NovelToon NovelToon
Melody Cinta Yang Salah

Melody Cinta Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jjamiyuu09

Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 21

Begitu bel berbunyi menandai akhir pelajaran, Jolina langsung berdiri dari kursinya. Kursi itu bergeser kasar, menarik perhatian beberapa murid. Tanpa ragu, ia melangkah cepat menghampiri Jeremy yang masih duduk santai, seolah dunia baik-baik saja.

“Di mana tas gue?” suara Jolina rendah, tapi bergetar menahan amarah.

Jeremy mendongak malas. “Tas apa?”

Jolina mendekat satu langkah. “Lo nggak usah pura-pura bego ya. Di mana tas gue?”

Jeremy menutup bukunya perlahan, lalu menyandarkan punggung. “Itu kan barang Lo. Harusnya Lo lebih peduli dong.”

Ucapan itu seperti bensin yang disiram ke api.

“Lo bener-bener keterlaluan!” Jolina hampir berteriak. “Gue cuma minta tolong!”

Jeremy berdiri, tubuhnya lebih tinggi, auranya menekan. “Gue bukan babu Lo. Ngapain gue bawain tas Lo?”

Dada Jolina naik turun. “Jadi Lo kemanain tas gue?”

Jeremy tersenyum kecil. Senyum yang membuat darah Jolina mendidih.

“Gue buang.”

Kata itu jatuh begitu ringan, seolah yang ia bicarakan bukan barang berharga seseorang.

“Lo… buang?” suara Jolina nyaris tercekat. “Maksud Lo apa?”

Jeremy terkekeh, deretan gigi rapi dan lesung pipinya terlihat jelas—terlalu indah untuk sikap sekejam itu.

“Lo nggak ngerti?” katanya santai.

Ia melangkah mendekat, menatap Jolina dengan tajam, tanpa sisa bercanda.

“Gue buang tas Lo. Ya Lo cari lah. Bisa jadi di tempat sampah… atau di mana... gue juga lupa. Pande-pande Lo lah carinya.”

Audrey yang sejak tadi menahan emosi akhirnya menimpali, “Jeremy, Lo keterlaluan banget sih!”

“Iya,” sambung Zoya dengan suara gemetar, “Jolina salah apa sama Lo?”

Jeremy mengangkat bahu. “Salah dia? Cuma dia yang tahu.”

Kalimat itu seperti tamparan kedua bagi Jolina.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Jolina berbalik dan melangkah cepat keluar kelas. Langkahnya keras, matanya panas, tenggorokannya sesak. Audrey dan Zoya segera menyusul.

Mereka keluar gedung sekolah, menyusuri area belakang dengan wajah panik.

“Di mana sih?” Audrey menoleh ke segala arah.

“Dia balas dendam gara-gara Lo nampar dia kemarin ya, Jo?” tanya Zoya hati-hati.

Jolina diam. Rahangnya mengeras. Tidak ada jawaban lain di kepalanya. Ia tahu. Ini memang balas dendam.

“Jo,” Audrey mendekat, suaranya melunak, “Lo minta maaf aja sama Jeremy soal malam itu.”

Jolina berhenti mendadak.

“What?” Ia menoleh tajam. “Gue? Minta maaf sama dia? No way.”

Matanya menyala. “Sampai kapan pun gue nggak akan nyesel. Gue nampar dia karena dia pantas dapet itu.”

“Tapi kalau kayak gini terus,” Zoya ikut bicara, cemas, “Lo bakal terus digangguin sama dia.”

Jolina menghela napas panjang. Wajahnya dingin, jauh lebih tenang dari sebelumnya—ketenangan yang justru menakutkan.

“Kalau dia mainnya kayak gini,” ucapnya pelan namun penuh tekanan, “gue bakal hancurin karier dia. Atau sekalian… gue bikin dia diusir dari rumah.”

Audrey dan Zoya terdiam.

Di mata Jolina, ini bukan lagi sekadar tas yang dibuang. Ini perang.

Audrey dan Zoya saling pandang. Ucapan Jolina barusan terdengar terlalu dingin, terlalu yakin—bahkan untuk ukuran orang yang sedang marah.

“Jo…,” Audrey menahan langkah Jolina di depan tangga gedung. “Jangan ngomong gitu. Lo tau kan papa mama Lo gimana. Ini bisa jadi bumerang.”

Jolina berhenti. Tangannya mengepal kuat, kukunya nyaris menancap di telapak sendiri.

“Dia duluan yang mulai,” ucapnya datar. “Dia pikir gue bakal diem aja? Enggak. Gue bukan orang yang bisa diinjek-injek.”

Zoya menghela napas. “Tapi sekarang yang rugi Lo, Jo. Tas Lo ilang. Isinya buku, tugas, mungkin HP Lo juga.”

Seketika wajah Jolina berubah.

“HP gue…” gumamnya pelan.

Mereka bertiga langsung berpencar, menyusuri area belakang sekolah. Tempat sampah satu per satu dibuka—bau menyengat membuat Audrey menutup hidung, sementara Zoya memegang rambutnya agar tak ikut terciprat.

“Ini keterlaluan sih,” gerutu Zoya. “Mainnya udah bukan bercanda lagi.”

Beberapa menit kemudian—

“JO!” teriak Audrey dari balik deretan tong sampah.

Jolina berlari menghampiri. Di dalam tong paling ujung, terlihat ujung tas hitamnya—kotor, basah, tercampur sisa minuman dan kertas bekas.

Jolina terdiam.

Tangannya gemetar saat menarik tas itu keluar. Benar. Tasnya. Resleting terbuka sedikit. Buku tulisnya lembap. Kertas-kertas kusut.

Dan untungnya—HP-nya masih ada.

Audrey menatap Jolina dengan cemas. “Jo… Lo oke?”

Wajah Jolina kosong. Terlalu kosong untuk disebut baik-baik saja.

“Dia beneran buang,” ucapnya lirih. “Dia beneran ngelakuin ini.”

Zoya mengepalkan tangan. “Keterlaluan.”

Jolina mengangkat wajahnya. Matanya tidak berkaca-kaca. Tidak ada air mata. Yang ada justru ketenangan yang mengerikan.

“Oke,” katanya pelan. “Sekarang giliran gue.”

Audrey langsung panik. “Jo, jangan bikin masalah lagi. Tolong—”

“Tenang,” potong Jolina. “Gue nggak bakal jambak dia lagi. Gue bakal main… lebih rapi.”

Ia memeluk tasnya erat, lalu berbalik menuju gedung.

Dari lantai dua, tanpa mereka sadari, Jeremy berdiri di koridor. Tangannya bersedekap, senyum tipis terukir di bibirnya saat melihat Jolina berjalan menjauh.

***

Sore itu Jolina pulang lebih cepat dari biasanya. Langit masih terang ketika ia turun dari ojek di depan rumah. Ia sengaja pulang duluan—satu alasan sederhana yang sebenarnya penuh emosi: ia tidak ingin pulang bersama Jeremy.

Membayangkan wajah menyebalkan itu saja sudah membuat darahnya mendidih lagi.

Rumah terlihat sepi. Tidak ada suara televisi, tidak ada langkah kaki. Jolina masuk dengan santai, menaruh sepatunya, lalu melangkah menuju tangga.

Matanya berhenti pada pintu kamar Jeremy.

Beberapa detik ia berdiri di sana, memikirkan sesuatu. Lalu sebuah senyum kecil—senyum licik—perlahan muncul di wajahnya.

“Lo main-main kan sama gue?” gumamnya pelan.

Jolina mendekat. Ia mencoba memutar knop pintu kamar Jeremy.

Klik.

Pintu itu terbuka begitu saja.

“Oh… nggak dikunci?” Jolina terkekeh kecil. “Kesalahan besar, Jeremy.”

Ia masuk ke dalam kamar itu.

Kamar Jeremy cukup rapi, dengan meja belajar yang penuh buku, poster band di dinding, dan—yang paling menarik perhatian Jolina—gitar kesayangan Jeremy yang disandarkan di dekat meja.

Mata Jolina langsung berbinar.

“Nah… ini dia.”

Ia berjalan menghampiri gitar itu, lalu mengangkatnya perlahan. Jari-jarinya menyentuh badan gitar dengan ekspresi mengejek.

“Lo main-main kan sama gue?” katanya sambil tertawa kecil. “Lo lihat nih apa yang gue lakuin sama gitar kesayangan Lo ini…”

Jolina berjalan ke meja kecil di kamar itu. Dari paper bag yang ia bawa dari dapur, ia mengeluarkan sebungkus mentega.

Tanpa ragu, ia membuka bungkusnya lalu mengoleskannya ke badan gitar.

Mentega itu menyebar di permukaan kayu gitar.

Jolina mulai cekikikan.

“Mampus Lo, Jeremy… Lo rasain tuh.”

Tangannya semakin berani. Ia mengoleskan mentega ke bagian senar, ke leher gitar, bahkan ke bagian belakangnya.

Belum puas.

Ia mengambil botol kecil berisi cokelat cair.

“Masih kurang,” gumamnya.

Perlahan, ia menuangkan cokelat itu ke atas gitar.

Cokelat kental itu mengalir di badan gitar, bercampur dengan mentega yang sudah lebih dulu menempel. Pemandangan itu benar-benar membuat alat musik itu terlihat kotor, lengket, dan menjijikkan.

Jolina tidak bisa menahan tawanya.

“Hahahaha… astaga…”

Ia memegangi perutnya sendiri karena terlalu puas.

“Kita lihat… setelah ini Lo masih bisa sombong atau nggak.”

Tangannya menepuk-nepuk gitar itu pelan.

“Lo bilang ini mimpi Lo kan?” katanya dengan nada mengejek. “Lo makan tuh mimpi Lo…”

Ia menaruh gitar itu kembali di tempatnya dengan hati-hati—meskipun kondisinya sekarang sudah benar-benar kacau.

Jolina menyilangkan tangan, menatap hasil karyanya dengan puas.

“Langkah pertama untuk menghancurkan mimpi sang bintang… udah selesai.”

Matanya menyipit nakal.

“Langkah kedua…” gumamnya pelan.

“Lo tunggu aja.”

Tanpa membuang waktu lagi, Jolina segera keluar dari kamar itu. Ia menutup pintunya kembali seperti semula, lalu berjalan cepat menuju kamarnya sendiri.

Begitu masuk, ia langsung mengunci pintu.

Jantungnya masih berdebar—bukan karena takut, tapi karena terlalu puas dengan balas dendamnya.

“Sekarang kita lihat Lo masih bisa ketawa nggak, Jeremy…”

Malam hari, Jeremy akhirnya pulang.

Suara motor besar itu berhenti di halaman rumah. Jeremy masuk dengan tas disampirkan di bahunya.

Papa yang sedang duduk di ruang keluarga langsung menoleh.

“Kamu pulang malam sekali,” katanya dengan nada tegas. “Dari mana?”

Jeremy melepas jaketnya.

“Tadi kumpul sama anak band, Pa.”

Kalimat itu langsung membuat wajah papanya berubah.

“Kamu?” suaranya meninggi. “Kan sudah Papa bilang fokus sekolah! Kenapa masih ketemu sama mereka?”

Jeremy menghela napas kesal.

“Papa mulai lagi…” gumamnya.

“Itu healing-ku, Pa. Bisa nggak jangan larang aku terus? Aku udah besar!”

Nada suaranya terdengar lebih keras dari biasanya.

Tanpa menunggu jawaban, Jeremy langsung berbalik dan berjalan menuju tangga.

“Jeremy!” panggil papanya dengan marah.

Namun mama segera menahan lengan suaminya.

“Sudah… biarkan dia,” kata mama lembut.

Papa menghela napas kesal. “Kamu itu terlalu memanjakan dia.”

Mama menggeleng pelan.

“Kamu juga jangan terlalu keras sama Jeremy,” katanya. “Biarlah dia bersenang-senang sama teman-temannya di usia muda. Selama dia nggak melakukan hal di luar batas… dia cuma bermusik, kan?”

“Tapi aku benci dia main gitar,” gumam papa kesal. “Kayak pengamen saja.”

Mama tersenyum tipis.

“Mas… kali ini saja. Biarkan dia melakukan apa yang dia mau.”

Ia menepuk pelan tangan suaminya.

“Kalau kamu terus menekan dia seperti itu… nanti dia malah semakin jauh dari kamu.”

Sementara itu, Jeremy sudah berjalan menaiki tangga menuju lantai atas. Ia sama sekali belum tahu… bahwa sesuatu yang sangat buruk sedang menunggunya di dalam kamarnya.

1
Sasya
Ditunggu crazy up nyaa thooooorrrr 😍😍
Sasya
Bisa langsung 5 part sekaligus ga Thor?? 🤣🤣
Chuyoung56
Lanjut author 💪💪💪
Parkhanayaa
lanjut min cepetan
Parkhanayaa
Jeremy tuh pelakunya, yakin gue
Cewenya Sunghoon
Wkwk makin kacauu ini masalah merek, dari gitar yg belum kelar, ini jaket orang juga jadi korban
Choiwonhee
Ini si Jeremy balas dendam nya, malah jaket orang yg di rusakin
Choiwonhee
Ada udang di balik batu, Jeremy pura-pura ga tauuuu
Rossa
Wkwk ga seruuu Thor kalau mereka berantem kek gini🤭
Rossa
Hahah kayaknya aku tau, siapa pelakunya 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!