NovelToon NovelToon
Menikah Karena Tekanan Keluarga

Menikah Karena Tekanan Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 11 : PELARIAN SANG ARSITEK DAN BENCANA DI DAPUR VILLA

Cahaya fajar di Maldives biasanya merupakan pemandangan yang paling dicari oleh para pelancong dunia. Gradasi warna jingga, ungu, dan merah muda yang memantul di atas permukaan air laut yang bening seperti kristal seharusnya menjadi latar belakang yang romantis. Namun, bagi Anya Clarissa, cahaya itu terasa seperti lampu interogasi yang menelanjangi semua kekacauan di hatinya.

Anya terbangun dengan napas pendek. Ingatan tentang ciuman semalam di bawah taburan bintang—ciuman yang bukan akting, ciuman yang terasa begitu dalam dan menuntut—menghujam kepalanya. Ia menoleh ke samping dan mendapati sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong, namun masih menyisakan kehangatan dan aroma sandalwood milik Devan.

"Apa yang sudah kulakukan?" gumam Anya sambil menutupi wajahnya dengan bantal. "Aku membalasnya. Aku benar-benar membalas ciuman pria sombong itu!"

Hati Anya bergejolak. Logikanya meneriakkan peringatan tentang kontrak, tentang hutang keluarga, dan tentang sifat dingin Devan. Namun, jantungnya justru berkhianat dengan berdegup kencang setiap kali bayangan bibir Devan yang menyentuh bibirnya muncul kembali. Anya merasa harus lari. Ia harus menjauh sebelum Devan melihat wajahnya yang merah padam dan menyadari bahwa ia mulai kalah dalam permainan ini.

Dengan gerakan cepat, Anya menyambar topi pantai lebarnya, kacamata hitam berukuran besar, dan buku sketsa yang selalu ia bawa. Ia tidak mandi, hanya mencuci muka dan mengikat rambutnya asal-asalan. Ia harus keluar dari vila sebelum Devan kembali dari kegiatannya—yang entah apa.

Anya menyelinap keluar menuju dek kayu panjang yang menghubungkan vila-vila di atas air. Ia memilih jalan memutar, melewati area hutan tropis di tengah pulau resor, berharap tidak berpapasan dengan Devan atau—lebih buruk lagi—Raka.

Ia menemukan sebuah gazebo kecil yang tersembunyi di ujung pantai barat, jauh dari keramaian tamu resor. Di sana, Anya mencoba memfokuskan pikirannya pada sketsa taman vertikal untuk proyek The Emerald Garden. Namun, setiap kali ia menggoreskan pensil, jemarinya justru menggambar garis rahang yang tegas dan alis yang tebal.

"Aish! Kenapa malah jadi wajahnya dia?!" Anya merobek kertas itu dengan kesal.

Setiap kali ia mendengar suara langkah kaki atau deru mesin golf cart, Anya segera bersembunyi di balik pilar gazebo atau pura-pura tertidur dengan topi menutupi seluruh wajahnya. Ia merasa seperti buronan internasional di surga tropis. Ia bahkan melewatkan waktu makan siang karena takut bertemu Devan di restoran utama. Perutnya mulai keroncongan, namun harga dirinya jauh lebih lapar akan jarak.

...****************...

Di sisi lain, Devan Arkatama sedang berada dalam kondisi mental yang tak kalah kacau. Ciuman semalam telah menghancurkan dinding es yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia merasa bersalah karena telah melanggar batas profesional kontrak mereka, namun di saat yang sama, ia merasa... hidup.

"Dia pasti marah," pikir Devan sambil menatap laut. "Atau dia merasa aku meremehkannya."

Sebagai pria yang terbiasa menyelesaikan masalah dengan aksi nyata, Devan memutuskan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya: meminta maaf dengan tindakan. Ia tahu Anya melewatkan sarapan dan makan siang karena menghindarinya. Maka, Devan memutuskan untuk memasak makan malam spesial di dapur vila mereka yang dilengkapi peralatan modern.

"Memasak itu hanya soal instruksi dan presisi. Sama seperti manajemen logistik," gumam Devan penuh percaya diri sambil membaca resep Pancake Blueberry dan Steak Wagyu dari YouTube.

Namun, Devan lupa satu hal: dapur adalah ekosistem yang berbeda dengan pelabuhan.

Anya, yang akhirnya terpaksa pulang karena kelaparan dan kehausan, mengendap-endap masuk ke vila lewat pintu samping. Ia baru saja akan menuju kulkas ketika indra penciumannya menangkap sesuatu yang tidak beres. Bukan aroma masakan lezat, melainkan aroma sesuatu yang terbakar hebat.

"Uhuk! Uhuk!"

Anya berlari ke arah dapur dan matanya membelalak. Asap putih memenuhi ruangan. Di sana, Devan Arkatama—sang CEO Shipping Lines yang disegani—sedang berdiri di depan kompor dengan apron bermotif bunga-bunga (pemberian Mama Arkatama) yang menutupi kaos mahalnya. Wajahnya coreng-moreng oleh tepung, dan tangannya memegang sudit seperti sedang memegang senjata tajam.

"Devan! Apa yang kamu lakukan?! Kamu mau membakar vila ini?!" teriak Anya sambil segera membuka semua jendela dan menyalakan exhaust fan.

Devan terlonjak kaget, membuat pancake yang sedang ia coba balik melayang ke atas dan... mendarat tepat di atas kepala Anya.

Hening.

Anya membeku. Ia bisa merasakan sesuatu yang hangat, lengket, dan berbau gosong menempel di puncak kepalanya. Cairan sirup mapel perlahan menetes ke dahinya.

Devan menatap Anya dengan mata membulat. "Anya... aku... aku hanya ingin membuatkanmu makan malam."

Anya mengambil pancake gosong itu dari kepalanya dengan dua jari, menatapnya seolah itu adalah benda prasejarah. "Makan malam? Kamu mau memberiku makan arang berlapis tepung?"

"Tadi di video itu terlihat mudah! Kamu tinggal mencampur bahan dan membaliknya!" protes Devan, membela diri meskipun ia terlihat sangat konyol dengan tepung di hidungnya.

Anya melihat ke sekeliling dapur. Keadaannya seperti habis terkena ledakan granat tepung. Cangkang telur berceceran di lantai, botol sirup tumpah, dan steak wagyu seharga jutaan rupiah terlihat pucat di satu sisi dan hitam legam di sisi lain.

Tawa Anya meledak. Awalnya hanya tawa kecil, namun lama-lama menjadi tawa yang tak terkendali hingga ia harus memegangi perutnya. "Hahaha! Devan! Kamu benar-benar tidak berbakat jadi manusia normal! Lihat wajahmu!"

Devan yang awalnya merasa malu, perlahan-lahan ikut tersenyum. Melihat Anya tertawa lepas—bukan tawa palsu atau tawa mengejek—membuat semua kepanikannya hilang. Ia mengambil serbet dan mencoba mengusap dahi Anya yang terkena sirup.

"Jangan bergerak," ucap Devan lembut.

Tawa Anya mereda. Suasana kembali menjadi intim secara mendadak. Sentuhan lembut serbet di dahi Anya membuat napasnya tertahan. Devan menatap mata Anya dengan tatapan yang dalam, penuh dengan permohonan maaf yang tak terucapkan.

"Maaf soal semalam," bisik Devan. "Dan maaf soal dapur ini. Aku hanya... aku tidak tahu bagaimana cara bicara padamu setelah apa yang terjadi."

Anya menunduk, memainkan ujung apron Devan. "Aku menghindarimu seharian karena aku takut, Devan. Aku takut jika aku melihatmu, aku akan menyadari bahwa kontrak ini mulai terasa tidak berarti lagi bagiku."

Devan mengangkat dagu Anya, memaksa wanita itu menatapnya. "Lalu, jangan anggap itu kontrak. Untuk seminggu ini saja, bisakah kita hanya menjadi Devan dan Anya? Tanpa Papa, tanpa Mama, tanpa dua belas miliar?"

Anya terdiam cukup lama, sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Tapi dengan satu syarat."

"Apa?"

"Kamu jangan pernah menyentuh kompor lagi selama kita di sini. Aku tidak mau mati konyol karena keracunan pancake gosongmu."

Devan tertawa, suara tawa yang lepas dan tulus yang jarang terdengar. "Sepakat, Nyonya Arkatama."

Malam itu, mereka akhirnya memesan layanan kamar dan makan di dek luar sambil mendengarkan suara ombak. Tidak ada lagi sindiran pedas, tidak ada lagi perdebatan tentang wilayah tempat tidur. Mereka mulai bercerita tentang mimpi-mimpi mereka yang sebenarnya—Anya yang ingin membangun hutan kota di setiap sudut Jakarta, dan Devan yang sebenarnya sangat lelah dengan tekanan perusahaan.

Namun, di kegelapan dermaga, tak jauh dari vila mereka, sosok Raka berdiri menatap mereka dengan tangan terkepal. Ia tidak suka melihat Anya tertawa bersama pria lain. Dan ia memiliki satu rahasia besar tentang pernikahan Devan yang ia dapatkan dari seorang informan di Jakarta—rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.

1
Emily
ada ada aja orang jahat
Emily
😂😂😂jus pare satu ember ...ada aja mama sarah
Emily
Valerie otak kriminal
Emily
memang kampret si valerie
Emily
Valerie Mak lampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!