Setelah meninggalkan Planet Vermilion, Zhao Xuan, Long Chen & Gu Tianxue menginjakkan kaki di Planet Shenzue sebuah dunia yang menjadi pusat dari Tiga Puluh Tiga alam Immortal Kuno.
Planet Shenzue terbagi menjadi Empat Benua Utama (Timur, Barat, Selatan, dan Utara) yang dikuasai oleh berbagai sekte tingkat puncak, klan kuno, dan kekaisaran raksasa. Lautan Shenzue yang tak berujung dikuasai oleh Ras Laut yang arogan dan tertutup, dipimpin oleh Kaisar Laut dan para keturunan naga airnya. Permusuhan antara kultivator daratan yang serakah dan Ras Laut yang kejam telah berlangsung selama ribuan tahun, menciptakan batas wilayah yang dipenuhi peperangan dan intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Tiga Bayangan
Malam berlabuh di Kota Pelabuhan Awan Awal. Kabut tipis dari Lautan Kekosongan merayap masuk ke jalanan kota yang diterangi oleh lentera-lentera giok.
Di lantai teratas Penginapan Awan Emas, penginapan paling mewah di distrik tersebut, kelompok Zhao Xuan menyewa sebuah pelataran mandiri yang dilindungi oleh Formasi Pengunci Ruang tingkat Bumi.
Di dalam ruangan utama, suasana sangat tenang. Zhao Xuan duduk bersila di atas dipan kayu (ia menolak menggunakan ranjang giok lagi agar tidak melelehkannya). Di atas meja kecil di hadapannya, "Batu Kekosongan" hitam legam itu tergeletak diam.
Di sudut ruangan, menyatu sepenuhnya dengan kegelapan tanpa memancarkan fluktuasi napas sedikit pun, Gu Tianxue berjaga bagaikan patung malaikat maut.
Tiba-tiba, mata Gu Tianxue yang hitam legam terbuka. Niat Pembunuhan yang luar biasa tipis begitu tipisnya hingga formasi penginapan tidak mendeteksinya menyentuh batas pelataran mereka.
Syuuuut... Syuuuuut...
Tiga hembusan angin yang tidak wajar melewati jendela yang tertutup. Bayangan dari tiang-tiang kayu di dalam ruangan itu mendadak memanjang dan berpisah dari sumbernya, mewujud menjadi tiga sosok berpakaian serba hitam pekat.
Mereka adalah Tiga Bayangan Pedang Malam, kelompok pembunuh elit dari Paviliun Pedang Bintang. Ketiganya berada di ranah God King Awal, dilatih khusus untuk mengeksekusi target dalam diam menggunakan Hukum Bayangan Bintang.
"Target ditemukan," bisik salah satu pembunuh melalui telepati Qi. "Dia sedang bermeditasi. Tidak ada penjagaan. Tuan Muda Jian Chen benar, dia hanya pemuda kaya yang bodoh. Habisi dia, ambil cincinnya."
Ketiga pembunuh itu mencabut pedang pendek mereka yang dilumuri Racun Penidur Dewa. Mereka melesat serentak ke arah punggung Zhao Xuan dari tiga sudut yang mustahil dihindari!
Namun, tepat saat pedang mereka berjarak satu jengkal dari leher Sang Tiran...
TANG! TANG! TANG!
Ketiga pedang tingkat Surga itu menabrak sebuah dinding tak kasat mata yang terbuat dari es hitam.
"Apa?!" Ketiga pembunuh itu terbelalak di balik topeng mereka. Mereka mencoba menarik pedang mereka, namun senjata mereka membeku dan menempel kuat pada dinding es tersebut!
"Kalian menyebut diri kalian Bayangan Malam?"
Sebuah suara yang lebih dingin dari kedalaman gletser terdengar dari belakang mereka.
Tiga Bayangan Pedang Malam memutar kepala dengan panik. Dari dalam bayangan mereka sendiri, sosok Gu Tianxue melangkah keluar. Sayap Iblis Malamnya membentang menutupi cahaya bulan dari jendela.
"Bermain-main dengan Hukum Bayangan di hadapan Pangeran Iblis Malam..." Mata Gu Tianxue memancarkan penghinaan mutlak. "Kalian sama saja dengan memamerkan korek api di depan matahari."
"Teknik Iblis Malam"
Gu Tianxue tidak menggunakan pedangnya. Ia hanya menjentikkan jarinya.
Seketika, bayangan dari ketiga pembunuh itu memberontak! Bayangan tersebut melilit kaki, tangan, dan leher pemiliknya sendiri dengan kekuatan yang meremukkan tulang. Ketiga ahli God King Awal itu tidak bisa mengeluarkan suara jeritan karena pita suara mereka telah dibekukan oleh Qi Yin murni.
KRAAAAK!
Tulang belulang dua pembunuh pertama hancur menjadi bubur dalam hitungan detik. Mereka mati bahkan sebelum menyadari teknik apa yang membunuh mereka. Seni pembunuhan Paviliun Pedang Bintang tidak ada artinya di hadapan penguasa bayangan yang sebenarnya.
Pembunuh ketiga, yang merupakan pemimpin kelompok, berhasil membakar Esensi Darahnya untuk membebaskan satu tangannya. Dalam keputusasaan dan teror absolut, ia mengabaikan Gu Tianxue dan menerjang nekat ke arah Zhao Xuan!
Jika aku mati, aku harus membawa target ini bersamaku! batin si pembunuh. Tangannya yang bebas membentuk segel pedang, memadatkan seluruh sisa kultivasinya menjadi sebuah jarum Niat Pedang Bintang yang mengarah lurus ke dahi Zhao Xuan.
Zhao Xuan bahkan tidak membuka matanya.
Saat jarum Niat Pedang itu berjarak satu inci dari dahinya, tangan kiri Zhao Xuan bergerak santai, mengambil "Batu Kekosongan" dari atas meja, dan mengangkatnya tepat di jalur serangan si pembunuh.
SLUUURP!
Sebuah suara isapan yang menggelikan terdengar di ruangan itu.
Jarum Niat Pedang berkekuatan bunuh diri tingkat God King itu... langsung tersedot masuk ke dalam celah kecil di batu hitam tersebut! Tidak ada ledakan, tidak ada riak energi. Senjata pamungkas si pembunuh menghilang seperti setetes air yang jatuh ke padang pasir.
"Hah...?" Mata si pembunuh melotot. Otaknya yang fana tidak bisa memproses apa yang baru saja terjadi.
Namun, kejutan sesungguhnya belum dimulai.
Dari dalam retakan batu hitam itu, sebuah tentakel bayangan sekecil jari kelingking melesat keluar dengan kecepatan cahaya, langsung melilit pergelangan tangan si pembunuh!
"A-A-APA INI?!" Pembunuh itu akhirnya bisa menjerit saat menyadari Qi di Dantiannya, Esensi Darahnya, dan Umurnya disedot keluar dengan kecepatan bagaikan air bah yang bendungannya pecah.
Dalam tiga tarikan napas pendek, pembunuh tingkat God King Awal yang gagah berani itu menyusut, mengering, dan akhirnya berubah menjadi setumpuk abu kelabu yang jatuh ke lantai.
Tentakel kecil itu kembali masuk ke dalam cangkang batu. Batu Kekosongan itu bergetar pelan, memancarkan perasaan 'bersendawa' secara telepati yang samar, lalu kembali terdiam.
Di ambang pintu kamar, Long Chen yang baru saja masuk sambil membawa piring berisi camilan malam membeku di tempat. Mulutnya terbuka lebar, piringnya nyaris jatuh.
"B-Bos..." Long Chen menelan ludah, menatap batu hitam di atas meja dengan penuh teror. "Apakah... apakah batu peliharaanmu baru saja memakan seorang God King untuk camilan malam?"
Zhao Xuan perlahan membuka matanya. Lingkaran emas di pupilnya berkilat geli.
"Dia masih bayi, Long Chen. Dia butuh nutrisi agar cepat tumbuh," jawab Zhao Xuan santai sambil mengelus batu itu. "Lain kali, jangan berteriak malam-malam. Kau bisa mengganggu pencernaannya."
Long Chen bergidik ngeri dan mundur selangkah, berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah tidur satu ruangan dengan batu iblis itu.
Gu Tianxue melangkah maju, membersihkan abu di lantai dengan sapuan kakinya. Ia kemudian mengambil tiga cincin spasial milik para pembunuh dan token berlogo pedang bintang.
"Tuan," lapor Gu Tianxue, membungkuk hormat. "Seperti yang Anda duga, Paviliun Pedang Bintang mengirim anjing pelacak mereka. Apa yang harus saya lakukan dengan barang-barang ini?"
Zhao Xuan menatap emblem pedang bintang itu. Seringai Asura-nya perlahan mekar.
"Jian Chen mengirimkan hadiah yang begitu hangat di malam yang dingin ini," ucap Zhao Xuan. "Tidak sopan jika kita tidak membalas budi. Tianxue, masukkan debu sisa pembunuh ini ke dalam sebuah guci yang bagus. Letakkan token nya di atasnya, dan kirimkan ke depan pintu kamar Tuan Muda Jian Chen. Beri sedikit pesan manis dari kita."
"Dimengerti, Tuan." Gu Tianxue mengangguk, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum kejam yang jarang ia perlihatkan.
Satu jam kemudian, di penginapan berbeda yang disewa khusus oleh faksi Paviliun Pedang Bintang.
Jian Chen sedang mondar-mandir di ruangannya, menunggu kabar dari Tiga Bayangan Pedang Malam. Baginya, membunuh pemuda dari utara itu hanyalah masalah waktu.
Tok... Tok...
Suara ketukan pintu terdengar.
"Masuk!" perintah Jian Chen cepat. "Apakah kalian sudah membawa kepalanya?!"
Namun, tidak ada jawaban. Pintu itu sedikit terbuka karena angin. Jian Chen mengerutkan kening dan berjalan ke depan pintu. Tidak ada siapa pun di lorong. Hanya ada sebuah guci porselen elegan yang tergeletak di lantai, dengan sehelai kertas tertempel di atasnya.
Jian Chen mengambil kertas itu. Tulisannya sangat rapi, berisi Niat Pedang yang luar biasa dingin:
"Terima kasih atas camilan malamnya, Tuan Muda Jian. Namun, anjing peliharaanmu terlalu kurus dan kurang bergizi. Lain kali, kirimkan dirimu sendiri."
Mata Jian Chen membelalak. Dengan firasat buruk yang menggerogoti dadanya, ia membuka tutup guci porselen tersebut.
Di dalamnya, tidak ada kepala. Hanya ada tumpukan abu kelabu, dan di atasnya tergeletak tiga token Tiga Bayangan Pedang Malam yang telah retak.
"A-Abu...?!" Jian Chen mundur terhuyung-huyung, guci itu jatuh dan pecah berkeping-keping.
Tiga pembunuh God King Awal... ahlinya sembunyi-sembunyi... musnah tanpa jejak, tanpa suara pertarungan, dan diubah menjadi abu dalam waktu kurang dari satu jam?!
"M-Monster..." Wajah angkuh Jian Chen kini dipenuhi oleh teror absolut. Kakinya lemas hingga ia jatuh terduduk di lantai. Kesombongannya telah dihancurkan, menyisakan ketakutan akan eksistensi yang sangat jauh berada di luar pemahamannya. Malam itu, Tuan Muda dari Paviliun Pedang Bintang tidak berani memejamkan mata sedetik pun.
Sementara itu, di atap sebuah gedung tinggi yang menghadap langsung ke penginapan Zhao Xuan...
Putri Naga Ao Qing berdiri dalam kegelapan malam, menyilangkan lengannya di bawah dada. Sisik zamrud di wajahnya memantulkan cahaya bulan pelabuhan.
Kedua pengawalnya berdiri di belakangnya dengan ekspresi terguncang.
"P-Putri..." bisik salah satu pengawal. "Apakah Anda melihatnya? Niat Bayangan dari pengawal pemuda berambut merah itu... ia memanipulasi Hukum Bayangan setingkat Leluhur! Dan batu aneh itu... ia memakan serangan Niat Pedang utuh!"
Ao Qing tersenyum, sebuah senyuman yang penuh dengan antusiasme yang membara. Lidah kecilnya yang sedikit bercabang membasahi bibirnya.
"Ternyata, Bencana Kosmik Bintang Merah yang diramalkan oleh Paviliun Bintang benar-benar bukan isapan jempol," Ao Qing tertawa pelan. "Klan Han dan Paviliun Pedang Bintang baru saja menendang sarang naga yang jauh lebih buas dari klanku sendiri."
Ao Qing berbalik, jubah hijau-emasnya berkibar.
"Ayo kita kembali. Perjamuan Resonansi Dao bulan depan di Pulau Melayang Tengah tidak akan menjadi ajang pamer para jenius membosankan seperti biasanya. Aku sangat tidak sabar... melihat bagaimana Tiran berambut merah ini akan memporak-porandakan tatanan Benua Tengah."
Jika Kalian Suka dengan cerita ini mohon bantuan untuk beri rating bintang dan vote nya.. 🙏 Penilaian kalian sangat berharga bagi author tetap semangat untuk update cerita ini. TERIMA KASIH.... ✌️