Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saran Nakal
Aren memutar gelas wiskunya, menatap Lucien dengan tatapan kasihan yang dibuat-buat.
"Dengar ini," Aren mulai memberikan kuliah dadakan.
"Kau tidak bisa terus-terusan memberinya tanaman langka lalu berharap dia tiba-tiba menerjangmu di tempat tidur. Itu hanya terjadi di buku fantasi yang istrimu baca."
Lucien hanya menaikkan satu alis, tetap diam.
"Langkah pertama," Aren mengangkat satu jari.
"Kurangi sedikit wajah 'aku-ingin-mengaudit-pajakmu' itu. Kau harus terlihat... menggoda. Kau tahu? Sedikit kancing kemeja yang terbuka, rambut yang agak berantakan. Berikan dia sesuatu untuk dilihat!"
"Itu tidak profesional," sahut Lucien datar.
"Profesional matamu!" Aren nyaris tersedak wiskunya.
"Ini istrimu, bukan sekretaris! Langkah kedua. Kurangi bicara soal kontrak. Cobalah bicara dengan nada yang lebih... rendah. Bisikkan sesuatu di telinganya. Jangan tanya 'Apakah bunga itu sudah disiram?', tapi tanya 'Apakah kau tahu seberapa cantik kau di bawah cahaya bunga itu?'"
Lucien memijat pelipisnya. "Itu terdengar sangat menjijikkan."
"Menjijikkan tapi berhasil, bodoh!" seru Aren gemas.
"Dan yang paling penting, langkah ketiga. Kau harus berani melakukan kontak fisik yang 'tidak sengaja'. Misalnya, kau membantunya mengambilkan sesuatu di rak tinggi, lalu kau terjebak di belakangnya. Jangan langsung pergi! Diam di sana beberapa detik, biarkan dia merasakan napasmu di tengkuknya. Kalau dia mulai merona... itu kode hijau!"
Aren bersandar, memberikan kedipan mata yang nakal.
"Dengar, Lucien. Kau sudah menunggu lima tahun. Jangan sampai lima tahun lagi kau masih cuma jadi penonton setia di balik pintu kamarnya. Sesekali, dorong pintu itu. Masuklah. Kalau dia tanya mau apa, bilang saja... 'Aku haus', lalu tatap bibirnya. Kau mengerti maksudku, kan?"
Lucien terdiam cukup lama, membayangkan saran gila Aren jika dipraktikkan pada Aurora. Ia bisa membayangkan Aurora akan berteriak atau melemparnya dengan vas bunga.
"Dia akan membunuhku, Aren," gumam Lucien pelan.
"Kalau dia membunuhmu, setidaknya kau mati sebagai pria sejati, bukan sebagai 'kakak kontrak' yang membosankan!" Aren tertawa terbahak-bahak sambil menepuk bahu Lucien keras-keras.
Lucien terdiam mendengar rentetan saran "setan" dari Aren. Ia menatap gelas wiskunya cukup lama, lalu tanpa sadar sebuah gumaman kecil keluar dari bibirnya.
"Tapi itu sudah pernah kulakukan... dan tidak terjadi apa-apa," gumam Lucien sangat pelan, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri.
Aren yang sedang asyik tertawa mendadak berhenti.
Ruangan itu jadi hening seketika. Aren mengerjapkan matanya, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Tunggu... apa?" Aren memajukan tubuhnya, matanya melotot. "Kau sudah pernah mencobanya? Kapan? Yang mana?!"
Lucien membuang muka, telinganya mendadak memerah.
"Minggu lalu. Aku sengaja tidak mengancingkan tiga kancing kemeja teratas saat dia masuk ke ruang kerja. Dan aku... aku mencoba menatapnya seperti yang kau bilang."
"Lalu? Apa reaksinya?!" desak Aren dengan semangat membara.
Lucien mendengus kesal, mengingat kembali momen memalukan itu. "Dia malah menatapku dengan wajah ngeri, lalu bertanya apakah aku sedang sakit sakau atau habis dirampok di jalan karena penampilanku yang berantakan. Dia bahkan memaksaku untuk segera memakai dasi karena katanya aku terlihat... 'tidak rapi'."
Aren terdiam sejenak, lalu meledak dalam tawa yang lebih keras dari sebelumnya. Ia sampai memukul-mukul meja mahoni Lucien.
"Astaga, Lucien! Jadi kau gagal karena istrimu terlalu polos atau kau yang auranya memang aura bos perusahaan?!" Aren tertawa sampai mengeluarkan air mata.
"Dan soal bisikan di telinga itu," lanjut Lucien dengan nada frustrasi, "aku mencoba melakukannya saat kami di perpustakaan. Aku berdiri di belakangnya dan berbisik bahwa aku menyukai aromanya."
"Lalu? Dia jatuh ke pelukanmu?"
"Tidak," sahut Lucien datar. "Dia malah menyikut perutku dan bilang kalau aku bau kopi terlalu kuat, lalu dia menyuruhku pergi sikat gigi karena aku mengganggu konsentrasi membacanya."
Aren kini sudah terduduk di lantai sambil memegangi perutnya yang sakit karena tertawa.
"Kalian berdua benar-benar pasangan paling mustahil di Aurelia! Yang satu kaku seperti tiang listrik, yang satu lagi tidak peka seperti batu karang!"
Lucien mendengus, meneguk habis wiskunya.
"Itulah sebabnya saranmu itu sampah, Aren."
Lucien meletakkan gelas kristalnya dengan denting yang tajam ke atas meja. Ia menatap Aren yang masih tertawa di lantai dengan tatapan yang sangat menghakimi.
"Sudahlah," ucap Lucien, suaranya rendah dan penuh sarkasme khas bangsawan. "Saranmu itu bukan hanya sampah, tapi juga kotor. Sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang gentleman."
Aren berhenti tertawa, mencoba mengatur napasnya sambil duduk kembali di kursi. "Hei, itu saran praktis, Lucien!"
"Praktis bagi pria hidung belang sepertimu, mungkin," balas Lucien tenang, namun kata-katanya menusuk.
"Sekarang aku mengerti kenapa kau masih saja melajang sampai detik ini. Ternyata isi kepalamu hanya dipenuhi trik-trik murahan yang menjijikkan."
Lucien menyandarkan punggungnya, melipat tangan di depan dada sambil menatap Aren dengan pandangan meremehkan.
"Pantas saja semua wanita terhormat di Aurelia tampak ketakutan setiap kali kau mendekat. Mereka mungkin mengira kau adalah serigala kelaparan yang lupa cara berpakaian rapi, bukan seorang rekan bisnis yang bisa diandalkan."
Aren ternganga, "Wah, bicaramu pedas sekali ya setelah gagal menggoda istri sendiri."
"Setidaknya aku punya istri untuk digoda, daripada kau yang hanya bisa memberikan saran berbau mesum pada pria yang sudah menikah," sahut Lucien.
"Simpan saja ide 'dorong pintu' itu untuk dirimu sendiri, Aren. Aku masih punya harga diri yang lebih tinggi daripada sekadar berpura-pura haus di depan pintu kamar hanya untuk mencari perhatian."
Lucien mengambil kembali pena emasnya, kembali ke mode bos besar yang tidak tersentuh.
"Sekarang, keluar dari kantorku. Aku punya bisnis nyata yang harus diurus, bukan mendengarkan dongeng konyol dari pria yang bahkan tidak bisa mempertahankan satu wanita lebih dari dua minggu."
Aren ternganga lebar. Ia menatap Lucien seolah-olah pria di depannya ini baru saja berubah menjadi naga yang menyemburkan api, bukan lagi sahabat karibnya.
"Wow... itu... itu sungguh menyakitkan, Lucien," gumam Aren dengan ekspresi yang sangat dramatis. Ia memegangi dadanya, lalu perlahan merosot kembali dari kursi.
"Kau menghinaku? Setelah aku memberikan ilmu rahasia turun-temurun dari para penakluk wanita, kau malah menyebutku 'hidung belang'?" Aren menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah yang dibuat seolah-olah ingin menangis.
"Hati kecilku terluka, Lucien! Perih sekali! Kau menghina status lajangku seolah-olah itu adalah sebuah kegagalan nasional!"
Lucien hanya menatapnya dengan satu alis terangkat, sama sekali tidak merasa bersalah. "Itu bukan hinaan. Itu adalah observasi objektif."
"Observasi katanya?!" Aren memukul meja, lalu berdiri dan mulai mondar-mandir di depan meja Lucien seperti orang gila.
"Dengar ya, wahai Tuan Valehart yang terhormat! Aku lajang karena aku ingin memberikan kesempatan pada pria-pria lain di kota ini untuk merasakan jatuh cinta! Kalau aku serius, dalam semalam saja populasi wanita lajang di Aurelia akan berkurang drastis!"
Lucien mendengus pendek, kembali menulis di atas dokumennya. "Ya, dan mereka akan berakhir di kantor polisi karena melaporkanmu atas tindakan tidak menyenangkan."
"Sialan kau!" Aren berhenti berjalan, lalu menunjuk Lucien dengan jari gemetar.
"Ingat ya, Lucien! Suatu hari nanti, saat kau sudah benar-benar bertekuk lutut di bawah kaki Aurora, saat kau memohon-mohon padaku cara untuk meminta maaf karena tidak sengaja merusak gaunnya atau apa pun itu... aku tidak akan memberimu saran gratis lagi!"
Aren menyambar topinya dari atas meja, memakainya dengan posisi sedikit miring karena terlalu emosi.
"Nikmati saja malammu dengan menatap pot bunga itu, Lucien! Aku pergi! Aku mau mencari wanita yang bisa menghargai kemeja terbuka, bukan wanita yang menyuruhku sikat gigi!"
Aren melangkah pergi dengan hentakan kaki yang keras, namun tepat sebelum menutup pintu, ia menjulurkan kepalanya kembali.
"Satu hal lagi! Pakailah parfum yang mahal sedikit nanti malam! Kau itu bau kopi!"
Brak!
Pintu tertutup dengan keras. Lucien terdiam di kursinya, menatap pintu yang baru saja ditutup oleh Aren dengan wajah datar. Namun, setelah beberapa detik, ia menghela napas panjang dan menyentuh kerah kemejanya sendiri.
"Bau kopi, ya?" gumam Lucien pelan, lalu tanpa sadar ia mencium aromanya sendiri dengan ekspresi sangsi.