NovelToon NovelToon
"Aku Kangen, Tapi Tuhan Tau "

"Aku Kangen, Tapi Tuhan Tau "

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Yuliantina

Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.

Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.

pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.

tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.

tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....


karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep 2 : Hadiah Kebanyakan Zaki

 

Kereta Matarmaja sudah melaju dua jam sejak meninggalkan Tegal.

Indry masih duduk di bangku dekat jendela. Tas besar pemberian Zaki ditaruh di belakang kursi, gak muat d rak atas, terlalu gede dan berat untuk dipindah-pindah.

Dia belum berani buka.

Bukan karena takut isinya apa. Tapi karena kalau dia buka, rasanya beberapa menit di Stasiun Tegal itu jadi nyata. Terlalu nyata.

"Eh, Dry! Turun dong dari alam mimpi!"

"woooiiiiii kesambet loooo, Ndry...!!! "

"Ndri, mata lo gue colok ya,,,,! "

"ni gua matiin beneran yakk!!! ni anak kesambet setan kali yahhhhh... "

"Ndry... woooyyyy!!! "

nada setinggi tingginya.

Suara Meta meledak di telepon.

Kalo bukan ditelfon udah pasti batok kepala Indry bakal kena benturan si Meta.

Tu tetangga kiri kanan depan pada Noleh.

Indry baru sadar panggilan video-nya masih nyala dari tadi.

Meta emang kepo dengan segala yang terjadi di stasiun tegal tadi, tapi Andry malah melamun gak respons satupun dari ribuan pertanyaan meta yang sepanjang gerbong kereta banyaknya.

karna Meta sahabat yang paling setia dan yang pasti satu satunya yang peduli. Sepanjang waktu ggak mau Indry kesepian di perjalanan.tambah jiwa kepo, jadilah pertanyaan gak abis abis belum juga dapat jawaban.

"Kamu itu gimana sih. Udah dua jam kereta jalan, tas gede itu masih utuh. Nggak penasaran isinya apa? Bisa-bisa Zaki nyelipin cincin lamaran lho."

Indry mendengus. "Kamu nonton drakor kebanyakan, Met."

"Terus isinya apa dong? Beras lima kilo? Atau tumpukan popok? Siapa tahu Zaki mikir kamu udah punya anak lima."

Indry ketawa pelan. "Kamu itu mulutnya nggak ada rem ya."

"Nggak ada. Remnya rusak karena Roh Kudus yang nyetir. Ngomong-ngomong, buka sekarang juga! Aku mau jadi saksi sejarah. Ini momen langka. Indry disentuh laki-laki setelah 15 tahun."

Indry narik tas itu pelan-pelan. Zipper-nya berat. Butuh dua tangan.

Meta nahan napas di layar.

Satu tarikan zipper. Lalu satu lagi.

Plastik, bungkusan, plastik lagi.

Baju. Celana. Sepatu. Susu kotak. Mie instan. Obat. Vitamin. Selimut kecil.cemilan Mart mart itu. Dan amplop cokelat kecil yang disumpel di pojok.

Indry terdiam.

"Ya Tuhan Dry..." suara Meta pelan. "Itu bukan hadiah. Itu... itu bekal hidup."

Indry nggak jawab. Tangannya gemetar pas megang amplop cokelat. Di luarnya ada tulisan kecil pakai pulpen, agak miring khas Zaki: _Buat adik-adik kamu. Jangan ditolak ya._

Dia buka. Isinya uang. Nggak sedikit.

Cukup buat hidup di ibu kota beberapa waktu kedepan.

Mata Indry langsung panas.

Lima belas tahun. Lima belas tahun Zaki nggak tahu kabar dia. Nggak tahu ortunya meninggal waktu itu. Nggak tahu gimana pontang panting kerja biar adiknya bisa beli buku. Nggak tahu dia pernah nangis di kamar mandi karena nggak punya uang buat beli seragam adiknya, bayar semester adik lainnya, bayar kost dan segala macam.

Tapi dia tahu satu hal: Indry pasti butuh.

"Zaki gila," Indry bisik.

"Zaki cinta," Meta nimpalin. "Dry, orang bisa beli barang. Tapi nggak semua orang mau mikirin adik-adik kamu yang belum tentu dia kenal. Itu bukan cinta biasa. Itu tanggung jawab."

Indry nutup tasnya lagi. Dadanya sesak.

Dia ingat senyum Zaki di peron. Tenang. Nggak maksa. Cuma lambai tangan.

Dia ingat cara Zaki pegang rosario tadi. Pelan. Kayak barang itu keramat.

Tiba-tiba flashback nyerang.

Dulu, waktu dulu mereka masih sama sama, Zaki pernah ketahuan nyimpen uang jajan dia di selipin dalam kocek tas kerja Indry.

"Buat jaga-jaga kalau kamu nggak bawa bekal," katanya waktu itu.

Indry marah. "Aku nggak minta!"

Zaki cuma senyum. "Aku tahu. Makanya aku kasih."

Dari dulu memang begitu. Kebanyakan memberi. Nggak bisa lihat orang susah.

"Kenapa dia baik banget, Met..." Indry berbisik.

"Karena kamu pantas, Dry. Karena kamu Indry. Yang lima belas tahun lalu bisa bikin dia nunggu sampai sekarang. Yang ngurus lima adik sendirian tanpa minta tolong siapa-siapa. Yang Religiusnya nggak di Gereja dan nggak cuma di KTP doang, tapi di tindakan."

Indry sandarkan kepala ke jendela. Di luar gelap. Lampu kereta bergetar pelan.

Dia nggak nangis. Tapi di dalam hati, ada satu doa yang nggak berani dia ucap keras-keras:

_Tuhan, kalau ini ujian, aku nggak kuat. Kalau ini harapan, aku takut kecewa. Kalau ini jalan buntu, tolong tunjukkan jalannya._

Telepon masih nyala. Meta nggak ngomong apa-apa. Cuma ada suara napasnya.

Kadang sahabat memang nggak perlu kata-kata. Cukup ada.

Indry ingat lagi waktu Papanya meninggal. Dia masih 15 tahun. Adiknya yang paling kecil baru 6 tahun.

Waktu itu Meta datang bawa nasi bungkus dan air mata.

"Lu nggak sendiri, Dry. Ada aku. Ada Tuhan. Kita jalan bareng."

"Aku disini, Ndry... aku dimanapun kamu berada... "

"Aku ada d Handphone kamu juga"

Dan benar. Lima belas tahun mereka jalan bareng. Meta jadi penopang, jadi komedian, jadi pengingat kalau Indry boleh lelah tapi nggak boleh menyerah.

Sekarang, Zaki muncul lagi.

Bawa tas besar. Bawa uang. Bawa kangen 15 tahun.

Indry taruh amplop itu pelan-pelan ke dalam tas.

Dia belum tahu mau ngapain dengan semua ini.

Dia belum tahu mau balas apa ke Zaki.

Tapi satu hal pasti: menit menit di Tegal tadi, belum selesai.

"Met..."

"Hmm?"

"Kalau aku salah jatuh cinta lagi, Tuhan marah nggak ya?"

"cinta yang sulit, meta.... " "gak ada keselamatan kalu bukan melalui Dia.... " "Aaahhhhh.... "

Meta, "cup cup cup... mending kamu minta air panas gih seduh mie biar otak kamu isi, ndry... "

"Metaaaa... huuuufffff gak mood makan! "

Meta terdiam dua detik. Lalu ketawa kecil.

"Kalau Tuhan marah, Dia nggak kirim aku ke hidup kamu, Dry. Udah, tidur. Besok kamu pikirin lagi. Aku jagain kamu di sini."

Panggilan dimatikan.

Indry menatap tas besar itu.

Di dalamnya ada lebih dari barang.

Ada ingatan. Ada kangen. Ada kemungkinan yang menakutkan.

Aku gak bisa nerima uang ini,,, tapi aku butuh... tapi ini dari Zaki.... Tapi....

Kereta terus melaju.

Dan Indry, untuk pertama kalinya setelah 15 tahun, membiarkan dirinya bertanya:

Bagaimana kalau aku boleh bahagia?

1
Aiko Yuki
air mataku ikut netes kak 😭
AnYu: terima kasih sudah membaca... ini karya pertama ku... masih tahap nulis blm d revisi mungkin masih banyak typo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!