah jalanmu sendiri, kami tidak bisa terus menjagamu, dan ada kewajiban yang harus kami lakukan, suatu saat nanti mungkin kamu akan mengerti, maafkan kami Arkan." Dan di samping kertas itu ada cincin emas berbentuk kepala dan permata kecil berkilau di kedua matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suryadharma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Kabut Darah di Laut Jawa
Kabut tebal menyelimuti laut seperti kain kafan raksasa. Yacht Arkan melaju pelan mengikuti arah yang ditunjukkan token Naga Hitam. Arkan berdiri di haluan kapal, pedang Naga Emas Muda tergantung di pinggangnya. Angin laut bertiup dingin, membawa bau anyir darah dari kapal musuh yang mereka rampas semalam.
Sela mendekat, memeluk lengan kekarnya. “Kabut ini semakin aneh. Aku merasakan banyak aura buruk di depan.”
“Ya. Mereka sudah tahu kita datang,” jawab Arkan tegas. Matanya menyipit. “Bersiaplah. Ini bukan sambutan biasa.”
Juanda Hartono mendekat bersama kapten yacht. “Kita punya dua yacht dan satu speedboat. Total 18 orang sekarang setelah merebut kapal mereka. Tapi lawan pasti lebih banyak.”
Arkan mengangguk. “Om dan tim tetap di yacht. Sela dan aku akan memimpin serangan depan.”
Tiba-tiba, kabut berputar ganas. Dari dalam kegelapan muncul tiga kapal perang Naga Hitam. Panah api Qi meluncur deras ke arah mereka.
“Serangan!” teriak Arkan.
Ia melompat tinggi ke udara, Naga Step membuat gerakannya seperti bayangan. Pedangnya menebas tiga panah sekaligus. Sela mengaktifkan Formasi Pelindung Naga Lembut di atas yacht, membuat perisai emas tipis yang menahan serangan.
Pertempuran laut meledak.
Arkan mendarat di kapal musuh pertama. Delapan kultivator tingkat rendah langsung menyerang. Pedang Arkan bergerak seperti naga hidup. **Naga Muda Mengaum** — tiga kepala terpisah dari tubuh dalam satu ayunan. Darah menyembur membasahi deck kayu.
Sela ikut melompat ke kapal yang sama. Meski baru Tingkat 2, gerakannya lincah dan mematikan. Ia melemparkan pil peledak buatan Arkan, meledakkan dua musuh sekaligus. “Arkan, di belakangmu!”
Arkan berputar, pedangnya menusuk tepat ke dada seorang penyerang yang mencoba menusuk dari belakang. “Bagus, Sela.”
Dalam waktu singkat, kapal pertama jatuh ke tangan mereka. Arkan merebut kompas spiritual musuh yang menunjuk lokasi Pulau Naga lebih jelas.
Kapal kedua dan ketiga mendekat. Kali ini ada dua orang Foundation Establishment tingkat menengah memimpin. Salah satunya melepaskan jurus **Cakar Naga Hitam** yang besar, mencoba merobek yacht Juanda.
Arkan melompat ke arah serangan itu. Ia menggabungkan Teknik Tubuh Naga dan Sword Qi. “Sisik Emas!”
Tubuhnya mengkilap. Ia menahan cakar raksasa itu dengan pedang. Otot kekarnya menegang, urat-uratnya muncul. Dengan teriakan keras, Arkan memotong cakar Qi tersebut menjadi dua.
“Serahkan nyawa kalian!” bentaknya.
Ia menyerbu kapal kedua sendirian. Lawan Foundation Establishment mencoba melawannya dengan pedang hitam. Benturan demi benturan mengguncang laut. Arkan lebih cepat dan lebih kuat. Setelah 12 jurus, pedangnya menembus perut lawan.
Satu orang Foundation lagi mencoba kabur dengan perahu kecil. Sela melemparkan belati Qi yang Arkan ajarkan, menembus punggungnya tepat.
Pertempuran selesai dalam 25 menit. Laut Jawa menjadi merah darah. Arkan berdiri di atas kapal musuh, napasnya masih teratur. Breakthrough kecil terjadi lagi — ia kini stabil di Qi Condensation Tingkat 4 puncak.
Sela mendekat, tangannya berdarah sedikit. Arkan langsung menyembuhkan luka itu dengan Teknik Penyembuhan Naga. “Kamu hebat malam ini.”
“Karena kamu yang mengajari,” jawab Sela sambil tersenyum polos, tapi matanya penuh kekaguman.
Mereka membersihkan kapal-kapal rampasan dan melanjutkan perjalanan. Kabut mulai menipis menjelang subuh. Di ufuk timur, sebuah pulau besar muncul — Pulau Naga.
Pulau itu dikelilingi tebing tinggi dan hutan lebat. Di tengahnya berdiri sebuah istana hitam besar dengan patung naga raksasa melingkar di puncaknya. Energi gelap pekat memenuhi seluruh pulau.
Yacht mereka berlabuh di sebuah teluk tersembunyi. Arkan memimpin tim kecil — dirinya, Sela, dan empat pengawal terbaik.
“Kita masuk diam-diam dulu,” kata Arkan. “Tujuan utama adalah menemukan orang tuaku.”
Mereka menyusup melalui hutan. Arkan menggunakan Penglihatan Jiwa untuk menghindari patroli. Di tengah hutan, mereka menemukan sebuah penjara bawah tanah kecil.
Di dalam salah satu sel, Arkan melihat dua orang yang sangat familiar — ayah dan ibunya yang asli. Mereka tampak lemah tapi masih hidup.
“Ayah… Ibu!” Arkan hampir berlari mendekat.
Tapi Sela menahannya. “Ada jebakan.”
Benar saja. Begitu Arkan mendekat, Formasi penyergap aktif. Dua puluh kultivator Naga Hitam muncul dari tanah. Pemimpin mereka adalah seorang pria tua berjubah hitam — Core Formation Tingkat 5.
“Pewaris kecil… kau berani sekali datang ke sini,” kata pria tua itu sambil tertawa. “Cincin itu milik Sekte kami. Serahkan, maka orang tuamu boleh mati dengan tenang.”
Arkan mencabut pedang. Aura Naga Emas meledak keluar, membentuk bayangan naga emas yang lebih besar dari sebelumnya.
“Siapa pun yang menghalangi aku menyelamatkan orang tuaku… akan mati.”
Pertarungan besar pun pecah di dalam hutan Pulau Naga.
Arkan menyerbu pemimpin Core Formation langsung. Pedang mereka bertemu berkali-kali. Getaran energi menghancurkan pohon-pohon di sekitar. Sela dan tim lainnya melawan anak buah sambil melindungi orang tua Arkan.
Arkan bertarung habis-habisan. Ia menggunakan seluruh teknik yang dimilikinya — Tubuh Naga, Pedang Naga, bahkan sedikit Teknik Jiwa untuk menekan lawan. Meski kalah level, warisan Naga Emas membuatnya mampu bertahan.
Setelah jurus demi jurus, Arkan berhasil menebas dada pria tua itu. Darah hitam menyembur.
“Kau… tidak akan menang melawan Pemimpin Besar…” desis pria itu sebelum mati.
Arkan langsung membebaskan orang tuanya. Ibu Arkan memeluknya sambil menangis. “Arkan… maafkan kami. Kami pergi untuk melindungimu dari warisan ini.”
Ayahnya yang tegas berkata pelan, “Cincin itu membawa kutukan dan berkah. Kau sekarang adalah Pewaris Sejati.”
Tidak ada waktu untuk reuni panjang. Lebih banyak pasukan Naga Hitam mendekat dari istana.
Arkan menggendong ibunya, Sela membantu ayahnya. “Kita mundur dulu ke yacht! Ini belum waktunya menghadapi inti kekuatan mereka.”
Mereka berlari menembus hutan sambil bertarung. Arkan membuka jalan dengan pedangnya, menebas siapa saja yang menghalangi. Sela semakin kompak dengannya, serangan mereka saling melengkapi.
Sesampainya di pantai, yacht sudah diserang. Juanda dan tim bertahan mati-matian.
“Naik kapal!” teriak Arkan.
Begitu semua naik, yacht melaju kencang meninggalkan Pulau Naga. Di belakang, puluhan kultivator Naga Hitam berteriak marah di pantai.
Arkan berdiri di deck, memeluk orang tuanya dan Sela bergantian.
“Kita selamat… untuk sekarang,” katanya.
Ibu Arkan memegang tangannya. “Anakku, perjalanan ini baru permulaan. Sekte Naga Hitam hanyalah salah satu dari Tujuh Sekte Gelap di Nusantara. Dan ada kekuatan yang lebih besar di balik semuanya.”
Arkan menatap laut yang semakin luas. Pedang di tangannya masih berlumur darah.
“Aku siap. Apa pun yang datang, aku akan hadapi.”
Sela tersenyum di sampingnya, tangan mereka saling genggam erat.
Yacht melaju menuju Jakarta, membawa kemenangan kecil sekaligus ancaman yang jauh lebih besar.