“Ayam kecil, berhenti berlari dan kembalikan buah persikku!”
Ladang herbal memenuhi lereng gunung sementara asap putih mengepul dari dapur-dapur besar di berbagai area. Aroma daging panggang memenuhi udara dan di kejauhan ratusan hewan spiritual terlihat berkeliaran bebas di padang rumput pegunungan.
“Mulai hari ini kandang ayam spiritual bagian timur menjadi tanggung jawabmu.”
Di sisi lain, Suara pisau, dentuman panci, dan teriakan para murid dapur bercampur menjadi satu seperti pasar pagi yang kacau. Aroma makanan memenuhi seluruh udara pegunungan.
“Adik kecil! Cepat potong sayuran itu!”
“Siapa yang membakar daging bagian utara?!”
“Tambahkan garam spiritual ke sup nomor tiga!”
Ini adalah kehidupan yang tenang dan penuh kejadian dramatis tak terlupakan dari Sekte Forgotten Blade. Kehidupan beternak ayam Bai Fengxuan sebelum ia tahu kebenaran pahit dari dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LEVIATHAN_M.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 33 - Mengapa Ini Sangat Enak?
Perjalanan mereka berlangsung cukup lama. Jalur pegunungan di utara Forgotten Blade jauh lebih liar dibanding jalan setapak yang biasa dilewati murid luar di sekitar sekte. Semakin jauh mereka berjalan, semakin jarang pula tanda-tanda keberadaan manusia terlihat. Pohon-pohon pinus tua tumbuh semakin rapat, sementara kabut malam perlahan mulai turun memenuhi lembah dan lereng gunung seperti lautan putih dingin yang bergerak pelan.
Langit malam tampak sangat luas di atas kepala mereka. Bulan pucat menggantung di antara awan tipis, menerangi jalan berbatu samar-samar di tengah kegelapan pegunungan.
Bai Fengxuan mengikuti rombongan dari belakang sambil membawa wajan hitam besar di punggungnya. Anehnya, meskipun mereka sudah berjalan hampir tiga jam penuh, tubuhnya tidak terlalu lelah. Qi spiritual di dalam meridiannya terus bergerak hangat dan stabil, membuat langkahnya tetap ringan.
Di sisi lain, beberapa murid dari Puncak Pedang Surgawi mulai terlihat sedikit kelelahan. Bahkan Liang Shen beberapa kali mengusap dahinya sambil mengeluh pelan tentang jalan pegunungan yang licin dan berkabut.
Akhirnya menjelang tengah malam, Zhao Yuan yang berjalan paling depan perlahan mengangkat tangannya.
“Kita sampai.”
Kelompok kecil itu berhenti. Kabut di depan mereka tampak jauh lebih tebal dibanding area pegunungan sebelumnya. Pepohonan tinggi berdiri rapat seperti bayangan hitam raksasa di balik kabut putih yang bergerak perlahan. Bahkan cahaya bulan terasa jauh lebih redup di tempat ini.
Hutan Kabut Abadi.
Bai Fengxuan memperhatikan area di depannya cukup lama. Tempat itu benar-benar berbeda dibanding hutan biasa. Udara terasa lebih dingin dan lembap, sementara qi spiritual di sekitar hutan juga jauh lebih padat.
Kabut tipis bergerak perlahan di antara batang-batang pohon tua seperti makhluk hidup yang bernapas tenang di dalam kegelapan.
“Mulai dari sini kita akan memasuki wilayah perburuan,” kata Zhao Yuan sambil melihat seluruh anggota kelompok. “Rusa spiritual bertanduk tiga biasanya berkeliaran di wilayah luar dan pinggiran hutan.”
Ia kemudian melirik langit malam. “Tapi kita tidak akan masuk sekarang.”
Tak ada yang membantah keputusan itu. Mereka memang sudah berjalan cukup lama dan malam juga semakin larut.
Zhao Yuan kemudian menunjuk area terbuka kecil di dekat pinggiran hutan. “Kita berkemah di sini malam ini. Besok pagi baru masuk.”
Kelompok itu segera mulai bergerak. Liang Shen dan Gu Fei mengumpulkan kayu bakar, sementara Han Gu membantu membuat lingkaran batu sederhana untuk api unggun. Wei Lun mengeluarkan beberapa bubuk herbal dari kotak kayunya lalu menaburkannya di sekitar area perkemahan untuk mengusir hewan liar kecil.
Tak lama kemudian api unggun mulai menyala dan menghangatkan tubuh mereka. Cahaya kuning redup berkedip pelan di tengah kabut malam, menerangi wajah para murid muda yang mulai duduk mengelilingi api unggun.
Suasana perlahan menjadi lebih santai sekarang. Sebagian mengeluarkan bekal makanan masing-masing. Liang Shen membawa daging kering, Qin Rou hanya makan sedikit roti kukus, sedangkan Han Gu entah dari mana mengeluarkan dua potong paha ayam panggang yang langsung ia makan dengan wajah puas.
Bai Fengxuan sendiri duduk sambil memegang bakpao hangat yang tadi dibeli Han Gu sebelum berangkat dari sekte.
Untuk sesaat semuanya terasa cukup damai. Bai Fengxuan menggigit bakpaonya perlahan sebelum akhirnya menoleh pada Zhao Yuan yang duduk di dekat api sambil memeriksa pedangnya.
“Kakak Senior Zhao,” panggilnya.
Zhao Yuan mengangkat kepala sedikit. “Hmm?”
“Sekarang Kakak Senior sudah berada di tahap apa?”
Pertanyaan itu langsung membuat beberapa orang menoleh.
Namun Zhao Yuan hanya menjawab santai, “Qi Gathering level 5.”
Mata Bai Fengxuan sedikit membesar. Qi Gathering level 5…
Itu sudah termasuk sangat kuat di kalangan murid luar di Sekte Forgotten Blade.
“Kalau begitu,” lanjut Bai Fengxuan polos, “membunuh rusa spiritual itu seharusnya mudah, kan?”
Liang Shen langsung tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. Sementara Zhao Yuan sendiri hanya menggeleng pelan.
“Tidak sesederhana itu.”
Ia menusukkan ranting kecil ke api unggun sambil menjelaskan, “Rusa spiritual bertanduk tiga sangat cepat. Bahkan kultivator level sama belum tentu bisa mengejarnya. Dan beberapa rusa tua bahkan lebih kuat dari Qi Gathering level 5.”
Bai Fengxuan seketika langsung memahami kenapa Zhao Yuan membentuk kelompok kecil ini.
“Karena itu kita membutuhkan kerja sama,” lanjut Zhao Yuan. “Kami dari Puncak Pedang Surgawi akan bertugas menyerang dan membatasi gerakan rusa. Puncak Sungai Hijau membantu penyembuhan dan racun sederhana. Sedangkan kalian…” ia melirik Han Gu dan Bai Fengxuan, “…membantu urusan logistik.”
Han Gu langsung tertawa puas. “Logistik adalah fondasi perang.”
Liang Shen mendecakkan lidah. “Kau hanya ingin makan daging rusa.”
Han Gu tidak membantah sama sekali.
Percakapan mereka berlanjut cukup santai malam itu. Mereka membahas wilayah sekitar Hutan Kabut Abadi, beberapa hewan spiritual lain yang mungkin muncul, hingga cerita murid sekte yang pernah tersesat di hutan dalam selama berhari-hari.
Semakin lama malam terasa semakin dingin. Kabut perlahan bergerak semakin dekat ke area perkemahan dan suara hewan malam mulai terdengar dari dalam hutan. Akhirnya satu per satu anggota kelompok mulai tidur untuk bergantian berjaga.
Hutan Kabut Abadi bukan tempat aman. Selain rusa spiritual, masih banyak hewan lain yang lebih berbahaya berkeliaran di dalamnya. Lengah sedikit saja bisa membuat mereka diserang diam-diam.
Bai Fengxuan memilih ikut berjaga malam pertama bersama Zhao Yuan. Perjalanan tadi memang cukup panjang, tetapi baginya yang sekarang sudah berada di Qi Gathering level 3 rasa lelah seperti itu tidak terlalu berarti walaupun ia membawa wajan hitam bersamanya.
Ia duduk di dekat api unggun sambil memperhatikan kabut putih yang bergerak perlahan di antara pepohonan.
Di sampingnya, ia melihat Zhao Yuan sedang membersihkan pedangnya dengan kain hitam. Cahaya api unggun memantul samar di bilah pedang panjang tersebut.
Bai Fengxuan memperhatikan Zhao Yuan beberapa saat sebelum akhirnya bertanya dengan nada penasaran khas bocah kecil.
“Kakak Senior Zhao.”
“Hm?”
“Bagaimana caranya supaya bisa memiliki kemampuan pedang yang hebat?”
Zhao Yuan sedikit terdiam. Beberapa saat kemudian, ia akhirnya tersenyum tipis.
“Dulu,” katanya pelan, “aku bahkan belum langsung belajar pedang.”
Bai Fengxuan sedikit terkejut.
“Aku mulai dari seni bela diri dasar.” Zhao Yuan melanjutkan sambil menatap api unggun. “Memukul. Menangkis. Menghindar.”
Ia mengangkat pedangnya perlahan. “Pedang hanya senjata. Kalau tubuhmu lemah, sehebat apa pun teknik pedangmu tetap tidak berguna.”
Bai Fengxuan langsung mendengarkan dengan serius.
“Pada tahap lebih tinggi,” lanjut Zhao Yuan, “guruku menyuruhku mempelajari Jurus Tapak Penghancur Gunung sebagai fondasi.”
Bai Fengxuan mengedip bingung. “Bukankah itu hanya jurus tapak?” tanyanya polos. “Apa hubungannya dengan pedang?”
Zhao Yuan tertawa kecil. “Karena genggaman tangan adalah dasar pedang.”
Ia mengepalkan tangannya perlahan. “Kalau tanganmu lemah, pedangmu akan mudah terlepas ketika benturan terjadi.”
Penjelasan itu langsung masuk akal di kepala Bai Fengxuan.
Zhao Yuan melanjutkan, “Tapak yang kuat membuatmu bisa mengendalikan pedang lebih stabil.”
Bai Fengxuan langsung terlihat semakin tertarik.
“Kalau begitu…” matanya berbinar penuh rasa penasaran, “…apa kakak Zhao bisa mengajariku?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja tanpa rasa malu sedikit pun. Benar-benar seperti bocah sepuluh tahun yang penasaran pada dunia baru.
Zhao Yuan sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya tertawa pelan. “Kau punya semangat yang bagus.”
Han Gu yang tidur setengah sadar di dekat api unggun bahkan membuka satu matanya sambil bergumam, “Anak itu memang tidak tahu malu…”
Namun Zhao Yuan tidak keberatan. Ia justru mulai menjelaskan dasar-dasar teknik tersebut secara sederhana.
“Tapak Penghancur Gunung memiliki enam level.”
Bai Fengxuan langsung duduk lebih tegak, mendengarkan penjelasan dari Zhao Yuan layaknya saat ia berada di kelas Tetua Ji di Puncak Awan Pengembara setiap pagi.
“Level pertama,” kata Zhao Yuan sambil mengangkat tangannya, “seseorang bisa meninggalkan jejak telapak di tanah atau kayu keras.”
“Level kedua menghancurkan pohon.”
“Level ketiga menghancurkan batu.”
“Level keempat menghancurkan besi.”
“Level kelima menghancurkan bukit kecil.”
Tatapannya perlahan menjadi dalam. “Dan level keenam…” ia berhenti sejenak, “Dapat menghancurkan gunung.”
Mata Bai Fengxuan langsung membesar perlahan. Menghancurkan gunung… Bahkan membayangkannya saja terasa mustahil baginya sekarang. Namun justru karena itulah ia semakin terpukau. Dunia kultivasi ternyata jauh lebih menakjubkan dibanding yang selama ini ia bayangkan.
“Bagaimana cara melatihnya?” tanya Bai Fengxuan cepat.
Zhao Yuan mulai menjelaskan posisi dasar tangan, cara mengalirkan qi ke telapak, dan bagaimana seseorang harus melatih kekuatan genggaman sedikit demi sedikit.
Penjelasannya tidak terlalu mendalam, tetapi cukup untuk membuat Bai Fengxuan memahami gambaran kasarnya. Dan semakin ia mendengarkan, semakin kuat pula tekad di dalam hatinya.
Suatu hari nanti… Ia harus menguasai jurus itu.
Malam terus berlalu di tengah percakapan kecil mereka. Api unggun perlahan mengecil dan kabut di sekitar hutan menjadi semakin tebal. Setelah beberapa jam, pergantian jaga akhirnya tiba.
Liang Shen dan Wei Lun bangun untuk mengambil giliran berjaga berikutnya. Di sisi Bai Fengxuan akhirnya menguap kecil.
Meskipun tubuhnya tidak terlalu lelah, pikirannya mulai sedikit berat akibat perjalanan panjang hari itu. Ia segera mencari tempat dekat api unggun lalu membungkus tubuhnya dengan kain tebal sebelum akhirnya tertidur perlahan di bawah suara angin malam Hutan Kabut Abadi.
…
Keesokan paginya mereka semua bangun bahkan sebelum matahari terbit.
Kabut pagi di Hutan Kabut Abadi jauh lebih tebal dibanding malam sebelumnya. Jarak pandang bahkan tidak sampai puluhan langkah. Udara terasa dingin dan lembap sementara embun menempel di dedaunan serta pakaian mereka.
Setelah sarapan singkat dan membereskan perkemahan, Zhao Yuan segera memimpin kelompok memasuki hutan.
Begitu melangkah masuk, suasana langsung berubah. Pohon-pohon tua berdiri jauh lebih rapat dan suara dunia luar perlahan menghilang. Yang tersisa hanya suara langkah kaki mereka di atas tanah basah dan gemerisik samar dari dalam kabut.
“Dengarkan baik-baik,” kata Zhao Yuan sambil berjalan paling depan dan tatapannya sangat serius. “Kita hanya akan berburu di wilayah luar. Jangan masuk terlalu jauh ke dalam hutan.”
Liang Shen kemudian menambahkan, “Kalau kalian mulai melihat rawa besar atau danau…” ia menunjuk lebih dalam ke arah kabut pekat, “…itu berarti kita sudah mendekati batas wilayah hutan dalam. Dan kita tidak akan masuk ke sana.”
Bai Fengxuan langsung mengangguk. Ia bisa merasakan qi spiritual di tempat ini jauh lebih liar dibanding sekitar sekte. Bahkan beberapa kali terdengar suara aneh dari balik kabut yang membuat suasana terasa semakin mencekam.
“Rusa spiritual bertanduk tiga biasanya tinggal di wilayah luar dan pinggiran,” lanjut Zhao Yuan. “Maka dari itu kita tidak perlu masuk terlalu jauh.”
Pagi itu mereka belum menemukan rusa spiritual. Namun sekitar menjelang siang, Gu Fei berhasil memburu seekor babi hutan liar besar menggunakan pedangnya.
Babi itu memang bukan hewan spiritual tingkat tinggi, tetapi ukurannya sangat besar dan cukup untuk mengisi perut seluruh kelompok. Karena itu Zhao Yuan memutuskan mereka berhenti sementara untuk makan siang.
Dan sekarang giliran Bai Fengxuan bekerja. Dengan penuh semangat ia segera menurunkan wajan hitam besar dari punggungnya.
Liang Shen masih terlihat bingung setiap kali melihat ukuran wajan itu. “Kenapa aku merasa benda itu lebih cocok dipakai memukul musuh dibanding memasak…”
Bai Fengxuan pura-pura tidak mendengar. Ia mulai menyusun batu menjadi tungku sederhana sementara Han Gu dan beberapa murid lain membersihkan serta memotong babi hutan tersebut.
Han Gu sendiri terlihat jauh lebih bersemangat dibanding siapa pun di sana. Karena hanya dirinya yang tahu masakan Bai Fengxuan benar-benar “mengerikan”.
Ketika Bai Fengxuan baru mulai menyalakan api dan memanaskan wajan hitam, Han Gu bahkan sudah mulai menjilat bibirnya sendiri seperti serigala lapar.
Beberapa murid Puncak Pedang Surgawi sampai memandangnya aneh.
“Kenapa ekspresimu seperti orang kesurupan?” tanya Liang Shen.
Han Gu hanya menyeringai untuk menanggapi dan menjawab singkat. “Kalian akan mengerti nanti.”
Tak lama kemudian suara kuah mendidih mulai terdengar dari dalam wajan hitam.
Uap panas perlahan naik bersama aroma daging dan rempah yang menyebar ke seluruh area perkemahan. Bai Fengxuan memasukkan potongan daging babi hutan, tulang, herbal liar, serta sedikit garam spiritual ke dalam sup dengan gerakan yang semakin terampil dibanding sebelumnya.
Perlahan aroma harum mulai memenuhi seluruh area itu. Awalnya para murid lain masih terlihat biasa saja. Namun semakin lama aroma sup itu menjadi semakin kaya dan menggoda. Bahkan qi spiritual samar mulai bercampur bersama uap panas yang keluar dari wajan hitam.
Liang Shen perlahan menelan ludah. Wei Lun yang biasanya tenang sampai berkedip beberapa kali ke arah wajan. Bahkan Qin Rou yang sejak tadi dingin dan pendiam perlahan ikut melirik ke arah Bai Fengxuan.
Han Gu justru terlihat sangat puas melihat reaksi mereka.
Sup itu terus dimasak selama hampir dua jam penuh hingga kuahnya berubah menjadi lebih pekat dan harum. Potongan daging babi hutan liar di dalamnya tampak empuk, sementara qi spiritual samar terus keluar bersama uap panas yang memenuhi udara dingin Hutan Kabut Abadi.
Dan ketika sup itu akhirnya matang sempurna seluruh kelompok langsung terdiam saat mencicipi suapan pertama.
Keheningan menyelimuti area kecil di tengah hutan berkabut itu dan beberapa detik kemudian—
“Langit…” gumam Liang Shen pelan.
Wei Lun bahkan sampai memejamkan mata sambil meminum kuah sup perlahan.
Kuah hangat itu terasa sangat kaya dan dalam. Aroma rempah bercampur dengan rasa daging spiritual yang lembut memenuhi mulut mereka, sementara hawa hangat perlahan menyebar ke seluruh tubuh setelah menelannya.
Bahkan qi spiritual di tubuh mereka terasa sedikit lebih aktif dibanding sebelumnya. Seolah satu suapan saja dapat membuat mereka naik tingkat.
Untuk pertama kalinya mereka semua merasakan sup terenak yang pernah mereka makan sepanjang hidup mereka.
…