BLURB👇
Lian dan Yumna, adalah sepasang anak manusia yang berteman sejak kecil, harus berpisah ketika orang tua Lian memutuskan untuk memindahkan anaknya belajar ke luar negeri. Selama lima belas tahun mereka berpisah dan bertemu kembali saat mereka remaja. Mereka pun menjalin hubungan asmara. Namun, perjalanan cinta mereka tidak semulus yang mereka harapkan. Penuh permasalahan dan rintangan. Terlebih hadirnya orang ketiga di antara mereka. Suatu hari, Lian dan Yumna tak sengaja menghabiskan waktu bersama. Hingga hubungan mereka melampaui batas, dan menyebabkan Yumna hamil!! Hal itu membuat Yumna frustasi berkepanjangan. Apalagi orang tua mereka tidak merestui hubungan mereka. Yumna semakin terpuruk. Setiap hari hanya ada penyesalan yang tak berarti dalam dirinya.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rayana Lovely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan Orang Terdekat
Karena terlalu lelah memikirkan peristiwa hari ini, Yumna tertidur di mobil Lian. Lian memegang tangan Yumna dan sesekali mengelus kepalanya. Sepanjang perjalanan hingga sampai ke rumah, Yumna terlelap dalam tidurnya.
"Yumna.. Kita sudah sampai." Lian membanguni Yumna. Dia mengelus-elus pipi Yumna.
"Hem? sudah sampai ya?!" Yumna membuka matanya dengan perlahan. Nyawanya seakan belum terkumpul sempurna.
"Aku antar ke dalam ya!"
"Gak usah. Aku masuk sendiri aja! Ini sudah malam, kamu harus segera pulang dan beristirahat." suara Yumna terdengar parau karena baru terjaga dari tidur. Yumna membuka sabuk pengaman yang melekat di tubuhnya. Kemudian, perlahan keluar dari mobil Lian.
"Dah.." Yumna melambaikan tangannya dari luar kaca mobil.
"Dah.." balas Lian dengan lambaian tangan juga. Dia tersenyum manis.
"Yumna!! Kamu tidak apa-apa?!"
Sebuah suara menghentak mereka. Yumna menoleh ke arah suara itu.
"Juna?" gumam Yumna. Kantuknya lenyap seketika. Juna mendekatinya dengan terburu buru. Membuat Yumna kembali merasakan kecemasan. Ada Lian di sini. Kenapa dia tidak menunggu Lian pergi dulu baru setelah itu menemuiku? aku baru saja baikkan dengannya, masa harus ribut lagi? batin Yumna.
"Yumna, apa yang terjadi padamu hari ini! Kenapa kamu terlihat begitu lesu!" Juna memegang kedua tangan Yumna. Perasaan cemas menghantuinya. Takut kalau kalau Lian menyakiti wanita yang dicintainya itu.
Tanpa pikir panjang, Lian turun dari mobilnya. Dia membanting pintu mobil, dan mendekati mereka. Melihat Juna menggenggam tangan Yumna, membuatnya semakin kesal. Yumna segera menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Juna.
"Dia bersamaku!! Tidak ada yang perlu kau cemaskan!! Kau tidak ada hak untuk mencemaskannya!! Jangan lagi mengganggu dan berusaha mendekatinya!! Dia milikku!!" Lian berkata lantang. Yumna semakin merasa tidak karuan.
"Aku tidak punya urusan denganmu!! Urusanku dengan Yumna!! Jadi jangan ikut campur!!" balas Juna dengan tatapan sinis.
"Segala urusan Yumna sekarang menjadi urusanku juga!! Aku harap kau memahami hubungan kami saat ini!!" Lian mulai tersulut emosi.
"Oh, ya! Apa kau suaminya??!! Jika kau suaminya, mungkin aku akan mendengarkan ucapanmu! Aku juga tidak akan mengganggu wanita yang sudah menjadi hak orang lain! Tapi sayangnya kau ini hanya pacarnya! Yang belum tentu menjadi jodohnya!! Aku masih mempunyai hak untuk menemuinya, dan kau tidak berhak menuntutku ataupun melarang Yumna untuk menemuiku!!" balas Juna lagi.
Wajah Lian memerah. Nafasnya tampak tak beraturan menahan amarah. Dia mengepal tangannya dan hendak menghantamkannya ke Juna. Tapi Yumna segera menahannya. Yumna menghalangi tubuh Lian agar tidak mendekati Juna. Dia takut akan terjadi perkelahian di antara dua lelaki yang berhubungan dekat dengannya tersebut.
"Lian! Sudahlah! Jangan diperpanjang lagi! Malu dilihat orang!!" Yumna takut kejadian ini sampai terdengar hingga ke cafe milik ibunya. Dan seketika pengunjung di cafe tersebut berhamburan ke luar untuk melihat perkelahian yang tidak masuk akal tersebut.
Lian menatap Yumna tajam. Dia mengatur nafasnya. Mencoba untuk tidak dikuasai emosi.
"Kamu membelanya?!" Lian bertanya dengan gusar. Menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Yumna.
"Aku tidak membela siapa siapa! Aku hanya tidak ingin ada perkelahian di sini!! Lian ... tolonglah ... aku lelah!! Aku ingin istirahat. Kamu pulang ya. Kamu juga harus istirahat, kan?! Kita sudah mengalami banyak hal hari ini, jangan menambah hal yang gak penting lagi!!"
Yumna membelai wajah Lian dengan lembut. Agar amarahnya mereda. Lian pun menuruti permintaan Yumna. Sementara Juna terasa hancur hatinya ketika melihat Yumna begitu mesra dengan laki-laki yang berdiri di depannya saat ini. Tapi dia tetap berdiri tegak seakan-akan kuat menghadapinya.
"Aku permisi pulang! Kamu masuk sana!!" perintah Lian.
Yumna canggung. Dia merasa tidak enak kepada Juna yang sudah menunggu kepulangannya dari tadi.
"Kamu masuk! Atau aku tidak akan pernah pergi dari sini!!" ancam Lian. Tidak ingin ketika dia pergi nanti Yumna malah asik-asikkan dengan laki-laki yang saat ini ada di depannya.
"Egois sekali kau jadi laki-laki! Kenapa kau begitu posesif kepadanya. Dia juga punya hak untuk berteman dengan siapapun! Kenapa kau seenaknya melarang!"
"Dia boleh dekat dengan siapapun kecuali dengan laki-laki lain termasuk dirimu!!" tegas Lian.
"Aku baru tau, ternyata seperti ini laki-laki yang ditunggu-tunggu Yumna. Seorang laki-laki pengekang, selalu memaksakan kehendak sendiri, tanpa memikirkan perasaan orang lain!! Apakah kau tahu kalau aku juga bagian dari hidup Yumna!"
"Apa maksud dari ucapanmu? Yumna sudah bersamaku sejak kecil! Kau hanya orang baru di hidupnya," balas Lian lagi.
"Aku orang baru di hidupnya?" Juna memberikan serigai tajam. "Hey, bung! Sebelum aku hadir di hidup Yumna, aku akui kau memang orang pertama yang mengenalnya. Tapi, apa kau lupa? Sejak kau pergi, aku orang yang selalu memperhatikannya! Aku menjaganya lebih dari lima belas tahun, sedangkan kau bersamanya hanya selama lima tahun. Sekarang kau bisa simpulkan sendiri, siapa di antara kita yang seharusnya lebih dekat mengenal Yumna! Kau ... atau aku!!" telak Juna.
Lian kaget mendengar kenyataan yang dilontarkan oleh Juna. Terdiam sesat karena merasa terpojok. Amarahnya pun kembali terpancing. Seumur hidup, baru kali ini dia merasakan emosi yang begitu dalam. Sebelumnya, dia tidak pernah mempunyai masalah dengan orang lain. Ingin rasanya dia memukul wajah Juna. Tapi, lagi-lagi Yumna menghalanginya dengan susah payah.
"Juna, pulanglah! Jangan lagi memperburuk masalah. Aku mohon!" pinta Yumna yang masih saja menahan tubuh Lian. Dapat ia rasakan denyut jantung Lian yang berdetak lebih cepat.
Mau tidak mau, Juna menuruti permintaan Yumna meski di hatinya terasa sakit. Sebab Yumna seakan mengabaikan dirinya. Tapi demi Yumna, ia memilih mengalah.
Perlahan Juna melangkahkan kaki. Pergi meninggalkan mereka walau dengan langkah berat.
****
Tok! Tok!
"Masuk!!" teriak Lian.
Dari balik ruangannya, muncul Yumna dengan membawa beberapa map di tangannya. Dengan langkah ragu-ragu, Yumna berjalan mendekati Lian yang sama sekali enggan melihat dirinya.
"Hem ... Pak, ini berkas yang Bapak minta." Yumna menyerahkan map berisi berkas berkas perusahaan itu ke Lian. Dia mulai terbiasa memanggil Lian dengan sebutan itu agar orang orang di perusahaan tidak merasa dibeda-bedakan.
Lian menerimanya. Masih saja asik menatap layar laptop.
"Terima kasih. Kamu boleh keluar!!" suruhnya
Ini tidak seperti biasanya. Lian tampak dingin kepadanya.
"Ba ... baik, Pak!!" jawab Yumna kaku, lalu keluar dari ruangan itu dengan ragu-ragu.
Yumna terheran melihat sikap Lian pagi ini. Lian tidak menyambutnya. Di mobil, saat Lian menjemputnya tadi pagi, Lian juga tidak mengeluarkan sepatah kata pun kepadanya. Membuat hatinya bertanya-tanya.
"Ada apalagi sih dengannya?! Kok diem terus?! Apa dia marah lagi padaku, ya? kalau iya,,, hiiss!! Seharusnya kan aku yang ngambek, karena dia semalam mencumbuiku tanpa ampun!! Aneh banget sih, sikapnya!! Tumben tumbenan kayak gitu!! Biasanya pantang ketemu dikit, langsung seperti orang yang haus akan cumbuan, langsung nyosor, kayak bebek!!" gumam Yumna pelan.
"Siapa yang kamu katakan kayak bebek!!"
Yumna kaget bukan kepalang ketika tahu Lian sudah berada di belakangnya, mendengarkan ucapan konyolnya. Dia tidak berani menoleh ke belakang. Raut wajahnya sudah seperti orang bodoh. Ingin rasanya dia berlari menjauh dari pria ini. Akkkhhh.... Dia lah yang salah. Kenapa berkata seperti itu sebelum menjauh dari ruangan Lian, yang tanpa disadarinya telah mengikutinya dari belakang.
"Jawab aku! Siapa yang kamu bilang seperti bebek!!" Lian kembali bertanya.
Perlahan Yumna membalikkan posisinya ke belakang. Saat telah berhadapan dengan Lian, dia menunduk. Tidak berani memandang wajah gusar itu.
"Eeee.. eeee.." hanya itu yang keluar dari mulut Yumna. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia juga sudah mengira kalau Lian mengetahui siapa orang yang dimaksudnya. Dengan tatapan tidak sabar Lian menunggu jawaban dari Yumna.
"Kamu pasti salah dengar! Aku tidak mengatakan apa-apa!!" ujar Yumna berbohong.
"Kamu kira aku tuli??" Lian tertawa sinis.
Yumna semakin kalang kabut. Dia benar benar keceplosan tadi. Sekarang apa yang harus dia katakan pada bosnya ini. Ohh.. kenapa laki-laki ini senang sekali muncul secara tiba-tiba?!
Lian tidak sabar akan sikap Yumna yang plin plan. Dia langsung menyambar tangan Yumna. Memaksanya masuk ke ruangannya. Yumna kaget. Jantungnya berdebar kencang ketika Lian menghempaskan tubuhnya ke tembok. Lian mengunci tubuh Yumna dengan kedua tangannya agar tidak dapat bergerak. Yumna sudah menerka-nerka apa yang akan terjadi pada dirinya.
Dan benar saja. Sebuah ciuman brutal kembali menghantam bibir mungilnya. Wajahnya tidak dapat ia gerakkan karena Lian sudah menahannya. Lian mengecup bibir lembutnya dengan ganas. Memainkan lidahnya di antara sela-sela bibir Yumna.
****
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa