Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.
Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…
Entitas urban legend itu akan datang.
Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.
Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 : Mengungsi
Kedatangan Naja dan Satria disambut dengan pemandangan yang sama dengan dua hari lalu. Barang berantakan, rumah dipagari garis polisi, dan orang-orang panti berdiri di depan dengan wajah polos, pucat serta penuh tekanan. Mereka memandang Naja dengan rasa khawatir. Jujur saja, hati Naja terasa sesak akan hal itu.
"Naja..," panggil salah satu anak membuat Naja menoleh. Dia menghampiri anak itu dengan mengerutkan kening.
"Apa orang-orang itu mengganggu kalian lagi?" tanya Naja pada semua orang di sana. Dia menatap satu per satu mereka dengan rasa penasaran dan sedikit iba.
Tidak ada jawaban, mereka mengangguk. Melihat itu, Naja pun geram dan mengepalkan tangan. Wajah gadis itu memerah, rahangnya mengeras. Tatapan mata gadis itu sangat tajam. Dia memandang orang-orang yang sibuk membangun mall.
"Aku tidak akan melepas mereka! Mereka akan kurusak satu per satu!" tegas Naja lalu berjalan tergesa-gesa menghampiri pekerja itu, tapi langkahnya dicegah oleh Satria.
Satria menahan tangan Naja sambil memandang dengan rasa tegas tapi ada kelembutan. Lelaki itu menggelengkan kepala pelan. "Jangan sekarang Naj, ada banyak anak-anak. Nggak baik jika mereka melihat darah," tegur lelaki itu pada Naja.
Naja pun mengalihkan niatnya itu, dia memilih diam dan fokus menenangkan diri. Saat berbalik, Naja melihat wajah-wajah polos anak-anak di sana. Tak ingin berlarut-larut dalam kemarahan, Naja pun menghampiri anak-anak tersebut dengan senyuman manisnya.
"Sekarang, kami bingung harus tinggal di mana. Bagaimana kami bisa memenuhi kebutuhan kami, bagaimana dengan anak-anak," keluh salah satu penjaga panti asuhan. Suaranya penuh rasa putus asa.
Naja menghela napas, dia tersenyum memandang mereka. "Jangan khawatir, saya dan Satria sudah menyewa sebuah rumah untuk tempat tinggal kalian sementara," jawab gadis itu lembut membuat mereka semua bernapas lega sambil tersenyum.
"Dan jangan khawatir juga soal kebutuhan, kami sudah membelinya untuk kalian," lanjut Satria sambil tersenyum.
Satria berjalan menghampiri mereka semua sambil menunjukkan beberapa barang belanjaan berupa buah, sayur, dan beras. Kebutuhan yang cukup untuk beberapa hari.
Melihat itu, penjaga panti asuhan tersenyum melihat kebaikan Satria dan Naja. Bahkan pemilik panti merasa gugup tidak bisa berkata apa-apa selain tersenyum dengan penuh rasa haru. Pria tua itu mengatupkan kedua tangan menatap Naja dan Satria.
"Kalian sangat baik pada kami, padahal kami tidak mengenal kalian," ucap pemilik panti asuhan itu untuk pertama kali setelah dua hari bertemu ia tidak berbicara.
Satria tersenyum menatap pemilik panti asuhan itu. "Kenal atau asing, tidak mengubah kewajiban untuk saling menolong. Rasa kemanusiaan itu harus diutamakan, tanpa memandang bulu," jawab lelaki itu membuat pemilik panti asuhan makin senang.
Pemilik panti asuhan itu melirik Naja. "Kamu Naja kan? Saya dengar kamu suka menghakimi orang-orang berdosa," ujar pria itu membuat Naja terdiam.
Semua orang memandang Naja dengan penasaran. Rasa takut sedikit muncul tapi tidak terlihat karena tertutup rasa salut akan kebaikan yang dilakukan Naja. Naja melihat itu dengan senyuman tipis. Senyuman yang dirasa hangat di hati orang-orang yang sedang patah itu.
"Hmm, benar sih Bu, saya menghakimi orang-orang jahat. Tapi saya cuma menghancurkan hidup orang yang terlarut dalam kegelapan. Kalau orang baik seperti kalian sih nggak yah," jelas Naja. Dia terdiam sejenak sambil mengalihkan pandangan pada rumah panti asuhan yang sudah digusur. Kemudian gadis itu memandang anak-anak polos yang tak berdaya.
"Saya juga tidak sekejam itu kok, saya punya hati. Saya ingin keadilan untuk kalian," lanjut Naja membuat mata semua orang berkaca-kaca.
Sebelum mereka menjawab ucapan Naja, Satria tiba-tiba menyela sambil tertawa kecil. "Udahlah nggak usah banyak drama. Kita harus pergi ke rumah baru sebelum gelap," tegurnya karena hari sudah semakin siang.
Mendengar teguran Satria yang terdengar tegas tapi santai, anak-anak pun tertawa kecil. Sementara para penjaga panti dan pemilik panti asuhan itu tersenyum sambil menghela napas.
Mereka semua pun berjalan menuju rumah baru. Rumah itu letaknya cukup jauh dari panti asuhan karena beda kecamatan. Hal yang paling membuat lelah adalah karena mereka juga harus melewati jalan kaki menanjak.
Saat melihat ada salah satu anak yang kesusahan, Satria pun menggendong anak tersebut sambil berjalan. Sementara anak itu memeluk Satria sambil tertawa. Mereka semua bersenang-senang, bernyanyi sepanjang perjalanan, melupakan rasa sakit yang baru saja dialami.
Saat sampai di rumah baru itu, hari sudah mulai sore. Semua takjub dengan rumah sederhana yang tampak sejuk dan indah. Sementara Naja berjalan ke depan membuka pintu untuk mereka.
"Ini rumah baru kalian. Semoga kalian aman di sini. Mungkin tidak seluas panti asuhan kemarin tapi saya janji rumah ini akan memberi kalian kehidupan lebih baik," ucap Satria pada orang-orang di sana.
“Ah, untuk kehidupan kalian kedepan, saya dan Mas Satria yang jelek itu sudah menyiapkan tempat untuk berkebun hidroponik dan membesarkan bibit ikan lele. Setidaknya nanti kalian bisa dapat penghasilan tanpa harus menunggu donatur atau meminta. No… no… yah, kalian harus berdikari.” Tambah Naja.
Semua orang mengangguk sambil tersenyum hangat termasuk pemilik panti asuhan itu. "Terimakasih banyak, kami sudah bahagia kalian memberikan tempat tinggal untuk kami," jawab salah satu penjaga panti asuhan.
Setelah membuka pintu rumah yang dikontrakkan itu, Naja berbalik memandang mereka semua. Dia melihat dari mata mereka, ada rasa khawatir takut yang tersembunyi di balik senyuman. Gadis itu berjalan mendekat dengan langkah penuh perhatian.
"Kalian tinggal di sini hanya sementara. Jangan khawatir soal rumah kalian. Itu tanah kalian. Saya pastikan rumah itu akan kembali pada kalian," tegas Naja.
Pemilik panti asuhan itu mengerutkan kening menatap tidak percaya Naja. "Bagaimana bisa rumah itu kembali pada kami? Penguasa dan developer kaya telah merampasnya dan kami tidak punya uang," jawabnya penuh rasa putus asa.
Naja tersenyum memegang pundak pemilik panti asuhan itu. Dia menggelengkan kepala saat melihat pria tua itu menangis. Gadis itu mengusap air matanya.
"Itu tidak menghalangi kita untuk berjuang mendapat keadilan. Saya akan berusaha membantu kalian mendapat hak kalian. Dan saya tegaskan bahwa hidup orang-orang yang membuat kalian menangis ini akan hancur berkeping-keping," jelas Naja dengan suara tegas penuh ancaman.
Semua orang memandang Naja dengan takjub. Sementara beberapa anak juga terpaku dengan rasa khawatir. Tak mau membuat mereka overthinking, Satria pun mengeluarkan salah satu sayuran yang dia beli.
"Sudah jangan bahas ini dulu. Sekarang kalian harus bahagia," ucap lembut Satria sambil memberikan sayur itu pada penjaga panti.
"Bagaimana jika aku membantu memasak?" pinta Satria pada seorang anak panti seusianya.
Mereka semua seketika sadar bahwa seharian mereka belum makan. Tanpa basa-basi, penjaga panti asuhan itu mengizinkan Satria untuk membantu mereka masak. Meski hari sudah gelap, mereka tidak mengizinkan Satria dan Naja pulang sebelum makan.
Sementara Naja, sambil makan, pikirannya tak berhenti memikirkan cara untuk mendapatkan keadilan pada anak-anak panti asuhan tersebut.
“Aku harus mendapatkan kembali tempat itu, dengan kekerasan atau… ya, dengan kekerasan lah.”